Saham yang melarat pada konglomerat

“Mengapa Indonesia menolak standar buruh ? Buruh murah di Indonesia bukan lagi posisi lebih bagi Indonesia. Buruh murah bukan daya saing. Mutu produk dan efisiensi yang harus ditingkatkan” (Dr Djisman Simanjuntak : SUARAS PEMBARUAN, Senin, 9 Desember 1996, hlm 5).

Christianto Wibisono, penulis Dialog Imajiner Dengan Bung Karno, dalam analisanya “Babad Malaka 1511 Versus WTO Singapura 1996” menyebutkan, bahwa “Jika kita kembali kepada masalah persaingan sederhana antara individu miskin dan yang lebih kaya, si miskin rela bekerja keras, lembur dan membanting tulang memeras keringat, lebih lama dari si kaya. Apakah kemudian si kaya berhak menuntut kepada pemerintah untuk mengatur agar si miskin tidak boleh bekerja keras, tidak boleh lembur dan harus mengikuti “gaya hidup santai” si kaya ?”. “Seandainya seluruh upah buruh dan jaminan sosial pekerja Negara Berkembang harus ditingkatkan setara dengan negara maju, maka seumur hidup akan sulit begi Negara Berkembang untuk mengejar ketinggalan dari negara maju”. “Orang yang lebih miskin harus rela bekerja lebih giat, lebih rajin, lebih produktif dan lebih lama, untuk mengejar ketinggalan” (SUARA PEMBARUAN, Senin, 9 Desember 1996, hlm 3).

Jika kata “miskin” diganti dengan “yang melarat”, dan kata “kaya” diganti dengan “konglomerat”, timbul pertanyaan : Apakah memang ada konglomerat yang mau menuntut kepada pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup yang melarat, untuk mengatur agar yang melarat tidak boleh bekerja keras, tidak boleh lembur ? Apakah bila upah buruh dan jaminan sosial pekerja tidak ditingkatkan maka yang melarat akan dapat mengejar ketertinggalannya dari konglomerat ? Apakah yang melarat memang harus seumur hidup bekerja giat, rajin, produktif, lama untuk kepentingan konglomerat ?

Keunggulan komparatif yang dibanggakan (ditonjolkan) antara lain upah buruh (tenaga pekerja) Indonesia yang relatif murah, lahan (tanah) industri yang luas yang harga (nilai)-nya juga relatif murah, sehingga nilai kompetitif produk (daya saing) cukup tinggi. Dengan upah buruh yang relatif murah dan harga tanah yang relatif murah, maka biaya produksi dengan sendirinya menjadi relatif rendah. Lahirlah ekonomi biaya rendah. Sehingga konglomerat meraup/menikmati keuntungan besar dari murahnya upah buruh dan harga tanah industri.

Melonjaknya kekayaan pemilik modal (konglomerat) diperoleh karena relatif murahnya upah tenaga kerja, relatif murahnya harga tanah industri. Kebodohan yang melarat tentang harga tenaga kerja dan fungsi tanah industri mendatangkan keuntungan pada konglomerat. Mengeksploitasi buruh (tenaga kerja) murah tanpa akhir. Keringat buruh dikuras sampai tetesan terakhir. Mengeksploitasi pengekalan dominasi kekuatan ekonomi kuat terhadap yang lemah. Ini merupakan saham yang melarat pada konglomerat. Tapi ini bisa disalah-tafsirkan sebagai menghasut.

Memberikan ceramah kepada buruh perihal hak buruh, menyebarkan, mempublikasikan tulisan tentang caraa-cara mencapai hak buruh, melaksanakan latihan kepemimpinan bagi buruh bisa diinterpretasikan, ditafsirkan sebagai menghasut untuk melawan, memberontak. Menyoroti masalah-masalah keadilan sosial, hak rakyat kecil, upah buruh, pemerataan dan kebebasan, bisa-bisa diberi cap Istigmatisasi) komunis atau liberal. Kebebasan itu mahal. Kebebasan berbicara dan mengeluarkan fikiran, menyembah Tuhan, kebebasan daripada kekurangan, daripada ketakutan, dan kecemasan, liberte, egalite, fraternite masih harus tetap diperjuangkan.

Betapapun jumlah kekayaan, tak pernah puas, tak pernah merasa cukup, selalu merasa kekurangan. Inilah pemicu kerakusan. Rakus, tamak adalah suatu sifat untuk memiliki sesuatu secara berlebih-lebihan tanpa ada puas-puasnya. Rakus, tamak akan harta, wanita, kedudukan dan sebaginya. Memonopoli semuanya. Menurut ekonom Lister Thorn dalam bukunya The Future of Capitalism, ketamakan melekat pada pembawaan ekonomi pasar (ekonomi kapitalis). Ketamakan berorientasi kepada laba, materi, pada konsumerisme. Ketamakan dipandang oleh kapitalisme sebagai kebajikan. Ekonomi pasar (ekonomi kapitalis) disamping membuat meledakanya kemajuan dan pertumbuhan ekonomi, juga menyebabkan melebarnya kesenjangan sosial-ekonomi. Lenyapnya rasa kadilan mempertebal kerakusan, ketamakan.

Sebenarnya yang memiliki kekayaan satu milyar misalnya, kekayaan tersebut baru akan habis setelah tiga tahun, seandainya ia belanjakan setiap hari sebesar satu juta. Sedangkan yang memiliki kekayaan satu trilyun, seandainya ia belanjakan setiap hari sebesar satu juta, baru akan habis selama tiga ribu tahun (30 abad), selama seratus turunan/generasi. Sudah sedemikian besar kekayaan, apa lagi yang mendorongnya untuk melipat-gandakan kekayaannya ? Karena motif sosial ? Dengan menginvestasikan kekayaannya, maka terbuka lowongan, lapangan kerja bagi yang melarat. Sehingga beribu, berpuluh ribu, beratus ribu yang melarat memperoleh mata pencaharian. Benarkah bermotif sosial ? Atauakah sebaliknya ? Sedangkah hubungan kemitraan bapak angkat dana anak angkat hanya sebatas motif bisnis-ekonomi. Mang Usil di Pojok Kompas pernah bertanya-tanay : “konglomerat mana saja yang suka membagi-bagikan uang” ? (KOMPAS, Rabu, 20 November 1996).

Indikasi kerakusan terlihat pada begitu mudahnya mepekerjakan buruh pada malam hari dan pada hari libur dengan iming-iming uaaang lembur (yang seharusnya pada waktu itu untuk

Sebenarnya yang memiliki kekayaan satu milyar misalnya, kekayaan tersebut baru akan habis setelah tiga tahun, seandainya ia belanjakan setiap hari sebesar satu juta. Sedangkan yang memiliki kekayaan satu trilyun, seandainya ia belanjakan setiap hari sebesar satu juta, baru akan habis selama tiga ribu tahun (30 abad), selama seratus turunan/generasi. Sudah sedemikian besar kekayaan, apa lagi yang mendorongnya untuk melipat-gandakan kekayaannya ? Karena motif sosial ? Dengan menginvestasikan kekayaannya, maka terbuka lowongan, lapangan kerja bagi yang melarat. Sehingga beribu, berpuluh ribu, beratus ribu yang melarat memperoleh mata pencaharian. Benarkah bermotif sosial ? Atauakah sebaliknya ? Sedangkah hubungan kemitraan bapak angkat dana anak angkat hanya sebatas motif bisnis-ekonomi. Mang Usil di Pojok KOMPAS pernah bertanya-tanay : “konglomerat mana saja yang suka membagi-bagikan uang” ? (KOMPAS, Rabu, 20 November 1996).

Indikasi kerakusan terlihat pada begitu mudahnya mepekerjakan buruh pada malam hari dan pada hari libur dengan iming-iming uaaang lembur (yang seharusnya pada waktu itu untuk beristirahat dari kerja). Orientasinya adalah pada profit (keuntungan) bukan pada market (pasar). Demi profit, tak ada konglomerat yang berupaya berkompetisi menaikkan upah buruh. Demi profit, kerja siang malam, termasuk hari libur. Demi profit, tak peduli volume produksi melimpah (over produksi). Demi profit, produksi lebih, bisa dibuang dari pada dimanfa’atkan oleh yang melarat. Demi profit, keringat buruh bisa dikuras/diperas sampai ludes.

Memang pernah para pekerja bewrpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain, seperti beberapa eksekutif Toyota Astra Motor dan Indomobil pindah ke Timor Putra nasional dan Bimantara, tapi tak pernah perusahaan berkompetisi menaikkan upah buruh. Hanya pernah diberitakan bahwa Indomobil sibuk merekrut 2000 tenaga kerja baru lulusan STM di Jawa Tengah untuk dipekerjakan di tujuh pabrik di daerah Cikampek, Jawa Barat untu tahun 1997 (PARON, No.19, 14 September 1996).

Pemihakan kepada lapisan rakyat yang lemah dan miskin, sama sekali tidak menyalahi konstitusi atau mengesampingkan warganegara di depan hukum, karena UUD-1945 secara tegas menyatakan “fakir miskin dipelihara negara”. Yang dipelihara negara adalah orang miskin, bukan orang-orang kaya (KOMPAS, Rabu, 20 November 1996). Meskipun kepemihakan kepada lapisan rakyat yang lemah dan miskin diakui UUD-1945, namun demi profit tetap saja keringat buruh dikuras habis. Demi profit, tetap saja kebodohan rakyat dieksploitasi untuk kepentingan yang sudah berkecukupan. Mang Usil di Pojok KOMPAS, Sabtu, 7 Desember 1996, hlm 4). (Bks 20-12-96)



geovisit();

<img src=”http://visit.geocities.yahoo.com/visit.gif?us1216547112&#8243; alt=”setstats” border=”0″ width=”1″ height=”1″>1

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s