Memahami Esensi Jihad Dalam Islam

Memahami Esensi Jihad Dalam Islam

Dikemukakan bahwa jihad itu sebenarnya adalah mempertahankan agama dan akidah. Berjuang mencurahkan harta dan jiwa di jalan Allah. Berjuang menyampaikan dakwah Islam sebagai tugas dan amanah yang harus diembann para pemeluknya. Berjuang menyebarkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas. Menyampaikan kata-kata yang adil kepada penguasa yang zalim. Ada jihad menghadapi orang kafir yang hendak merusak agama Allah. Ada jihad melawan kaum munafik. Ada jihad melawan hawa nafsu (H Khalilullah Ahmas Lc : “Esensi Jihad Dalam Islam”, SABILI, No.16, 31 Januari 2001, hal 96, Tafakkur).

Tampaknya makna, pengertian jihad sengaja direduksi, diredusir. Seolah-olah jihad itu hanya membawa misi sosial, penuh kelembutan dan kehalusan. Bebas dari kekerasan. Tak ada perang. Tapi bagaimanakan mempertahankan agama dan akidah itu. Apakah hanya cukup dengan seruan, ajakan damai ? Bagaimana pula berjuang mencurahkan jiwa ? Berjuang menghadapi orang kafir yang hendak merusak agama Allah ? Apakah cukup hanya dengan kata-kata nasehat ? Apa memang demikian maksud “dan berjihadlah terhadap mereka (orang kafir) dengan al-Qur:an dengan jihad yang besar” (QSFurqan 25:52).

Penafsir Al_Qur:an pada Departemen Agama RI (Al-Qur:an dan Terjemahnya) menyebutkan bahwa jihad dapat berarti : 1. Berperang untuk menegakkan Islam dan melindungi orang-orang Islam, 2. Memerangi hawa nafsu, 3. Mendermakan harta benda untuk kebaikan Islam dan umat Islam, 4. Memberantas yang batil dan menegakkan yang hak (catatan kaki no.232, mengenai ayat QS Ali Imran 3:142).

Abdullah Nasih ulwan menyebutkan bahwa di dalam pandangan Islam ada beberapa bentuk jihad :: 1. Jihad dengan harta benda, 2. Jihad melalui tabligh, 3. Jihad melalui pengajaran dan pendidikan, jihad secara politis, 5. Jihad dalam ari perang (pertempuran) (“Membina Generasi Muda Yang Ideal” : Jihad Sebagai Jalan Kita).

Bahwa jihad itu berkonotasi, berkorelasi “berperang untuk menegakkan Islam dan melindungi umat Islam” dapat disimak antara lain pada ayat-ayat tentang jihad dalam QS Anfal, Taubah 9:41, Baqarah 2:218, yang didahului dengan ayat tentang kewajiban berperang pada QS Baqarah 2:216.

Bahwa minta idzin untuk tidak ikut berjihad pada ayat QS Taubah 9:44, 49 dan 81, maksudnya adalah minta idzin untuk tidak pergi berperang yang diajukan oleh beberapa orang munafik yang tidak mau berperang ke Tabuk.

Bahwa jihad melawan orang kafir dan orang munafik itu juga harus dengan bersikap keras terhadap mereka (QS Taubah 9:73, Tahrim 66:9). Adalah terlarang berakrab-akraban dengan Yahudi dan Nasrani (QS Maaidah 5:51).

Sayyid Qutub sengaja menukil kembali tentang pengertian jihad yang diringkaskan oleh Ibnul Qaiyim dalam Zadul Mi’ad, yang intinya adalah bahwa orang kafir itu dijihad dengan senjata, sedangkan orang munafik itu dijihad dengan hujjah. Orang munafik ditantang dengan jihad ilmu dan argumentasi (“Petunjuk Jalan”, hal 59-96). (Bks 21-1-2001).

Asrir

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s