Menyimak Dialog Eddy Crayn Hendrik Dengan Pastor Katholik di IAIN Raden Fatah Palembang 21 September 1970

Menyimak Dialog Eddy Crayn Hendrik Dengan Pastor Katholik di IAIN Raden Fatah Palembang 21 September 1970

1 Agama Kristen (ciptaan Paulus) – menurut Eddy Crayn Hendrik (kini Muhammad Zulkarnain) – sangat bertentangan dengan akal. Setiap yang berakal, seperti Bruno, Galileo Galilei (1564-1642), Johannes Heus dan lain-lain, terpaksa dihukum mati oleh gereja Katholik karena menyebarkan (ilmu) akal. Giordano Bruno (1548-1600) ahli pikir yang mengerjakan ide Nicolas Cusanus (1401-1464). Pengikut Bruno dihukum oleh Inquisitie (badan pengadilan gereja katholik) dan dibakar hidup (Prof Dr F Beerling : “Pertumbuhan Dunia Modern” I, hal 109).

“Akal” dalam agama Kristen begitu dibencinya, sampai-sampai Marten Luther menilai akal sebagai “des teufels braut” (mempelainya setan), “Die hure die der teufel hat” (pelacurnya setan tingkat tinggi), pelacur hina, pelacur rendah dan seterusnya.

Padahal beda manusia dan binatang hanyalah karena manusia mempunyai rasio, akal budi, pikiran. Sedangkan hewan tidak berakal budi (hat different man and animal. It’s cause ratio). Dengan meninggalkan akal berarti kembali ke alam hewan, ke alam Pithecanthropus Erectus (manusia monyet).

Dan lagi bagaimana bisa beragama dengan mengenyampingkan akal, sedangkan akal adalah karunia Allah. Dengan mengutuk akal berarti mengutuk pemberian Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia (Suatu Dialog Muhammad Zulkarnain Dengan Tiga Pastor Di IAIN Raen Fatah Palembang, edisi 15 Maret 1998, hal 21-23).

Di dalam pengembangannya kekristenan tidak menggunakan rasio, bahkan membuang rasio itu jauh-jauh. Menghancurkan pribadi dengan kaidah-kaidah kejiwaan, sehingga karena rasa (emosi), orang akan meninggalkan rasio. Kidung-kidungnya mempunyai daya magis yang mampu mematikan rasio dan akal pikiran sehat.

Ajaran-ajaran Paulus yang sangat kontradiksi dengan akal sehat antara lain seterti Trinitas (I Korintus 1:3), ke-Allah-an Yesus (Rum 3:10, 5:8, Galatia 1:4)), dosa warisan, pembatalan Hukum Taurat dan penebusan dosa (Rum 4:15, 7:6, 10:4, Galatia 2:21, 3:10,24-25). Allah Yang Maha Luar Biasa ternyata dapat “mati” (The Dead God Theologie). Allah Yang Maha Besar, Maha Kuasa dapat dikejar-kejar, ditendang-tendang, dipukuli, dissobek bajunya, ramai-ramai dipaku kaki tangannya untuk kemudian disalib, dan pada hari Jum’at sekitar pukul 3 petang, Allah putuslah nyawaNya. Benar-benar tidak dapat diterima pikiran rasional (Buletin INTIFADAH, 1998, No.1, hal 19, No.2, hal 15, No.4, hl 14-15, Mengapa Saya Beragama Islam, hal 5-7).

Ajaran Trinitas yang tak logis-rasional, yang falsafahnya dipelopori oleh Origens, Tertulianus, Anthanasius sangat bertentangan dengan ajaran Ke-Esa-an Allah yang logis-rasional, yang dianut Nestorius, Arius, yang difitnah sebagai sibid’ah (si kafir) (Mengapa Saya Beragama Islam, hal 2,5,11).

2 Menghadapi persoalan Allah mempunyai anak – masih menurut Eddy Crayn Hendrik – mau tak mau harus menggunakan akal sehat (logis atau tidak logis) (Suatu Dialog …, hal 23)

Alkitab – menurut MH Finley – tidak pernah menyatakan seseorang harus mengerti Asas Tritunggal itu dengan seluk-beluknya, sebelum orang itu diselamatkan (Tanya Jawab Mengenai Iman Kristen, Yayasan Kalam Hidup, 1993, hal 35-36).

Barangsiapa mencoba untuk mengerti Tritunggal secara tuntas dengan akal manusia – menurut Alban Douglas – akan jadi tidak waras. Tapi barangsiapa menyangkal Tritunggal akan kehilangan jiwanya (Inti Ajaran Alkitab, hal 19-20). Banyak hal tentang Tuhan, tak dapat dipahamkan oleh budi manusia, seperti Tuhan itu Tritunggal (Prof Dr R F Berling : “Pertumbuhan Dunia Modern” I, hal 83)

Trinitas – menurut Dr R Soedarmo – memang tidak dapat dimengerti. Tidak dapat dimengerti bahwa 3 adalah 1 dan bahwa 1 adalah 3. Trinitas ditolak Islam, karena agama Islam bercorak rasionalistis, artinya rasio, akal budi, memberi tekanan sungguh-sungguh (Ikhtisar Dogmatika, hal 114) (SABILI, No.16, Th.VIII, 31 Jnuari 2001, hal 36-37, “Menyoal Doktrin Trinitas”, asuhan Tim FAKTA).

Kepercayaan Trinitas – menurut Prof Dr Hamka – baru dapat diterima, bilamana perjalanan akal terlebih dahulu diberhentikan (Tafsir Al-Azhar, 1984, juzuk VI, hal 29).

3 Trinitas – masih menurut Eddy Crayn Hendrik – bukan Ajaran Allah. Ajaran Trinitas adalah ajaran yang falsafahnya terutama dipelopori oleh Anthanasius (198-277M), yang disahkan Konstantin Agung (Constantinus Magnus) dalam Konsili Nicea tahun 325M, yang kemudian dipaksakan oleh Konstantin kepada rakyatnya dengan ancaman hukum mati dalam arena-arena peraduan dengan singa-singa bila tidak mematuhinya, yang kemudian lagi menjadi agama Romawi (Suatu Dialog …, hal 10-12).

Di dalam Alkitab – menurut Dr G C van Niftrik – tidak ditemukan, suatu istilah yang dapat diterjemahkan dengan kata “Tritunggal”, ataupun suatu ayat tertentu yang mengandung dogma tersebut (Dogmatika Msa Kini, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1981, hal 418).

Sejauh menyangkut Perjanjian Baru – menurut Benhard Lohse – tidak ditemukan di dalamnya suatu ajaran tentang Trinitas (Pengantar Sejarah Dogma Kristen, hal 47) (SABILI, No.16, Th.VIII, hal 37).

4 Pertentangan, permusuhan berabad-abad antara Yahudi-Israel dengan Arab yang tidak kunjung berkesudahan – masih menurut Eddy Crayn Hendrik – berasal, bermula, berpangkal pada kebencian, perseteruan antara keturunan dua saudara Izhaak dan Ismail. Dalam setiap konflik, maka Eropah senantiasa berpihak pada Yahudi-Israel, karena Eropah adalah anak keturunan Izhaak dari anak Yacob yang ketujuh Dan berkembang biak di Eropah, yang antara lain dikenali dari sebutan Dans Louge, Din Dal, Dun Drum, Don Egal, Dun Glue, Dnipyer, Din In, Den Hag, Den Helder, Dniesten, Denmark, dan Saacson (putera Isaac) ( INTIFADAH, 1998, No.1, hal 5, 19, No.2, hal 13, Mengapa Saya Beragama Islam, hal 15)

5 Bibel – masih menurut Eddy Crayn Hendrik – disamping di dalamnya memuat ajaran-ajaran ke-Tuhanan yang bagus, juga terselip pula ayat-ayat yang meragukan hati, menggelitik akal untuk bertanya, misalnya :

# cerita-cerita yang melecehkan, menghinakan, merendahkan Allah, seperti terdapat antara lain dalam : Kejadian 6:2-3, 6:6, 18:1-33.

# cerita-cerita yang melecehkan, menghinakan, merendahkan Nabi-Nabi, seperti terdapat antara lain dalam : Kejadian 19,20,38.

# cerita-cerita yang bahasanya kurang sopan (jorok) seperti terdapat antara lain dalam :Syirulazar 4:5, 7:7, Yehezkiel 23:2-3,8, 19-20 (Suatu Dialog …, hal 3-6, INTIFADAH, 1998, No.2, hal 11-13).

Memahami agama, membaca Alkitab – menurut pastor – tidak boleh menggunakan, memakai akal, bisa sesat nanti (INTIFADAH, 1998, No.4, hal 8).

Untuk menilai mana yang wahyu dan mana yang bukan dalam Bibel – menurut pastor M J Weinstein – hanya Paus di Vatican lah yang tahu (Sutu Dialog …, hal 24).

6 Yesus sebagai putera Allah –masih menurut Eddy Crayn Hendrik – tak kurang-kurang sadisnya dengan mengatakan “Tetapi akan segala musuhKu yang tiada suka Aku menjadi raja bahwalah dia kemari, bunuhlah mereka dihadapanKU” (Lukas 19:27). “Ketahuilah, bahwa Aku datang ke dunia ini bukan membawa damai, tetapi pedang. Maka jika seorang tiada membenci iibu bapanya, serta saudaranya yang laki-laki maupun perempuan, bahkan nyawanya sendiripun, tiadalah dapat ia mengikut Aku. Karena Aku ini datang menceraikan anak perempuan dengan ibunya, anak menantu dengan mertuanya, bahkan orang-orang yang serumah, dan seterusnya (Matius 20:24,35,36, dan Lukas 14:26). Yesus datang justru membawa permusuhan dan perang (Sutu Dialog …, hal 6-7).

7 Gereja Kristen – menurut Erasmus – didirikan di atas darah, diperkuat lagi oleh darah, diperluas juga dengan darah dan sekarang ini mereka melanjutkannya masih dengan darah pula (WTH Yakson : Works of Erasmus, New York, hal 418).

Orang alim seperti Erasmus, Hus, Wiclif – menurut Anwar Sanusi – berusaha melenyapkan keadaan buruk dalam gereja. Namun tinakan pembaruan mereka dapat digagalkan oleh Paus dan rahib-rahibnya (Sejarah Umum untuk Sekolah Menengah Umum, jilid II, 1954, hal 12).

Sejak perkembangan Kristen dalam masa sepuluh abad belakangan ini _ menurut Edward Gibbon – tidak kurang dari 25 juta manusia mati.

Pendeta-pendeta yang sangat fanatik pada zaman dahuku kala – menurut Achtur Finley – membangkitkan intoleransi yang sangat menyolok di zaman kejayaan Kristen. Akibatnya berkecamuk berbagai perang agama yang dahsyat, seperti Prang Salib (1096-1291), Peang Hugenot (1562-1593) (Suatu Dialog …, hal 7-8).

Secara besar-besaran, ribuan kaum Hugenot (pengikut Luther Calvin) – menurut Anwar Sanusi – mati dibantai orang katholik pada malam 24 Agustus 1572, malam Saint Bartholomeus, Malam Pernikahan Berdarah (Hendrik dari Bourbon dan Margaretha dari Valois) ( Sejarah Umum …, hal 18).

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s