Menyoal konsistensi dakwah

1 Menyoal konsistensi dakwah

Pada perdebatan Konstutante (1956-1959) ada dua pihak. Pertama, pihak Islam yang menuntut kembalinya tujuh kata tentang kewajiban melaksanakan syari’at Islam bagi pemeluknya ke dalam Pembukaan UUD-45 seperti asalnya dalam Piagam Jakarta. Kedua, pihak nasionalis sekuler netral agama yang menantang dan menolaknya. Pemungutan suara dilakukan tiga kali. Hasilnya, tidak ada pihak yang mencapai dua pertiga suara (SABILI 6-VIII:33).

Untuk Sidang Tahunan MPR-2000, Badan Pekerja MPR mempersiapkan empat alternatif (opsi) bagi amandemen ayat 1 pasal 29. Pertama, Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Kedua, Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Ketiga, Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban melaksanakan ajaran agama bagi masing-masing pemeluknya. Keempat berdasarkan Pancasila (idem 6-VIII-20).

Mutammimul ‘Ula, anggota Fraksi Reformasi dari Partai Keadilan menambahkan lagi khilafiyah (opsi) kelima, Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan Islam (tanpa syari’at) bagi pemeluknya. Alasan ijtihadnya, bahwa syari’at berkaitan dengan fiqih (maunya tak berkaitan dengan fiqih). Juga dalam al-Qur:an tak ada kata syari’at, yang ada kata syar’iah (apa sih beda substansinya antara akhiran t dan h ?). Dan yang diperintahkan adalah aqimuddin, bukan menegakkan syari’at Islam (idem 6-VIII:26).

Menurut Dr Daud Rasyid Sitorus MA (Anggota Dewan Syar’iah Partai Keadilan ?) bahwa kendati Partai Keadilan berada dalam satu Fraksi dengan PAN, seharusnya Partai Keadilan mengomandoi perjuangan amandemen pasal 29 UUD-45 ini agar sesuai dengan Piagama Jakarta (idem 6-VIII:25).

Bahkan orang-orang muda semacam Mutammimul ‘Ula, Daud Rasyid Sitorus, Yusril Ihza Mahendra, Eggi Sujana (idem 6-VIII:9), dll, sebaiknya berada dalam satu saf, satu barisan, satu front perjuangan bagi tegaknya hukum Allah sebagai hukum positif.

Untuk mencapai suara terbanyak (walaupun tidak sampai dua pertiga), maka pemunguan suara bagi ke-empat opsi (alternatif) yang disiapkan Badan Pekerja MPR tersebut sebaiknya dilakukan sampai tiga kali.

Namun harapan tersebut tak pernah tercapai. Menurut Prof Dr Deliar Noer, ini disebabkan oleh karena kondisi riil kalangan Islam tidak konsisten dalam pendiriannya (idem 6-VIII:33). Dan juga, menurut DR Daud Rasyid Sitorus MA, karena umat Islam sering tidak mempunyai rencana yang matang untuk menghadapi masa depannya (idem 6-VIII:24). Disamping tak istiqamah (konsisten dan konsekwen), tak punya planning, pun tak ada keseriusan. Bahkan SABILI sendiri tak menunjukkan keseriusan dan kegigihan.

Beberapa waktu yang lalu, SABILI memang pernah menggugat berhala Pancasila (idem 26-VIII). Namun SABILI (bahkan sampai Sidang Tahunan MPR-2000) tak pernah secara gigih, serius, berkesinmbungan menjelaskan kelemahan dan kekuatan UUD-45 dengan Pancasilanya (baik mengenai HAM, Hak Prerogatif Presiden, Alat Perlengkapan Negara, Alat Pertahanan Negara, Alat Keamanan Negara, Kewajiban Kepala Negara, Penyidangan Pejabat Negara, dan lain-lain).

Juga SABILI tak pernah secara serius berkesinambungan menyajikan uraian/kajian yang meyakinkan akan keunggulan keadilan syari’at Islam secara aktual, baik teoritik, maupun empirik, yang sekaligus mencakup uraian/kajian mengenai penanganan ekonomi, moral, hukum secara serempak menyeluruh.

Mskipun menyatakan bahwa tiras SABILI yang lebih dari 100 ribu eksemplar saat ini tak akan membuat cepat berpuas diri (idem 25-VII:2), namun tak dapat dipungkiri terbersit kebanggaan bahwa tiras SABILI sudah menembus angka 100 ribu (idem 19-VII:2).

= Bekasi 6 September 2000 =

2 Menyoal efektivitas dakwah

Dikemukakan bahwa dalam mengamati perkembangan (dakwah) Islam, haruslah mengukur seberapa jauh nilai-nilai al-Islam bertambah meningkat pelaksanaannya dalam suatu masyarakat. Dari soal membaca bismillah, shalat, mencari nafkah, jual beli, perjuangan dan seterusnya. Pendeknya ajaran Islam yang terdiri dari seluruh Qur:an plus sekian Sunnah yang shahih itu merupakan tolok ukur kemajuan atau kemunduran Islam. Ini bisa diukur secara kualitatif, jumlah orang yang melaksanakannya dan juga jumlah orang yang melanggarnya. Dan secara kuantitatif, jumlah sarana-sarana phisik dari pelaksanaan dari ajaran Islam itu. (Abu Afzalurrahman, dalam ALMUSLIMUN, No.198, September 1986, hal 76).

Fakta yang tampak di permukaan mengesankan terasanya syi’ar agama. Tarawih tidak hanya diselengarakan di masjid-masjid atau mushalla, tapi bahkan di hotel yang top. Budaya puasa tidak hanya terasa di kalangan “bawah”, retoran-restoran ternama memasang pengumuman jam buka puasa. Hotel mewah memasang iklan “makan sesudah buka puasa”. Dan suasana ibadat malam maupun siang terasa sangat kurang dikotori uap kemaksiatan maupun suara-suara yang protes. Meski orang boleh mengingat kelesuan ekonomi, tempat-tempat seperti mandi uap, misalnya memang tak lagi populer. Judi sudah sejak beberapa tahun yang lalu dilarang. Dan masjid-masjid penuh, mushalla-mushalla penuh. Membanjirnya para para remaja yang barangkali merupakan 80% jemaah, ke tempat-tempat ibadah sejalan saja dengan pertambahan masjid, maupun mushalla. (Syu’bah Asa, tentang Optimisme Perkembangan Islam, dalam TEMPO, yang dikutip Abu Afzaluurrahman, dalam ALMUSLIMUN, idem hal 65).

Evaluasi (analisa kritis) terhadap fakta optimistis tersebut perlu dilakukan. Media elektronika. Berapa jumlah pemirsa televisi yang setia mengikuti mimbar Islam, kuliah Ramadhan, kuliah subuh (Mutiara Subuh, Hikmah Pagi, Hikmah Fajar, Di ambang Fajar) ? Berapa jumlah pemirsa Muslim yang telah berhasil dibina, di”Islam”kan melalui Dakwah Televisi ? Berapa jumlah pemirsa Non-Muslim yang telah di-Islamkan melalui Dakwah Televisi ? Berapa jumlah kenaikan pemirsa Muslim melalui Dakwah Televisi ? Seberapa jauh dampak dakwah terhadap pola dan tayangan televisi. Berapa jumlah infak da’I televisi bagi perkembangan dakwah dan peningkatan hidup rakyat melarat ?

Media cetak. Berapa jumlah pembaca yang setia menekuni buku-buku tentang Islam ? Berapa jumlah pembaca Muslim yang berhasil dibina, di”Islam”kan melalui buku-buku Islam ? Berapa jumlah pembaca Non-Muslim yang telah di-Islamkan melalui buku-buku Islam ? Berapa jumlah kenaikan pembaca Muslim melalui buku-buku Islam ? Seberapa jauh dampak dakwah melalui buku-buku Islam terhadap pola pikir dan tingkah laku. Berapa jumlah infak penerbit buku-buku Islam bagi perkembangan dakwah dan peningkatan hidup rakyat melarat ?

Dakwah tatap muka. Berapa jumlah peserta taklim ? Berapa jumlah peserta taklim yang telah berhasil dibina, di”Islam”kan melalui taklim ? Berapa jummlah kenaikan peserta taklim setiap tahun ? Berapa jumlah kenaikan jama’ah shalat shubuh tiap tahun ? Berapa jumlah kenaikan jama’ah shalat Jum’at tiap tahun ? Berapa jumlah kenaikan hidup rakyat melarat ?

Nahi Munkar. Berapa jumlah pengurangan, penyusutan tindak kejahatan tiap tahun (perkosaan, pelacuran, aborsi, kumpul kebo, penodongan, pembantaian, penculikan, perampokan, penyiksaan, perjudian, pengedaran miras dan narkoba, tayangan erotis, rente, riba, bunga uang, sogok, suap, korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan lain-lain).

Salah satu acuan, rujukan dakwah antara lain termaktub pada QS Ali Imran 3:104 agar menyeru kepada yang alkhair (kebajikan), menyuruh kepada yang almakruf dan mencegah dari yang almunkar.

Kini adalah jaman spesialisasi. Dibidang dakwah pun dituntut adanya spesialisasi. Di bidang politik dibutuhkan da’I spesialis untuk menjelaskan alkhair, amakruf, almunkar dalam politik.

Di bidang ekonomi dibutuhkan da’I spesialis untuk menjelaskan alkhair, almakruf, almunkar dalam bisnis, ekonomi, industrialisasi, mekanisasi, otomatisasi, kerja lembur. Menjelaskan dengan bahasa bisnis-ekonomi seruan QS Qashash 28:77 agar melaksanakan usaha yang berorientasi sosial (untuk kepentingan bersama) yang bernilai ukhrawi, dan disamping itu melaksanakan upaya yang berorrientasi profit (untuk kepentingan sendiri) yang bernilai duniawi. Menjelaskan makna QS Ma’arij 70:19 dan Fajr 89:27 tentang watak nafsu serakah terkendali.

Di bidang informasi-komunikasi dibutuhkan da’I spesialis untuk menjelaskan alkhair, almakruf, almunkar terhadap media cetak dan eletronik. Menjadikan media cetak dan eletronik sebagai objek, sasaran dakwah.

Di bidang seni-budaya dibutuhkaan da’I spesialis untuk menjelaskan alkhair, almakruf, almunkar dalam busana, vokalia, drama, komedi, teater, sinema. Menjelaskan dengan bahasa seni-budaya makna QS Dzariyat 51:56 tentang wujud kehadiran jin dan manusia sebagai abdi, pemeran, pembawa peran. Makna QS Muhammad 47:36 tentang kehiudupan dunia sebagai panggung sandiwara (lahwun).

Di semua bidang dibutuhkan da’I spesialis yang mampu menyatakan bahwa “aku tak minta imbalan apa pun dari usahaku ini” (QS Syu’ara 26:109)

= Bekasi 24 Agustus 200

3 Menyoal aktivitas da:I

Seorang aktivis dakwah haruslah memiliki sumber penghasilan, mata penghidupan. Seorang aktivitis dakwah seyogianya hidupnya tidak tergantung kepada pemberian orang lain. Mengharap-harap menanti-nati pengasih, pemberian orang lain berarti menghinakan diri sendiri. Demikian Dr,Mustafa as-Siba:I dalam “Sari Sejarah dan Perjuangan Rasulullah saw” hal 39-40.

Anjuran makan dari hasil usaha sendiri dan tidak mengharap-harapkan pemberian orang, dan boleh menerima sedekah yang tanpa meminta-minta dan tidak mengharapkan, adalah dua judul/pasal dalam tarjamah Riadhus Shalihin.

Seorang aktivis dakwah akan dilecehkan dan diremehkan orang, manakala ia menjadikan dakwah sebagai lahan/profesi, sumber rezekinya, yaitu dengan mengharapkan sedekah, pemberian orang. Demikian Dr Muhammad Said Ramadhan al-Buthy, daalam “Sirah Nabawiyah”, hal 57.

Para aktivis dakwah tidaklah akan mengharapkan imbalan apa pun dari siapa pun, baik upah-balasan-ganjaran-tegenprestasi berupa uang, harta-benda, kekayaan, nama, prestise, kemasyhuran, ketenaran, kedudukan, pangkat, jabatan, dan lain-lain. Imbalan yang mereka harapkan hanyalah dari Allah belaka (Simak QS 10:72, 11:29,51, 26:109, 6:90, 12:10425:37, 34:47, 38:86, 42:23, 36:21).

= Bekasi =

4 Menyoal syukuran

Pengertian syukur dapat disimak, diamati dari berbagai segi. Perwujudan syukur pun dapat diungkapkan dengan berbagai bentuk. Salah satu bentuk perwujudan syukur adalah menggunakan, memanfa:atkan pemberian kurnia Allah yang diterima menurut cara-cara yang diridhai Allah pada tempatnya yang semestinya. Syukur artinya menempatkan pemberian (nikmat, karunia) itu sesui dengan kehendak yang memberi.

Tidak menafkahkan harta yang telah Allah anugerahkan (berlaku kikir terhadap harta) untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, teman adalah termasuk tidak bersyukur (kufur nikmat), Manfa:at harta itu terletak dalam penafkahannya dan bukan pada penumpukannya. Menumpuk kekayaan berarti tidak bersyukur (Afzalurrahman, “Muhammad Sebagai Seorang Pedagang”, 1997:204, Standar kehidupan.

Karunia allah berupa harta kekayaan dimanfa:atkan untuk menafkahi diri sendiri, anak keluarga, menyantuni fakir miskin, membantu penyelenggaraan kepentingan umum, membantu perjuangan menegakkan agama Allah. Dengan kurnia Allah berupa harta kekayaan, maka anak-anak dapat diasuh dididik untuk memiliki ilmu pengetahuan, kecakapan, ketrampilan untuk mandiri.

Kurnia Allah yang berupa pengetahuan, kecakapan, ketrampilan dimanfa:atkan untuk mendapatkan rezki, untuk meningkatkan pendapatan, penghasilan, untuk meningkatkan kemashlahatan umat, untuk meningkatkan kesejahteraan umat.

Berusaha mencari rezki adalah bentuk ungkapan syukur, bukan untuk menumpuk kekayaan. Bilamana kita mensyukuri pemberian kurnia Allah, bilamana kita berusaha mencari rezki dalam rangka perwujudan syukur kepada Allah, maka Allah akan menambah, melipatkan, menggandakan pemberian, kurniaNya.

Yang memperoleh kecakapan, ketrampilan berdagang, berusahalah mencari rezki di bidang perdagangan. Yang memiliki kecakapan, ketrampilan di bidang pendidikan, berusahalan mencari rezki di bidang pendidikan. Yang memiliki kecakapan mendidik, tetapi tidak mencari lapangan kerja/usaha di bidang pendidikan, malah berusaha di bidang perdagangan, sebetulnya tidak mensyukuri kurnia Allah yang diterima. Yang memiliki kecakapan di bidang hukum, tetapi mencari lapangan usaha di bidang pendidikan, atau perdagangan, sebetulnya tidak mensyukuri kurnia Allah yang diterima. Yang memiliki kecakapan di bidang teknik, malah mencari rezki di bidang ekonomi, sebetulnya tidak mensyukuri kurnia Allah yang diterima. Yang memiliki kecakapan di bidang pemerintahan, tetapi mencari lapangan usaha di bidang wiraswasta, sebetulnya tidak mensyukuri kurnia Allah yang diterima. Yang memiliki kecakapan di bidang pengobatan, tetapi mencari lapangan usaha di bidang pemerintahan, sebetulnya tidak mensyukuri kurnia Allah yang diterima.

Manfa:atkanlah, gunakanlah pengetahuan, kecakapan, ketrampilan yang dikurniakan allah semaksimalmaksimalnya pada tempat yang semestinya. Berusahalah mencari rezki, kurnia Allah menurut pengetahuan, ketrampilan, kecakapan yang dimiliki. Pandai bersyukur, pandai memanfa:atkan kurnia Allah pada tempatnya akan memperoleh, meraih kurnia tambahan, kurnia lipat, kurnia ganda, ghairu mamnuun, haitsu la-yahtasib.

= Bekasi =

5 Menyoal taqwa

Apakah taqwa itu ? Seluruh Rasul menyeru manusia agar bertaqwa. Nabi Nuh, Hud, Shalih, Luth, Syu’aib, Ilyas, semuanya menyeru manusia agar bertaqwa. Dalam surah Syu’ara (ayat 105-191), mereka itu menyeru manusia itu agar bertaqwa dan ta’at kepada Allah, takut akan ditimpa siksa Allah, dan bahwa mereka sama sekali tidaklah minta imbalan apa-apa.

Dalam surah A’raf (ayat 59-102), Hud (ayat 25-95), Rasul-rasul itu menyeru manusia agar hanya menyembah Allah saja, “Tak ada Tuhan selain Allah”, memohon ampun dan bertobat kepada Allah, tidak merusak norma-norma, tata sosial ekonomi, menyempurnakan takaran dan timbangan, tidak merusak meteran dan literan, tidak menjarah hak orang-orang, tidak merugikan orang-orang, tidak berbuat fahsya dan munkar, tidak membuat kejahatan dan kerusakan, menantang tirani (jabbaarin ‘aniid), tidak membiarkan kesewenang-wenangan, takut akan siksa Allah, dan bahwa mereka tidaklah minta imbalan apa-apa.

Inti seruan bertaqwa itu adalah menyeru manusia agar hanya menyembah kepada Allah saja, ‘Tak ada Tuhan selain Allah”, tidak melakukan perbuatan fahsya dan munkar, takut akan siksa Allah (QS 2:21, 4:1, 4;131, 22:1, 31:33).

Dalam surah An’am (ayat 151-153), Isra (ayat 21-39), Luqman (ayat 12-19), Furqan (ayat 63-77), seruan bertaqwa itu meliputi seruan agar tidak mempersekutukan Allah, melaksanakan perintah Allah, berbuat buat baik kepada ibu bapa, memberikan hak kerabat dan yang melarat, menggunakan harta secara pantas, tidak boros dan tidak kikir, tidak mendekati perbuatan fahsya, tidak membunuh orang-orang, tidak menjarah hak orang-orang, menyempurnakan meteran dan literan, tidak sombong angkuh congkak, menyuruh berbuat makruf, mencegah berbuat munkar, berlaku adil, tidak sewenang-wenang, tidak bersaksi palsu

Ibnu Hajar Asqalani merinci semuanya itu ke dalam enam puluh delapan cabang iman. Imam Bukhari meriwayatkan hadis bahwa iman itu enam puluh sembilan cabang (rangka). Secara ringkas, seruan bertaqwa itu mencakup seruan kepada iman, islam, ihsan. Iman dengan enam rukunnya. Islam dengan lima rukunnya. Ihsan adalah beribadat, seolah melihat Allah. Segala amal perbuatan akan bernilai ibadat, bilamana dilakukan dalam kondisi batin yang merasa diawasi Allah.

Dalam surah Nahli (ayat 90-91) ringkasan bertaqwa itu mencakup seruan agar berlaku adil, beramal shalih, berbuat ihsan, memberi hak kerabat, tidak berbuat fahsya, munkar dan bughat, serta melaksanakan perintah Allah.

Taqwa itu harus ditingkatkan. Seruan meningkatkan taqwa itu adalah seruan meningkatkan komitmen (kemauan dan kemampuan) untuk melaksanakan yang diperintahkan Allah dan meninggalakan yang dilarang Allah.

Seruan bertaqwa “ittaqillah” adalah seruan mencegah, memberantas fahsya, munkar dan bughat, seruan berbuat amal shalih, adil, ihsan. Seruan bertaqwa “ittaqillah” berangkat dari pribadi yang mampu menyatakan bahwa “Aku tidaklah minta imbalan apa-apa dari kalian. Imbalanku hanya ada pada sisi Allah”. Dengan sikap pribadi yang demikianlah

risalah dan dakwah bisa berhasil dengan izin Allah. Tanpa sikap pribadi yang demikian

mustahillah risalah dan dakwah akan berhasil

6 Umat Islam Indonesia ini hendak kemana ?

Apa yang diperjuangkan pemimpin-pemimpin umat Islam Indonesia ini ? Untuk mencari jawaban pertanyaan ini, barangkali dapat ditelusuri dari perjuangan beberapa pemimpin yang dapat dikwalifikasikan/dipandang mewakili pemimpin-pemimpin umat Islam Indonesia. Antara lain Pangeran Diponegoro di Jawa yang memperjuangkan terbentuknya negara berdaulat (merdeka) di bawah pimpinan seorang Amirul Mukminin. Kedua, Tuanku Imam Bonjol dengan kaum Paderinya di Sumatera yang memperjuangkan lenyapnya adat (ideologi lokal) dan menggantinya dengan aturan-aturan agama (Islam). (Anwar Sanusi : “Sejarah Indonesia” III, 1951:50,62). Ketiga, pemimpin ummat Islam Indonesia dalam sidang BPUUPKI (seperti Ki Bagoes Hadikoesoemo, dr Soekiman wirjosanjojo, Abikusno Tjokrosujoso, Abdul Kahar Muzakir, Agus Salim, Wahid Hasyim) memperjuangkan Islam sebagai dasar negara (Agama negara adalah Islam dengan menjamin kemerdekaan orang-orang beragama lain untuk beribadat menurut agamanya masing-masing. Presiden ialah orang Indonnesia asli dan beragama Islam) (ESTAFET 12, 10-1986:24-25, Prof.JHA Logemann : “Keterangan-Keterangan Tentang Terjadinya UUD-1945”, hlm 21). Keempat, pemimpin-pemimpin umat Islam Indonesia dalam sidang Konstituante hasil pemilu 1955 yang memperjuangkan agar redaksional Pembukaan UUD-45 dikembalikan seperti konsensus semula yaitu seperti dalam Piagam Jakarta. Perjuangan tersebut tak berhasil. Kenapa ? Karena Islam itu belum mengakar. Belum ada badan, tubuh, kaki, tangan, bagian, anggota yang mendukung, yang menyangga. Belum dapat hidup, meskipun sudah ada kepala. “Kita, berkata, 90% dari pada kita beragama Islam, tetapi lihatlah dalam sidang BPUUPKI, berapa persen yang memberikan suaranya kepada Islam ? Hal ini adalah salah satu bukti, bahwa Islam belum mengakar, belum hidup-sehidupnya di dalam kalangan rakyat (Indonesia)” ungkap Ir Soekarno dalam Pidato Lahirnya Pancasila (1947:31).

Manusia dalam hidupnya bisa bertukar warna (haluan) dari bergerak maju (revolusioner) ke bergerak mundur (konservatif-reaksioner), dan sebaliknya. Presiden Soekarno tak luput dari ini. Beliau tergoda dengan pujian, sanjungan, gelar kehormatan, nikmat kekuasaan. Tak ada pemerintah yang dengan sukarela membatasi sendiri kekuasaannya. Pemerintah hanya mau memberikan hak-hak politik kepada anggota masyarakat, kalau dinilai masih sesuai dengan kepentingannya dan tidak membahayakan kekuasaannya (PANJI MASYARAKAT 447, 21-10-1984:47-48). Ketika sidang Konstituante masih belum tuntas berhasil mengambil kesepakatan, Presiden Soekarno segera membubarkan Konstituante dan menyatakan kembali ke UUD-45 serta membentuk Kabinet Presidentil. Dengan Kabinet Presidentil memungkinkan terwujudnya suatu kepemimpinan nasional yang kuat. Presiden bisa bertindak mengangkat dan memberhentikan para Menteri yang merupakan pembantunya. Sedangkan Parlemen tak kuasa menjatuhkan Presiden (Soegiarso Soerojo : “Siapa Menabur Angin” 1988:101-102). (UUD-45 lebih besar memberi kekuasaan pada bidang eksekutif, sedangkan UUDS-50 lebih besar memberi HAM pada warganegara).

Dalam pandangan Hamka, ummat Islam wajib berikhtiar agar Islam dalam keseluruhannya berlaku pada masing-masing pribadi, lalu kepada masyarakat, kemudian kepada negara. Selama hayat dikandung badan, harus berjuang terus agar Islam dalam keseluruhannya dapat berdiri dalam kehidupan. Jangan sampai mengakui bahwa ada satu peraturan lain yang lebih baik dari peraturan Islam (“Tafsir al-Azhar” II, 1983:174)..

“Jika ada jami’ah atau wadah ummat Islam yang mencita-citakan berlakunya ajaran Islam yang berhaluan ahlussunnah wal jam’ah di tengah-tengah kehidupan di dalam wadah negara RI yang berlandaskan Pancasila dan UUD-45, agaknya bukan sesuatu yang belebihan”. “Sama sekali bukan pengkhianatan terhadap konstitusi 1945 yang pemberlakuannya kembali melalui Dekrit 5 Juli 1959”. Dalam konsideran Dekrit Presiden 5 Juli 1959 secara tegas dinyatakan bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai UUD-45 dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut, ujar M.Said Budairy (REPUBLIKA, 18-8-1996:2).

Dalam BPUUPKI, Ir Soekarno menyeru pemimpin-pemimpin ummat Islam Indonesia bekerja sekeras-kerasnya untuk menggerakkan segenap rakyat, mengarahkan sebanyak-banyaknya pemuka-pemuka, utusan-utusan Islam duduk dalam badan perwakilan rakyat, sehingga hukum-hukum yang keluar dari badan perwakilan rakyat itu hukum Islam pula.

= Bekasi 9 Oktober 1996 =

7 Menyoal pemberlakuan syari’at Islam

Sungguh sangat simpatik pernyataan Haib Husein al-Habsyi bersama kawan-kawan yang antara lain menuntut Sidang Umum MPR mendatang mempersiapkan Referendum Nasional dengan opsi pemberlakuan syari’at Islam dalam hukum nasional (SABILI, No.15, 5 Januari 2000, hlm 55).

Empat puluh lima tahun yang lalu (tahun 1955) wakil-wakil parpol Islam dalam Sidang Konstituante menuntut agar Piagam Jakarta sebagai ikrar kesepakatan bersama pada 22 Juni 1945 yang pernah dikhianati pada 18 Agustus 1945 dengan menghilangkan “dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, dikembalikan seutuhnya sebagai Pembuka UUD. (Khannas sebaliknya menuding bahwa yang berupaya mengembalikan Piagam Jakarta itu adalah orang-orang yang mengingkari sejarah pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan kebhinekaannya).

Namun secara inkonstitusional, tuntutan pengembalian Piagam Jakarta Tersebut disambut dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang membubarkan konstituante hasil pilihan rakyat dan memberlakukan kembali UUD-45.

Berdasarkan perspektif historis dan tekstual, UUD-45 tetap saja bersifat sementara (Ayat 2 Aturan Tambahan). Bahkan semangat dan jiwa UUD-45 bersifat mendua, antara demokratis dan anti-demokratis (Muhammad Yamin : “Proklamasi dan Konstitusi RI”, 1952:90).

Sesuai kondisi riil masa kini, maka referendum dengan opsi pemberlakuan syari’at dan hudud Islam seyogianya bersifat lokal, daerah per daerah, namun penyelenggaraannya bisa saja serentak di seluruh nusantara oleh pemerintah pusat.

Semoga bangsa ini tidak lagi mengkhianati ikrar yang telah disepakati bersama, dan semoga tidak mendapat kutukan dan laknat dari yang memberi kemerdekaan.

= Bekasi 27 Januari 2000 =

8 Menyoal Dasar Perjuangan

Jika sekiranya masyarakat Tanah Rencong berjuang hanya agar syari’at Islam, hukum Allah berdaulat, berkuasa di bumi Aceh, insya-Allah kemenangan akan diperoleh dengan idzin Allah.

Siapa yang berjuang (berperang) semata-mata untuk menegakkan kalimat (agama) Allah, kata Rasulullah, maka itulah (perjuangan) fi-sabilillah (HR Bukhari, Muslim dari Abu Musa Asy’ari).

Jika kamu menolong (agama) Allah, kata Allah, niscaya Allah menolong kamu dan menetapkan telapak kakimu (QS Muhammad 47:7).

Sesungguhnya orang-orang yang berkata “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian berlaku lurus, kata Allah, maka tiadalah mereka takut dan tiada pula berduka cita (QS Ahqaaf 46:13).

Bilamana perjuangan didasarkan pada rasa kebanggaan, kemegahan, kejayaan, kepahlawanan, kebangsaan, kesukuan, kedaerahan, dan lain-lain, maka di sisi Allah tak ada nilainya sama sekali.

Dalam perjuangan, yang paling penting dari yang penting adalah meluruskan, membetulkan niat, motivasi, dasar perjuangan itu sendiri, yaitu hanya semata-mata untuk tegak berdaulatnya kalimatullah (Islam = Bekasi 20 Agustus 1999 =

9 Menyoal pendirian

Semula berpendirian bahwa untuk dapat berlakunya hukum Allah sebagai hukum positip di tengah masyarakat butuh adanya suatu kekuasaan pelaksana. Karena itu perlu ada usaha, upaya untuk memperoleh kekuasaan itu. Barangkali pendirian ini mengacu (bertaklid) pada pendirian Ibnu Taimiyah yang menyatakan bahwa negara Islam itu harus diadakan untuk terlaksananya undang-undang Islam (untuk melaksanakan hukum Qur:an, dan bukan untuk memusyawarahkan hukumnya).

Namun kemudian setelah beberapa kali melakukan kaji ulang (muhasabah), maka kini pendirian itu berubah seratus delapan puluh deraajat, bertolak belakang sama sekali. Kini terperangkap dalam pendirian bahwa kekuasaan (termasuk juga kekayaan) adalah anugerah Allah semata, hak prerogatif mutlak dari Allah, tanpa secuilpun campur tangan siapapun (disimak dari QS 3:26, 13:26, 16:71, dan lain-lain).

Perubahan pendirian ini bukan disebabkan oleh maraknya isu bahwa “tak ada negara Islam” dalam Qur:an dan Hadits. Tapi lebih bertolak dari visi dan persepsi tentang data sejarah. Reformasi yang terjadi belakangan ini pun semata-mata digerakkan oleh Allah, tanpa campur tangan manusia. Tak seorangpun, tak satupun kelompok yang menggerakkan reformasi.

Diantara Rasul, hanyalah Daud dan Sulaiman yang dianugerahi oleh Allah berupa kekuasaan (sebagai raja). Allah memberikan kekuasaan kepada Namruz, bukan kepada Ibrahim, kepada Fir’aun dan bukan kepada Musa. Allah memberikan kekayan kepada Qarun, bukan kepada Khidir. Allah memberikan IPTEK kepada Haman, dan bukan kepada Musa atau Khidir. Semuanya ada hikmah/rahasia yang tak dapat dipahami manusia. “Aku mengetahui apa-apa yang tiada kamu ketahui” (QS 2:30).

Baik Ibrahim, maupun Musa tak pernah berupaya menyusun, menggalang kekuatan, menggembleng dan mengerahkan massa untuk meruntuhkan kekuasaan penguasa, baik Namruz maupun Fir’aun. Bahkan Musa hanya berupaya menyelamatkan diri dan pengikutnya dengan menyeberangi Laut Merah untuk dapat selamat dari kejaran pasukan Fir’aun. Keruntuhan kekuasaan Namruz dan Fir’aun pun semata-mata atas iradat dan kodrat Allah tanpa campur tangan Ibrahim dan Musa. Semuanya sesuai dengan ketetapan Allah sendiri (disimak dari QS 35:43, 33:62, 48:23).

Bangkitnya Islam pun di Tanah Arab bukanlah atas usaha dan upaya dari sisa-sisa pengikut ajaran Nabi Ibrahim, tetapi semata-mata atas anugerah Allah yang telah menghadirkan Rasul-Nya Muhammad saw sebagai penggerak pertama di sana. (Dr Mushthafa as-Siba’I : “Sari Sejarah Dan Perjuangan Rasulullah saw”, 1983:30, Dr Muhammad Said Ramadhan al-Buthy : “Sirah Nabawiyah I”, 1992 :45-46).

Umar bin Abdul Aziz berubah dari pemuda glamour, foya-foyqa, pelesiran menjadi manusia zuhud (bukan hamba harta-dunia), bukanlah atas usaha keluarga, masyarakat, lingkungannya, tetapi semata-mata anugerah Allah, bukan mengikuti teori/hukum Stern, bahwa manusia itu ditentukan oleh bawaan/bakat dan milieu/lingkungan. Bawaan/bakat manusia itu mencakup kefasikan dan ketakwaan (disimak dari QS 91:8).

Masyarakat yang berada di bawah pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz (yang hanya berlansung dua tahun dari 99 sampai 101 Hijriyah), itulah masyarakat yang benar-benar masyarakat adil dan makmur. Sayangnya tak tercatat dalam catatan sejarah bahwa masyarakat sebelum itu, yaitu masyarakat bani Umaiyah adalah masyarakat yang benar-benar masyarakat IMTAQ. Masih saja terdapat rahasia (faktor X) yang menjadi persyaratan terwujudnya masyarakat IMTAQ yang sempurna. Manusia tak pernah tahu waktunya (QS 7:34, 10:49). Yang sempat diketahui adalah bahwa masyarakat yang akan memperoleh keadilan, kemakmuran, berupa kemajuan IPTEK, keberkahan (QS 7:96), kebebasan dari bencana (QS 5:65), kekuasaan (QS 24:55), adalah masyarakat yang benar

benar masyarakat IMTAQ.

“Jika hamba-hamba-Ku ta’at kepada-Ku, Kujadikan hati raja-raja mereka penuh kasih sayang kepada mereka, dan apabila mendurhaka kepada-Ku, Kujadikan raja-raja penuh kemarahan dan kebengisan sehingga menganiaya mereka dengan siksa yang buruk. Maka jangan sibukkan dirimu dengan mengutuk raja-raja, tetapi sibukkan dirimu dengan dzikir dan berdo’a secara khusyu’ supaya Kulindungi kamu dari raja-rajamu” (HR Abu Nu’aim, Thabari dalam “Koreksi Pola Hidup Umat Islam”, 1986:52, oleh Muhammad Zakaria al-Kandahlawi). Usaha yang wajib dilakukan adalah menyeru mengajak orang-orang untuk menjadi masyarakat IMTAQ.

Pendirian bahwa semuanya adalah atas iradat dan kudrat Allah secara mutlak, tanpa campur sedikitpun dari makhluk, pernah diberi cap/label/stigmatisasi sebagai pendirian “jabariyah”. Tapi apakah ajaran Jabariyah itu termasuk pada ajaran kufur ? Apakah ajaran Jabariyah itu mengandung unsur syirik. Apalkah ajaran jabariyah itu bertentangan dengan ajaran Tauhid, yang mengajarkan bahwa tak ada satu pun sekutu (termasuk sekutu dalam kekuasaan) bagi Allah swt.

= Bekasi 11 Maret 1998 =

10 Yu waswis

“Berlindunglah kepada Allah dari waswis khannas jin dan khannas manusia” (Tuntunan QS An-Naas 114:116).

“Agama Allah tidak perlu dibela.Kalau Allah mau, siapapun yang mengancam agama-Nya bisa dibasmi-Nya tanpa bantuan manusia ” (Idha Farida SA, dalam SABILI, No.2, Th.VIII, 12 Juli 2000, hal 6).

“Pada pertengahan 1982, Gus Dur menyeru untuk tidak usah membela Tuhan. Tuhan Tidak Perlu Dibela” (M.Musthafa, dalam KOMPAS Minggu 1999, ‘Untuk Siapa Agama Sebenarnya?’.

“Orang-orang musyrik (paganis) akan mengatakan bahwa, jika Allah menghendaki, niscaya mereka dan bapak-bapak mereka tidak akan menpersyarikatkan Allah dan pula tidak akan mengharamkan sesuatu” (Peringatan QS An’am 6:148, Nahal 16:35).

“Orang kafir itu mengatakan bahwa jika Allah menghendaki tentulah Allah akan memberi makan orang-orang papa” (Peringatan QS Yaasin 35:47).

“Setan datang menemui seseorang hingga sampai menanyakan siapa yang menjadikan Allah” (Peringatan HR Bukhari dari Abi Hurairah, dalam Bab ‘Sifat Iblis wa Junudihi’”.

Iblis mempertanyakan kenapa Allah menjadikannya dan apa hikmahnya, padahal sebelum kejadiannya Allah telah mengetahui apa saja yang bakal keluar dari perbuatannya. Mengapa Allah membebaninya untuk mengenal dan menta’ati-Nya, padahal Allah menciptakannya menurut iradah dan keinginann-Nya” (Petikan komentar penulis Injil yang dikutip Imam Syahrastani dalam Kitab al-Mihal wan-Nihal, hal 14-16, yang dinukilkan kembali oleh H Ali Fahmi Arsyad, dalam SUARA MASJID, Nomor 162, Maret 1988, hal 50)

= Bekasi 28 Agustus 2000 =

11 Menyoal do’a bersama kafir (toleransi damai ?)

Diriwayatkan oleh Abdurrazaq yang bersumber dari Wahab dan Ibnul Munzir yang bersumber dari Juraij bahwa kaum Kafir Quraisy berkata kepada Nabi saw “Sekiranya engkau tidak keberatan mengikuti kami (menyembah berhala) selama setahun, kami akan akan mengikuti agamamu selama setahun pula”. Maka turunlah QS Kafirun 109:1-6.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Mina bahwa al-Walid bin al-Mughirah, al-‘Ashi bin Wa:il, al-Aswad bin al-Muthalib dan Umayyah bin Khalf bertemu dengan Rasulullah saw dan berkata “Hai Muhammad. Mari kita bersma menyembah apa yang kami sembah dan kami akan menyembah apa yang engkau sembah dan kita bersekutu dalam segala hal dan engkau yang memimpin kami”. Maka Allah menurunkan QS Kafirun 109:1-6.

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Sa’id bin Mina bahwa pemuka-pemuka Quraisy musyrikin bermufakat hendak datang menemui Nabi. Mereka (al-Walid bin al-Mughirah, al-‘Ash bin Wa:il, al-Aswad bin al-Muthalib dan Umayyah bin Khalaf) mengemukakan usulan damai “Ya Muhammad. Mari kita berdamai. Kami bersedia menyembah apa yang kamu sembah, tetapi engkau pun hendaknya bersedia pula menyembah yang kami sembah, dan di dalam segala urusan di negeri kita ini, engkau turut bersama kami. Kalau seruan yang engkau bawa ini memang ada baiknya dari pada apa yang engkau serukan itu maka engkau pun telah merasakannya dengan kami, sama mengambil bahagian padanya”. Tidak berapa lama setelah mereka mengemukakan usul ini turunlah QS Kafirun 109:1-6.

= Bekasi 31 Agustus 2000 =

12 Arah dakwah

Sasaran uama dakwah adalah mengajak, menyeru manusia agar hanya menyembah Allah, dan tidak mempersekutukan-Nya dalam hal apa pun dengan suatu apa pun, serta bersyahadat membenarkan Muhammad itu benar-benar Rasul Allah. Sekaligus membela, mempertahankan, memperjuangkan tegaknya syahadat yang dikrarkan itu dalam diri pribadi dan di tengah masyarakat. Setelah itu berbuat baik terhadap kedua orang tua, dan sekali-kali tidak menyinggung, melukai perasaan, hati kedua orang tua. Meyakini sepenuhnya bahwa Allah itu yang memberi rezki (makanan, minuman, kehidupan, kesehatan, ilmu pengetahuan, kecakapan, ketrampilan, kekayaan, kekuasaan) bagi semuanya. Menjauhi, menghindari segala sesuatu yang jijik, jorok, cabul, porno, mesum, baik terang-terangan, maupun sembunyi-sembunyi. Membela, mempertahankan, memperjuangkan hak hidup siapa pun dan tidak memperkosa hak hidup itu. Membangun tegaknya masyarakat adil makmur. Menegakkan keadilan secara utuh, baik terhadap diri sendiri (introspeksi), maupun terhadap masyarakat, baik dalam bidang hukum, maupun dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya. Menyebarkan dan menyuburkan kebajikan, kebaikan, kemakmuran baik terhadap yang Muslim, maupun non-Muslim, tanpa diskriminasi. Menyantuni yang terlantar, mulai dari kerabat yang dekat sampai jauh. Tidak melakukan tindak keonaran, makar, kekacaauan, kejahatan, kemunkaran, keresahan, kerusuhan, kegelisahan (QS 6:151, 16:30). Seruan dakwah ini sangat dibenci, ditakuti, tidak disukai oleh para penguasa, terutama sekali para adikuasa, adidaya, seperti Kaisar dan Kisra.

“Wahai manusia. Ucapkanlah “la ilaaha illallaah”, niscaya kalian beruntung. Dengan kalimat ini kalian akan menguasai bangsa Arab dan orang-orang Ajam. Jika kalian beriman, maka kalian akan menjadi raja di surga”. Demikian seruan Rasulullah yang seringkali disampaikan kepada manusia. (Sirah Nabawiyah, Planning Dan Organisasi Dakwah Rasulullah, Petunjuk Jalan, Metoda Revolusi Islam).

= Bekasi 18 April 1998 =

13 Politik organisasi dakwah

Organisasi dakwah – menurut Hasan al-Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin – adalah menyeru, memanggil manusia pada kebenaran dan kedamaian, untuk mengikuti tuntunan Allah dalam Qur:an dan Sunnah Rasul-Nya, beserta mengikuti teladan para sahabat Rasulullah saw. Organisasi dakwah mengajak untuk berpegang dan menegakkan hukum-hukum, ajaran-ajaran, dan petunjuk-petunjuk Allah swt. Organisasi dakwah berakidah Islamiyah. Rela diatur oleh aturan Allah swt (QS 5:44-50,66). Organisasi dakwah tak mengenal dinding batas dissskriminasi waktu (zamani) dan tempat (makani) serta kondisi (waqi’I) (QS 21:107).

Apabila ajakan, misi, aktivitas, kegiatan organisasi dakwah ini dikatakan, dikategorikan, dinilai membawa prinsip politik, melakukan aktivitas, kegiatan politik praktis, memang dakwah itu membawa prinsip poltik menegakkan kebenaran, yang tak memisahkan antara agama dan politik. Organisasi dakwah mencakup mengurusi masalah politik, masalah sosial dan pembaruan, masalah olah-jasmani dan olah-rohani. Mencakup dakwah, tarikah, siasah, iqtishad, tsaqafah, madaniyah, riyadhah, tanpa menyisakan, menyisihkan yang termasuk dalam Islam kaffah. Dakwah itu dilakukan simultan, serentak menyebar ke segala sektor kehidupan, bukan terbatas hanya pada satu dua sektor tertentu saja (QS 2:208).

Risiko yang menghadap, yang menanti pendukung dakwah bisa dipenjarakan, ditangkap, dibuang, dikejar-kejar (sebagai buronan), kehilangan harta (karena disita), kehilangan pekerjaan (karena dipecat). Pendukung dakwah akan mendapat tantangan. Akan dipertanyakan apakah dakwah dapat dijadikan sebagai landasan pembangunan masyarakat, serta mengobati penyakit masyarakat (patologi sosial), apalagi dalam suasana negara sedang dilanda berbagai resesi dan krisis ? Apakah mungkin dakwah gerakan amar makruf nahi munkar dapat menata sistim ekonomi tanpa menggunakan asas rente (dengan tingkat suku bunga nol, seperti diajarkan pakar Ekonomi Keynes dalam “The General Theory of Employment, Intrest and Money”) ? Apakah yang dapat dilakukan dakwah menghadapi budaya global emansipasi (wanita dan pria) ? Dan lain-lain (QS 23:71).

Berbeda dengan al-Banna, meskipun diakui bahwa adalah tidak bijak menghindari kegiatan politik praktis dalam memperjuangkan tegaknya bangunan Masyarakat Utama, Masyarakat Islam, namun Dr HM Amien Rais MA yang visi dan persepsi poltiknya hampir sejalan dengan Mr Mohammad Roem, mengemukakan bahwa untuk membangun infrastruktur Masyarakat Utama itu tidak bisa dengan mengambil jalan pintas, tetapi dalam perspektif jangka panjang (USWATUN HASANAH 495:1998).

= Bekasi 18 April 1998 =

14 Masyarakat Adil dan Makmur

Kemakmuran, keadilan, ketenteraman, keamanan masih tetap saja tinggal sebagai impian, dambaan, harapan bagi orang banyak. Sudah lebih lima puluh tahun merdeka, baik masa ORLA, maupun masa ORBA, hanya segelintir orang tertentu yang sempat berhasil mereguk, mengenyam kemakmuran, keadilan, ketenteraman, keamanaN TERSEBUT. Hanya MEREKA itulah yang sempat menikmati kekayaan milyaran, bahkan triliyunan untuk ratusan turunan. Selebihnya tetap saja kere, jembel, kuli (ada yang berdasi, dan ada yang tidak0) dari proyek-proyek konglomerat. Walaupun demikian, perjuangan tak pernah berhenti untuk meraih kemakmuran lahir batin, keadilan dalam politik-ekonomi-hukum-sosial-budaya, bersih dari kolusi, komisi, konspirasi, ketenteraman dan keamanan keluarga dan masyarakat.

Untuk menuju masjarakat adil dan makmur itu, Islam memberikan tuntunan agar senantiasa menyimak, memperhatikan, mengikuti, menjalankan tuntunan agama yang disampaikan oleh para ulama berupa keharusan berbuat kebajikan dan larangan berbuat tindak kejahatan. Tidak meremehkan, mengabaikan para ulama, apalagi membatasi gerak dakwahnya atau mencekalnya, atau menjadikan wejangannya sebagai bahan lawakan.

Berikutnya, lebih memusatkan perhatian pada pembangunan mental spiritual (moral), dan bukan terlalu terfokus pada pembangunan fisik material (ekonomi). Islam lahir, tampil membawa pesan/amanat untuk lebih mengutamakan perbaiakan budi pekerti (akhlak), bukan untuk lebih mengutamakan perbaikan penampilan fisik jasmani. Memang Islam juga mendorong untuk berusaha mencari rezki sekuat tenaga, tetapi harta-kekayaan yang lebih dari kebutuhan hendaknya diberikan kepada orang-orang yang melarat (QS2:219). Islam tidak menyukai menumpuk-numpuk kekayaan, apalagi untuk foya-foya, bahkan untuk ratusan turunan. Sesungguhnya kelebihan harta itu menurut riwayat Ali bin Abi Thalib – hanyalah milik orang lain yang disimpan. Jangan membuat tempat timbunan kekayaan, yang – menurut riwayat Tirmizi – akan menyebabkan cinta pada dunia.

Sebagai orang bersaudara, Islam juga tidak menyukai sealing bersaing dalam mencari rezki. Islam menuntun agar saling tolong menolong, saling bantu membantu dalam kebaikan. Termasuk tolong menolong mencarikan jlan keluar mengatasi kesulitan permodalan, tenaga kerja, pemasaran, manajemen.

Tuntunan Islam yang disampaikan Rasulullah saw antara lain bahwa “Apabila kaum Muslimin membenci ulama mereka, menonjolkan pembangunan pasar mereka, dan saling berkelahi untuk mengumpulkan uang, maka Allah swt menimpakan kepada mereka empat perkara : musim pacekelik, kezhaliman penguasa, pengkhianatan penegak hukum, dan serangan dari musuh” (HR Hakim dari Ali bin Abi Thalib, dalam “Koreksi Pola Hidup Umat Islam”, 1986:46).

Dari QS 7:96, 5:65-66, 24:55, 65:2-3 dipahami, bahwa masyarakat adil makmur, penuh berkah, kemajuan IPTEK-sosial-ekonomi, jadi tuan di negeri sendiri, adalah masyrakat IMTAQ, masyarakat Islami, masyarakat yang rela diatur oleh aturan Allah. Yang Yahudi rela diatur dengan Taurat. Yang Nasrani rela diatur dengan Injil. Yang Islam rela diatur dengan Qur:an (QS 5:44-50,66). Semoga saja sudah ada yang sukses berhasil membentuk masyarakat IMTA di lingkungan RT, RW, Desa, sekolah, madrasah, masjid, kampus, kantor, pabrik, pasar, komplek pemukiman, dan lain-lain

= Bekasi 1 April 1998

15 Tuntunan Islam praktis

Baik dari dakwah tatap muka, maupun melalui media cetak, dan melalui media elektronika, yang amat sangat diperlukan umat adalah tuntunan Islami praktis, yang konkrit, yang mudah diterapakan, dan bukan tuntunan Islami teoritis ilmiah yang abstrak, antara lain tentang cara menanggulangi, mengatasi, menangani tawuran antar sekolah, penyampaian protes, penolakan protes, bentrokan fisik antara rakyat pengunjuk rasa dengan aparat bersenjata, tindak kekerasan, tindak kejahatan, pemaksaan kehendak oleh yang berkuasa, arogansi intelektual, arogansi wakil rakyat, arogansi pejabat, penyalah-gunaan kekuasaan, transaksi fiktif, kwitansi fiktif, penggelapan uang, aksi premanisasi, aksi pengamen, aksi pengemis, parade zina, hedonisme, krisis keteladanan, mental robot, mental pabrik, mental badak, mental budak, jambret, rampok, rampas, todong, perkosaan, pembunuhan, pembantaianan, miras, mabuk-mabukan, judi, calok, pungli, uang semir, siluman, pelicin, komisi, amplop, tst, joki, jimat, kolusi, korupsi, komersialisasi jabatan, dan lain-lain.

Islam berpesan agar sungguh-sungguh menarik tangan orang yang zhalim, aniaya, berbuat munkar, kejam, jahat, sewenang-wenang, dan menghela, paksa, robah, cegah tangan itu kepada mematuhi kebenaran. Kalau tidak, maka Allah akan meratakan siksaan-Nya. (Bks 20-9-99).

16 IPOLEKSOSBUDHAMKAMTIB dan Islam

Penerbit dan Redaksi Media Dakwah sangat diharapkan untuk dapat menyusun/menerbitkan Risalah/Makalah/Bukau antara lain mengenai “Politik dan Islam”, “Ekonomi dan Islam”, “Televisi dan Islam”, “Busana dan Islam”, “Militer dan Islam”, dll yang dapat dipahami oleh tokoh-tokoh semacam Munawir Syadzali, Nurkholish Madjid, Ainun Nadjib, Dahlan Ranuwihardjo, Dawam Rahardjo, Syhafi’I Ma’arif, Amien Rais, Abdurrahman Wahid, Aqil Siradj, Masdar Mas’udi, Hasan Metareum, Tirtosudiro, Adi Sasono, Mar’I Muhammad, Fuad Bawazir, Aburizal Bakri, Emil Salim, Syafi’I Antonio, Hasan Habib, Wiranto, Hasan Tiro Quraisy Shihab, Alwi Syihab, dan lain-lain.

Memang dalam siasah/politik, kalam/teologi, tasauf/teosofi, hukm/fiqih, sejarah telah meninggalkan berbagai firqah/sekte/aliran paham yang antara lain :

hanya menerima matan nash dan menolak makna nash, hanya mengambil hakikat (nilai) Islam dan meninggalkan syari’at (Hukum) Islam. Inkar Syari’at/Siyasah. Pro-Ribawi. Inkar Jihad. Inkar Jilbab. Dll. Dengan jargon “Islam yes, Politik Islam No).

hanya berpegang pada Qur:an saja, dan meninggalkan Sunnah. “Qur:an Yes, Sunnah No”. Inkar Sunnah. (Bks Idilfitri 1420)

17 Muhasabah keadilan

Pernahkah kita berlaku adil terhadap yang tak kita senangi ? Islam hanya membutuhkan dua puluh tiga tahun untuk menegakkan keadilan (QS 5:8, 5:3). Timtim di bawah naungan Indonesia selama dua puluh tiga tahun. Selama itu apakah Indonesia bersama TNI-nya yang mayoritas Islam bersikap dan berwatak Islami terhadap rakayat Timtim non-Islam ?

Dari “Hadhratul Arab”nya Gustave Le Bon dicatat bahwa Perang Salib sebagai lambang makar jahat Barat terhadap Islam. Dari “Mafahim Siyasah”nya Abu Yusuf dicatat bahwa negara Barat akan terus melanggengkan pengaruhnya melalui penjajahan (HUSNAYAIN 82:1999).

Dipertanyakan, dari sumber data otentik mana dicatat bahwa Keluarga Barat (kelompok negara-negara Nasrani Eropa mana) muncul pada abad XIV untuk menghancurkan Islam dan kum Muslimin. Negara-negara Nasrani mana saja yang bersekongkol, bersekutu dengan Austria tahun 1683 memukul mundur Turki dekat Wina ? Negara-negara mana saja yang bersekutu dengan Hongaria tahun 1699 menyerang Turki ? Pada masa itu, apakah bangsa Seljuk-Turki masih bersikap dan berwatak Islami terhadap daerah taklukan ? Apakah ayat QS 2:120 dipahami untuk menanamkan kebencian kepada Ahli Kitab, ataukah dipahami untuk senantiasa waspada ?

Hassan Shadily dalam Ensiklopedi Indonesia-nya mengemukakan bahwa “Ketika suku Turki Seljuk Islam berkuasa, orang-orang Kristen yang berziarah ke tempat-tempat suci di Yerusalem, merasa diperlakukan tidak baik” (Jilid 5, hlm 2661-2662). Dan bagaimana dengan perlakuan umat Islam Indonesia masa kini terhadap Ahli Kitab ? Apakah seperti Bani Seljuk Turki Islam ? (Bks 20-9-99)

18 OKI dan Perjuangan Umat Islam gagal ?

Dengan gencar dihembuskan, bahwa dalam perspektif historis, gerakan-gerakan yang trennya memformalisasikan syari’at Islam tidak pernah mengakar mendapat simpati dari mayoritas umat. Hanyalah merupakan gerakan sempalan yang tercerai berai dan tidak pernah menjadi kelompok yang solid (Abd A’la : KOMPAS 22/10/99:4). Apakah memang benar demikian ? Apakah memang perjuangan umat Islam akan bermuara pada kekandasan, pada ketakberhasilan ? Misuari bersama pasukan Moro Pilipina Selatan-nya terpaksa memilih jalan damai, barjabat tangan dengan Fidel Ramos pada pertengahan Agustus 1996 (KOMPAS 3/9/96:1). Bosnia terpaksa bertekuk lutut ke bawah kuasa PBB yang dikendalikan AS untuk membentuk negara Bosnia yang terdiri dari Bosnia, Kroatia dan Serbia. Chechnya terpaksa menderita terjepit di bawah gempuran habis-habisan dari Rusia. Taliban Afghanaistan terpaksa menyerah menerima sanksi PBB (REPUBLIKA 8/11/99:11). Apakah ini juga yang akan dialami perjuangan Umat Islam Palestina, Dagestan, FIS Aljazair, NOI Black Moslem AS, DI-NII-TII, MASYUMI, Darussalam Aceh, dan lain-lain. Dan apa peranan OKI dalam hal ini ? Tapi yang pasti Qur:an menyebutkan bahwa “Allah telah berjanji ke pada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi (QS Nur 24:55). Rasulullah berulangkali menyeru “Wahai manusia ! Ucapkanlah “la ilaha illallah”, niscaya kalian beruntung. Dengan kalimat ini kalian akan menguasai bangsa Arab dan orang-orang ajam. Jika kalian beriman, maka kalaian akan menjadi raja di surga” ( Dr Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy : “Sirah Nabawiyah” I, 1992:205).

19 Label Syar’i

Pada mulanya terminologi demokrasi, ekonomi, bank, tanpa embel-embel. Karena sesuatu hal, dimunculkan, diperkenalkan demokrasi liberal, demokrasi proletar, demokrasi otoriter, demokrasi terpimpin, demokrasi Pancasila. Ekonomi kapitalis, ekonomi sosialis, ekonomi kerakyatan, ekonomi Pancasila. Bank konvensional, bank tradisional, bank modern. Agar terkesan bearoma, bernuansa Islam diciptakan, ditampilkan demokrasi Islam, demokrasi ilahi (theo-democracy), ekonomi Islam, bank Islam, bank syar’iyah, bank mu’amalah. Tapi tetap saja dipertanyakan, apakah semuanya itu jadi Islami ? Dengan memberi label syar’i, halal, apakah khamar, ham, riba, zina, judi bisa berubah dari haram jadi halal ? Apalagi zina, pelacuran, prostitusi dipandang tidak merusak, tidak merugikan siapa-siapa, malah menguntungkan, memberikan ketenangan dan kesenangan ke pada yang bersangkutan. Memang ada periode, orang telah menganggap baik yang buruk, dan buruk yang baik. Menyamakan, menyamaratakan, memanipulasi yang haram jadi halal. Diingatkan agar tidak berbuat dosa, seperti Yahudi menghalalkan yang diharamkan Allah dengan berbagai helah (manipulasi), antara lain dengan merubah namanya.

20 Gaya setan selebritis

Setan mengaliri, mengkerebuti, menggerakkan hampir seluruh aktivitas kegiatan kehidupan manusia. “Setan berjalan dalam tubuh manusia sebagaimana arus listrik berjalan pada kabel penghantarnya, atau sebagai oksigen mengalir dalam tubuh”. Kini, melalui media pendidikan modern (misalnya televisi), setan mendidik, mengarahkan, mengajarkan kita manusia sepanjang masa, baik pada masa bocah cilik, pada masa kanak-kanak, pada masa remaja belia, pada masa dewasa, pada masa tua renta untuk bergaya setan selebritis. Berbusana semini-mininya, serba terbuka, mengkerut dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, terbuka dada, punggung, pusar (udel), betis, paha. Semakin mengkerut, semakin mini, maka semakin oke, semakin keren, semakin ngetop. Bergaul bebas sebebasnya tanpa batas, tanpa rasa malu. (Habis malu habislah iman). Kumpul kebo. Kumpul dulu. Kawin soal belakang. Bernyanyi berjingkrak-jingkrak, merentak-rentak, meronta-ronta. Menenggak, mengkonsumsi miras, narkoba. Mabuk-mabukan. Akrab dengan mo-limo, dengan narkoba, pelacuran, perjudian, diskotik, dll. Melalui acara seputar selebritis, kita disuguhi cerita perselingkuhan, gaya pacaran, gaya hidup mewah, dll, “Setan menjadikan umat-umat memandang baik perbuatan mereka yang buruk” (QS Nahl 16:63). (REPUBLIKA, Minggu, 28 November 1999, hal 6-Selisik, hlm 10-Catatan Media). Melalui berbagai bencana, sudah berkali-kali Tuhan memperingatkan manusia dan pemimpinnya agar kembali mau mengikuti perintah Tuhan dan menjauhi ajakan setan (SEMANGGI, No.2, Kamis, 18 November 1999, hlm 13).

21 Pemelintiran (Tahrif Kalamallah)

Islam menempatkan sesuatu pada tempatnya yang pantas. Menyamakan sesuatu yang pantas disamakan. membedakan sesuatu pada yang pantas dibedakan. Dalam pahala ketaqwaan, Islam tak memperbedakan gender, etnis. Dalam warisan, kepemimpinan (walaa), pertemanan (bithanah, waliijah), Islam membedakan antara pria dan wanita, antara yang Islam dan yang bukan Islam (Yahudi, Nasrani, Zionis, Komunis, dll). Islam sangat tak suka memplintir yang sudah terang (muhkamat) menjadi yang kabur (mutasyabihat). membuat hal-hal yang sudah diyakini (qath’i), yang sudah disepakati (ijma’) menjadi hal-hal yang diperdebatkan, yang diperselisihkan. Misalnya nash tentang kepemimpinan sudah sangat terang (muhkamat) menjelaskan bahwa yang pria, yang Islam itu lah yang menjadi pemimpin. Memplintir yang sudah terang ini menjadi yang kabur adalah merupakan fitnah (bahaya) terbesar yang dihadapi Islam. Deislamisasi, deformalisasi syari’at Islam bergandengan memplintir yang muhkamat, yang sudah jelas, yang sudah pasti menjadi yang mutasyabihat, yang diragukan. “Orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya” (QS Ali Imran 3:7).

22 Pertemanan

Islam mempersamakan yang pantas disamakan, dan memperbedakan yang pantas diperbedakan. Islam menetapkan garis tegas pemisah yang jelas dalam hidup tentang pedoman/pandangan, tujuan, tugas, peran/fungsi, kawan, lawan, teladan, bekal, dan lain-lain. Dalam pertemanan, Islam menetapkan bahwa “sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara” (QS 49:10). Orang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya, yang mencukupi pekarangannya (memperhatikan penghidupannya senasib sepenanggungan) dan menjaganya dari belakang (menjaga serta menjaganya ketika sedang bepergian dan sebagainya) (HR Ahmad, Abi Daud dari Abi Hurairah). Jangan bersahabat -kata Nabi saw – kecuali pada orang mukmin (yang beriman). Dan jangan makan makananmu kecuali orang bertaqwa (HR Abu Daud, Tirmizi dari Sa’id al-Khudry, dalam Muhammad Rasyid Ridha : “Majmu’atul Hadits”). Orang-orang beriman itu bersikap kasih sayang sesama mereka (QS 48:29). Dalam cinta kasih itu orang-orang beriman bagaikan satu badan yang saling merasa, atau bagaikan suatu bangunan yang saling menguatkan. Islam juga menetapkan bahwa setan dan pengikutnya (seperti thaghut, fasiq, munafiq, Yahudi, Nasrani, dan lain-lain) adalah lawan, bukan sebagai kawan (QS 35:6). Tak dibenarkan bermesraan (berkoalisi, berkolusi, beraliansi, berelasi) dengan lawan (QS 58:22, 9:16, 3:118).

23 Jangan sampai di-Chechnya-kan

Semula, menjelang proklamasi kemerdekaan RI, semangat untuk memformalisasikan syari’at Islam sangat menonjol. Hal ini tampak pada tujuh kata “dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dalam Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945. namun sehari setelah Proklamasi, yang sangat menguat adalah semangat untuk mendeformalisasikan syari’at Islam. Hal ini sangat jelas terlihat pada pengebiran Piagam Jakarta dengan dihapusnya tujuh kata itu di dalam Pembukaan UUD tanggal 18 Agustus 1945. Upaya deformalisasi ini semakin lama semakin menguat. Ini bisa diamati dari sidang Konstituante 1955 dan sidang MPR selang waktu 1971-1999. Dan kini dari upaya-upaya mempersamakan secara mutlakan tanpa apeduli akan nash-syari’at (teks-nortmatif) dalam segala hal, dalam jender antara pria dan wanita, dalam kepemimpinan (walaa) dan pertemanan (bithanah, waliijah) antara yang Islam dan yang bukan Islam (Yahudi, Nasrani, Zionis, Komunis, dll). Sedangkan yang masih berupaya memformulasikan syari’at Islam, kecewa dengan penghapusan tujuh kata Piagam Jakarta, dan sebagiannya ada yang berusaha membentuk NII (Negara Islam Indonesia) 27 Agustus 1948. Sejak masa Daud Beureueh, sejak diproklamasikan Negara Islam Aceh 21 September 1953, masyarakat Tanah Rencong berjuang mengembalikan tujuh kata Piagam Jakarta, agar syari’at Islam, hukum Allah berdaulat, berkuasa di bumi Aceh Darussalam (SIMPATI, No.6, 6 September 1998, SABILI, No.4, 11 Agustus 1999, hlm 70). Dengan mengembalikan Pembukaan UUD-45 seperti semula, seperti dalam Piagam Jakarta, diharapkan tuntutan yang kembali muncul di Aceh, dan dulu tahun lima puluhan juga muncul di Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dll, dapat diakomodir, dapat dipenuhi. Ini demi kepentingan nyawa dan kesejahteraan rakyat Aceh dan daerah lain, dan bukan rakyat Aceh dan daerah lain untuk kepentingan negara dan penguasa. Untuk mencegah disintegrasi bangsa seyogianya secepatnya mengembalikan Piagam Jakarta sebagai Pembukaan UUD-45 (SABILI, No.15, 10 Februari 1999, Saatnya Umat Islam Bertindak). Semoga Aceh dan daerah lain tak sampai di-Chechnya-kan.

asrir sutan

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s