Manhaj Dakwah Para Rasul

Dengan mengacu pada kisah para Rasul dalam Qur:an dan Sirah Rasulllah, maka dakwah para Rasul itu sejak awal adalah dakwah terpadu, mencakup tauhid, akhlak, mu’amalah, tak terpenggal-penggal. Pada kisah Nabi Nuh, Hud, Salih secara eksplisit dakwah itu terpadu antara tauhid dan akhlak. Juga pada kisah Nabi Ibrahim, Luth, dakwah itu terpadu antara tauhid, akhlak (moral, cultural), bahkan politik (dakwah ke penguasa). Pada kisah Nabi Syuaib, dakwah itu terpadu antara tauhid, akhlak, social, ekonomi. Menuntun tataniaga yang adil. Mencegah tataniaga yang lalim, curang. Pad kisah Nabi Musa, dakwah itu terpadu antara tauhid, akhlak, juga dengan politik, ekonomi. Menuntun totaliter-otoriter Fir’aun menata negara secara adil, bukan secara lalim, diskriminatif. Menuntun konglomerat Qarun agar memanfa’atkan harta kekayaan untuk kepentingan bersama agar memperoleh kebahagiaan di akhirat nanti, serta menyishikan sebagaiannya untuk mengembangkan usaha produktif agar memperoleh kebahagiaan di dunia. Mendakwahi teknokrat Hamman.

Masih ketika di Makkah pada bulan Dzulhijjah sebelas tahun sesudah kerasulan di celah gunung ‘Aqaba, dua belas orang warga Madinah berikrar kepada Rasulllah (Ikrar ‘Aqaba Pertama) antara lain agar : Tidak menyekutukan Allah. Tidak mencuri. Tidak berzina. Tidak membunuh anak. Tidak mengumpat dan tidak memfitnah. Tidak enggan berbuat kebaikan. Bahkan sebelum diutus sebagai rasul, sosok Muhammad saw adalah sosok yang mempererat tali silaturrahim, berkata jujur, menghomati tamu, menolong orang yang kesulitan.

Dakwah adaah la Allah, ila Rabbik. Min azzhulumat ila annuur. Dari kufur ke Islam. Dakwah kepada Kitab llah. Dakwah agar berhukum dengan hukm llah (seperti disimak dari ayat QS 3:23, 24:51, 5:48-50,66). Jadi objek, sasaran dakwah adalah yang belum Islam. Tabligh adalah padanan dakwah. Sedangkan taklim, tarbiah sasarannya adalah yang sudah Islam. Pengertian “Bashirah” di ayat QS 12:108 ditemukan pada ayat QS 16:125, yaitu : “bijak, persuasive, argumentatif, komunikatif, hujjah balighah”. Dakwah adalah adu akal bukan adu okol, adu otak bukan adu otot.

Inti, materi dakwah Rasulullah pada tahap awal (periode Makkah) antara lain adalah :

Menyembah hanya kepada Allah YME. Tdak mempersekutukanNya dengan sesuatu apa pun. Membaca, mengagungkan nama Allah YME. Meninggalkan sembahan selain Allah.

Tidak berbuat dosa. Tidak berbuat keji. Tidak berbuat jahat. Tidak melakukan tindak kejahatan (kriminal).

Berkata benar di mana pun. Tdak berbohong. Tidak berdusta.

Berlaku jujur. Berlaku benar. Tidak curang. Menunaikan amanah. Tidak khianat. Tidak menipu. Tidak mengicuh.

Sabar, tabah, tahan menghadapi kecaman dan ancaman. Tidak takut menghadapi kecaman. Tidak takut menghadapi ancaman.

Berlaku sopan. Berlaku baik terhadap keluarga. Membaguskan pergaulan dengan keuarga. Mempererat tali silaturrahim.

Berlaku baik terhadap tetangga. Memuliakan tetangga.

Berlaku baik terhadap tamu. Memuliakan tamu.

Membantu yang susah. Murah tangan. Ikhlas memberi.

Tidak menumpahkan darah. Tidak membunuh anak.

Tidak berzina.Tidak melecehkan wanita. Tidak menodai kehormatan wanita.

Tidak mencuri. Tidak memiliki yang bukan hak.

Tidak memakan harta anak Yatim. Berlaku baik terhadap anak yatim. Tidak kejam terhadap anak yatim.

Tidak mengumpat. Tidak memfitnah.

Tidak enggan berbuat baik.

Membantu memkul tanggungan yang berat. Membantu meringankan derita sesama.

Berlaku baik terhadap yang meminta. Tidak membentak yang meminta.

Menyebarkan karunia Allah.

Melakukan shalat. Menunaikan zakat. Melakaukan shaum.

(Seperti disimak antara lain dari ayat QS 96:1-5, 74:1-7, 93:9-11, Ajakan Rasulullah kepada keluarga dekat, Ucapan Khadijah memberi semangatt kepada Raslullah, Ikrar ‘Aqabah Pertama, Ikrar ‘Aqabah Kedua, Penjelasan Ja’far bin Abi Thalib kepada Najasy, Penjelasan Abi Sufyan kepada Hiraklius. Semuanya merupakan cabang iman, cabang tauhid seperti dirinci oleh Imam alBaihaqi, al’Asqalani, alKirmani)

Adalah amat susah untuk menyatkaan bahwa fase Makkah pertama (tiga tahun pertama dari kerasulan) hanyalah semata-mata masa pembersihan syirik, penegakkan tauhid, dan baru pada fase Makkah kedua (sepuluh tahun berikutnya) memperkuat keimanan dengan ibadah shalihah, menumbuhkankan kesetiakawanan dan keselarasan, merintis basis dakwah. Tauhid, Aklak, Mu’amalah sejak awal adalah terpadu sebagai cabang iman, dalam Tauhid dalam pengertian luas, bukan dalam pengertian sempit. Bahkan setiap ayat Qur:an pun mencakup semuanya itu. Ada yang secara eksplisit (tersurat), dan ada pula yang secara implisit (tersirat). Bahkan bagi Imam Syafi’I, seluruh ajaran Qur:an, seluruh ajaran Islam dapat ditemukan, dipahami, dijabarkan dari Surah Wal’Ashri.

(BKS0804241245)

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s