Apa yang bisa disumbangkan Islam

Saban hari, media cetak, media elektronik memberitakan berbagai macam tanda kejahatan yang dilakukan oleh berbagai lapisan kalangan. Ada kakek-kakek yang mencabuli anak-anak gadis ingusan. Ada yang mensodomi bocah-bocah cilik. Ada remaja-remaja yang memperkosa nenek-nenek. Ada yang memperkosa gadis secara beramai-ramai. Ada yang membunuh teman kencan setelah memperkosanya lebih dulu. Ada yang berhubungan badan dengan sesama jenis. Ada yang memutilasinya setelah berhubungan badan. Ada yang menggugurkan kandungan. Ada yang membuang bayi. Ada yang membunuh bayi. Ada yang mabuk-mabukan. Ada yang menempati fasilitas umum secara paksa. Ada bentrokan, kerusuhan, kericuhan antara yang menggusur dengan yang terkena gusur. Ada bentrokan antara yang berunjuk rasa dengan aparat. Ada bentrokan antara warga sesama warga. Ada bentrokan antara pendukung yang satu dengan pendukung yang lain. Ada bentrokan antara buruh dengan pengusaha. Ada yang merampas hak orang. Ada yang melakukan pemerasa. Ada yang namanya preman, pemalak, pengamen, penguntil, dan berbagai macam lagi.

Seluruh tindak kejahatan, tindak kekerasan dalam terminologi Islam ada yang disebut dengan munkar, fahsya, maksiat. Islam menyuruh melakukan tindak pencegahan terhadap semua itu. Masalahnya kini, bagaimana tindakan pencegahannya secara konkrit, riil, praktis. Apa yang bisa disumbangkan Islam dalam hal ini ? Tegasnya apa yang bisa disumbangkan oleh para kiai, ajengan, ustadz, da’i, muballigh dalam mencegah tinda kejaatan, tindak kekerasan secara nyata, bukan teoritis ?

Dari segi menyeru pada kebajikan, secara teoritis bisa berangkat dari perintah untuk memikirkan perihal makhluk ciptaan Allah. Berpikir menghasilkan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan menghasilkan teknologi. Teknologi menghasilkan ekonomi. Ekonomi menghasilkan budaya. Sehubungan dengan itu, apa yang bisa disumbangkan oleh Islam terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, budaya ? Dengan kata lain, apa peran Islam di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, budaya ? Seluruh tokoh, pemuka Islam berkewajiban menjalankan “amar bi l-makruf, nahi ‘ani l-munkar” secara nyata.

Dalam rangka mengikuti jejak, langkah, sunnah Rasulullah, seandainya Rasulullah hidup pada masa kini, apa kira-kira yang akan disampaikan, diserukan, dilakukan Rasulullah untuk merubah sikon/sistim masyarakat munkarat menjadi masyarakat makrufat ?

(BKS0811210700)

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s