Mencari Juru Nasehat

Mencari Juru Nasehat

Tanpa mempersoalkan apakah jihad itu bagian dari dakwah, ataukah dakwah itu bagian dari jihad, namun sangat mendesak diperlukan Mujahid yang Juru Dakwah sekaligus Juru Nasehat. Menyampaikan nasehat-nasehat agama kepada para penguasa, pembesar, pemimpin (malaa) secara tulus dan santun (laiyinaa) (QS Thaha 20:44).

Juru Nasehat yang mampu menyatakan “Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpecercaya bagimu” (QS A’raf 7:66). Yang mampu menyatakan “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu atas dakwahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan” (QS Shad 38:86).

Juru Nasehat yang memiliki kemauan dan kemampuan menyampaikan nasehat secara langsung dengan santun kepada Presiden Abdurrahman Wahid untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan mengubar fitnah, tudingan, tuduhan. Agar tak terpesona dengan kekiaian dan ketokohannya. Menyampaikan nasehat kepada Wakil Presiden Megawati agar tak terjebak pada dukungan kharismatik orangtuanya mantan Presiden Soekarno. Meningalkan ambisi untuk jadi Presiden, orang nomor satu di republik ini. Menyampaikan nasehat kepada Ketua MPR Amien Rais agar mengoreksi kekeliruan politiknya dalam mengantarkan Abdurrahman Wahid ke kursi Presiden. Menyampaikan nasehat kepada Ketua DPR Akbar Tanjung agar mengoreksi langkah politiknya selama Orde Baru. Menyampaikan nasehat kepada Hasyim Muzadi agar mengoreksi langkah politik NU selama ini. Menyampaikan Nasehat kepada Firdaus AN agar menjelaskan syarat-syarat Kepala Negara menurut hasil kajian Fiqih berdasarkan nash-nash yang shahih dan sharih.

Abdul Qayyum menyajikan “Surat-Surat Al-Ghazali Kepada Para Penguasa, Pejabat Negara Dan Ulama Sezamannya” (terbitan Mizan, Bandung). Prof Drf Hamka menukilkan surat seorang pemegang pemerintahan Taher bin Husain, pahlawan perang dan pemerintahan yang amat masyhur di zaman Khalifah Al-Makmun, kepada anaknya Abdullah bin Taher, dan surat dari Hasan Basri, ulama yang amat masyhur pada zamannya, kepada Khalifah Umar bin abdul Aziz (dalam “Lembaga Budi”, 1983, hal 38-51). KH Firdaus AN juga menukil nasehat Hasan Basri (yang wafat tahun 110H) yang disampaikannya secara tertulis kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz (yang wafat tahun 101H) (dalam “Detik-detik Terakhir Kehidupan Rasulullah”, 1983, hal 101-104). Sayid Sabiq menukilnya dalam “An-Nashirul Quwah fil Islam”, hal 154-156.

= Bekasi 21 Januari 2001 =

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s