Sikap Mental

Sikap mental
Tipe mental manusia dapat digolongkan, diklassifikasikan dengan berbagai cara dan dengan berbagai nama. Abul A’la alMaududi menyebutkan empat tipe mental manusia. Pertama mental ateis (jahili murni). Kedua mental polities (jahili syirik). Ketiga mental kependetaan (jahili rahbani). Keempat mental Muslim (Ahmadi Thaha : “Sejarah Pembaruan dan Pembangunan Kembali Alam Pikiran Agama”, hal 22-36)
Imam Ghazali menyebutkan empat tipe (sikap) mental manusia.
Pertama mental syahwat, mental herbivora, yang tamak, loba, rakus, bakhil, kikir, pelit, mubadzir, israf, boros, riya, busuk hati, hasad, dengki, iri, tidak punya malu, suka main-main, suka bersenda gurau, khianat, suka membuka rahasia, buhtan, bohong, dusta, suka menjilat, sakhriyah, suka mencela, mengejek, mengecam, mengeritik (egocentros/pengemis/pengamen).
Kedua mental amarah, mental carnivora , yang angkh, congkak, pngah, sombong, takabur, ujub, suka mengagumi diri, ghadhab, suka marah, keras, galak, buas, zalim, aniaya, suka menyerang, memukul, mencaci, mengejek, menghina, merendahkan, membenci, bermusuhan, membangkitkan amarah, suka disanjung, diapung, dipuji, diangkat, dihrmati, dimuliakan, minta ditaati, dpatuhi, berkemauan jahat, sembrono, bersiap acuh ta acuh (polemos/koboi/preman).
Ketiga mental syaithani, mental omnivora, yang ghurur, suka menipu, memalsu, memperdaya, mengelah, membujuk, talbis, mencampuradukkan urusan, ifsad, suka mencelakakan, nekad, berkata kotor (eros/badt).
Keempat mental rabbani, mental hkama, mental intelek, yang berilmu, memaami hakikat, cendekia, bersikap baik, bijak, ‘iffah, menjaga diri, qana’ah, merasa cukup dengan yang ada, wara’, tidak mementingkan dunia, sabar, lapang dada, berjiwa besar, berhat mulia, haya’, malu, anisah, ramah, ‘afwu, suka mema’afkan, ta’awun, suka bergotong royong, syaja’ah, berani, sakhi, dermawan, istiqamah, teguh pendirian, konsekwen, konsisten, tawadhu’, rendah hati, tasamuh, bertenggang rasa, bertanggungjawab, tenang, yakin, optimis, suka kebebasan dalam segala urusan, ihtiram, suka menghormati, memuliakan (religios/relawan). (Amien Noersyam : “Keajaiban Hati”, hal 31-34)
Bakhtiar Amini menyebutkan empat tipe (siakp) mental madzmumah, mental tercela.
Pertama mental harimau campa, yang suka membentak, melotot, sombong, pongah, congkak, angkuh, benar sendiri, merasa kuasa.
Kedua mental kambing hutan, yang berkemauan ahat, suka menimbulkan sengketa, suka mengumpat, keras kepala.
Ketiga mental kucing siam, yang suka merugikan orang lain, mengambil harta orang lain tanpa hak. Keempat mental anjing polisi, yang tak tahu sopan santun, ska membual, suka merintangi kebaikan, tak tahu sopan santun, tak kenal batas.
Bakhtiar Amini juga menyebutkan tipe-tipe mentgal pimpinan. Pertama mental alim ulama, alim maulanan, imam khatib, lebai qari, yang menjadi obor, suluh, pelita, ikutan manusia. Kedua mental cerdik cendekia, yang mengerti, paham akan situasi, kondisi, suasana, keadaan, yang arif bijaksana, yang tahu akan kilat dan bayan, yang tahun dahan yang akan menimpa. Ketiga mental hulubalang, yang siap siaga membela kebenaran. (Bakhtiar Amini : “Ringkasan Tambo Adat Alam Minangkabau”, hal 1-2, 5-7).
Perpatih Sebatang menyebtkan emp;at tipe mental pimpinan. Pertama mental penghulu, yang menimbang sama berat, mengukur sama panjang, menghukum sama adil, tidak berat sebelah, yang benar-benar pemimpin. Kedua mental pengalih, yang merusak keadilan, yang memutar balikkan kebenaran, yang suka menerima suap, sogok, semir, pelican, yang suka merekayasa, yang suka memanipulasi. Ketiga mental pengalah, yang suka menyusahkan orang, yang berbuat mubazir. Keempat mental pengeluh, yang benar sendiri, yang menjatuhkan hukum secara sewenang-wenang, sembrono, ceroboh, cengeng, alergi kritik. (Dt Perpatih Sebatang : “Penyembahan dan Pedato Adat Minangkabau”, hal 31-32).
Datuk Palito menyebutkan enam sifat utama yang harus dipakai oleh seorang penghulu, seorang pemimpin : berilmu, berakal, suka memberi petunjuk, murah dan mahal, hemat dan jimat, yakin dan tawakal (Datuk Palito : “Uraian Pepatah Adat, Elok Negeri dek Penghlu”, hal 5).
Di depan Universitas Cordovav dahlu di Spanyol (Isbania) terpampang tulisan (inskripsi) : Dunia bertumpu atas empat hal. Pertama ilmu dari yang pintar (bijak, fathanah)). Kedua Keadilan dari yang besar (amanah). Ketiga do’a dari yang benar (shiddiq). Keempat harga dari yang tegar (berani tablig). (Drs mohammad Soebari, MA : “Makalah : Kesenjangan Dengan Semblan Basis Konsepsi”, Biro Dakwah Dakata, Bekasi, 1998:15; TM Usman ElMuhammady : “Islamogie”, 1952:9).
Dalam Qur:an dapat ditemukan beberapa tipe (sikap) mental manusia, antara lain :
Mental anjing, yang selalu kehausan saja, tak pernah merasa kenyang, tidak pernah merasa puas, tida pernah merasa cukup. “Maka umpamanya seagai anjing, jika engkau halau dijulurkan lidahnya, atau engaku biarkan, dijulurkannya juga lidaahnya. Demikianlah umpamanya kaum yang mendustakan ayat-ayat kami” (Tarjamah QS 7:176; juga QS 2:6). Satu-satunya yang paling setia adalah anjing.
Mental monyet, mental beruk, mental kera, yang suka mencibirkan orang, memusuhi orang lain, tidak punya malu, tamak, merusakkan orang lain, suka cemburu, menghelah, melakukan manipulasi, menipu, mengecoh. “Orang-orang yang dikutuki Allah dan dimarahiNya dan dijadikanNya di antara mereka jadi kera dan babi dan orang-orang yang menyembah thagut. Mereka itulah orang yang amat jahat tempatnya dan leb ih sesat dar pada jalan yang lurus “ (Tarjamah QS 5:60).
Menal ternak, yang hanya memperhatikan soal perut (homo economicus, anima faber). “Orang-orang yang kafir bersenang-senang di dunia dan makan seperti binatang-binatang makan, dan nerakahlah tempat diam mereka (Tarjamah QS 47:12). “Bagi mereka ada jantng hati, (tetapi) tiada mengerti dengan hatinya, dan agi mereka ada mata, (tetapi) tiada melihat dengan matanya, dan bagi mereka ada telinga, (tetapi) tiada mendenar dengan telinganya. Mereka itu seperti bnatang ternak, bahkan mereka lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lengah” (Tarjamah QS 7:179).
Mental keledai, ang bersuara buruk, yang tidak mau tahu dengan kewajiban. “Umpama orang-orang yang dipiklkan Taurat kepdanya (diberati, supaya mengamalkan isinya), kemudian mereka tiada memikulnya (mengikut perintahnya), adalah mereka seperti himar (kuda beban) yang memikul kitab. (Itulah) sejahat-jahat contoh bagi kaum yang mendustakn ayat-ayat Allah. Allah tidak menunjuki kaum yang aniaya” (Tarjamah QS 62:5). (Prof Dr Hamka : “Tafsir AlAzhar”, juzuk IX, hal 145-146, 165, 173).
Adakalanya Qur:an berbicara tentang mental muthmainnah, mental lawwamah, mental laammarutun bissu. (nafsu bisa berkonotasi mental).
Dalam hubungan antara bawahan dengan atasan, terdapat tiga macam tipe (sikap) mental manusia.
Pertama mental centeng, mental kacung, yang suka berpura-pura, plin-plan, bohong, dusta, tidak jujur, pengecut, tidak mau bertanggngjawab, suka menjilat, tertutup, hipokrit, bersikap rikuh, pema’af yang tidak pada tempatnya, mudah terkesima atas penampilan atasan, bersikap netral yang kurang beralasan, tidak memihak alas an yang benar, cenderung bersikap asal atasan senang bernaung di bahwa ketek atasan, memiliki rasa takut akan bayangan dan pengaruh atasan. (Haedhaar Nashir : “Akhlak Pemimpin Muhammadiyah”, haal 3; Alwi As : “Jawaban terhadap Alam Fikiran Barfat yang keliru tentang AlIslam”, hal 68). “Ya Allah, saya berlindung kepadaMu dari kelemahan dan malas, dan peakut dan tua, dan bakhil kikir” (Tarajamah HR Muslim dari Anas).
Kedua mental juragan, mental feodal yang angkuh, congkak, pongah, sombong, suka disanjung, diapung, diangkat, dihormati, dimliakan, mudah tersnggung, emosional, pemarah. “Tida akan masuk surae orang ang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dar sifat kesombongan (Tarjamah HR Muslim dari Abdullah bin Mas’ud). Orang-orang ahli neraka ialah tiap-tiap orang yang kejam, rakus dan sombong” (Tarjamah HR Bukhari, Muslim dari Haritsah bin Wahab).
Keluwesan dalam hubungan sosial, cenderung menumbuhkan sikap mental centeng, mental kacung, mental kroco, mental kecoak, mental bebeb, mentgal bunglon.
Ketiga mental democrat, mental rakyat, yang objektif, jujur, adil, bijak, sabar, lapang dada, terbka, teguh pendirian, bertanggungjawab, luas pandangan. “Ya Allah saa mohon kepadaMu petunjk (hidayat) dan taqwa, keluhuran budi dan kekayaan” (Tarjamah HR Muslim dari Ibn Mas’ud). “Ya Allah berilah kepadau petunjuk dan kebenaran” (Taramah HR Muslm dari ‘Ali). (H salim Bahreisy : “Tarjamah Riadhus Shalihin”, I, hal 504; II, hal 366)
Mental demokrat dapat dipupuk dengan sikap ikhlas beramal, bersih dari sysirik, baik syirik besar, maupun syirik kecil, bersih dari rasa hasad, dengki, iri, ambisi, terbuka, mau dikoreksi, mau mengoreksi, mengutamakan kepentingan bersama. Ada tiga hal yang akan membuat enggan hati seorang Muslim untuk berkhianat (hasad dengki, iri, ambisi) : a. beramal ikhlas karena Allah, untuk Allah, b. memberi nasehat kepada sesama Muslm, c. loyal, setia terhadapj ama’ah Muslimin (Tarjamah HR Sufyan bin ‘Ujainah dari Abdullah bin Mas’ud). (Drs Dja’far Abd Muchith : “AlHadits sebagai Sumber Hukum”, hal 253).
Ketika usai rapat, pertemuan pemilihan pengurus yang baru dari suatu jama’ah Masjid, maka seorang peserta tidak bersedia mengucapkan selamat kepada pengurus terpilih, karena sejak awal peserta tersebut berpendapat bahwa ama’ah yang hadir sebagai peserta rapat belum mewakili jama’ah seluruhna. Sikap peserta tersebut dinilai oleh ketua dari pengurus terpilih sebagai mempermalukan, menghinakan, menjatuhkan dirinya di hadapan umum. A menasehati si peserta tersebut agar sedkit berlaku luwes, tidak kaku, longgar, tidak ketat, lunak, tidak keras dalam hal-hal yang berhubngan dengan sesame manusia (hubungan sosial, hablum minannaas). Sedangkan dalam hal-hal yang berhubungan dengan Allah hablum minallah) perlu sikap istiqamah, konsekwen, konsisten.
Pada suatu hari seorang yang lebih mulia, yang kedudukannya, martabatnya hanya di bawah Rasulullah dan Abu Bakar, setelah selesai berpidato di atas mimbar digugat oleh salah seorang yang hadir (Salman al-Farisi) dihadapan orang banyak. Penggugat tidak bersedia mendengarkan dan tunduk pada Umar sekalu Khalifah, sebelum Umar menjelaskan lebih dahulu kenapa baju yang dia pakai lebih banyak memakan kain, dibandingkan dengan yang dipakai oleh orang banyak, sedangkan pembagiannya sama banyak (sama besar). Umar tidak menjawab, tidak merasa dipermalukan, tidak merasa diperhinakan. Umar memintakan kepada puteranya, Abdullah untuk menjelaskannya. Abdullah menjelaskan bahwa ia telah memberikan bagiannya kepada ayahnya, Umar. Setelah itu barulah si penggugat bersedia dengan senang hati mendengarkan dan tunduk pada Umar, Khalifah. (M Ali Hasan Umar : “Sepuluh Shahabat Dijamin Ahli Syurga”, hal 69,72).
Seorang demokrat sejati tidak merasa dipermalukan, diperhinakan, bila ia digugat secara terang-terangan di hadapan orang banyak. Mental demokrat, mental kerakyatan menuntut, menghendaki kebebasan, kemerdekaan yang sempurna untuk mengeluarkan pendapat, kebebasan penuh menyampaikan suara hati nurani, berdasarkan argumentasi dan dalil yang benar. (Muhammad AlBaqir : “Khilafah dan Kerajaan”, hal 131).
Simak juga tipe manusia menurut Galenus, Spranger dalam buku “Kunci Sukses Penerangan dan Dakwah” oleh Sei H Datuk Tombak Alam, 1986:76-77’ “Mengetahui Sifat Orang.
(Disimak antara lain dari :
1. Ahmadi Thaha : “Sejarah Pembaruan dan Pembangunan Kembali lam Fikiran Agama” (Abul Ala Al-Maududi), halaman 22-36.
2. Amien Noersyam : “Keajaiban Hati” (Imam Ghazali), halaman 31-34.
3. Bakhtiar Amini : “Ringasan Tamb Adat Alam Minangabau”, halaman 5-7.
4. Prof Dr Hamka : “Tafsir Al-Azhar”, juzuk IX, halaman 145-146,165,173.
5. Haedahar Nashir : Akhlak Pemimpin Muhammadiyah”, halaman 3.
6. Alwi As : “Jawaban terhadap Alam Fikiran Barat yang keliru tentang al-Islam” (Muh Quthub), halaman 58.
7. Salim Bahreisy : “Tarjmah Riadhus Shalihin” (Imam Nawawi), jilid I, halaman 504,505, hadis 1,3; jilid II, halaman 366,368, hadis 4,9,10.
8. Drs Daj’far Abd Muchith : “Al-Hadits sebagai sumber Hukum” (D Musthafa As-Siba’i), halaman 253.
9. M Ali Hasan mar : “Sepulu Shabat dijamin Ahli Syurga’ (Muhammad Ali Al-Quthub), halaman 69,72.
10. Muhammad al-Baqir : “Khilafah dan Kerajaan” (Abul A’la al-maududi), halaman 131,132.
(written by sicumpaz@gmail.com in sicumpas.wordpress.com as Asrir at BKS9104191315)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s