MENCARI JALAN LURUS

MENCARI JALAN LURUS

1 Generasi cuek

Imamnya, makmumnya cuek. Pemimpinnya, rakyatnya cuek. Semuanya pada cuek. Cuek terhadap masalah halal haram. Sang Pemimpin sangat mahir mencari-cari dalil, hujah untuk membenarkan, mensahkan pendapatnya. Benar-benar amat pintar. Pintar memelintir. Memelintir yang sudah qath’i menjadi dzanni. Memelintir yang sudah baku menjadi yang diperselisihkan, diperdebatkan. Amat lihai mempermainkan dalil-dalil agama.

Untuk melegalisasi, melegitimasi pendapat sendiri yang menyalahi pendapat umum (ijma’) digunakan kaidah usul fikih, bahwa “siapa yang ijtihad, menafsirkan hukum benar, akan mendapat dua pahala, tetapi yang ijtihadnya salah mendapat satu pahala”. Kaidah usul fikih “menghindari kesulitan lebih utama, dari pada mendatangkan kebaikan” (darul mafasid muqaddam ‘ala jalabil mashaalih) digunakan untuk mengamankan, menyelematkan kehilangan, kerugian penanaman modal asing, penutupan perusahaan asing. Terganggunya investasi asing yang jumlahnya milyaran, dipandang lebih mafasid dari pada timbulnya kebingungan dan keresahan di masyarakat akibat ulah intervensinya dalam bidang yang bukan wewenangnya, mengeluarkan statement blunder (kacau, ngawur).

“Yang paling berwewenang dalam menentukan halal haramnya sebuah produk makanan dan minuman adalah kaum ulama dan ahli syar’iyah”. “Dalam kapasitas selaku kepala anegara tidak berwewenang mengeluarkan pernyataan fatwa tentang halal dan haram suatu produk makanan”.

Ada yang pintar bermain diplomasi menepis timbulnya kebingungan dan keresahan di kalangan masyarakat. Akibatnya beragamnya pendapat tentang halal haramnya suatu produk makanan dan minuman. “Khilafiyah biasa terjadi dalam beragama”. “Perbedaan penafsiran tidak akan membuat bingung masyarakat. Masyarakat sudah bisa menilai sendiri terhadap mana yang benar”.

Rakyatnya cuek. Masa bodoh. Tak peduli tentang halal haram. “Dari pemantauan (pers) di kalangan pedagang diperoleh kesimpulan, bahwa mereka tidak sempat memikirkan halal atau haram sebuah barang, pembeli pun begitu. Baginya yang penting bisa makan”. “umumnya pelanggan tidak ada yang menanyakan haram atau tidaknya apa yang dijual”. “Dari pengamatan (pers), masyarakat (Penjual dan pembeli) nyaris tak mempersoalkan haram atau halal apa yang dijual di warung-warung”. “Hanya sebagian (sedikit) saja yang peduli terhadap masalah halal haram” (PADANG EKSPRES, Kamis, 11 Januari 2001, hal 1, 6).

Tugas kewajiban para ulama, da’i, penceramah lah untuk menyeru, menghimbau, menyeru, menuntun, membimbing generasi cuek ini menjadi generasi peduli (terhadap halal dan haram) melalui semua wahana dan sarana dakwah, baik melalui taklim, khutbah, buletin dakwah, media cetak, mapun media elektronik seperti radio dan televisi.

Ulama, da’i, penceramah yang akan ikhlas mengemban tugas risalah ini hanyalah yang mampu menyatakan “Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam (QS 26:109, 127, 145, 164, 180). Yang sanggup menegaskan “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terima kasih” (QS 76:9).

2 Penerapan Kaidah Usul Fikih

Kaidah Usul Fikih (Rumusan Dasar Penetapan Hukum dalam Islam) diturunkan (diderivasi, disimpulkan) secara deduktif dari Kitabullah dan Sunnah Rasul (yang merupakan sumber acuan hukum). Kaidah Usul Fikih bersifat lentur (fleksibel, elastis). Karena lenturnya itu, maka penerapan kaidah Usul Fikih pada rubu’ imarah (sektor pemerintahan) adakalanya terjadi untuk membenarkan (mensahkan, menjustifikasi, melegalisirkan, melegitimasikan) suatu kebijakan pemerintahan yang didukung.

Misalnya Kaidah usul Fikih “dar:ul mafasid muqaddam ‘ala jalbil mashalih” (mencegah kerusakan/kerugian diupayakan lebih dulu sebelum upaya mendapatkan manfa’at/mashlahah) diterapkan untuk mendukung kebijkan politik pemerintahan Soekarno serta mengangkat Soekarno sebagai Waliulamri dharuri bi-syaukah, dalam rangka mencegah akibat yang lebih buruk, antara lain dari pengaruh komunisme.

Kaidah Usul Fikih “ma la yudraku kulluh la yutraku kulluh” diterapkan untuk menerima Asas Tunggal Pancasila.

Kaidah Usul Fikih “alhukmu yadullu bi ‘illatithi” (hukum tergantung penyebabnya) diterapkan untuk menolak Megawati sebagai calon Presiden, karena khawatir akan orang-orang di sekeliling Megawati.

Kaidah Usul Fikih “al-muhafazhah ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah” (memelihara khazanah masa lalu yang baik serta mengadopsi perkembangan terbaru yang lebih baik) diterapkan untuk membenarkan sikap politik situasional (Tabloid ABADI, No.33, 24-30 Juni 1999, hal 10, Fatwa Ulama NU : Antara Fiqih dan Politik). (Bks 29-4-2000)

3 Aktivitas Pemilintiran (Fitnah Terbesar)

Islam mengingatkan agar menjaga ucapan, agar mengatakan yang benar (QS Ahzab 33:70), atau diam. “Dan siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata yang baik atau beridam diri” (HR Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah). Ada sejumlah jenis, macam ucapan yang buruk, busuk, karut, marut, jahat, jorok (aafaul-lisan). Di antaranya adalah memilintir. Bahasa asingnya memanipulasi. Padanannya tahrif (penyempitan dan perluasan makna).

Belakangan ini santer, marak, bahkan merupakan tren gejala pemelintiran makna ini. Yang sudah benar diplintir menjadi samar. Yang sudah baku diplintir menjadi ragu. Yang sudah qath’I diplintir menjadi zhanni. Syari’at Islam diplintir sedemikian rupa, sehingga hanya sebatas ibadah ritual (shalat, shaum, zakat, haji). Bahkan hanya sebatas prinsip-prinsip umum (hakikatnya, nilainya, semangatnya, jiwanya).

Dalil-dalil syar’i, kaidah-kaidah ushul fiqhi diplintir, dimanipulasi. Makna syari’at Islam direduksi, sehingga terpisah, bertentangan antara hakikat dan syari’at. Makna ayat QS Ali Imran 3 diplintir, dimanipulasi sedemikian rupa, agar yang telah beragama jangan didakwahi masuk Islam. Jangan didakwahkan Islam itu sebagai acuan tunggal (alternatif).

Makna keadilan diplinitr, dimanipulasi sedemikian rupa sehingga setiap upaya untuk memformalkan syari’at Islam dalam perundang-undangan harus dipandang diskriminatif terhadap non-Islam.

Pengertian jihad diredusir, diturunkan dari pengertian istilah (kontekstual, keagamaan) menjadi pengertian lughawi (tekstual, grammatikal, kebahasaan0), yang hanya berarti bekerja keras atau berjuang, bersungguh-sungguh.

Makna ijtihad dipenggal, sehingga tanpa kesungguhan dan kehati-hatian, fatwa jama’ah (ijma’ ulama) didongkel, dikalahkan, dibatalkan oleh fatwa munfarid (perorangan).

Makna ukhuwah diplintir, dimanipulasi bahwa ukhuwah yang cocok adalah ukhuwah syu’ubiyah, ukhuwah wathaniyah, sedangkan ukhuwah Islamiyah akan menimbulkan perpecahan bangsa, destabilitas dan disintegrasi nasional.

Kafir, kufur diplintir sedemikian rupa sehingga yang sudah berTuhan bukan lagi kafir (yakfuruuna bi aayatillah). Dengan pengertian ini maka iblis pun bukan termasuk kategori kafir, kufur.

Akibatnya istilah-istilah agama yang sudah baku, seperti halal, haram, thaib, khubs, khair, syarr, makruf, munkar diplintir sedemikian rupa, sehingga meskipun lafalnya tetap sama, namun maknanya sudah berubah sama sekali. Karena saking pintarnya memilintir, menyebabkan tergelincir. Tahrif jalan ke tasykik (meragukan). Kepada Nabi Adam telah dijelaskan Allah tentang hal yang terlarang, yang haram dilakukan. Namun karena pintarnya setan memelintir, maka Nabi Adam sempat tergelincir (QS Baqarah 2:35-36).

Yang sudah kena tasykik tak bisa lagi membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara yang halal dan yang haram. Rasulullah sudah memperingatkan, bahwa “akan datang suatu masa di mana mereka menghalalkan yang haram setelah mereka mengganti namanya”.Riba tetap saja riba, meskipun namanya bunga kembang, jasa administrasi. Judi tetap saja judi. Namanya bisa saja dana kesejahteraan sosial, atau arisan sambung rasa, atau multi level marketing, atau lainnya.

Islam sangat tak suka memplintir yang sudah terang (muhkamat) menjadi yang kabar (mutasyabihat). Membuat hal-hal yang sudah diyakini (qath’i), yang sudah disepakati (ijma’) menjadi hal-hal yang diperdebatkan, yang diperselisihkan. Misalnya nash tentang kepemimpinan sudah sangat terang, gamblang (muhkamat) menjelaskan bahwa yang pria, yang Islam itulah yang menjadi pemimpin.

Memplintir yang sudah terang ini menjadi yang kabur adalah merupakan fitnah (bahaya) terbesar yang dihadapi Islam. De-islamisasi, de-formalisasi syari’at Islam bergandengan memplintir yang muhkamat, yang sudah jelas, yang sudah pasti menjadi yang mutasyabihat, yang diragukan. “Orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya” (QS Ali Imran 3:7).

Para Rasul mengingatkan ummatnya agar jangan membuat kerusakan di muka bumi (QS 7:74, 11:85, 26:183, 29:36, 2:60). Aktivitas membuat kerusakan ini pun semakin marak pula akhir-akhir ini. Membuat kerusakan di semua bidang, di semua lapangan. Kerusakan akhlak (dekadensi moral). Batas antara yang baik dan yang buruk sudah sangat kabur. Kerusakan tatanan budaya (kultural). Kerusakan tatanan ekonomi. Kerusakan tatanan politik. Keruskan tatanan hukum. Dan lain-lain. Semuanya berpangkal dari pemilintiran yang haram menjadi yang halal (serba boleh).

Untuk memuluskan pemelintiran yang haram menjadi yang halal ini digunakan antara lain kaidah ushul fiqhi : “dar:ul mafaasid muqaddam ‘ala jalabil mashaalih”. Penerapannya disesuaikan dengan selera. Bahkan kaidah ushul fiqhi ini juga digunakan untuk melegalisasi, meligitimasi, mengesahkan pandangan politik. Sampai-sampai menimbulkan mafsadah (kerusakan, fitnah) yang lebih hebat, seperti perselisihan, perpecahan ummat. (Bks 11-1-2001).

4 Manipulasi terminologi Islam

Istilah, terminologi ajaran Islam sebenarnya mempunyai pengertian yang sudah baku. Namun demikian, disamping yang berpegang pada pengertian baku, ada pula yang memanipulasi, mereduksi, meredusir pengertian yang sudah baku itu.

Ada yang memahami bahwa menegakkan syari’at Islam adalah berpegang pada rukum iman yang enam dan menjalankan syari’at Islam yang lima (syahadat, shalat, shaum, zakat, haji). Memahami bahwa Khalifah di kalangan Muslimin adalah semacam Paus di kalangan Katholik Kristen. Khalifah itu tanpa kekuasaan (politik, militer). Istilah-istilah jama’ah, imamah (imarah), bai’at, tha’at sama sekali tak terkait dengan kekuasaan (politik, militer). Tujuan khilafah adalah agar dapat beribadah secara tertib dan terpimpin. “Islam hanyalah da’wah diniyah. Semata-mata mengatur hubungan manusia dengan Tuhan. Tak ada hubungan apa-apa dengan masalah keduniaan, seperti urusan peperangan dan urusan politik”. “Agama adalah satu hal, dan politik adalah suatu hal yang lain”. “Qur:an tak pernah memerintahkan agar negeri diatur, ditata oleh Islam”.

Ada pula yang memahami bahwa menegakkan syari’at Islam itu adalah berpegang pada prinsip-prinsip umum dari hukum Islam (hakikatnya, nilainya, semangatnya, jiwanya), sedangkan penerapan pelaksanaannya disesuaikan dengan situasi, kondisi, suasana, tempat, waktu (makan, zaman). “Islam itu hanya sebatas hakikat, sebatas nilai”. Yang diperlukan hanyalah menggali nilai-nilai syahadat, shalat, shaum, zakat, haji, qurban, jihad, dan lain-lain. Sedangkan bentuk, ujud, format, kaifiat dari syahadat, shalat, shaum, haji, qurban, jihad, dan lain-lain terserah selera masing-masing sesuai dengan perubahan zaman.

Ada pula yang memahami bahwa menegakkan syari’at Islam itu adalah berpegang pada rukun iman yang enam dan menjalankan rukun islam yang lima, serta berjama’ah bersama-sama seara kolektif memberlakukan hudud yang ditetapkan Allah sebagai hukum positif seperti yang pernah dilaksanakan oleh Rasulullah. Islam itu meliputi semua aspek kehidupan, termasuk politik, militer. Khilafah itu merupakan kekuasaan (politik, militer) untuk memberlakukan hudud, syari’at yang ditetapkan Allah.

Untuk memberlakukan hudud, menegakkan syari’at Islam ada yang menempuh jalur pendidikan dan bimbingan (tarbiyah dan taklim). Ada yang menempuh jalur pengabdian masyarakat, aksi sosial. Ada yang melalui dekrit pemerintah, menempuh jalur politik, jalur parlemen. Ada yang menempuh jalur kekuatan militer, dengan kekuatan senjata.

Hasan al-Banna dengan Ikhwanul Musliminnya di Mesir, Maududi dengan Jami’ah Islamiyahnya di Pakistan lebih memusatkan perjuangannya melalui jalur politik, jalur parlemen. Di Indonesia, Soekarno pernah menganjurkan memilih jalur parlemen ini, namun ia sendiri berseberangan dengan Islam. Kartosuwirjo lebih maju, memilih jalur perjuangan bersenjata dengan memproklamasikan berdirinya Negara karunia Allah, Negara Islam Indonesia (NII).

Bagaimana pun, realisasinya sama sekali tergantung semata-mata dari anugerah karunia Allah, seperti tampilnya Umar bin Abdul Aziz yang jauh sangat berbeda dengan keluarganya dalam kalangan Bani Umawiyah (Umaiyah ?).

5 Sinkretisme Sarana Deislamisasi

Sinkretisme adalah paham yang gerakannya berupaya mempersatukan agama-agama yang ada di dunia (religious syncretism is the fusian of diverse religious beliefs and practics) “talbis al-haq bi al-bathil”. Berpangkal, berpangkal pada pemikiran, bahwa diskriminasi antar akidah (kepercayaan) harus dihapuskan, dilenyapkan.

Tujuan, sasarannya adalah memeloroti, melucuti Islam (Deislamisasi), menggantikan dasar Ketuhanan dengan dasar Kemanusiaan, menyingkirkan kode etika (norma moral) dan undang-undang akidah Islam, menjadikan tarekat, hakikat, makrifat terpisah dari syari’at Islam (Deformalisasi Islam). Berupaya meminggirkan, menyingkirkan syari’at Islam dari mu’amalah (sosial, kultural, ekonomi, hukum, politik, militer, dan lain-lain). Menyeru kepada fusi (peleburan) agama-agama dalam satu wadah.

Sinkretisme menyatu dengan sekularisme berupaya merubuhkan Islam. “Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi” (QS Ali Imran 3:118).

Pencetus sinkretisme menurut Ibnu Taimiyah (“al-Raddu ‘ala al-Manthiqiyyin”) adalah Ibnu Sab’in dan Ibnu Hud at-Talmasani. Mereka beranggapan bahwa orang yang paling mulia adalah yang mengajarkan semua umat beragama bersatu secara menyeluruh dalam satu wadah.

Di India, raja Jalaluddin Akbar (1556-1605) memadukan unsur-unsur dari segala agama dunia ake dalam agama baru yang disebutnya “Din Ilahi”. Agama baru itu membenci Islam dan semua ajaran Islam, menantang hukum syari’at Islam, menghalalkan apa yang diharamkan Islam, mencela dan melecehkan pelajaran-pelajaran agama Islam, menyanjung-nyanjung sain dan teknologi.

Dipungut, diadopsi Decalogue Nasrani (Ten Commandements), Dasasila dan Astavida Budha, Penyembahan Api Majusi, Penyembahan Sapi Hundu-khus, dan lain-lain. Dasasila Budha mengajarkan sepuluh larangan : larangan mengganggu, larangan mencuri, larangan melacur, larangan berbohong, larangan mabuk, larangan makan bukan pada waktunya, larangaan menyaksikan kesenangan, larangan bersolek, larangan tidur pada tempat yang empuk, larangan menerima hadiah. Astavida Budha mengajarkan delapan jalur kebenaran : berpandangan hidup yang benar, berpikir yang benar, berbicara yang benar, berbuat yang benar, berpenghidupan yang benar, berusaha yang benar, berperhatian yang benar, bersemedi yang benar.

Di Sudan, Ir Mahmud Muhammad Thaha (1911) mendirikan Al-Hizb Al-Jumhuri Fi As-Sudan (Partai Republik Sudan). Partai Republik Sudan ini menyerukan kebebasan mutlak : bebas berpikir, bebas berkata, bebas berbuat sebebasnya tanpa batas. Untuk mendukung seruannya, ia memanipulasi, memelintir ayat-ayat al-Qur:an dan al-hadits. Ir Mahmud Muhammad Thaha adalah lulusan Universitas Khartum (Akademi Khartum Monumental) pada tahun 1936. Ia menentang keras penerapan hukum Islam di Sudan. Ia dijatuhi hukum mati dengan tuduhan zindiq dengan menentang syari’at Islam.

Ada lagi Dr Hasan Hanafi, tokoh kiri Islam yang terang-terangan mengatakan bahwa hakikat agama itu tidak ada. Dr Muhammad Imarah yang mengarang buku “Islam dan Pluralisme”. Rif’ah Thahthawi, Khairuddin al-Tunisia yang setelah belajar di Perancis menyebarkan ide-ide untuk menata masyarakat dengan dasar sekularisme rasional.

Di Indonesia, kegiatan yang cenderung sinkretis, kini sering dilakukan, antara lain oleh Dr Said Aqiel Siraj, KH Abdurrahman Wahid. Pendapat mereka tidak jauh berbeda dengan tokoh sinkrtetisme Dr Muhammad Imarah (pengarang “Ghazwun min ad-Dakhil) dan Dr Rifa’ah at-Thahthawi. Dr Said Aqiel Siraj adalah ahli teologi lulusan Universitas Ummul Quraa, Mekkah dengan disertasi “Surat-Surat Para Rasul Pada Perjanjian Baru Dan Pengaruhnya Dalam Perubahan Agama Kristen”” Ia acapkali di undang ke gereja untuk berdiskusi, dan pernah melansir agar MUI dibubarkan saja karena memfatwakan pengharaman bactosoytone (“back to syaithon”).

Abdurrahman Wahid, Said Aqiel, Masdar F Mas’udi menghendaki sistem negara sekuler, menentang segala macam bentuk legalisasi ajaran Islam. Masdar dengan tegas menyatakan bahwa sumber pemikiran bukanlah Hadits Shahih, melainkan maslahat mursalah (realitas empirik), menolak RUU zakat dengan dalih tidak adil.

Kalangan muda NU lebih tergerak mempelajari karya-karya Mahmud Thaha dan Abdullah an-naim, tokoh pluralis Sudan yang menentang keras Islamisasi pemerintahan (“The Second Message of Islam”), dan bukan memilih Hasan Turabi tokoh penggerak Islamisasi di Sudan. Juga mereka lebih tertarik gagasan Hanafi (tokoh kiri Islam) katimbang pada pemikiran Islam fundamentalis, seperti Hasan al-Banna, atau Sayid Qutub.

PMP mengajarkan semua agama sama. Pancasila merupakan suatu bentuk baru sinkretissme, seperti halnya juga Khams Qanun yang dimiliki Gerakan Freemasonry dan Zionis Internasional yang terdiri dari Monotheisme, Nasionalisme, Humanisme, Demokratisme, Sosialisme, yang berasal dari Talmud Qaballa XI:45-46.

(Dipetik dari berbagai sumber, antara lain : WAMY : “Gerakan Keagamaan dan Pemikiran”, FNKS : “Musykilat Dalam NU”, Maududi : “Sejarah Pembaruan dan Pembangunan Kembali Alam Pikiran Islam”, Barboza : “Jihad Gaya Amerika”, Notosusanto : “Sejarah Nasional Indonesia”, REPUBLIKA 30:7-1998 : “Demokrasi Berimplikasi Sekularisasi”, TEKAD 29 26:7-1:8-1999, GATRA 50 31:10-1998 : “Naga Hijau Di Mana-Mana”, RISALAH 10 1-1985 : “Plotisme, apa itu ?”, KARTINI 406 11-24:6-1990 “Jawa Tengah Memperingati Kehidupan Sang budha”, SABILI 6 6-9-2000 : “Syirik Membawa Azab”).

6 Mencari Juru Diognosa dan Terapi

Dengan ilmu yang dikaruniakan Allah kepadanya, Nabi Yusuf as mampu memprediksi situasi ekonomi belasan tahun yang akan datang, dan mampu menunjukkan langkah, metoda mengantisipasi menghadapi perubahan laju ekonomi tersebut. Menunjukkan sikap mental dan pola hidup pada masa normal, dan sikap mental serta pola hidup pada masa krisis (susah, sulit, sukar) (QS Yusuf 12:47-49). Dalam ungkapan Minang ” Ketika ada tak dimakan, ketika tak ada baru dimakan”. “Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku” (QS 12:37).

Dalam hubungan ini, setelah melakukan studi khusus terhadap data-data empirik, dan statistik dari aspek politik, ekonomi dan sosial, Prof Dr Mubyarto, Kepala Pusat Penelitian Pembangunan Pedesaan dan Kawasan UGM menyatakan “Saya selalu percaya bahwa di dalam peri kehidupan kita ada semacam konjunktur, semacam siklus yang berjalan setiap tujuh tahun” (AMANAH, No.39, 1-14 Januari 1988, hal 9).

Di semua bidang dibutuhkan Juru Diagnosa Dan Terapi. Di bidang ekonomi dibutuhkan Juru Diagnosa dan Terapi ekonomi yang mampu memprediksi situasi ekonomi masa depan dan mampu menyiapkan konsep antisipasi menghadapainya. Di bidang politik dibutruhkan Juru Diagnosa dan Terapi politik yang mampu memprediksi situasi politik masa depan dan mampu menyiapkan konsep antisipasi menghadapinya. Di bidang sosial dibutuhkan Juru Diagnosa dan Terapi sosial yang mampu memprediksi situasi sosial masa depan dan mampu menyiapkan konsep antisipasi menghadapinya. Dibutuhkan Juru Diagnosa dan Terapi moral yang mampu memprediksi situasi moral masa depan dan mampu menyiapkan konsep antisipasi menghadapinya. (Bks 24-1-2001).

7 Mencari Juru Nasehat

Tanpa mempersoalkan apakah jihad itu bagian dari dakwah, ataukah dakwah itu bagian dari jihad, namun sangat mendesak diperlukan Mujahid yang Juru Dakwah sekaligus Juru Nasehat. Menyampaikan nasehat-nasehat agama kepada para penguasa, pembesar, pemimpin (malaa) secara tulus dan santun (laiyinaa) (QS Thaha 20:44).

Juru Nasehat yang mampu menyatakan “Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpecercaya bagimu” (QS A’raf 7:66). Yang mampu menyatakan “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu atas dakwahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan” (QS Shad 38:86).

Juru Nasehat yang sekaligus juga Juru Ishlah, yang mampu mengamalkan Qur:an Surah Wal’ashri, yang mampu melakukan ishlah antara umat manusia. Melakukan ishlah antara atasan dan bawahan, antara pemimpin dan rakyat, antara sesama rakyat, antara sesama pemimpin, antara sesama tokoh. Bahkan mampu mengorganisir kegiatan jama’ah ishlah. Kasak kusuk saban hari melakukan ishlah antara orang perorang, antara kelompok per kelompok. Senantiasa sadar akan peringatan Rasulullah saw bahwa “Lebih baik sekiranya saya berjalan memantu kepentingan seorang dan lebih menyenangkan hatinyadari pada saya beri’tikaf dalam mesjidku ini selama sebulan”.

Juru Nasehat yang memiliki kemauan dan kemampuan menyampaikan nasehat secara langsung dengan santun kepada Presiden Abdurrahman Wahid untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan mengubar fitnah, tudingan, tuduhan. Agar tak terpesona dengan kekiaian dan ketokohannya. Menyampaikan nasehat kepada Wakil Presiden Megawati agar tak terjebak pada dukungan kharismatik orangtuanya mantan Presiden Soekarno. Meninggalkan ambisi untuk jadi Presiden, orang nomor satu di republik ini. Menyampaikan nasehat kepada Ketua MPR Amien Rais agar mengoreksi kekeliruan politiknya dalam mengantarkan Abdurrahman Wahid ke kursi Presiden. Menyampaikan nasehat kepada Ketua DPR Akbar Tanjung agar mengoreksi langkah politiknya selama Orde Baru. Menyampaikan nasehat kepada Hasyim Muzadi agar mengoreksi langkah politik NU selama ini. Menyampaikan Nasehat kepada Firdaus AN agar menjelaskan syarat-syarat Kepala Negara menurut hasil kajian Fiqih berdasarkan nash-nash yang shahih dan sharih. (M Zainal Muttaqin : “Mencari Kader Perekat”, SABILI, No.16, 31 Januari 2001, hal 10-11, Muhasabah, hal 9, Komentar : Kecewa pada Gus Dur dan Kiai Langitan).

Abdul Qayyum menyajikan “Surat-Surat Al-Ghazali Kepada Para Penguasa, Pejabat Negara Dan Ulama Sezamannya” (terbitan Mizan, Bandung). Prof Dr Hamka menukilkan surat seorang pemegang pemerintahan Taher bin Husain, pahlawan perang dan pemerintahan yang amat masyhur di zaman Khalifah Al-Makmun, kepada anaknya Abdullah bin Taher, dan surat dari Hasan Basri, ulama yang amat masyhur pada zamannya, kepada Khalifah Umar bin abdul Aziz (dalam “Lembaga Budi”, 1983, hal 38-51). KH Firdaus AN juga menukil nasehat Hasan Basri (yang wafat tahun 110H) yang disampaikannya secara tertulis kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz (yang wafat tahun 101H) (dalam “Detik-detik Terakhir Kehidupan Rasulullah”, 1983, hal 101-104). Sayid Sabiq menukilnya dalam “An-Nashirul Quwah fil Islam”, hal 154-156. (Bks 21-1-2001).

8 Membakar mercon (petasan) dilingkungan orang berpuasa.

Masyarakat tidak bisa berbuat, hanya bisa berharap. Mengharapkan aparat keamanan (petugas kepolisian) untuk dapat bertindak tegas terhadap penjual, pengedar dan pembakar mercon (petasan). Masyarakat sangat terganggu dengan suara ledakan mercon (petasan) tersebut, baik siang maupun malam. Melakukan ibadah terganggu tidak bisa tenang (tidak bisa khusyu’), karena mercon(petasan) juga diledakkan di sekitar tempat-tempat ibadah, di dalam pekarangan mesjid. Tidur susah, tidak bisa istirahat akibat kaget mendengar bunyi ledakan itu, yang diledakan di sekitar pemukiman. Mereka yang dirawat di rumah sakit yang mengidap penyakit jantung kaget-kagetan terus setiap mendengar ledakan mercon (petasan), bahkan bisa berakibat fatal baginya.Mercon (petasan) itu tetap saja diledakkan, apa lagi penjualnya bebas bertebaran di mana-mana.

Mereka yang keranjingan dengan perbuatan yang sia-sia ini bukan hanya terbatas pada anak-anak, melainkan juga orang dewasa, dan yang tua. Setiap tahun, sangat banyak malapetaka yang ditimbulkan akibat meledakkan petsan yang tidak islami ini. Banyak mereka yang cidera sederhana maupun serius, seperti putus jari tangan, buta mata sebelah, dan luka-luka yang lainakibat terkena ledakan petasan yang dibakarnya atau yang dilemparkannya.

Gangguan ledakan petasan ini sering juga dialami oleh mereka yang sedang brjalan kaki atau mengendarai kendaraan di jalan raya, sewaktu-waktu berpapasan dengan gerombolan-gerombolan yang membunyikan petasan. (Burhanuddin Daya : “Puasa yang Tenang dan Pesta Petasan”, SUARA PEMBARUAN, Senin, 27 November 2000, hlm 16).

Permasalahan :

1 Katakanlah : Berperang pada bulan itu (Haram) besar (dosanya), tetapi menghalangi jalan Allah, kafir kepada Allah, (melarang) masuk Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari masjid itu, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Fitnah itu lebih bessar (doisanya) dari pembunuhan (QS Baqarah 2:217).

Arti fitnah : siksaan, azab, cobaan, ujian, tindasan. Termasuk ke dalam fitrnah : intimidasi, provokasi, agitasi, teror. Pembuat susah, pembuat sesal, pembuat kesal, pembuat sebal, pembuat dongkol, pembuat jengkel, pembuat onar,perusak, penyiksa, pemakar, penindas juga termasuk ke dalam pengertian fitnah.

2 Dalam bulan Ramadhan, ummat Islam diajar untuk meningkatkan kesabaran, menahan diri, tidak cepat marah, tidak emosional (dalam menghadapi onar, makar, anarki ?).

“Kalau ada yang memaki-makimu, atau yang hendak berbuat jahat kepadamu, beritahukanlah kepadanya : Saya puasa” (HR Khuzaiamah, Ibnu Hibban dan Hakim dari Abu Hurairah).

3 Di sembarang waktu, ummat Islam diajar untuk mencegah kemungkaran dengan kekuatan tangan (secara paksa, dengan kekerasan, baik saat puasa, haji, i’tikaf ?).

“Harus kamu menganjurkan kebaikan dan mencegah munkar. Kalau tidak, pasti Allah akan menurunkan siksa padamu” (HR Tirmidzi dari Hudzaifah).

4 Membakar mercon (petasan) dalam bulan Ramadhan di lingkungan orang berpuasa adalah mengganggu ketenangan, ketenteraman, kemanan orang berpuasa itu sendiri.

5 Menganggu ketenangan orang berpuasa, apakah termasuk ke dalam kemunkaran yang harus dicegah dengan tangan (paksaan, kekertasan, oleh penguasa, aparatur negara ?).

6 Demi kesabaran, apakah membakar mercon (petasan) di lingkungan orang berpuasa, tidak perlu dicegah secara paksa ? Cukup dibiarkan saja demi menunjukkan kesabaran ?

7 Mencegah secara paksa yang mengganggu ketenangan orang berpuasa, apakah merusak puasa ? Agar puasa tidak rusak, biarkan sajalah perbuatan membakar mercon (petasan) ?

(Dar Der Dor! Sudah dilarang habis-habisan, kalau selama bulan Ramadhan yang suci ini, semua orang besar kecil., dilarang main petasan! Petasan kelas cabe rawit atau teko, juga nyundut mercon dan janwe alias mercon sreng, di seantero wilayah kekuasaan Pemda DKI Jakarta dilarang meledakkan di saat orang khidmat berpuasa. Pasalnya, main petasan yang dar der dor itu, hukumnya amat berbahaya bagi keselamatan jiwa, juga ketertiban dan keamanan umum.

Selaku gubernur yang berkuasa di Tanah Betawi ini, Bang Yos jauh-jauh hari sudah wanti-wanti, malah pakai ancaman segala. Barangsiapa nyundut petasan itu secara hukum ssudah melanggar wet, juga secara kaidah sopan santun, main barang meletus dan meleduk itu memang tidak kejuntrungan dan kagak sopan sama sekali. Juga mengancam kesatuan dan persatuan, serta memancing konflik horizontal.

Pasalnya amat gamblang, sebab dari taon ke taon, ledakan petasan ini sudah memakan banyak jiwa langsung dan tidak langsung. Ada korban yang potol jarinya, kuping budek, matanya picek, mulut jontor, bibir semplak, jidat lecet, kepala pitak, tangan dan kaki bocel, muka besot, malah tidak jarang ada yang klojotan mati kontan, akibat jantungya terkaget-kaget dan berhenti ngedadak.

Pokoknya petasan, terutama yang kalibarnya mirip bom, sudah jadi musuh petugas keamanan dan ketertiban. Dar der dor, begitu bunyinya. Dar der dor, begitu pula bunyi aturan yang dikeluarkan orang DKI dan Kepolisian RI. Makanya amatlah jamak, kalau setiap hari sejaka awal bulan puasa, media massa melaporkan kegiatan razia pemusnahan dan penangkapan penjual petasan, di beberapaa daerah di Jakarta.

Anehnya, meski tiap hari ada penjual yang kena gep, atau ada sekian ribu petasan diguyur air supaya melempem kagak meledak, tetapi setiap hari, masih saja ada dar der dor di mana-mana.

Entah sudah pade budek semua, maksudnya aparat hukum dan masyarakat pemain petasan sama tulinya, sampai-sampai bulan Desember (2000) ini menjadi musim dar der dor. Bulan suci Ramadhan ini pun sepertinya diganggu dan terganggu permainan barang larangan dar der dor yang membahayakan jiwa, juga raga setiap warga yang apes. KOMPAS, Sabtu, 9 Desember 2000, hlm 18, klm 1-2). (Bks 1-12-2000).

9 Kesan lebaran

# Orang-orang tidak mengajak yang disalami untuk mampir berkunjung ke rumah.

# Orang yang berkendaraan (motor dan mobil) yang pulang dari shalat ‘Id tidak mengajak orang yang berjalan kaki yang rumahnya searah dengan yang berkendaraan.

# Silaturrahmi hanya ssampai di pintu rumah, di teras berbau comberan.

# Yang minta ma’af tidak merasa bersalah.

# Yang berutang merasa utang lunas dengan minta ma’af pada sa’at lebaran.

# Lebaran diartikan (dipahami/dihayati) dengan :makan enak, ketupat ayam, pakaian bagus, mengunjungi tempat rekreasi (berkreasi ke tempat-tempat hiburan), tradisi mudik, sungkeman, halal bi halal, kembang api, petasan, inklusif, desakralisasi, hura-hura.

# Yang mengemis memanfa’atkan lebaran untuk meningkatkan penghasilan.

# Tidak terasa kehangatan ukhuwah. Ukhuwah tinggal sebagai impian. Yang ada hanya fatamorgana, kepalsuan, kepura-puraan, kamuflase.Tak ada kunjungan. Tak ada ikhwan. Yang ada hanyalah kawan.

# Lebaran usai, suasana kembali biasa (Siapa lu, siapa gua).

# Kembali kepada kesucian (fithrah) tinggal impian.

# Takbiran diselang-seling dengan pengumuman-pengumuman. Takbiran tradisi. Takbiran modernisasi.

# Sebelum shalat ‘Id didahului dengan penyampaian pengumuman-pengumuman.

# Sa’at Khatib berkhutbah, berseliweran juru foto amatir.

# Ucapan salam : minal “aidin wal faizin, ma’af lahir bathin.

# Jarang ucapan : taqabbalallhu minna wa minkum wa taqabbal ya Kariim.

# Yang berkhutbah adalah khatib panggilan, bukan penguasa setempat.

# Khatib-khatib lebih banyak bermunculan dari kalangan intelektual katimbang dari kalangan santri.

# Usai puasa, kembali mengikuti selera. (Bks 26-4-90).

Catatan :

* Imam Syafi’i menyukai orang memakai pakaian yang bersih dan memakai wangi-wangian pada hari Jum’at, hari raya dan ke tempat pesta.

* Imam Syafi’i menyukai wanita memakai pakaian yang sederhana, yang tidak berwarna warni.

* Imam Syafi’I menyukai anak-anak memakai pakaian yang berwarna-warni.

* Imam Syafi’I membedakan antara Imam dengan Makmum.

* Imam Syafi’I memberitakan bahwa Sahal bi Sa’ad dan Rafi’ bin Khudiij mengerjakan shalat sunnat sebelum shalat hari raya dan sesudahnya.

* Zuhri memberitakan bahwa seruan shalat hari raya itu adalah “Ash-shalaatu jaami’ah”.

* Imam Syafi’i memandang makruh berkeliaran meminta-minta pada sa’at khatib sedang berkhutbah.

* Imam Syafi’I memberitakan bahwa yang berkuasa (Wali Negeri) lebih berhak mengimami shalat dalam kekuasaannya (wilayahnya).

* Imam adalah yang memimpin Takbir, shalat, Khutbah (Al-Uum).

10 Mengabaikan Hikmah Ibadah Haji

Prof Dr Hamka menterjemahkan pangkal ayat 199 Surah Baqarah (QS 2:199) “Kemudian itu berduyunlah kamu di tempat orang yang orang-orang lain telah berduyun-duyun”. Hamka menjelaskan bahwa ‘afidhu’ dalam ayat itu diartikan “berduyun-duyun”, karena kata aslinya berasal dari arti “membanjir”. Dengan pengertian ini, ibadah haji bukanlah ibadah sendiri-sendiri, ibadah perorangan, tetapi ibadah kolektif, berjama’ah, bersama-sama, berbondong-bondong, berhondoh-hondoh, berhuru-huru, berpusu-pusu.

Barangkali berangkat dari pengertian semacam inilah, prof Dr TM Hasbi ash-Shiddieqy memandang bahwa “Sebenarnya, haji itu semata-mata Kongres-Dunia, yang dikunjungi oleh bangsa-bangsa di dunia, supaya mereka dapat berkenal-kenalan dan dapat tinjau-meninjau, kemudian dapat pula mengadakan perundingan-perundingan mengambil keputusan-keputusan dan meninggikan gerak-gerik yang dapat meninggikan ummat dan melindungi mereka dari pada tamak-loba kaum-kaum penjajah. Di sanalah di hadapan Allah, mereka berjanji akan bekerja sama dan tolong menolong”.

Namun kita – kata Hasbi – “bersedih hati melihat ummat Islam telah melupakan atau tidak mempedulikan hikmat-hikmat dan rahasia-rahasia haji lagi. Kebanyakan ummat Islam hanya pergi ke Mekkah itu semata-mata untuk mencapai gelaran Haji atau Hajjah” (“Al-Islam”, 1977:171).

Sejalan dengan pandangan Hasbi, tapi dengan redaksi berbeda, Hamka mengemukakan bahwa “tidak ada salahnya jika selama di Mina ahli-ahli cerdik pandai dunia Islam bermusyawarah memperkatakan soal-soal nasib negeri masing-masing, soal ekonomi, politik dan akemasyarakatan dan soal da’wah Islam. Semuanya ini termasuk di dalam ‘Fadhilah’, anugerah Tuhan, atau rezeki yang dikaruniakan Tuhan, seperti terkandung di dalam pangkal ayat QS 2:198” (“Tafsir Al-Azhar” II, 1983:158). Tapi kesempatan ini disia-siakan, tak dimanfa’atkan oleh para tokoh-tokoh, pemimpin-pemimpin ummat Islam.

Asep Hidayat dalam tulisannya “Haji dan Gerakan Politik Islam” mengintrodusir bahwa “antara ibadah haji dan pergerakan Nasional memiliki hubungan yang erat, baik secara langsung maupun secara tidak langsung”. “Selama berada di tanah suci makkah, jama’ah haji bertemu dan bertukar pikiran dengan jama’ah haji dari kawasan lain di luar Nusantara” (REPUBLIKA, Rabu, 15 Maret 2000). Ini baru cuma asumsi, “diperkirakan”, belum merupakan fakta yang didukung dengan data.

Seperti juga halnya dengan Karel A Steembrink yang berkesimpulan bahwa “para haji dengan sendirinya memiliki pengaruh politik dan sering berperan sebagai ideolog dan pemimpin pemberontakan terhadap orang-orang Eropa (1984:234-235). Kebijakan pemerintah Hindia-Belanda memperketat calon jema’ah haji dengan mengeluarkan seperangkat peraturan pembatasan jema’ah haji, bukanlah karena “para haji sering berperan sebagai ideolog dan pemimpin peberontakan terhadap orang Eropah” seperti diduga Steembrink, tetapi hanya karena orang Belanda di Indonesia waktu itu merasa takut, kalau-kalau pemberontakan semacam di India terjadi pula di Indonesia (Hindia-Belanda).

Haji Abdul Karim Amarullah (Inyik Rasul), Syeikh Ibrahim Musa (Inyik Parabek), KH Ahmad Dahlan, Haji Zamzam yang sekembalinya ke tanah air setelah bermukim dan belajar beberapa tahun di Makkah, mereka menyebarkan gagasan-gagasan dan pikiran-piran baruny, bukanlah karena “mereka bertemu dan bertukar pikiran dengan jama’ah haji dari kawasan lain di luar Nusantara”, tapi karena “membaca gagasan pembaharuan semacam Muhammad Abduh dalam Tafsir Al-Manaar”, karena bersentuhan dengan gagasan pembaruan yang dipelopori oleh tokoh-tokoh sperti Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal, Ali Jinah, melalui tulisannya dalam berbagai barang cetakan (media cetak). (Bks 13-2-2001).

11 Menuju Islam Merdeka

Kemerdekaan sejati (hakiki) adalah bebas-merdeka, berdaulat, berlakunya hukum, ajaran Allah. Setiap orang bebas-merdeka melaksanakan ibadahnya menurut agamanya masing-masing. Yang Yahudi bebas-merdeka menjalankan hukum, ajaran Taurat. Yang Nasrani bebas-merdeka menjalankan hukum, ajaran Injil. Yang Muslim bebas-merdeka menjalankan hukum, ajaran Qur:an (QS Ma:idah 5:66). Di mana-mana, di biara-biara, di gereja-gereja, di masjid-masjid bebas-merdeka menyebut nama Allah, mensucikanNya, memujiNya, mengagungkanNya (QS Haj 22:40).

Dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945 Ir Soekarno mengajak pemuka Islam bekerja sehebat-hebatnya agar supaya sebagian terbesar kursi DPR diduduki oleh utusan-utusan Islam, sehingga hukum-hukum yang dihasilkan DPR itu adalah hukum Islam. Namun sayang, dalam praktek perjuangannya, Ir Soekarno sebenarnya sama sekali tak tertarik memperjuangkan bebas-merdekanya hukum, ajaran Allah.

Selain melalui jalur politik-parlementer-konstitusional (DPR/MPR), Dr Yusuf Qardhawi mengemukakan beberapa jalan lagi yang pernah diperbincangkan sebagai strategi dakwah, jihad bagi bebas-merdekanya hukum, ajaran Allah. Pertama, jihad dengan dekrit pemerintah, pengemuman pemerintah. Kedua, jihad dengan kekuatan militer, dengan kekuatan senjata. Ketiga, dengan pendidikan dan bimbingan (tarbiyah dan taklim). Keempat, jihad dengan pengabdian masyarakat (aksi sosial, tabligh). Di samping itu ada pula jihad dengan harta (amwal).

Bagaimana pun, realisasinya sama sekali tergantung semata-mata dari anugerah karunia Allah, seperti tampilnya Umar bin Abdul Aziz yang sangat jauh berbeda dengan keluarganya dalam kalangan Bani Umawiyah.

Berbeda dengan Soekarno, Kartosuwirjo lebih maju, sangat kommit dengan Islam, dan memilih perjuangan bersenjata, agar tak ada lagi fitnah, gangguan bagi kebebasan berlakunya hukum, ajaran Allah (QS Baqarah 2:193, Anfal 8:39), sehingga kalimat Allah itu benar-benar berdaulat (hiya al’ulya). Hasan al-Banna dengan Ikhwanul Musliminnya di Mesir, Maududi dengan Jami’ah Islamiyahnya di Pakistan lebih memusatkan perjuangannya melalui jalur politik, jalur parlemen.

Namun bagaimana pun, kemerdekaan itu bukanlah diperoleh dari hadiah pemberian penguasa mana pun, tapi harus direbut diperjuangkan (biljihad) dengan mengorbankan harta (amwal) dan nyawa (anfus). Bila benar-benar ingin merdeka, maka Moro, Patani, Kashmir, Chechnya, Palestina, Kurdistan, Sinkiang juga Aceh Darussalam, maka harus senantiasa siap mengorbankan harta kekayaan dan jiwa raga untuk kemerdekaan itu, bukan dengan mengemis-ngemis minta kasihani. “Mohonkanlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah, dipusakakanNya kepada siapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya” (QS A’raf 7:128) (Bks 13-12-2000).

12 Menyoal Esensi Jihad Dalam Islam

Dikemukakan bahwa jihad itu sebenarnya adalah mempertahankan agama dan akidah. Berjuang mencurahkan harta dan jiwa di jalan Allah. Berjuang menyampaikan dakwah Islam sebagai tugas dan amanah yang harus diemban para pemeluknya. Berjuang menyebarkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas. Menyampaikan kata-kata yang adil kepada penguasa yang zalim. Ada jihad menghadapi orang kafir yang hendak merusak agama Allah. Ada jihad melawan kaum munafik. Ada jihad melawan hawa nafsu (H Khalilullah Ahmas Lc : “Esensi Jihad Dalam Islam”, SABILI, No.16, 31 Januari 2001, hal 96, Tafakkur).

Tampaknya makna, pengertian jihad sengaja direduksi, diredusir. Seolah-olah jihad itu hanya membawa misi sosial, penuh kelembutan dan kehalusan. Bebas dari kekerasan. Tak ada perang. Tapi bagaimanakah mempertahankan agama dan akidah itu. Apakah hanya cukup dengan seruan, ajakan damai ? Bagaimana pula berjuang mencurahkan jiwa ? Berjuang menghadapi orang kafir yang hendak merusak agama Allah ? Apakah cukup hanya dengan kata-kata nasehat ? Apa memang demikian maksud “dan berjihadlah terhadap mereka (orang kafir) dengan al-Qur:an dengan jihad yang besar” (QSFurqan 25:52).

Penafsir Al-Qur:an pada Departemen Agama RI (Al-Qur:an dan Terjemahnya) menyebutkan bahwa jihad dapat berarti : 1. Berperang untuk menegakkan Islam dan melindungi orang-orang Islam, 2. Memerangi hawa nafsu, 3. Mendermakan harta benda untuk kebaikan Islam dan umat Islam, 4. Memberantas yang batil dan menegakkan yang hak (catatan kaki no.232, mengenai ayat QS Ali Imran 3:142).

Abdullah Nasih ulwan menyebutkan bahwa di dalam pandangan Islam ada beberapa bentuk jihad : 1. Jihad dengan harta benda, 2. Jihad melalui tabligh, 3. Jihad melalui pengajaran dan pendidikan, jihad secara politis, 5. Jihad dalam arti perang (pertempuran) (“Membina Generasi Muda Yang Ideal” : Jihad Sebagai Jalan Kita).

Bahwa jihad itu berkonotasi, berkorelasi “berperang untuk menegakkan Islam dan melindungi umat Islam” dapat disimak antara lain pada ayat-ayat tentang jihad dalam QS Anfal, Taubah 9:41, Baqarah 2:218, yang didahului dengan ayat tentang kewajiban berperang pada QS Baqarah 2:216.

Bahwa minta idzin untuk tidak ikut berjihad pada ayat QS Taubah 9:44, 49 dan 81, maksudnya adalah minta idzin untuk tidak pergi berperang yang diajukan oleh beberapa orang munafik yang tidak mau berperang ke Tabuk.

Bahwa jihad melawan orang kafir dan orang munafik itu juga harus dengan bersikap keras terhadap mereka (QS Taubah 9:73, Tahrim 66:9). Adalah terlarang berakrab-akraban dengan Yahudi dan Nasrani (QS Maaidah 5:51).

Sayyid Qutub sengaja menukil kembali tentang pengertian jihad yang diringkaskan oleh Ibnul Qaiyim dalam Zadul Mi’ad, yang intinya adalah bahwa orang kafir itu dijihad dengan senjata, sedangkan orang munafik itu dijihad dengan hujjah. Orang munafik ditantang dengan jihad ilmu dan argumentasi (“Petunjuk Jalan”, hal 59-96). (Bks 21-1-2001).

13 Menyoal pemberlakuan syari’at Islam

Sungguh sangat simpatik pernyataan Habib Husein al-Habsyi bersama kawan-kawan yang antara lain menuntut Sidang Umum MPR mendatang mempersiapkan Referendum Nasional dengan opsi pemberlakuan syari’at Islam dalam hukum nasional (SABILI, No.15, 5 Januari 2000, hlm 55).

Empat puluh lima tahun yang lalu (tahun 1955) wakil-wakil parpol Islam dalam Sidang Konstituante menuntut agar Piagam Jakarta sebagai ikrar kesepakatan bersama pada 22 Juni 1945 yang pernah dikhianati pada 18 Agustus 1945 dengan menghilangkan “dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, dikembalikan seutuhnya sebagai Pembuka UUD. (Khannas sebaliknya menuding bahwa yang berupaya mengembalikan Piagam Jakarta itu adalah orang-orang yang mengingkari sejarah pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan kebhinekaannya).

Namun secara inkonstitusional, tuntutan pengembalian Piagam Jakarta Tersebut disambut dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang membubarkan konstituante hasil pilihan rakyat dan memberlakukan kembali UUD-45.

Berdasarkan perspektif historis dan tekstual, UUD-45 tetap saja bersifat sementara (Ayat 2 Aturan Tambahan). Bahkan semangat dan jiwa UUD-45 bersifat mendua, antara demokratis dan anti-demokratis (Muhammad Yamin : “Proklamasi dan Konstitusi RI”, 1952:90).

Sesuai kondisi riil masa kini, maka referendum dengan opsi pemberlakuan syari’at dan hudud Islam seyogianya bersifat lokal, daerah per daerah, namun penyelenggaraannya bisa saja serentak di seluruh nusantara oleh pemerintah pusat.

Semoga bangsa ini tidak lagi mengkhianati ikrar yang telah disepakati bersama, dan semoga tidak mendapat kutukan dan laknat dari yang memberi kemerdekaan. Bks 27-1-2000)

14 Dakwah Tanpa Sentimen Golongan

Semenjak hari pertama dari risalahnya, Rasulullah saw memulai langkahnya yang pertama dalam dakwah dengan menyeru manusia untuk mengakui “La ilaha illallah” (Tak ada Tuhan selain Allah), untuk menghambakan diri hanya kepada Allah tanpa bersekutu dengan lainNya.

Rasulullah saw sama sekali tidaklah menggunakan sentimen kebangsaan dalam dakwahnya. Tidaklah mengobarkan nasionalisme Arab dengan tujuan untuk mempersatukan suku-suku bangsa Arab yang terkoyak-koyak oleh pertentangan, dan menjuruskannya kepada suatu arah nasional dengana tujuan untuk mengembalikan tanah-tanah yang telah dirampas oleh imperium penjajah Romawi di utara, dan Persi di selatan, dan mengibarkan bendera Arab dan Arabisme, dan mendirikan suatu persatuan nasional di seluruh penjuru Semenanjung Arabia.

Seandainya Rasulullah saw mengadakan dakwah seperti itu, tentulah seluruh orang Arab akan mengikutinya, dan ia tidak perlu menderita selama tiga belas tahun dalam mengikuti arah yang bertentangan dengan hawa nafsu mereka yang berkuasa di Semenanjung itu.

Setelah bangsa Arab memperkenankan seruannya dalam bentuk yang seperti itu, dan setelah menyerahakan pimpinan dan kekuasaan kepadanya, setelah ia mengumpulkan kekuasaan di tangannya dan kemuliaan di atas skepalanya, barulah setelah itu ia mempergunakan semuanya itu untuk menanmkan akidah tauhid.

Rasulullah saw dalam dakwahnya juga tidaklah menggunakan sentimen kelas melarat (proletar). Tidaklah mengibarkan bendera kemasyarakatan, mengobarkan perperangan terhadap golongan orang-orang yang bangsawan, dan menjadikannya suatu dakwah yang bertujuan merubah situasi, dan mengembalikan harta orang-orang kaya (konglomerat) kepada orang-orang yang miskin (melarat).

Kalau Rasulullah saw melakukan dakwah seperti itu, tentulah masyarakat Arab akan terbagi dua : pertama, bagian yang terbesar dengan dakwah yang baru dalam menghadapi tirani uang, kebangsawanan dan kemuliaan, dan kedua, bagian yang sedikit sekali bersama dengan segala yang diwarisi itu.

Setelah banyak orang menyambutnya dan menjadikannya pemimpin, dan dengan begitu mengalahkan minoritas dan mudah memimpinnya, baru ia mempergunakan posisinya dan kekuasaannya untuk menanamkan akidah tauhid.

Meskipun misi Rasulullah saw itu untuk menyempurnakan akhlak karimah paripurna manusia, namun dalam dakwahnya Raslullah saw sama sekali tidak menggunakan sentimen kelas moralis. Tidaklah mengumumkan suatu dakwah reformasi yang menyangkut dengan perbaikan budi pekerti, pembersihan masyarakat dan pensucian diri (aksi moral).

Seandainya hal itu diperbuat oleh Rasulullah saw semenjak dari pertama kali, tentulah ia akan diperkenankan oleh sejumlah orang dan pembersihan yang baik, yang bersih budi pekertinya, yang suci jiwa mereka, sehingga mereka itu lebih dekat untuk menerima dan memikul akidah tauhid.

Rasulullah saw tidaklah menggunakan sentimen-sentimen semacam itu. Bukan dengan melepaskan dunia Arab dari tangan tiran Romawi dan tiran Persi ke tangan tiran Arab. Tapi langsung menyeru manusia untuk mengakui “La ilaha illallah” (Tak ada Tuhan selain Allah), dan untuk menghambakan diri hanya kepada Allah tanpa mensekutukanNya dengan yang lain.

“La ilaha illallah” mengandung pengertian bahwa yang berkuasa hanyalah Allah, bahwa hukum hanyalah yang datang dari Allah, bahwa seseorang tidak mempunyai kekuasaan terhadap orang lain, bahw kekuasaan itu seluruhnya kepnyaan Allah. “Kewargaan” yang dikehendaki oleh Islam untuk manusia adalah kewargaan akidah, di mana sama seorang Arab dengan seorang Romawi, seorang Persi, setiap jenis dan warna di bawah panji-panji Allah. Inilah jalan yang digunakan oleh Rasulullah (Sayyid Qutub : “Petunjuk Jalan”, hal 59-96, Bab IV : Jihad Fi Sabilillah). (Bks 22-1-2001).

15 Antara Pendukung Fanatik dan Pendukung Kritis

Setiap Muslim mengemban tugas kewajiban untuk senantiasa mendengar dan menta’ati penguasa pemerintah), baik dalam hal yang disetujui, maupun yang tidak disetujui, baik dalam keberatan maupun dalam keringanan, baik dalam kelancaran, maupun dalam kesukaran. Yang membenci sesuatu dari pemerintah haruslah sabar. Yang menghina pemerintah (sulthan) akan dihinakan oleh Allah swt.

Dalam praktek-aplikatip penerapannya, ummat Islam terbelah dua. Ada yang mendukung sepenuhnya secara fanatikk. Ada pula yang mendukung secara kritis. Dalam hubungan ini, menurut analisa M.Zaianl Muttaqin, visi politik kenegaraan NU memandang bahwa ketaatan kepada sulthan (kekuasaan resmi) sebagai sesutu yang mutlak. Sehingga NU tidak akan pernah menentang dan melawan – apalagi memberontak – terhadap penguasa, batapa pun fasik, zalim dan fajair (jahat)nya penguasa tersebut. Dalam konteks ini pula NU cenderung akomodatif dan toleran terhadap kritik dari kalangan nasionalis (SABILI, No.16, 31 Januari 2001, hal 10-11, Muhasabah : “Mencari Kader Perekat”).

Hubungan antara NU dan Negara bagaikan “gelang karet”, elastis dan tergantung situasi (situasional). Kelenturan NU sangat situasional demi keamanan, keselamatan dan kelanjutan organisasi. Baik ketika berusaha merespons NASAKOM pada tahun 60-an, maupun tatkala menerima Asas Tunggal adalah demi kemashlahatan organisasi (dan ummat ?) (KOMPAS, Rabu, 12 Nopember 1997, hal 14, Mohamd Sobary dan Herman Sulistiyo dari LIPI).

NU amat mahir memanfa’atkan kaidah usul fikih. Kaidah “dar:ul mafasid muqaddam “ala jalbil mashalih” (mencegah kerusakan/kerugian diupayakan lebih dulu sebelum upaya mendapatkan manfa’at/mashlahah) diterapkan untuk mendukung kebijakan politik pemerintahan Soekarno serta mengangkat Soekarno sebagai Waliulamri dharuri bi-syaukah, dalam rangka mencegah akibat yang lebih buruk, antara lain dari pengaruh komunisme. Kaidah “ma la yudraku kulluh la yutraku kulluh” diterapkan untuk menerima Asas Tunggal Pancasila. Kaidah “alhukmu yadullu bi ‘illatihi” (hukum tergantung penyebabnya) diterapkan untuk menolak Megawati seagai calon Presiden, karena khawatir akan orang-orang di sekeliling Megawati. Kaidah “al-muhafadzah ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jjaddil ashlah” (memelihara khazanah masa lalu yang baik serta mengadposi perkembangan terbaru yang lebih baik) diterapkan untuk membenarkan sikap poltik situasional (Tabloid ABADI, No.33, 24-30 Juni 1999, hal 10). Kaidah “tasharruful imam ‘alar-ra’iyyah manuthun bil-mashlahat (kebijaksanaan kepala pemerintahan harus diorientasikan pada kesejahteraan rakyat), diterapkan untuk mensahkan bahwa tak ada batas waktu untuk masa jabatan Presiden, selama yang bersangkutan masih memenuhi syarat dan dipilih MPR” (UMMAT, No.11, 25 November 1996, hal 34-35, “Politik Kemashlahatan Gaya NU”.

Masih dalam kaitan ini, dalam memilih antara membiarkan kekacauan dan kezaliman, pernah dikemukakan bahwa”Imam yang zalim lebih baik dari pada kekacauan, walaupun kedua-duanya itu memang tidak mengandung kebaikan, tapi diantara yang jelek itu ada yang dapat dipilih (Prof Dr Ahmad Syalabi : Sejarah Kebudayaan Islam, jilid II, hal 59). Kesukaan raja-raja menjadi kesukaan pula bagi rakyatnya (idem, hal 91). Rakyat tergantung pada agama yang dianut rajanya (MEDIA PEMBINAAN, NO.12/XVIII, 1992, Maret 1992, hal 38). L’etat c’est moi. (Bks 23-1-2001).

16 Makan daging dan peri laku

Temperamen dan tingkah laku manusia dipengerhui oleh jenis daging yang dimakannya. Jenis daging yang dimakan mempengaruhi watak manusia. Daging-daging itu mengandung bermacam zat dan hormon yang timbul akibat proses pencernaan yang terjadi dalam tubuh binatang tersebut. Zat-zat dan hormon-hormon itu yang masuk ke dalam usus manusia yang memakannya ikut mempengaruhi tubuh dan wataknya.

Pengaruh seperti ini, juga pada produksi hewan lainnya, seperti susu. Bayi yang minum air susu keledai akan mempunyai watak yang berbeda dari bayi yang meminum susu kambing. Ayam jago yang diberi makanan daging ia akan lebih kasar, suka berkelahi dan siap membunuh lawannya.

Orang yang memakan daging binatang buas (carnivora, pemakan daging) cenderung bertindak kasar dan bertemperamen keras. Babi termasuk carnivora. Ia lebih kasar dan buas dari pada kambing atau sapi yang termasuk herbivora. Memakan daging babi akan mengakibatkan timbulnya sifat-sifat ganas dan kasar. Daging babi membunuh ghirah orang yang memakannya. Akibatnya, seorang lelaki ketika melihat istri atau putrinya berjalan dengan laki-laki lain yang bukan mahram, akan membiarkannya tanpa rasa cemberu dan waswas (SABILI, No.16, 31 Januari 2001, hal 32, “Antara Ayam Dan Babi”, dari buku”Hidangan Islam”, karya Syekh Fauzi Muhammad).

Binatang pemakan daging itu (carnivora) pada umumnya, tidak mempunyai sistem kekeluargaan tertentu. Kenyataan seperti ini banyak dijumpai pada masyarakat yang hidup dengan daging binatang buas sebagai menu (makanan) utamanya. Pada masyarakat seperti ini hubungan kekeluargaan amat longgar. Ikatan keluarga mereka lebih dekat kepada kekeluargaan binatang. Mungkin pula daging babi salah satu sebab dari absennya keserasian keluarga, dan munculnya pelbagai gejala abnormal pada masyarakat Barat, seperti tukar menukar isteri, hubungan seks bersama, dan lain sebagainya (Dr Ahmad Syauqy al-Fanjari : “Pengarahan Islam Tentang Kesehatan”, 1990:227-238, “Alasan-alasan ilmiyah kenapa babi diharamkan dalam Islam”). (Bks 24-1-2001).

17 Menyoal biang perpecahan dalam Islam

Selama Islam diterima tanpa dimengerti, tanpa dipahami, selama diterima secara taqlidi, tanpa rasio-logika, maka persatuan dan kesatuan dalam Islam akan tetap terpelihara dan terjaga. Tapi bila Islam telah diterima dengan dimengerti, dengan dipahami, telah diterima secara ijtihadi, dengan rasio-logika, dijadikan objek kajian, maka persatuan dan kesatuan dalam Islam akan buyar berantakan. Masing-masing akan berpegang dan mempertahankan pendapat, hasil ijtihadnya. Pembela dan pendukung pendapatnya akan bergabung dalam suatu firqah, kelompok. Jumlah kelompok ini semakin banyak.

KH Tb M Amin Abdullah (Penata Praja Tingkat I di Sekretariat Propinsi Jawa Barat 1968-1971) secara khusus sengaja menulis “Pedoman Pokok Dalam Kehidupan Keagamaan Berdasarkan Ahlussunah wal Jama’ah” (1984) yang memperingatkan agar mewaspadai “ajakan kembali kepada Al-Qur:an dan As-Sunnah secara langsung”, dan menyeru agar senantiasa berperang mempertahankan taqlid. “Sejak misi Wahabi datang ke Indonesia pada permulaan abad ke-14 hijriyah, terjadilah perpecahan di antara ummat Islam Indonesia, sampai sekarang” (hal 128). Perpecahan terjadi setelah dibukanya pintu ijtihad. Persatuan terpelihara selama taqlid dipertahankan.

Sebaliknya Prof Dr Hamka mengemukakan bahwa ” Mulai abad ke-tujuh hijriyah, taqlid mulai menyerang jalan berpikir yang bebas (yang lurus, yang benar, yang teratur, yang logis, yang rasional, yang kritis). Al-Qur:an mulai ditinggalkan, dan hanya untuk baca-baca mengambil berkat. Hadits-hadits nabi sebagai sandar hukum kurang begitu mendapat perhatian. Pendapat Ulama sangatlah dipentingkan” (Tafsir Al-Azhar, juzuk X, hal 184).

Dengan redaksi (susunan kalimat) lain dikemukakan bahwa “salah satu sebab dari keperpecahan ummat Islam ialah setelah Al-Qur:an ditinggalkan dan hanya tinggal menjadi bacaan untuk mencari pahala, sedang sumber agama telah diambil dari kitab-kitab ulama. Pertikaian madzhab membawa perselisihan dan timbulnya golongan-golongan yang membawa paham sendiri-sendiri. Sebab mereka adalah manusia, kerap kali dipengaruhi oleh hawa nafsu, berkeras mempertahankan pendapat sendiri, walaupun salah dan tidak mau meninjau lagi” (Tafsir Al-Azhar, jilid II, hal 80).

Masing-masing bertolak dari sudut pandang (visi dan persepsi) nya sendiri-sendiri. Semuanya menggunakan Al-Qur:an dan As-Sunah untuk membenarkan pandangan dan pendapatnya. Bahkan lebih mahir berijtihad untuk membela dan mempertahankan taqlid. Tersisa pertanyaan, apakah Fiman Allah itu “ka-maa ya’lamu-hu”, bukan “ka-maa ya’lamu-naa”, “wallahu a’lamu bish-shawaab”.

18 Menyoal nasib

Dikemukakan bahwa diantara penyakit fisik ada yang merupakan penyakit bawaan yang diturunkan dari orangtua kepada anak, dari anak kepada cucu. Dalam hubungan ini, dipertanyakan, apakah nasib juga merupakan warisan turunan yang diturunkan dari orangtua kepada anak dan dari anak kepada cucu ? Orang tua yang gagal, tak berhasil dalam belajar, maka anak-anaknya, cucu-cucunya juga akan gagal, tak berhasil dalam belajar ? Orang tua yang gagal, tak berhasil dalam berusaha, maka anak-anaknya, cucu-cucunya juga akan gagal, tak berhasil dalam berusaha ? Orang tua yang gagal, tak berhasil dalam bekeluarga, maka anak-anaknya, cucu-cucunya juga akan gagal, tak berhasil dalam berkeluarga ? Benarkah semua itu ? Apakah juga agama merupakan warisan orangtua kepada anak-anaknya. Bila orangtuanya Yahudi maka anaknya, cucunya juga akan Yahudi ? Bila orangtuanya Nashrani, ama anaknya, cucunya jugaa akan Nashrani ? Benarkah. (Bks 16-10-2000)

19 Makhluk beradab

Segala perbuatan baik dan buruk, iman dan kufur, tha’at dan maksiat, penciptanya semua – kata Al-Qadhi Abubakar Ibnul ‘Arabi – ialah Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya dalam mencipta. Dan tidak pula dalam menciptakan apa jua pun. Tetapi yang buruk tidaklah boleh disangkutkan kepada-Nya dalam sebutan, meskipun itu ada. Semuanya itu ialah untuk mendidik kita beradab bersopan santun, mengajar kita memuji Dia (Tafsir Al-Azhar, 1983, juzuk XXIII, hal 271).

Nabi Muhammad dalam salah satu zikirnya berucap “Yang baik ada dalam tangan-Mu (Ya Allah), yang jahat tidak kepada Engkau”. Tentang sakit, Nabi Ibrahim berucap “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan daku” (QS 2:80). Dan Nabi Ayub berucap “Sesungguhnya aku telah diganggu oleh syaithan dengan kepayahan dan siksaan” (QS 38:41). Pemuda yang menyertai Nabi Musa berucap “Tidak lain yang menyebabkan aku lupa buat mengingatnya melainkan syaithan” (QS 18:63).

Allah itu Maha Kuasa. “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu”. Memang kalaulah Allah menghendaki, niscaya “tidak ada yang mempersekutukan Allah” (QS 6:107), “semua dalam petunjuk” (QS 6:35), “semua pada jalan yang benar” (QS 16:9), “semua dapat petunjuk” (QS 6:149), “semua akan beriman” (QS 10:99), “semua bersatu” (42:8, 16:93, 5:48, 11:118). Tapi taklah layak, tak etis menyandarkan nasib jelek kepada takdir, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang musssyrik (QS 43:20, 6:148). Menyandarkan nasib jelek pada takdir berarti menggugat otoritas allah, menyalahkan ketetapan Allah. Na’udzu billahi min dzalik. Jangan bersembunyi dibalik takdir, bahwa “Kalau tidak atas kehendak Allah tidaklah nasibku akan begini” (Tafisr Al-Azhar, 1984, juzuk VIII, hal 95-97). Bagaimana pun “man proposes, God disposes”, Man does what he can, and God what he will”, “Kamu tidak dapat menghendaki, kecuali apabila dikehendaki Allah” (QS 76:30, 81:29).

Meskipun Allah berkuasa mutlak (QS 5:40, 7:156) “Dia akan menyiksa yang Dia kehendaki, dan akan mengampuni yang Dia kehendaki” (Tafsir Al-Azhar, juzuk Vi, hal 247), bisa berbuat sekehendaknya, namun tidaklaha layak, pantas, sopan, etis, atau dengan kata yang lebih keren tidak punya otak, lebih tegas lagi kurang adab, kurang ajar, bila mengaitkan, menyandarkan yang buruk kepada Allah. Hanyalah yang kasar budi, yang kurang ajar, yang berani mengatakan tangan Allah terbelenggu (QS 5:64). Yang beradab tak akan pernah berucap “sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya” (QS 3:181). “Sekiranya Allah kaya, Ia tidak akan meminjam apa-apa”, ejek Fanhas, seorang Yahudi (Asbabun Nuzul tentang QS 3:181). “Jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan”, kata orang kafir (QS Yasin 36:47). (Bks 21-4-99).

20 Masalah kajian

Malaikat pernah mempermasalahkan “Mengapa Engkau (Ya Allah) hendak menjadikana (khalifah) di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah ?”. Allah menjelaskan “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (dari terjemah QS Baqarah 2:30).

Bagaimana, kalau pada masa kini ada yang mempertanyakan “Ya Allah. Untuk apa Engkau hadirkan di bumi ini orang-orang yang suka berbuat tindak kejahatan. Berbuat maksiat, munkar, fahsya. Berbuat onar, makar, kerusakan, kerusuhan, keresahan. Berbuat zalim, aniaya, sadis, brutal, kejam. Membunuh, membantai. Berantam, beradu otot, bentrok fisik. Membakar rumah, membakar petasan. Kumpul kebo, aborsi, prostitusi. Memperkosa. Maling, mencuri, menjambret, merampas, merampok, merompak. Berkolusi, korupsi, menipu. Berjudi. Teler, minum miras. Membuat, mengedarkan, menggunakan narkotika, ganja, petasan. Sogok-menyogok, suap-menyuap, semir-menyemir. Joki, Dan lain-lain.

Apakah Allah akan menjelaskan bahwa ” Keluhanmu telah Aku denar1 Andaikan kalian yang menciptakan Adam dan anak cucunya, niscaya kalian tak sampaia hati berbuat yang demikian”. “Akulah penciptany, maka biarkanlah Aku bersama hamba-hambaKu, kelak apabila mereka kembali bertaubat kepadaKu, maka Akulah Dzat Yang Maha Penyayang kepada mereka, dan kepada mereka tidak bertaubat, maka Akulah yang akan membimbing (memperbaiki) mereka” (penggalan kutipan terjemahan hadist dalam tulisan Khalid Muhammad Khalid “”emanusiaan Muhammad”” 1984:62, Prof H Bismar Siregar SH “Ajarkanlah al-Qur:an”, Lembaran Syi’ar SUARA ISLAM, no:137, Th.IV 16 Juni 1995).

Bagaimana pula kalau ada yang menggambarkan betapa tak berdayanya manusia yang lemah ini dalam menghadapi kehendak Tuhan. Manusia dilukiskan seaka-akan hanyalah merupakan barang permainan belaka. Seumpama golek (boneka) dalam permainan wayang untuk menghibur (menyenangkan sang dalang. Tak berdaya, tak mempunyai kehendak, kekuasaan (dari tulisan Drs Samaun “Napas Ketuhanan Dalam Puisi Amir Hamzah”, GELANGGANG, No.2, Tahun ke-I, 1967:11,15, tulisan Haryo Pangastuti “Mengenang Kembali Amir Hamzah”, PANJI MASYARAKAT, No.225, 15 Juni 1977:42, PANJI MASYARAKAT, No.175, 15 Mei 1975:24). (Bks 7-12-2000)

= Asrir Sutan Maradjo, Tenggiri-12/204, Bekasi Selatan 17144, 17 Januari 2001 =

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s