Ganti Demokrasi Dengan Islam

Ganti Demokrasi Dengan Islam

Fatih Karim dari IPB mengemukakan, bahwa jika masyarakat ingin merubah keadaanya (terbebas dari krisis), maka harus berusaha sekuatnya untuk menumbangkan demokrasi dengan menggantinya menjadi sistem Islam, jika benar meyakini hanya aturan Allah yang layak digunakan (SABILI, No.24, Th.VIII, 23 Mei 2001, hal 9).

Muhammad Iqbal, pemikir Islam dari pakistan menyerukan agar meninggalkan thagut Demokrasi, dan setia mengikuti Muhammad, Insan Kamil. Demokrasi itu adalah suatu bentuk pemerintah yang manusia dihitung, bukan ditimbang. Demokrasi itu sendandungnya Imperialis, topengnya Kapitalis. Demokrasi itu sebenarnya adalah bulunya musang otokrasi (“Pembangunan Kembali Alam Pikiran Islam”, 1983:23) (Run away from democracy, and be the slave of the Perfect Man. Democracy is a form of government in which men are counted, not weighed). Demokrasi laksana orang tua yang mengetuk-ngetuk noot musik Imperialisme, yang dipandang sebagai Ratu Peri Kemerdekaan. Padahal sesungguhnya adalah tontonan otokrasi terselubung. Hak-hak manusia menurut resepnya hanyalah narkotika manis.

Noam Avram Chomsky mengungkapkan, bahwa Amerika Serikat (kampiun demokrasi) adalah negeri yang luar biasa unik dalam hal tidak adanya pembatasan-pembatasan untuk kebebasan berekspresi. Namun juga luar biasa dalam metode-metode yang dipergunakan untuk membatasi kebebasan berpikir (kebebasan terkendali, diktator demokrat) (“Maling Teriak Maling : Amerika Sang Teroris”, 2001:13).

Ekspresi kebebasan pembuatan film perperangan (topeng anti demokrasi) oleh Hollywood hanya bisa dapat persetujuan dan bantuan perlengkapan militer dari Pentagon, kalau film tersebut dapat menjadi alat promosi yang efektif untuk kepentingan militer Amerika. Pentagon berupaya mengendalikan opini publik dengan memberikan informasi dan mempengaruhinya (KOMPAS, Minggu, 6 Januari 2002, hal 19).

Abdul Madjid Aziz azZandani mengingatkan, bahwa dalam demokrasi, para dewan legislatif membuat, menetapkan segala macam undang-undang hanya untuk kepentingan-kepentingan mereka sendiri, demi memenuhi, memuaskan selera mereka (“Jalan Menuju Iman”, hal 48).

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s