Perpecahan Menghalangi Turunnya Pertolongan Allah

Pelajaran Termahal Dari Tumbangnya Lambang Islam

Bagaimanapun, Irak dengan benderanya yang bertuliskan kalimah “Allahu Akbar”, yang menerima warisan Daulah Abbasiah adalah simbol, lambang dari Islam. Amerika Serikat dan sekutunya tetap memandang Irak sebagai lambang Islam terakhir. Mereka berusaha keras untuk menumbangkan lambang Islam itu dengan menciptakan, menyebarkan berbagai stigma seperti stigma teroris, pembuat senjata pemusnah massal. Padahal sesungguhnya Amerika dan sekutunya itulah yang memproduksi senjata pemusnah massal.

Dengan berhasilnya koboi-koboi Amerika Serikat dan sekutunya menjarah, menguasai ladang minyak di Irak, maka berarti tumbangnya simbol Islam. Bergembiralah, bersukarialah, bersorak-sorailah Amerika serikat dan sekutunya dengan keberhasilannya menumbangkan lambang Islam. Berbahagialah Kuwait, Saudi Arabia, Turki, Iran menyaksikan Irak porakporanda, luluhlantak oleh koboi-koboi Amerika Serikat dan sekutunya. Setelah berhasil menundukan Irak, maka tak mustahil satu saat Amerika Serikat dan sekutunya akan menundukkan suriah, Libya (KOMPAS, Sabtu, 12 April 2003, hal 4, Tajuk Rencana : “Sesal Bangsa Arab, Mengapa Perubahan Oleh Pasukan Amerika”). Dari kasus Irak ini, Amerika Serikat akan kian galak, berperan sebagai polisi dunia, meskipun hanya untuk kepentingan sendiri. Amerika Serikat bisa memaksakan untuk menciptakan mandat PBBatau bahkan siap bergeraktanpa mandat PBB sekalipun (KOMPAS, Jum’at 4 Aapril 2003, hal 4, “saatnya PBB Mandiri”, oleh PLE Priatna).

Tak ada lagi tersisa kesempatan buat Islam berjaya di muka bumi. Pupus musnah harapan akan “Hari Esok Untuk Islam” (“Mustaqbal lil Islam”, judul tulisan Sayid Quthub). Ratusan, bahkan ribuan tahun mendatang, Islam tak akan pernah memimpin dunia. Tak perlu lagi bicara tentang Islam, Syari’at, Khilafah, Daulah. Tapi “Janganlah orang-orang kafir itu mengira, bahwa mereka akan dapat lolos dari kekuasaan Allah. Siapkanlah untuk menghadapi mereka itu kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Dengan persiapan itu, kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu” (simak QS Anfal 8:59-60).

Kondisi riil masa kini menunjukkan keperkasaan Amerika Serikat dan sekutunya di segala bidang. Ia bisa melanggar semua aturan, hukum internasional tanpa sanksi apapun. Yang berlaku dalam dunia internasional hanyalah hukum rimba yang ditetapakan oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Amerika Serikat dan sekutunya memiliki kekuatan ekonomi dan militer. Ia bisa mengendalikan, memperalat PBB untuk kepentingannya. “Tidak akan ada satupun orang/bangsa yang mempunyai kekuatana untuk melawan mereka” (Ali Akbar : “israel dan Isyarat Qur:an”, 1987:118). Amerika Serikat dan sekutunya benar-benar Dajjal , Manusia Setan, Jelma Asu, Biang Kerok masa kini. Sistim politik, hukum, militer, ekonomi, sosial, budaya, sains, teknologi, informasi, komunikasi nternasional, semuanaya dibawah kendali Amerika Serikat dan sekutunya. Semuanya itu adalah penghalang tegaknya syariat Islam, penghalang tegaknya Daulah Islamiyah.

Apa yang terjadi tak perlu disesali. Tak satupun sosok ulama yang berupaya maksimal mencegah agresi Amerika Serikat dan sekutunya ke Irak. Tak ada satupun pemerintah yang berupaya memutuskan hubungan diplomatik dan hubungan ekonomi dengan Amerika Serikat dan sekutunya. Tak ada yang berupaya melakukan muhasabah introspeksi), merenungkan “apa kelemahan Irak yang menyebabkannya kalah, dan apa kekuatan Amerika Serikat dan sekutunya yang menyebabkannya menang”, “apa kelemahan umat Islam yang menyebabkannya menjadi bangsa pecundang, dan apa kekuatan angsa Anglo-Amerika yang menyebabkannya menjadi bangsa pemenang”, “apa yang menyebabkan umat Islam taka pernah bersatu”.

Islam masih belum berhasil menembus hati para politisi Muslim. Islam berjalan sendiri merambat di hati rakyat biasa. Politik sekular mengalir deras dalam kebanyakan para politisi Muslim. Mulutnya berkata Islama, otaknya berpikir sekuler. Tak ada lagi amal gamasi Islam dan politik. Islam belum menjadi kendali politik. Islam dipandang sebagai kendala politik (M Toyibi : “Negara Arab”, KIBLAT, No.13, Th.XXXVII, 5-18 September 1990, hal 18, Tajuk).

M Natsir mengemukakan bahwa “umat Islam sangat deman (senag) punya lawan. Kalau ada musuh mereka bersatu. Bila musuh tak ada lagi, mereka mencari musuh di kalangan sendiri” (SUARAMASJID, No.144, 1 September 1986, hal 4, Editorial : “Menyambut Abad Kebangkitan Dengan Membina Umat”, oleh Natsir Zubaidi). Jalaluddin Rahmat mengemukakan bahwa ‘riwayat Islam di Indonesia adalah riwayat umat yang selalu berhimpun untuk berpecah” (PANJI MASYARAKAT, No.498, 4 Maret 1986, hal 17). Kamaluddin M mengemukakan bahwa Arab sepakat untuk tidak sekapat” (KIBLAT, No.13, 5-18 September 1990, hal 64, simak juga DIALOG, No.01, 22 Mei s/d 4 Juni 1978, hal 21). Sistim bangun hubungan sesama Arabtak adalagi berpijak pada semangat solidaritas dengan berdasarkan pada persamaan etnis, budaya, bahasa, agama dan latar belakang sejarah.

Tak satupun penguasa yang menginginkan, apalagi berupaya menegakkan syaraiat Islam, untuk menegakkan Daulah Islamiyah. Di dunia Islam dewasa ini, mayoritas lembaga-lembaga politik dan pemerintah sama sekali tidak ada kesediaan untuk melaksanakan hukum Allah. Belum terwujud aliran politik, ekonomi dan sosial yang menerapkan manhaj Ilahi dengan sistim yang univewrsal, sesuaia dengan keadaan tempat dan perkembangan zamannya (Abu Ridha : “Pengantar Memahami alGhazw alFikr”, alIshlahy Press, Jakarta, 1993, seri 01, hal 47,89). Tak satupun cendekiawan Muslim yang bersungguh-sungguh memahami situasi (fiqhul waqi’) dan memprediksi masa depan Islam (futorolog) serta mengingatkan umat Islam akan bahaya yang akan dihadapi dan menunjukkan cara-cara mengatasinya.

Samuel P Untington menyangsikan keberhasilan kebangkitan Islam berdasarkan adanya benturan (clash) antara berbagai peradaban ALMUSLIMUN, No.334, Januari 1998, hal 71, tsaqafah, “The Clash of Civilizion” and the Remaking of World Order”, 1996). Samuel Huntington menempatkan peradaban agama menjadi faktor yang sangat menentukan Barat melawan yang bukan Barat. Termasuk kedalam Barat adalah Kristen Orthodoks katholik dan Protestan Amerika Latin. Sedangkan yang bukan Barat adalah Dunia Islam dan Dunia Cina termasuk kedalamnya KonfusIANISME, Jepang, Hindustan India, Afrika (GATRA, No.24, 2 Mei 1998, hal 34).

Pelajaran paling berharga dari tumbangnya lambang Islam, adalah dengan segera kembali kedalam Akidah Tauhid. Kembali menyadari bahwa yang memiliki aakidah Tauhid, apabila tampil ke medan perang, walaupun menghadapi bom atom dan senjata nuklir, tidaklah ia takut menghadapi maut. Sebelum mati ia sudah yakin bahwa masti itu pasti datang.

Adalah lebih mulia, apabila seseorang yang menmui mautnya sebagai syahid menegakkan Jalan Allah (Prof Dr Hamka : “Tafsir Al-Azhar”, juzuk VII, hal 300, re QS 6:81).

1

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s