Antara Isu Islam Dan Isu Sekuler

Antara Isu Islam Dan Isu Sekuler

Sarikat Islam – menurut H Rosihan Anwar – telah membuat kekeliruan dengan mengira bahwa Islam dengan sendirinya mempunyai daya tarik atau “mass-appeal” pada rakyat Indonesia. Keliru melihat bahwa timbulnya organisasi-organisasi buruh di kota-kota dan manjunya organisasi kaum nasionalis itu disebabkan adanya daya tarik dari “sekularisme radikal” dan bukan dari “agama”. Karena kekeliruan itu ia (Islam) gagal memegang peran pemersatu dalam pergerakan nasional Indonesia. Islam telah gagal menjadi titip pusat fokus penghimpun bagi nasionalisme Indonesia (Bandingkan dengan PAN dan PKB masa kini, apa yang menjadi daya tariknya, apakah Islam atau Nasional/Bangsanya?). Sebaliknya PNInya Ir Sukarno lebih sukses dari pada Sinya Hos Tjokroaminoto dalam menggalang pergerakan-pergerakan nasional, oleh karena pemimpin-pemimpin nasionalis itu mempunyai orientasi modern dan sekuler. HOS Tjokroaminoto menyangka bahwa Islam merupakan pemersatu Indonesia, tetapiternyata betapa melesetnya anggapan itu GELANGGANG, No.1, Desember 1966, hal 54,58, “Santri Dan Abangan”).

Isu sekuler (nasionalis) mampu memenangkan PDI-pP dalam pemilu. Sedangkan isu Islam tak mampu meningkatkan suara parpol Islam. Dalam realitas (Das Sein) isu Islam yang disuarakan oleh Osma bin laden dengan alQaidanya tak punya daya tarik, tak punya daya pikat terhadap umat Islam sendiri. Sedangkan isu sekuler (anti teroris) yang dikumandangkan George Walker Bush dengan sekutunya sangat menawan, sangat mempesona umat manausia sedunia. Kondisi riril (Das Sein) menunjukkan bahwa Islam tak mampu mempewrsatukan negara-negara Islam dalam menghadapi Perang Teluk. Sedangkan isu sekuler demokrasi) yang diteriakkan George w Bush dengan sekutunya mampu memperluas jarangan sekutu pendukungnya menggempur, menghancurkan Irak.

Idealnya (Das Sollen) isu Islam itu perlu digelorakan secara terus menerus. Tapi bagaimana caranya mengantisipasu kenyataan (Das Sein) bahwa isu Islam itu tak lagi punya daya tarik? Terpulang kembali kepadaa para cendekiawan Islam sendiri.

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaaklah berbunuh-bunuhan orang-orang yang datang sesudah Rasdul-Rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan,akan tetapi mereka berselisih” (QS 2:253).

1

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s