Bagaimana hubungan antara Syari’at Muhammad saw dan Suari’at Ibrahim as ?

Catatan serbaneka asrir pasir
Bagaimana hubungan antara Syari’at Muhammad saw dan Suari’at Ibrahim as ?
Puasa (Shiyam) aalah salah satu ibadAT DALAM Islam, disamping shalat,
zakat, haji, dan lain-lain. Peraturan puasa bukanlah peraturan yang
baru diperbuat setelah Nabi Muhammad saw diutus, melainkan sudah
diperintahkan juga kepada umat-umat terdahulu. Kitab Taurat tidak
menerangkan peraturan puasa sampai kepada yang berkecil-kecil, namun
didalamnya ada pujian dan anjuran kepada orang supaya berpuasa. Dalam
Kitab Injil pun tidaklah diberikan tuntunan puasa sampai kepada yang
berkecil-kecil. Nabi Isa AlMasih menganjurkan berpuasa. Puasa adalah
Syari’at yang penting didalam tiap-tiap agama. Kaifiat (Tatacara)
puasa yang disyari’atkan Muhammad saw aakah mengacu kepada Syari’at
Nuh, atau Syari’at Ibrahim, atau Syari’at Musa, atau Syari’at Isa, tak
ada keterangan yang dapat dipegangi (Simak Prof Dr Hamk : “Tafsir
AlAzhar”, juzuk II, Panjimas, Jakarta, 1983, hal 106-107). Bahakan tak
ada keterangan yang dapat dipegangi kenapa Syari’at itu berbeda-beda.
Ada Syari’at Nuh, Syari’at Ibrahim, Syari’at Musa, Syari’at Isa,
Syari’at Muhammad saw. Apakah juga ibadat shalat, zakat, haji, dan
lain-lain itu juga mengacu kepaa Syari’at masa lalu ?
Selama dalam tahannuts, Rasulullah saw melakukan ibadat. Syari’at
siapa yang digunakan Rasulullah saw melakukan ibadat itu ? Ada yang
mengatakan menurut Syari’at Nuh, ada yang mengatakan menurut Syari’at
Ibrahim, ada yang mengatakan menurut Syari’at Musa, ada yang
mengatakan menurut Syari’at Isa, ada pula yang mengatakan bahwa
Rasulullah saw menganut Syari’atnya sendiri (Simak Muhammad Husain
Haekal : “Sejarah Hidup Muhammad, Tintamas, Jakarta, 1984, hal 87-88).
Baik kalangan Yahudi, Nasrani, Islam suka mengaku mengacu pada Ibrahim
as (Simak antara lain QS 2:135).
Disebutkan bahwa ibadat haji telah ada sejak nabi Ibrahim as. Bahkan
haji itu dikerakan oleh seluruh suku-suku Arab, termasuk yang musyrik.
Syari’at Muhammad saw menyempurnakan Syari’at Ibrahim as (Simak Prof
Dr Hamka : Tafsir AlAzhar”, juzuk II, Panjimas, Jakarta, 1983, hal
145). Dalam bacaan shalawat, nama Ibrahim as juga disebut disamping
nama Muhammad saw. Seolah-olah secara implisit (tersirat), Syari’at
Muhammad saw itu mengacu pada Syari’at Ibrahim as. Wallaha’lam bis
shawab.
(written by sicumpaz@gmail.com at BKS1202041030)

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s