Pengkultusaan dan pengkudusan

Catatan serbaneka asrir pasir
Pengkultusaan dan pengkudusan
Mujtahid adalah pemikir tentang ibadah beserta hukumnya. Ijtihad
adalah pemikiran tentang ibadah beserta hukumnya. Hasil ijtihad adalah
hasil pemikiran tentang ibadah beserta hukumnya, yang biasa dikenal
dengan sebutan Fiqih. Dengan demikian, fiqih adalah hasil ijtihad,
hail pemikiran mujtahid. Dari sini, para orientalis berpendirian bahwa
fiqih bukanlah ketetapan Allah, tetapi hasil pemikiran mujtahid.
Dalam kajian, analisanya Joseph Schatt berkesimpulan bahwa fiqih,
“hukum Islam itu berasal dari periode Umayyah (periode tabi’in)”
(ULUMUL QURAN, No.1, Vol.VI, Tahun 1995, hal 56). Sebelumnya, memang
sudah baku dan mapan di klangan umt Islam bahwa sejak Muhammad saw
diutus, saat itu juga hukum Islam – sebagai hukum yang berasal dari
Allah – telah diturnkan dan sudah mulai diterapkan (idem).
Mujtahid bertingkat-tingkat. Ada Mujtahid Madzhab. Ada Mujtahid
Muthlaq. Syfyan, Malik, Al-Hasan, Abu Hanifah, Asy-Syafi’I, Al-Auza’I,
Al-laits, Abi Tsaur, Ahmad, Daud, Ibnu Jarir, Ishaq digolongkan
sebagai Muhtahid Muthlaq. Yang menonjol dan tetap eksis di antara
mereka adalah Malik, Abu Hanifah, Asy-Syafi’I, Ahmad. Oleh
pengikutnya, masing-masing Mujtahid Muthlaq itu dikultuskan,
dikuduskan. Mujtahid Madzhab adalah pengikut Mujtahid Muthlaq.
Para mujtahid biasanya dikultuskan, diangkat ke tingkat, ke derajat
Mujtahid Muthlaq, Pemikir Super. Timbul kesan, bahwa tabu, terlarang
mengkritik hasil ijtihad para mujtahid itu. Pra mujtahid itu selalu
benar, tak mungkin salah, berada pada tingkat super. Yang mencoba-coba
mengkritisi para mujtahid akan dicap sebagai orang sombong, tak tahu
diri, ahli hawa, ahli liberal.
Abdul Munir Mulkhan berpandangan bahwa ajaran Islam yang disusun ulama
salaf berkembang dan mengalami pengudusan (sakralisasi) dan cenderung
haram dikritik apalagi diubah dan dikembangkan (“Etika Welas Asih dan
Reformasi Sosial Budaya kiai Ahmad Dahlan”, Bentara KOMPAS, Sabtu, 1
Oktober 2005, hal 44).
‘Azami dalam bukunya “On Schacht’s Origin of Moehammad jurisprudence”
sejalan dengan Joseph Schacht alam bukunya “The Origins of Muhammad
Jurisprudence” berpendirian, bahwa “Imam Syafi’i mempunyai kelemahan
yang cukup fundamental yaitu : Imam Syafi’i sering tidak obyektif,
tidak konsisten (ada qaul qadm, ada qaul jaded) dalam
analisa-analisanya, dan sering salah paham serta bias dalam mengedit
karya-karya pihak penentangnya (Akh Minhaji : “Joseph Schacht Dan
tanggapan Terhadap Pemikirannya”, AMANAH, No.185, 9-20 Agustus 1993,
hal 108-112).
Imam Maliki, Hanafi, Syafi’I, Hambali disebutkan sebagai Mujtahid
Muthlaq. Antara hanafi dan Syafi’I dipertentangkan. Hanafi disebutkan
lebih cenderung berpegang pada akal, yang digolongkan sebagai ahli
rakyu, ahli akal, ahli pikir. Sedangkan Syafi’i disebutkan lebih
cenderung pada naqal, yang digolongkan sebagai ahli atsar, ahli
hadits, ahli naqal.
Kalau “ArRisalah” Imam Syafi’i dicermati dengan saksama akan tampak,
terlihat sarat dengan logika (penggunaan rasio, akal). Begitu juga
kitab Imam Syafi’I yang berjudul “Al-Umm” (Kitab Induk), bila disimak
secara cermat, maka akan dirasakan bahwa Imam Syafi’I lebih cenderung
menggunakan akal daripada naqal. Terlalu royal, terlalu sibuk
berandai-andai denga pola logika “if condition”, “Jika maka”. Lebih
suka menggunakan pola berpikir.
Simaklah antara lain bab “niat pada shalat” dalam “Al-Umm”. Betapa
Imam Syafi’i lebih cenderung berdala-dalam menggunakan pikiran, akal
daripada naqal, mengiring pada kesimpulan “Niat itu tiada memadai,
selain bahwa ada bersama takbir”, yang Rasulullah saw tak prnah
berbara tentang ini dan Para Shahabat juga tak pernah membicarakan
ini. Simak pul bab “Yang mewajibkan mandi dan yang tidak mewajibkan”
yang antara lain menyebutkan “Demikian juga, setiap faraj atau dubur,
atau lainnya dari wanita atau hewan, niscaya wajiblah mandi atasnya,
apabila ia memasukkan hasyfah padanya ….”.
Masalah niat misalnya diperpanjang-panjang, diperdalam-dalam oleh
mujtahid pengikut Mujtahid Muthlaq. Mengacu pada hasil ijtihad, hasil
pemikiran Imam Syafi’I, maka Imam Nawawi merinci niat ke dalam hakikat
hiat, hukum niat, tepat niat, masa niat, syarat niat.
Hadits entang niat yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim dari Umar
bin Khaththab, dikaji, dibincangkan, dibahas berdalam-dalam,
berpanjang-panjang. Apakah yang dimaksud dengan amal ?Apakah yang
dimaksud dengan niat ? Bagaimana bentuk, wujud niat itu dalam ibadah,
dalam shalat ? Semuanya dibahas berpanjang-panjang, berdalam-dalam.
Disebutkan bahwa amal itu adaalah perbuatan yang dilaksanakan oleh
mukallaf secara sengaja.
Mengacu pada Hadits tentang niat itu, dalam kitabnya “Raudhatut
Thalibin” pada “Fashal Tentang Niat”, Imam Nawawi menyatakan bahwa
“Wajib membarangkan niat dengan takbiratul ihram, menggambarkan dalam
otak tentang Shalat yang dikerjakan”, Kemudian Zainuddin Maliabari
dalam kitabnya “Irsyadul ‘Ibad” Memperpanjang lagi dengan menyebut
ushalli … berbarangan dengan takbiratul ihram. Akhirnya berkembanglah
melafalkan ushalli sebelum takbiratul ihram, jadi bukan lagi
berbarangan dengan takbiratul ihram.
Masih dalam masalah niat. “Bab Niat Pada Shalat”, Imam Syafi’I
menyebutkan bahwa Allah swt mewajibkan shalat-shalat. Rasulullah saw
menerangkan bilangan raka’at dari masing-masing shalat itu, waktunya,
apa yang dkerjakan padanya dan pada masing-masing dari padanya. Dan
mengacu pada QS 17:79 menyebutkan bahwa Allah swt menerangkan yang
sunat dan yang fardhu dari shalat-shalat itu … dst.
Syah Waliyullah adDahlawi yang bukan pegikut Imam Syafi’I setelah
bertekun mempelajari, memahami AlQuran dan AlHadits secara
sungguh-sungguh, teliti, mendalam, dalam kitabnya “Hujjatul balighah”
berkesimpulan bahwa : “Rasulullah saw melakukan wudhu’ disaksikan para
shahabat. Kemudian para shahabat mengikuti beliau tanpa dijelaskan
bahwa ini rukun dan itu sunnah. Rasulullah saw shalat dengan
disaksikan para shahabat, lalu mereka mengikutinya sebagaimana yang
mereka lihat. Rasulullah saw melaksanakan haji, dan mereka
melaksanakn haji sebagaimana yang mereka lihat. Demikianlah hamper
seluruh amalan Rasulullah saw. Beliau tidak menjelaskan bahwa fardhu
wudhu itu ada enam atau empat. Uga tidak mengandai-andaikan jika oang
yang wudhunya tidak tertib apakah shalatnya sah atau batal ….” ( Salim
A Fillah : “Agar Bidadari Cemburu Padamu”, 2004:148-149, dari ? Syaikh
Al-Albani : “Jilbab Wanita Muslimah”, 2002:?).
Masalah agama, misalnya masalah ibadah beserta hukumnya, kalau sudah
masuk tataran perbincagan, pembahasan, masuk tataran wacana, maka akan
melebar, meluas, bahkan bisa jauh dari tuntunan Allah dan tuntunan
RasulNya. Tuntunan Allah dijelaskan oleh Rasulullah saw. Rasulullah
saw menjelaskannya dengan ucapan dan perbuatan. Penjelasan Rasulullah
saw itu sebenarnya dapat dipahami, diikuti oleh semua orang. Tuntunan
Allah dan Tuntunan RasulNya simpel, sederhana, dapat dipahami, dikuti
oleh semua orang.
Dalam AlQuran terdapat berbagai do’a. rasulullah telah mengajarkan
berbagai do’a. Namun oleh orang-oang yang merasa sebagai orang pintar
(ulama), disusunlah berbagai do’a dengan mengacu pada hadits
Rasulullah saw bahwa do’a itu dimulai degan tahmid, tatsniah dan
diakhiri dengan tahmid. Kini banyak susunan lafal/matan do’a yang tak
jelas sumbernya, tak jelas penyusunnya.
(written by sicumpaz@gmail.com at BKS0610090445)

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s