Reformasi

1 Reformasi

REFORMASI KONSTITUSI. Di kalangan MPR-RI ada yang menghendaki agar KH Abdurrahman Wahid mengundurkan diri dari Presiden, dan Megawati Sukarnoputri maju jadi Presiden mengantikan KH Abdurrahman Wahid. Namun menurut UUD-45, MPR hanya berwewenang menetapkan UUD (pasal 3), mengubah UUD (pasal 37), menetapkan GBHN (pasal 3), memilih, mengangkat Presiden dan wakil Presiden (pasal 6:2), dan sama sekali tak berwewenang memberhentikan Presiden dan wakil Presiden. Bila MPR menghendaki agar memiliki wewenang untuk memberhentikan Presiden atau wakil Presiden, maka haruslah MPR lebih dulu mencantumkan secara eksplisit bahwa MPR sebagai pemegang kekuasaan negara tertinggi (pasal 1:2) berwewenang memberhentikan Presiden dan wakil Presiden yang tidak menjalankan GBHN atau putusan-putusan MPR lain.

REFORMASI EKONOMI. Semangat, jiwa pasal 33-34 UUD-45 menghendaki ekonomi sosialis, ekonomi yang mengacu pada kepentingan bersama. Sedangkan kebijaksanaan pembangunan sampai kini mengarah pada ekonomi kapitalis (emangnya lu gue pikirin), ekonomi yang berorientasi pada kepentingan pemodal. Bilamana memang hendak melaksanakan UUD-45 secara murni dan konsekwen dalam bidang pembangunan ekonomi, maka seharusnya tidak ada lembaga-lembaga keuangan dan kegiatan yang berorientasi pada kepentingan pemodal, semacam bank-bangk swasta dan bursa pasar modal, cukup hanya dilakukan oleh bank pemerintah dan koperasi-koperasi.

REFORMASI HUKUM. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia menyebutkan bahwa “Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”. Namun hukum kolonial peninggalan, warisan penjajah Belanda sampai kini masih tetap diadopsi tanpa perubahan yang berarti. Kini dalam tingkat wacana muncul gagasan tentang reformasi hukum untuk tegaknya supermasi hukum, bukan supermasi kekuasaan. Selama ini hakim sebagai penegak hukum tanpa pengawasan. Dalam wacana muncul permasalahan. Apakah hakim itu perlu diawasi ? Siapakah yang harus mengawasi ? Apakah MA ? Apakah perlu ada semacam juri ? Apakah sudah masanya beralih berorientasi dari sistim kontinental (Belanda, Perancis), ke sistim anglo-saxon (Inggeris, Amerika) ? Jika terjadi silang pendapat antara Presiden dan pihak MPR, siapakah yang seharusnya jadi penengah ? Dan jika Presiden harus dituntut atas keterlibatan dalam tidankan melawan hukum (pidana, perdata, administratif) siapa yang seharusnya mengajukan Presiden ke meja pengadilan ? Dalam UUD-45 tak terdapat satu pasal semacam pasal 106 dalam UUDS-50. Dalam UUD-45 tidak ada aturan yang menyebutkan konsekwensi pelanggaran pelaporan keuangan. Pelanggaran pelaporan keuangan tidak diatur dealam UUD-45. Dalam UUD-45 tidak tercantum sanksi apa yang akan diberikan pada pelanggaran pelaporan keuangan (Adnan Buyung Nasution : MERDEKA, 3 November 1998).

REFORMASI BUDAYA. Globalisasi membobol tanggul pemisah antara halal dan haram. Bermunculan proyek=proyek maksiat yang dikemas dalam bentuk hiburan, hiburan siang dan hiburan malam. Lahirlah budaya cuek. Cuek dengan tata krama, sopan santun, norma-norma adat, nilai-nilai agama. Budaya serba bebas, serba boleh. Untuk mengantisipasi proyek-proyek maksiat yang berkedok hiburan ini, haruslah ada upaya sistimatis berkesinambungan mengajak, menghimbau para pekerja hiburan itu (pengusaha, karyawan) secara persuasif agar meninggalkan usaha, kerja tersebut dan beralih ke usaha, kerja yang tidak bernuansa maksiat. Sekaligus juga ada upaya mengajak, menghimbau para pengusaha-pengusaha lain agar dapat menerima, menampung para pekrja hiburan yang ingin beralih profesi itu. (Bks 21-11-00).

2 Korban reformasi

ROBESPIERRE (1758-1794) adalah salah seorang gembong Revolusi Perancis-I (14 Juli 1789). Ia berusaha keras untuk menegakkan asas demokrasi (liberte, egalite, et fraternite). Ia tidak bersifat tamak, tak dapat disogok. Bersama MURAT (1767-1815) dan DANTON (1759-1794), ia memegang Pemerintahan Peralihan.

Sayang kebijaksanaannya sebagai Menteri Kehakiman sangat menakutkan rakyat dan banyak menelan korban jiwa. Dengan persetujuan Conventionale (Majlis Perwakilan Rakyat), ia menjatuhkan hukuman pancung (di bawah guillotine) atas diri LOUIS XVI (1754-1793) dengan tuduhan sebagai pengkhianat negara. ROBESPIERRE memperjuangkan perubahan sosial dan menentang praktek-praktek anti agama. Ia menjatuhkan hukuman pancung atas lawan poltiknya di Convention Nationale, seperti HEBERT (1757-1794), seorang penganjur ateisme, seorang penerbit-redaktur harian yang kritis, yang juga salah seorang pelopor Revolusi Perancis I, dan atas pengikut HEBERT.

ROBESPIERRE juga menjatuhkan hukuman pancung atas kawan seperjuangan menegakkan Pemerintahan Peralihan, yaitu atas DANTON, yang pernah menjalankan “Penyembelihan September” yang dahsyat tahun 1792 saat ia menjabat Menteri Kehakiman, dan atas pengikut DANTON. Akibat kebijaksanaan yang sangat keterlaluan menjatuhkan hukuman pancung atas lawan politknya, maka lawan-lawan politknya bergabung menyusun kekuatan menjatuhkan hukuman pancung atas ROBESPIERRE pada kasus 27 Juli 1794.

Peristiwa di masa lalu di negeri orang, barangkali dapat dijadikan bahan acuan dalam rangka mewujudkan reformasi. Bahkan apa yang terjadi antara Soekarno, Tan Malaka, Syahrir, Amir, Yamin di awal revolusi misalnya dapat dijadikan pelajaran. (Bks 28-5-98)

3 Premanisme politik

Sembilan abad yang lalu (1042) Airlangga membagi kerajaannya menjadi dua. Sebelah timur bernama Janggala dengan ibu kotanya Kahuripan. Sebelah barat bernama Panjalu mencakup Daha dan Kediri. Kemudian Janggala terpecah menjadi tiga ; Janggala Kecil, Tumapel dan Urawan. Di Pangkur di negeri Tumapel tampil seorang preman. Namanya Ken Arok (Angrok). Ia anak seorang petani desa. Karena tidak mendapat didikan yang baik (salah asuhan), dan pergaulannya dengan orang-orang yang tak senonoh (salah arahan), maka ia menjadi seorang yang suka berbuat kejahatan (tindak kriminal). Ia suka sekali berjudi (gambling), menyamun (maling), merampok (menjarah), yang termasuk ke dalam Mo-Limo yang terlarang. Asal tujuannya tercapai, ia tak segan-segan menempuh jalan yang tak sah (The Ends Justify The Means). Raja Kediri, Kertajaya memerintahkan akuwu (bupati) Tumapel, Tunggul Ametung untuk menangkap Ken Arok, namun tak berhasil. Seorang Brahma (pendeta), Lohgawe menginsafkan, menyadarkan, menasehati Ken Arok agar mengubah prilakunya dan suka bekerja sama pada Tunggul Ametung di istananya. Dalam diri Ken Arok tumbuh kemauan keras dan cita-cita tinggi berambisi untuk menjadi raja. Ia mengkhianati bupati Tumapel, Tunggul Ametung dengan membunuhnya serta mengawini jandanya, Ken Dedes, sekaligus menjadi bupati Tumapel (1220). Di Kediri terjadi perselisihan/pertentangan antara penyelenggara negara (raja) dengan pemuka adat (pendeta). Raja dianggap pendeta telah melanggar adat. Pendeta minta bantuan Ken Arok. Kediri kalah (1222) dan oleh Ken Arok digabungkan (diintegrasikan) dengan Tumapel jadi Singosari yang dikepalai oleh Rajasa Ken Arok. (Bks 30-9-98)

4 Tips Dale Carnegie untuk Elit Politik

CARA MENGECAM ORANG, TANPA MENIMBULKAN RASA BENCI. Charles Schwab pada suatu hari berjalan-jalan dalam pabrik bajanya, ketika ia melihat beberapa orang, yang merokok. Diatas kepala mereka tergantung papan yang bertuliskan “Dilarang Merokok”. Charles Schwab tidak mengatakan “Apa kamu tidak bisa baca itu ?”. Tapi ia amendekati orang-orangnya, memberinya masing-masing satu cerutu, katanya “Saya senang sekali, kalau Saudara-saudara mengisap cerutu ini di luar”.

John Wanaker, pemilik toko paling besar di seluruh Amerika, ia biasa setiap hari jalan-jalan dalam tokonya yang sangat besar di Philadelphia. Pernah ia melihat seorang wanita menunggu di dekat almari toko. Tak ada orang yang menghiraukan dia. Pelayan-pelayan wanita ada, akan tetapi mereka itu berdiri di dekat almari lain, asyik ngobrol. Mereka tertawa dan bersibuk-sibuk sendiri. Wannaker tak mengucapkan satu patah kata pun. Ia malah berdiri di belakang almari, menolong wanita itu, dan memberikan barang yang dibeli kepada gadis pelayan dengan permintaan supaya dibungkus. Kemudian ia berjalan terus.

Ds Abbott diminta berkhotbah di mimbar, menggantikan Ds Henry Ward Beecher, pendeta Amerika masyhur, yang meninggal dunia 8 Maret 1997 Setelah mengadakan perubahan di sana sini, kemudian ia membacakan khotbahnya di depan isterinya. Khotbahnya itu tidak bagus, karena tidak serta merta. Namun isterinya tidak mengatakan “Suatu khotbah jelek. Tak pantas diucapkan dalam gereja. Orang-orang akan ngantuk mendengarkannya, karena seolah-olah suatu ensiklopedi. Kau harus tahu, bagaimana membuat khotbahyang baik. Bukankah engkau sudah lama menjadi pendeta ? Mengapa tidak berbicara seperti orang biasa saja ? Mengapa tidak lebih sederhana ? Kau akan rugi mengucapkan khotbah itu”. Tetapi ia berkata, bahwa khotbah itu merupakan karangan yang baik sekali untuk North American Review. Ia memuji pekrjaan suaminya, meskipun dalam pada itu secara samar-samar sesungguhnya mengatakan, bahwa pidatonya itu tidak layak untuk dikhotbahkan. Ds Abbott memahami hal ini. Ia merobek teks khotbah, yang ia susun begitu rapi, dan ia lalu mengucapkan salah satu khotbahnya yang terbaik, tanpa amenggunakan catatan sama sekali.

Dari cerita tersebut dapat dipahami bahwa untuk merubah pikiran-pikiran orang lain, tanpa menimbulkan kejengkelan, adalah dengan cara amenunjukkan kesalahan orang secara tidak langsung (jalan melereng).

CARA PALING BAIK UNTUK MEYAKINKAN DAN MENYADARKAN ORANG LAIN. “Siapa yang datang kepada saya dengan tangan yang dikepalkan” kata Presiden Wilson, “pasti akan saya sambut dengan tangan yang saya kepalkan pula. Akan tetapi, jika orang datang kepada saya, sambil mengatakan dengan sabar “Marilah kita merundingkan soal ini dengan tenang-tenang. Jika kita berselisih paham, marilah kita mencari sebab-sebabnya, mengapa pendapat-pendapat kita tak bersesuaian, dan marilah kita periksa di mana letak ketidak cocokan itu”, maka soalnya menjadi lain sekali. Kita akan segera yakin, bahwa gagasan-gagasan kita sesungguhnya tak begitu bertentangan, bahwa kita hanya dalam beberapa hal saja berselisih, dan bahwa pada umumnya gagasan-gagasan dan pikiran-pikiran kita bersesuaian. Dan selanjutnya, bahwa kita akan mendapat kecocokan, kalau kita cukup sabar, cukup kemauan dan keinginan baik”.

Sudah sejak lama sekali, pada tahun 1915, John D Rockefeller Jr adalah orang yang paling dibenci di negara bagian Colorado. Buruh-buruh pertambangan yang marah dan mau berkelahi menuntut upah-upah lebih tinggi dari Colorado Fuel & Iron Company, suatu maskapai, yang dikuasai oleh Rockefeller. Ada gedung-gedung yang dihancurkan, darah mengalir, beberapa pemogok-pemogok ditembak mati dan banyak yang mendapat luka-luka.

Ketika itu, tatkala udara diliputi perasaan benci dan amarah, Rockefeller ingin mencoba menenteramkan hati para pemogok. Mula-mula Rockefellewr selama beberapa minggu menyelidiki soalnya, di mana ia bersikap sangat ramah-tamah. Kemudian ia minta supaya para wakil buruh yang mogok itu berkumpul. Ia berpidato, berbicara di depan para pemogok yang beringas itu dengan suatu pidato yang berhasil menarik rasa simpati para pemogok, sehingga pemogok-pemogok itu bekerja kembali tanpa menyinggung tuntutan upah-upah lebih tinggi. Ini adalah salah satu contoh kasus yang bagus sekali dari cara merubah lwan-lawan menjadi kawan-kawan (How to Win Friends and Influence People).

Pidatonya itu penuh dengan kata-kata seperti : Saya bangga berada di sini, di mana saya mengunjungi rumah-rumah Saudara, dan berkenalan dengan isteri dan anak-anak Saudara-saudara, yang sekarang mendengarkan pidato saya ini. Kita bertemu di sini tidak sebagai orang-orang asing, akan tetapi sebagai kawan-kawan dalam semangat persahabatan dan dengan kepentingan-kepentingan yang sama. Hanya atas seizin Saudara sajalah, saya berada di sini, dan lain-lainnya.

Dari cerita tersebut dipahami bahwa perlakauan ramah dan tulus ikhlas, di samping pujian-pujian bisa lebih cepat merubah pikiran-pikiran orang daripada marah-marah dan membentak-bentak. (Satu orang musuh terlalu banyak, seribu orang teman terlalu sedikit). Dan untuk meyakinkan orang lain, untuk merubah pikiran orang lain, haruslah dimulai dengan cara yang ramah-tamah, seperti diungkapkan oleh Presiden Lincoln kira-kira seratus tahun yang lalu, bahwa “Orang lebih mudah menangkap lalat dengan sirop daripada dengan cuka”. Adalah lebih mudah menangkap orang dengan keramah-tamahan yang manis daripada gertakan-gertakan yang kecut. Untuk meyakinkan orang lain, haruslah dengan sikap bersahabat secara tulus-ikhlas. (Dale Carnegie, Mencapai Kebahagiaan Sejati, 2000: 99-103,153-154). (Bks 4-11-2000)

5 Pelanggaran HAM

Di kalangan militer (TNI) dinyatakan bahwa bawahan itu harus tunduk patuh pada atasan tanpa bantahan. Dalam pelanggaran HAM, maka bawahan (prajurit) tidak bisa dituntut atas apa yang dilakukannya. Atasan (pimpinan)-nya lah yang harus mempertanggungjawabkan semua pelanggaran HAM tersebut. Bwahan hanyalah melaksanakan tugas sesuai dengan perintah atasan. Perintah atasan itu bisa berbentuk tertulis, dan bisa pula berbentuk lisan. Bahkan pidato, ceramah atasan dipandang sebagai perintah pengarahan bagi bawahan. Ada perintah langsusng, tegas, jelas secara eksplisit. Ada pula perintah tak langsung, terselubung, yang harus ditafsirkan. Ucapan atasan seperti “gebuk”, “gebrak”, “ganyang”, “gusur”, “depak”, “sekap”, “sikat”, “libas”, “bersihkan”, “singkirkan”, “amankan”, dan lain-lain bisa saja deitafsirkan oleh bawahan “tangkap”, “bunuh”, “bantai”, “siksa”, “aniaya”, dan lain-lain.

= Bekasi 25 November 2000 =

asrir

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s