Tinggalkan semua selain Quran dan Hadits

Catatan serbaneka asrir pasir

Tinggalkan semua selain Quran dan Hadits

Dalam matan AlBukhari (Edisi AsSundi), terbitan Alharamain, Singapura, Juzuk IV, hal 255 terdapat judul “Kitab alI’tisham bil Kitab was sunnah” (Bab tentnn Berpegang pada Kitab dan Sunnah). Pernah disebutkan bahwa ada hadits yang bermakna : “Aku tinggalkan kepada kamu sekalian dua hal (panduan hidup). Kamu sekalian tak akan tersesat bilamana kamu sekalian berpegang kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah RasulNya”. (HR Bukhari, Muslim dan beberapa Ulama Hasits yang lain ? Prof Dr Hamka : “Tafsir AlAzhar”, juzuk V, Panjimas, 1984, hal 147, re tafsir ayat QS 4:64).

(Namun gagal, tak berhasil menemukan teks (redaksi, matan) yang bermakna seperti itu. Yang saya temukan hanyalah hadits yang menyebutkan bahwa yang ditinggalkan oleh Rasulullah saw itu adalah Kitabullah dan Ahlul Bait, dalam “Mustadrak” AlHakim dari Zaid bin Arqam, pada kitab Makrifah Shahabat, hadits no.4577. Seangkan hadtis sebelumnya, hadits no.4576 menggunakan lafal “tsaqalain”, dan bukan “amrain”).

Dalam matan AlBukhari, juzuk IV, hal 270 terdapat Bab tentang sabda Rasulullah saw yang melarang bertanya kepada Ahli Kitab tentant sesuatu hal. Larangan tersebut bisa bermakna larangan belajar, berguru kepaa Ahli Kitab, larangan membaca, membahas, merujuk, mengacu kepada karya tulis Ahli Kitab. Terhadap hujah, alas an, argumentasi, dalil, postulat yang dikemukakan oleh Ahli Kitab dan orang-orang non-Islam, cukuplah menjawabnya dengan mengucapkan bahwa kami beriman kepada Allah dan kepada yang diturunkan, difirmankan Allah saja. Ini bermakna bahwa cukuplah Quran sebagai rujukan, acuan, panduan, pedoman, bahkan sebagai konstitusi, tidak campur aduk dengan yang lain.

Tinggalkanlah merujuk kepada ulama-ulama yang mengacu, merujuk kepada filosof-filosof, pemikir-pemikir Yunani dan lain-lain di abad ke empat/lima hijriyah dan sesudahnya.

Pernah suatu ketika Umar bin Khatthab memegang suatu lembaran di tangannya. Ketka dilihat Rasulullah saw, beliau menanyakan kepada Umar lembaran apa itu ? Umar menjawab bahwa itu adalah lembaran yang memuat ayat-ayat Taurat. Rasulullah saw tampak marah. Rasulullah saw mengatakan, seandainya Musa hidup masa kini, maka ia haruslah mengikuti Quran.

(Ingat pula ketika Rasulullah saw menegur Umar bin Khattab ketika dia memegang lembaran Taurat.Pandangan Rasulullah saw. pun tertuju pada yang dipegang Umar. “Apa yang kau pegang, Umar?” tanya Rasulullah saw. Dengan ringan, Umar r.a. pun menjawab, “Taurat, Ya Rasulullah!”. “Wahai Umar, andai yang diturunkan Taurat itu masih hidup, tentu, ia akan merujuk kepada Al-Quran dan meninggalkan Taurat !” ucap Rasulullah saw. begitu menggugah hati Umar. Saat itu juga, Umar pun melepas lembaran Taurat. Siapapun (muslim) pasti tidak akan meragukan aqidah Umar bin Khattab, tapi toh ditegor juga oleh Rasulullah walaupun hanya kepergok membawa-bawa lembaran Taurat. Artinya apa ? Rasulullah saw mencontohkan kepada kita untuk memegang aqidah dengan kuat. (Kata Rasulullah saw menjelang wafatnya : “Aku wariskan kepada umatku Kitabullah dan Sunnahku, peganglah erat-erat dengan gigi geraham-mu”) dari “groups.yahoo.com/group/baiturraman-vni/message/340).

M Amin Damaluddin pernah menanggapi (menggugat, mengkritik) Gagasan Prof Dr Harun Nasution “Soal Penggalakan Kuliah Falsafah, Ilmu Kalam dan Sejarah Kebudayaan Islam”. Dipaparkan “Pandangan Ahli Filsafat Islam terhadap Kebenaran Agama”. Disebutkan nama AlKindi, AlFarabi, Ibnu Rusyd, ArRazi, Ibnu Rawani, Ibnu Sina, dan lain-lain sebagai “Ahli Filsafat Islam” (Simak tulisan berseri/bersambunnya dalam Harian PELITA menanggapi Pidato rector IAIN Jakarta Prof Dr Harun Nasution yang dimuat dalam Harian PELITA tanggal 3 Agustus 1983).

Sayid Quthub dalam bukunya “Keadilan Sosial dalam Islam”, menggugat, mengkritik nama-nama yang disebut sebagai Ahli Filsafat Islam itu. Filsafat Islam hanya mengacu pada Quran. Sedangkan nama-nama yang disebut sebagai Ahli Filsaat Islam itu juga merujuk, mengacu Filsafat Yunani dan lainnya.

Dalam bukunya “Pembebas Dari Kesesatan” (AlMunqidz minad Dhalaal) menggugat, mengkritik Filsafat (Matematika, Logika, Fisika, Teologi, Sosiologi, Etika) (Simak Prof Dr Hamka : “Tafsir AlAzhar”, juzuk XI, Panjimas, hal 134).

(written by sicumpaz@gmail.com at BKS1105190830)

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s