MENYOAL DEMOKRASI

MENYOAL DEMOKRASI

1 Amerika Pentolan Demokrasi (Menggugat Kebebasan dan Persamaan)

Perlakuan Amerika terhadap orang Indian dan Negro, merupakan sikap tidak konsisten bangsa Amerika yang selalu menyerukan demokrasi “Kebebasan dan Persamaan untuk Semua”, hal yang selalu dengan sukar diperjuangkan bangsa lain.

Amerika menjadi bangsa dan negara besar. Negara Amerika telah menjadi negara yang besar di dunia, disebabkan karena cara pemerintahan yang bebas, yang memberikan pada rakyatnya yang bebas, hak untuk kebangsaan apa pun, hak untuk memperoleh kesempatan bekerja yang serasi dengan siapa saja. Tapi tidakkah bangsa lain yang kini tidak memiliki apa yang Amerika miliki, bila mendapatkan kesempatan yang sama seperti Amerika, juga akan berkembang seperti bangsa Amerika ? Mereka telah tersisihkan dari kesempatan untuk maju, karena tanahnya telah diambil (dijajah) oleh kekuatan yang lebih besar. Amerika tidak pernah boleh lupa, bahwa tanah ini, diambil (dirampas) Amerika dari orang Indian. Amerika merebutnya, karena Amerika ingin mempunyai kebebasan individual yang lebih besar, lebih banyak ruang bergerak, kesempatan yang lebih besar.Dan Amerika merampasnya tanpa memperhitungkan bangsa Indian yang sampai hari ini, tetap tidak mempunyai hak warganegara. Inilah noda di muka Amerika yang paling memalukan dan paling menyedihkan.

Semula ketika penjarah Eropah ke Amerika, penduduk asli Indian dari Amerika Utara dan Selatan hampir seperempat ummat manusia. Penduduk Meksiko saja diperkirakan lebih dari 30 juta. Kemudian jumlah orang Indian dan Eskimo antara Rio Grande dan Arctic kurang dari 10 juta. Menjelang 1850 penduduk Indian dari Amerika Utara berkurang menjadi 200 dan 50 ribu orang saja. Orang Indian menjadi korban orang kulit putih (Amerika) karena mereka menduduki tanah-tanah subur yang cocok dengan kependudukan orang kulit putih. Kira-kira 300 orang Sioux dibunuh di Wpunded Knee pada 1890. Kekejaman-kekejaman terhadap orang Indian (Amerika) masih berlanjut sampai sekarang. Amerika Serikat telah mengadakan pembunuhan besar-besaran terhadap orang-orang kulit merah melalui sterilisasi. Amerika Serikat dan Brazil merupakan biang kemusnahan orang Indian. Sejuta orang Indian merah di Brazil terancam pemusnahan sistimatik.

Sampai saat ini orang Negro telah dibayar dengan perumahan yang buruk, kesempatan yang tidak seimbang dengan orang kulit putih (Amerika), serta diskriminasi dalam tingkat sosial dan ekonomi. Orang kulit putih (Amerika) tidak akan sudi tinggal di gubuk-gubuk di tempat orang Negro terpaksa harus tinggal.

Orang Negro sama hak warganegaranya seperti saudaranya yang berkulit putih (Amerika), bila Undang-Undang Dasar Amerika menyatakan hal yang sebenarnya. Ia seharusnya menerima upah buruh yang sama dengan buruh kulit putih, bila ia melakukan pekerjaan yang sama pula. Bila Amerika juga menginginkan kebebasan yang sama pada saudara-nya kulit hitam. Ia juga mempunyai tekad dan keikhlasan yang sama untuk membela negaranya.

Mengapa Amerika harus mencoba menarik orang-orang yang berbeda dari Amerika supaya menjadi sama dengan Amerika, sementara Amerika sendiri tahu bahwa Amerika tidak mau ditarik supaya menjadi sama dengan mereka ? Bukankah Amerika hanya akan menimbulkan rasa tidak suka dan kebencian yang makin mendalam dalam diri manusia dengan mencoba menerapkan pemikiran dan konsep Amerika pada orang lain secara paksa ?

(Dari : Harold Sherman : “Bagaimana Menguasai Pikiran Anda” 1986; Maryam Jamilah : “Islam dalam Kanca Modernisasi”, 1983; AM Furqan : “Amerika di Mata Orang Amerika”, dalam SABILI 5-VI:61; Golan W.Choudhury : Islam and the Modern World” 1993:215; Prof Dr Sammuel Huntington : The Clash of Civilization”, p.46). (Bks 19-9-2000)

2 Pentolan Demokrasi (HAM) atau Super Agresor Dunia Modern ?

“Dan apa sih sebutan Barat ? Sistem TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dan TNI (Tentara Nasional Indonesia) dengan pangkat letnan, mayor, kolonel dan pembagian divisi brigade resimen dan sebagainya itu kan Barat juga. Juga Wingate-operation dan taktik Wehrkreise yang dicanangkan oleh Abdul Haris Nasution yang disahkan oleh Panglima Besar Soedirman itu juga dari Barat idenya meski sudah dimodifikasi menurut situasi kondisi Indonesia. Maka lebih baik jangan menyebut lagi Barat atau liberal atau asli Indonesia, itu terlalu, murah dan gampang menjauh dari kenyataan historis” (YB Mangunwijaya : “Proklamasi, Lalu ?”, KOMPAS, Kamais, 14 Septem,ber 1995, hal 5).

Para pemimpin negara-negara Barat selalu mengklaim superioritas bagi dirinya sendiri atas isu-isu moral. Mereka merasa bahwa adalah tugas dan hak mereka untuk memastikan agar dunia tidak menyimpang. Demikian tulis Perdana Menteri Malaysia Mahatir Mohammad dalam “Bosnia And The West” pada kolom “The 5th Column” majalah FAR EASTERN ECONOMIC REVIEW edisi 7 September 1995, yang dikutip KOMPAS, Rabu, 6 September 1995, hal 7, “Bosnia Dan Negara-Negara Barat”.

“Adalah suatu ironi, bahwa dalam abad demokrasi juga merupakan imperialisme. (Secara yuridis formal, keabsahan imperialisme-kolonialisme itu berdasarkan pasal-pasal Hukum Internasional yang berlaku sejak kapan dan di mana saja diberlakukan ?). Tatkala Paris menggema dengan slogan “Kemerdekaan, Persaudaraan dan Persamaan” (Liberte, Fraternite, Egalite), pasukan-pasukan Perancis menyerbu negara-negaraa bebas di Afrika dan Asia Tenggara serta melakukan penindasan imperialisme. (Chad, Niger, Aljazair, Tunisia termasuk negara di Afrika yang berbahasa Perancis).

Sementara demokrasi baru sedang dicoba di Inggeris (yang memiliki Magna Charta-1215, Habeas Corpus Act-1679, Bill of Rights-1689), maka Cina dan India ditundukkan dan diperbudak. Negeri-negeri ini dengan kejam dibelenggu dan kebudayaan mereka dibinasakan dengan cara yang sangat tak berperikemanusiaan.

Industri meap-megap menghadapi kematian, hanya sekedar untuk memberi hidup pada industri Lancashire (di Inggeris). Perpustakaan Syanghai yang besar dibakar hanya untuk memuaskan haus kekuasaan imperialisme.

Orang-orang Afrika diracun sampai mati karena “kejahatan” bahwa mereka ingin mempertahankan kebudayaan dan kemerdekaannya.

Maut berkeliaran di Aljzair karena mereka menghendaki “kemerdekaan”. Nysaland (Malawi, Afrika Tenggara) ditundukkan di bawah kesengsaraan, karena mereka mengingini hak-menentukan-nasib-sendiri. Imperialisme Barat berusaha sedapat-dapatnya untuk menghancurkan peradaban dan kebudayaan lain dan memaksakan dominasi kebudayaannya sendiri sebagai “Misi peradaban Barat yang besar”.

Lord Macaulay dalam usulannya tentang Pendidikan (India) mengatakan bahwa mereka bermaksud melahirkan suatu generasi orang-orang muda yang lahirnya adalah India, tetapi Inggeris dalam pemikirannya.

Di seluruh Asia dan Afrika, semua usaha telah dilakukan untuk memusnahkan kebudayaan setempat. Dalam pikiran generasi baru ditanamkan bibit pemberontakan terhadap peradbannya sendiri, dan melalui medium pendidikan pembunuhan terhadap pikiran dan perasaannya menjadi sempurna.

Kebudayaan dan peradaban mereka sendiri tidak ditolerir dan sistim Barat dipaksakan kepada mereka.

Rakyat-rakyat Asia dan Afrika mengalami gelombang agresi yang berturut-turut dalam bentuk perdagangan dan petualangan dan akhirnya kekuatan militer 9tentara) Barat sejak abad ke-15. Dalam kurun zaman inilah Barat merampasi tanah-tanah penduduk asli di Amerika, Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan dan Timur, termasuk juga tanah-tanah yang masih kosong (Khurshid Ahmad : “Islam lawan Fanatisme dan Intoleransi”, 1968:20-23).

Setelah orang-orang Barat menduduki Amerika dan kepulauan Hindia Barat, selama tiga setengah abad perdagangan budak terus berlanjut. Orang-orang Afrika berkulit hitam dibawa dari pedalaman Afrika dan diangkut ke kapal-kapal yang berlabuh di pantai-pantai Afrika yang dikenal dengan sebutan PANTAI BUDAK. Selama satu abad saja (sejak tahun 1680 hingga 1786), budak-budak yang diangkut ke berbagai koloni Inggeris saja mencapai jumlah tidak kurang dari 20 juta jiwa.

Kapal yang digunakan untuk mengangkut budak-budak tersebut adalah kecil dan kotor. Orang-orang Afrika yang malang itu dimasukkan berdesak-desakkan dalam ruang di bawah geladak kapal persis seperti ternak. Banyak dari mereka dirantai pada rak-rak kayu, sehingga mereka hampir-hampir tidak bisa bergerak karena antara mereka masing-masing saling tumpuk-bertumpuk. Selama dalam perjalanan, mereka tidak diberi makan yang cukup, dan bila ada mereka yang jatuh sakit, tidaka ada perawatan medis apa-apa (Abul A’la Maududi : “Hak-Asasi Manusia Dalam Islam”, 1985:29-30)

Sepertiga sampai setengah di antaranya mati selama perjalanan. Mereka ditelanjangi dan dicap dengan besi-besi panas, dibelenggu, dirantai. Selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, mereka hidup berdesakkan di ruang-ruang kapal.yang tidak berventilasi, tidak ada satu inci pun ruang di antara mereka. Ketika mereka sampai di Amerika, mereka dipaksa melepaskan semua atribut afiliasi kultural dan suku mereka, dan dipaksa menganut agama Kristen dan menggunakan nama-nama majikan mereka. Budak-budak wanita seringkali diperkosa oleh para majikannya dan anak-anak mereka dihina serta tak dibiarkan meran dicap dengan besi-besi panas, dibelenggu, dirantai. Selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, mereka hidup berdesakkan di ruang-ruang kapal.yang tidak berventilasi, tidak ada satu inci pun ruang di antara mereka. Ketika mereka sampai di Amerika, mereka dipaksa melepaskan semua atribut afiliasi kultural dan suku mereka, dan dipaksa menganut agama Kristen dan menggunakan nama-nama majikan mereka. Budak-budak wanita seringkali diperkosa oleh para majikannya dan anak-anak mereka dihina serta tak dibiarkan meran dicap dengan besi-besi panas, dibelenggu, dirantai. Selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, mereka hidup berdesakkan di ruang-ruang kapal.yang tidak berventilasi, tidak ada satu inci pun ruang di antara mereka. Ketika mereka sampai di Amerika, mereka dipaksa melepaskan semua atribut afiliasi kultural dan suku mereka, dan dipaksa menganut agama Kristen dan menggunakan nama-nama majikan mereka. Budak-budak wanita seringka995, hal 1 dan 11).

3 Demokrasi di Dunia Islam

Ternyata demokrasi sesuatu yang mahal di negara-negara dunia ketiga (khususnya di negara-negara Muslim). Demokrasi itu sendiri seringkali bersifat nisbi dan tidak jelas batasannya. Demokrasi dalam prakteknya ternyata kerap kali menyimpang jauh.

Di neara yang menyatakana diri menganut faham demokrasi, kenyataan politik yang berjalan sering menyimpang dari yang dicita-citakan. Pada prakteknya demokrasi itu tak lebih dari suatu doktrin yang dipakai untuk memelihara kepentingan Barat. Fakta menunjukkan, ukuran demokrasi adalah sejauh mana kepentingan negara-negara Barat dengan biangnya Amerika Serikat terlindungi. Negara Barat tak segan-segan mendukung rejim represif dan otoriter yang dianggap bisa memelihara dan menjaga kepentingan Barat. Pentolan demokrasi Amerika Serikat sangat berperan merekayasa kekacauan di dalam negeri negara-negara Muslim semacam Sudan, Somalia, Iran, Irak, Turki, Pakistan, Libya dengan mengobok-obok gerakan-gerakan Islam dengan remote control intelijen canggihnya.

Tuduhan anti demokrasi dengan lugas ditempelkan kepada gerakan Islam betapapun didukung oleh mayoritas rakyat. Demokrasi hanya dikenakan Barat (Yahudi dan Kristen) dan pendukungnya kepada gerakan-gerakan di luar Islam, yang membantu terpeliharanya stabilitas dominasi Barat dengan Amerika Serikat sebagai biangnya.

Teriakan-teriakan lantang tentang demokrasi yang digaungkan oleh Barat (Yahudi dan Kristen) dan pendukungnya, tidak lebih dari demokrasi semu. Memobilisasi massa melakukan pergolakan secara luas, terbukti cukup effektif dalam menghadapi pemerintahan yang represif dan otoriter.

Di hampir semua negara ketiga, militer merupakan kekuatan sangat dominan di panggung politik dan kekuasaan. Hampir tidak ada negara-negara dunia ketiga yang pemerintahannya lepas dari kendali militer. Rejim militer di negara-negara dunia ketiga, rata-rata memendam kebencian yang dalam terhadap aspirasi Islam dan gerakan Islam. Betapapun besarnya dekungan rakyat kepada gerakan Islam menurut cara demokratis, tidak berarti aspirasi Islam bisa ditegakkan dengan leluasa.

Memperjuangkan Islam ternyata tak cukup hanya dengan satu sektor kekuatan. Diperlukan penguasaan dan penghimpunan potensi secara integral dan terpadu dari berbagai bidang (multi dimensi, multi disiplin, multi media). Diperlukan organisasi yang memiliki kekuatan bersenjata melawan junta militer. Diperlukan militer yang berpegang pada rasa kemanusiaan dan berpihak pada rakyat dan penguasa adil, bukan berpihak pada penguasa lalim, meskipun dari kelompok sendiri. Diperlukan militer yang berdiri secara netral dan hanya mendukung yang mendapat kepercayaan rakyat, tanpa turut campur tangan dalam urusan-urusan politik.

Kondisi dimana relatif rakyat hidup terbelakang (miskin dan bodoh), tidak memungkinkan demokrasi dilaksanakan secara jujur dan baik. Agar supaya demokrasi dapat dilaksanakan secara baik diperlukan pendidikan rakyat yang relkatif memadai (Pendidikan Mental Demokratis) dan tingkat kehidupan sosial-ekonomi yang cukup layak (SABILI, No.12, Th.IV, Rajab 1412H, hal 52-54, “Aljazaair Antara Jihad dan Demokrasi”, SABILI, No.8, Th.VIII. 16 Rajab 1421H, “Pelajaran dari Negara-Negara Islam”).

Struktur organisasi gaya militer Barat mulai pertama kali diperkenalkan (dipungut) di kalangan dunia Muslim oleh Sultan Mahmud (1800-1839) dari Bani Seljuk Usmaniyah Turki. Pada tahun 1826 Sultan Mahmud mulai mengadakan serangkaian reformasi Westernisasi, yang kemudian dikenal sebagai Tanzimat. Reformasi pertama berkaitan dengan reorganisasi ketentaraan, dengana mendirikan sekolah-sekolah angkatan laut dan militer yang modern. Juga mengirimkan kelompok-kelompok siswa Turki muda ke Perancis untuk pendidikan mereka.

Semua itu dilakukan Sultan Mahmud agar Turki dapat mengimbangi orang-orang Eropah, baik dalam kemiliteran maupun dalam ilmu pengetahuan, begitupun untuk menjawab tantangan zaman baru. Namun angkatan muda, yang telah menerima pendidikannya di ibukota-ibukota Eropah atau pada akademi-akademi modern di Turki, mereka telah terdidik dalam memandang enteng terhadap agama (Islam), sebaliknya memuji-muji peradaban Barat. Kebanyakan mereka adalah semacam “golongan militer” dan para guru etika-moral dan sopan satunnya kurang (Maryam Jamilah : “Islam dalam kanca Modernisasi”, 1983:88-89, Abul Hasan Ali al-Husni an-Nadwi : “Pertarungan antara Alam Fikiran Barat dengan Alam Fikiran Islam”, 1983:42, Prof Dr Hamka : Tafsir Al-Azhar” V:134-135, “Antara Fakta dan Khayal TUANKU RAO” 1974:42-44).

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s