Antara Islam dan Tafsiran Islam

Catatan serbaneka asrir pasir
Antara Islam dan Tafsiran Islam
Disebutkan bahwa “Islam abad pertenghan (jamannya Averroes [Ibn Rusyd]
– Islam yang dibangun oleh ahli-ahli hukum (Fuqaha) dan teologi
(Mutakallimin ?) – bukanlah Islam itu sendiri. Itu hanya satu
interpretasi (pemahaman) saja. Itu interpretasi yang cocok untuk
kondisi mereka. Sekarang dengan perubahan keadaan, diperlukan
interpretasi baru yang berbeda ( Simak Maryam Jameelah : “Islam &
Moderenisme”, AlIkhlas, Surabaya, 1982, hal 41 dari “Islamic Research
: Its Scope and justification”, Nasim Ahmad Jawed, Ummah : The Voice
of the Community, published by the Central Institute of Islamic
Research, Karachi, March 1965, p.47)
Disebutkan pula bahwa fiqih adalah hasil ijtihad, hail pemikiran
mujtahid. Dari sini, para orientalis berpendirian bahwa fqih bukanlah
ketetapan Allah, tetapi hasil pemikiran mujtahid. Dalam kajian,
analisanya Joseph Schatt berkesimpulan bahwa fiqih, “hukum Islam itu
berasal dari periode Umayyah (periode tabi’in)” (ULUMUL QURAN, No.1,
Vol.VI, Tahun 1995, hal 56). Sebelumnya, memang sudah baku dan mapan
di klangan umt Islam bahwa sejak Muhammad saw diutus, saat itu juga
hukum Islam – sebagai hukum yang berasal dari Allah – telah diturnkan
dan sudah mulai diterapkan (idem).
Juga disebutkan bahwa Islam sebagai wahyu yang universal seperti
termaktub dalam kitabullah dan Sunnah RasulNya tidaklah sama dengan
Tafsiran Islam (Fiqih, Tauhid, Tafsir) versi Salafi (Simak Pemred
SUARA MUHAMMADIYAH, Abdul Munir Mulkhan : “Etika Welas Asuh dan
Reformasi Sosial Budaya Kiai Ahmad Dahlan”, Bentara KOMPAS, Sabtu, 1
Oktober 2005, hal 44).
Tafsiran Islam (Fiqih, Tauhid, Tafsir) adalah hasil logika (kajian,
bahasan, analisa) Ulama Salaf masa lalu terhadap Quran dan Hadits.
Hasil kajian, bahasan, analisa ini bersifat situsional tergantung pada
waktu dan tepat. Misalnya Fiqih Imam Syafi’I di Mesir berbeda dengan
aktu di Baghdad. Hanafi disebutkan lebih cenderung berpegang pada
akal, yang digolongkan sebagai ahli rakyu, ahli akal, ahli pikir.
Sedangkan Syafi’i disebutkan lebih cenderung pada naqal, yang
digolongkan sebagai ahli atsar, ahli hadits, ahli naqal.
Kalau “ArRisalah” Imam Syafi’i dicermati dengan saksama akan tampak,
terlihat sarat dengan logika (penggunaan rasio, akal). Begitu juga
kitab Imam Syafi’I yang berjudul “Al-Umm” (Kitab Induk), bila disimak
secara cermat, maka akan dirasakan bahwa Imam Syafi’I lebih cenderung
menggunakan akal daripada naqal. Terlalu royal, terlalu sibuk
berandai-andai denga pola logika “if condition”, “Jika maka”. Lebih
ska menggunakan pola berpikir.
Logika (mantiq, filsafat) bertemali (bersimbiose mutualistis) dengan
Zindiq, Bid’ah, Ta’ashub/Fanatik, Syi’ah, Khawarij, Mu’tazilah
(Rasionalisme/Liberalisme), Sunni/Jumhur (Simak M Hasvi AsShiddiqy :
“Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits”, Bulan Bintang, Djakarta, 1953,
hal 20-21, 30).
(written by sicumpaz@gmail.com at BKS1202060715)

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s