Menyimak : “Meraih Cinta Ilahi” Jalaluddin Rakhmat

Menyimak : “Meraih Cinta Ilahi” Jalaluddin Rakhmat

1 Dalam “Meraih Cinta Ilahi”, Jalaluddin Rakhmat mencerahkan (menerangkan), bahwa mempelajari Islam tidaklah mudah, perlu menguasai ilmu-ilmu bantu Islam, seperti ‘Ulum al-Qur:an, ‘Ulum al-Hadits, Ushl al-Fiqh, bahasa Arab, dan tarikh Islam (hlm 263). Namun Qur:an sendiri mengemukakan, bahwa sesungguhnya Allah telah memudahkan al-Qur:an untuk pelajaran (QS Qamar, 54:17,22,32,40).

2 Bahasa (takwil, tafsir) orang pintar (alim) kadangkala tidak bisa dipahami, semacam Ibn Arabi (hlm 434), Muhammad Abduh, Sayyid Rasyid Ridha, al-Maraghi, al-Qasimi, al-Jauhari, Maulana Muhammad Ali (hlm 440). Tarjamah QS Baqarah 2:243, Ali Imran 3:49 (hlm 442-445) tanpa takwil, tanpa tafsir lebih mudah dipahami.

3 Pengertian “Tidak ada Tuhan kecuali Aku” (La ilaha illa ana) yang disebutkan dzikirnya Imam Ali bin Abi Thalib (hlm 91) sungguh “tidak bisa dipahami”. Namun pengertian “Dia-lah Allah Yang Maha Esa” dalam QS Ikhlash 112:1-4, jauh lebih mudah dipahami.

4 Setelah memiliki ilmu-ilmu bantu Islam (‘Ulum al-Qur:an, ‘Ulum al-Hadits, Ushl al-Fiqh, bahasa Arab, Tarikh Islam), setelah melakukan ijtihad, Jalaluddin Rakhmat memfatwakan antara lain agar kembali menghidupkan tradisi-tradisi lama seperti membaca Surat Yasin setiap malam Jum’at, memperingati malam Nisfu Sya’ban, mengadakan Ihya al-Lail di malam-malam Qadar, mengantar-jemput jemaah haji, serta membaca shalawat (acara shalawatan ?) kepada Nabi saw (hlm 361). Padahal Mazhab Alawi (Mazhab Ali bin Abi Thalib) adalah mazhab yang berorientasi pada Sunnah, yang berkeyakinan dan berupaya menghidupkan seluruh Sunnah Rasulullah saw, baik dalam bidang akidah, ibadah, maupun muamalah, tanpa kecuali (hlm 293).

5 Berdasarkan analisa kajian sufistik, Jalaluddin Rakhmat memandang bahwa ucapan salam dalam shalat (dalam tahiyat/tasyahud) adalah untuk menggabungkan ruh dengan para arwah yang suci, ruh Rasulullah, ruh orang mukmin, ruh orang sekitar. Dan menyarankan agar diluar shalat juga menggabungkan ruh dengan ruh-ruh orang suci dengan mengirimkan al-Fatihah dan istighfar (hlm 177).

Pertanyaan : a Apakah dibenarkan mengarang-ngarang ritual ibadah (semacam mengirimkan al-Fatihah untuk para arwah yang suci) berdasarkan hasil kajian, pemikiran, tinjauan, ijtihad, ra’yu ? b Apakah ada acuan, rujukan, tuntunan Rasulullah untuk menggabungkan ruh dengan para arwah yang suci dengan mengirimkan al-Fatihah dan istighfar ?

6 Jlaluddin Rakhmat mengemukakan bahwa dari hitungan para ulama tak kurang dari 24 cara ibadat haji yang dibenarkan oleh Rasulullah, yang boleh didaulukan atau diakhirkan, yang tidak ada salahnya, seperti tawah ifadhah dulu, setelah itu melempar jumrah, bercukur dulu sebelum menyembelih, menyembelih sebelum melempar, sa’i sebelum tawaf, tawaf ifadhah sebelum bercukur, tawaf ifadhah sebelum menyembelih, dan lain-lain. Berdasarkan hal tersebut , Jalaluddin Rakhmat ikut menyimpulkan (menggeneralisir, menyamaratakan) bahwa Nabi saw tidak menentukan dengan tegas cara dan urutan setiap perbuatan yang harus dilakukan oleh mukallaf, malah menyerahkannya kepada pertimbangan praktik para pengikutnya (hlm 178-179).

Pertanyaan : a Apakah hal-hal yang khusus (seperti tertib urutan ibadah haji) dapat dijadikan hal yang umum (berlaku mutlak bagi seluruh ibadah) ? b Apakah Kaifiat, Tartib urutan ibadah (seperti shalat) diserahkan kepada pertimbangan praktis masisng-masing orang ? c Ataukah ada hal-hal yang bisa disamakan (diumumkan), dan ada hal-hal yang harus dibedakan (dikhususkan) ?

7 Siapakah Muslim sejati itu ? Apakah yang percaya kepada takdir, bahwa peristiwa sejarah itu (seperti terbunuhnya Husein di Karbala) sudah ditentukan (direncakan) Allah swt, bukan oleh yang lain (hlm 354, 364) ? Ataukah yang percaya bahwa peristiwa sejarah itu bukan direncanakan Allah, tetapi oleh rekayasa politik (hlm 324) ?

8 Terbunuhnya Syahid Husein di Karbela, yang sebelumnya telah diberitahukan Jibril kepada Rasulullah (hlm 364), apakah hanya mengandung kerugian yang harus selalu diratapi, ditangisi ? Ataukah juga mengandung keuntungan (hikmah) yang harus disyukuri dengan sukacita (hlm 324). Apakah maksud, tujuan, hikmah Allah mentakdirkan Husein terbunuh di Karbala (hlm 364) ? Kenapa Rasulullah tak mendo’akan agar Allah tak mentakdirkan Husein terbunuh di Karbala (hlm 364) ?

9 Uraian Jalaluddin Rakhmat tentang istighfar, taubat, do’a dengan pencerahan sufistik (hlm 12) terasa mudah, gampang, segera terkabul. Namun dari keterangan Ibrahim Adham, Ghazali tentang adab dan kaifiat berdo’a, persyaratan agar do’a terkabul, yang juga dengan pendekatan sufistik, terasa amat sangat sukar sekali. Hanya terbatas bagi orang tertentu, manusia pilihan semacam Ibrahim, Ya’kub, Ayub, Zakaria, Maryam (hlm 392). Meskipun demikian tak semua do’a Nuh, Ibrahim, Muhammad terkabul. Sebaliknya setan, iblis yang tak memenuhi syarat, namun permintaannya segera terkabul (istidraj ?).

10 Di satu tempat Jalaluddin Rakhmat menerangkan bahwa “haji dengan berjalan lebih utama” (hlm 195). Namun di tempat lain disebutkan bahwa “salah satu keutamaan ibadat haji sekarang boleh jadi dihitung dari putaran ban mobil” (hlm 191).

11 Di satu tempat Jalaluddin Rakhmat menyebutkan agar “hiduplah dulu, lalu sesudah itu berfilsfat” (hlm 198). Namun di tempat lain menyebutkan bahwa “pikiran orang yang berpuasa menjadi lebih filosofis, orang yang berpuasa jadi bisa berfilsafat” (hlm 145). Tetapi karena tekanan-tekanan ekonomi dan kesulitan rezeki orang seringkali menjadi kafir. “Hampir-hampir kefakiran itu bersamaan kejadiannya dengan kekafiran” hlm 198). Orang yang sering frustasi sepanjang hidupnya biasanya akan mempersoalkan keadilan Tuhan (hlm 27). Semestinya (das Sollen) yang mencintai Allah tidak mempermasalahkan keadilan Tuhan (das Sein).

12 Di satu tempat Jalaluddin Rakhmat menerangkan bahwa para Sufi mengatakan “Tarekat tanpa syariat itu batil (sesat), sedangkan syari’at tanpa tarekat itu “atil (kosong, tak berisi)”. Tasauf jika tidak disertai dengan fikih, akan lahir kelalaian dan kecenderungan untuk berbuat maksiat. Tasauf lebih mentitikberatkan pada dimensi jamaliyah Allah, berkaitan dengan sifat Allah (kasih sayang, anugerah, karunia, rahmat Allah) (hlm 39). Fikih dan Teologi lebih menekankan pada dimensi jalaliyah Allah, berkaitana dengan zat Allah (keadilan, kebesaran, keagungan, kemahaperkasaan Allah) (hlm 38, 44). Namun di tempat lain lebih difokuskan pada pembicaraan wahdatulwujud (hlm 91), dan lebih diagungkan kegigihan Mujahidah Fatimah menuntut keadilan (hlm 307), sehingga secara implisit terkesan kekuasaan Abu Bakar menegakkan kezhaliman. Padahal di tempat lain disebutkan bahwa rezim para Khulafaur Rasyidin, yang di awali oleh Abu Bakar Shiddiq adalah rezim yang menegakkan keadilan, yang memihak pada rakyat dan mendahulukan orang-orang tertindas (hlm 351).

13 Di satu tempat dikemukakan bahwa orang berbeda paham (bermazhab) karena berbeda pengetahuan (knowledge), kemudian berbeda sikap (attitude), kemudian berbeda performance (perilaku) terjadilah kelompk, golongan (hlm 292). Di satu tempat dikemukakan bahwa Mazhab Alawi ialah mazhab yang sangat mencintai persatuan di kalangan kaum Muslimin (hlm 294).

Apakah mungkin dalam aplikasi operasional, sesuatu yang sudah berbeda, berpecah, berkeping dari pengetahuan, sikap, perilaku dapat dipersatukan ? Bagaimana caranya (metodenya) mempersatukan di antara mazhab-mazhab yang berbeda pengetahuannya, berbeda sikapnya, berbeda perilakunya ?

14 Secara sekilas, Jalaluddin Rakhmat menyebutkan bahwa rezim para Khulafaur Rasyidin (yang berawal dari pemerintahan Abu Bakar Shiddiq), yang berakhir pada pemerintahan Ali bin Abi Thalib kw adalah rezim yang menegakkan keadilan, yang memihak pada rakyat dan mendahulukan orang-orang yang tertindas (hlm 351). Namun hanya secara luas hanya menyebut-nyebut kelebihan Ali bin Abi Thalib kw, keluarganya, turunannya (hlm 288-366). Bahwa Ali dipuji Nabi saw sebagai pembela fakir miskin, yang kelak gugur di mihrabnya karena kcintannya kepada akeadilan, yang perlahan-lahan ditinggalkan shahabatnya seorang demi seorang karena tidak mau memberikan fasilitas tambahan kepada keluarga dan kawaan-kawan dekatnya (hlm 352).

15 Adakalanya wahdatulwujud dijelaskan demikian : Pada saat taqarrub, saat sudah dekat sekali, antara Tuhan dan hamba itu sudah tak bisa dibedakan lagi, mana yang Tuhan, mana yang hamba. Pada saat itu Hamba adalah juga Tuhan, dan Tuhan adalah juga hamba. Karena Tuhan juga melayani, memenuhi kebutuhan Hamba, maka Tuhan juga adalah Hamba (hlm 18, 90). Ajaran Wahdatulwujud itu tidak bisa dipahami, kecuali yang ilmunya sudah sampai ke sana semacam Ibnu Arabi (hlm 434). Padahal Yang Tuhan itu adalah yang tak dapat diperintah, dan yang hamba itu adalah yang harus diperintah (melaksanakan perintah).

16 Jalaluddin Rakhmat membicarakan wahdatulwujud, situasi saat Tuhan dan hmba sudah dekat sekali, sudah tak bisa dibedakan lagi, layaknya seperti situasi saat hilang lenyapnya cahaya lilin dalam cahaya matahari, tidak bisa lagi dibedakan mana cahaya lilin dan mana cahaya matahari (hlm 91). Namun tak dicerahkan (diterangkan), apakah lilin itu tetap lilin, dan matahari tetap matahari, ataukah lilin itu luluh larut dalam matahari ?

1

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s