Pendidikan Mental Demokratis Rakyat

1 Pendidikan Mental Demokratis Rakyat

Islam itu demokratis, bahkan amat sangat demokratis. Tak ada yang lebih demokratis dari Islam. Islam memberi kebebasan, kemerdekaan ideologi, agama apa pun. “Dan katakanalah :Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka arangsiapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin kafir biarlah ia kafir” (QS Kahfi 18:29). “Tak ada paksaan untuk memasuki agama Islam. Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat” (QS Baqarah 2:256). Islam memerikan keebasan penuh kepada ideologi, agama apa pun.

Tak seorang rasul pun yang mengacuhkan, mempedulikan ucapanucapan yang dilontarkan kaumnya yang mengandung hinaan, cacian, makian. Imam Abu Hanifah menyatakan, bahwa barangsiapa mengecam atau memprotes Khalifah yang sah serta pemerintahannya yang sah dan adil, dan mencerca Imam (Kepala Negara) masa itu, bahkan secara terang-terangan mengancam akan membunuhnya, maka menurut Abu Hanifah, ia tidak boleh dipenjarakan atau dihukum karenanya, selama ia tidak ber’azam, bermaksud untuk benar-benar melakukan suatu gerakan pemberontakan bersenjata (bughat) atau menyebarkan ancaman dan ketakutan dalam negeri.

Imam Abu Hanifah berdalil dengan peristiwa yang berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib setelah ia menjabat sebagai Khalifah ketika orang-orangnya menangkap lima orang yang mencaci-makinya di kota Kufah secara terang-terangan, dan salah seorang di antara amereka erkata : “Aku berikrar kepada Allah akan membunuhnya”, maka Ali memerintahakan untuk melepaskan mereka. Seorang laki-laki berkata kepadanya : “Bagaiamana Anda melepaskannya, sedangkan ia berikrar kepada Allah akan membunuhmu ?”. Berkata Ali : “Apakah aku harus membunuhnya, sdangkan ia tidak membunuhku ?”. Orang itu berkata lagi : “Ia telah menunjukkan cercaan kepadamu”. Maka Ali berkata kepadanya : “Anda boleh mencercanya apabila Anda ingin, dan membiarkannya pergi” (Abu A’la al-Maududi : “Khilafah Dan Kerajaan”, 1984:133, 335-336).

Berbeda dengan demokrasi, kebebasan berpendapat dalam Islam, maka seorang Gus Dur Presiden RI merasa terhina dengan sikap beberapa dokter yang menyampaikan rekomendasi kepada DPR bahwa seseorang yang pernah terkena stroke bebrapa kali, maka mental dan emosionalnya tak sempurna sehat lagi. Meskipun Gus Dur menyatakan bahwa ia tak akan menjawab hinaan tersebut, namun ia berupaya agar pihak kepolisian dpat menyeret dokter-dokter tersebut ke pengadilan dengan tuduhan telah menghina, mencemarkan nama baik seorang Presiden, seorang Kepala Negara. Seorang Kepala demokrat sejati dalam Islam takan akan pernah menjebloskan lawan-lawan politiknya, semata-mata hanaya akarena ucapan, sikapnya yang dipandang mengandung penghinaan.

Islam benar-benar menjamin kebebasan mutlak menganut paham, ideologi, agama, kepercayaan, keyakinan apa pun. Islam tak pernah menjatuhkan sanksi hukum di dunia ini, semata-mata karena menganut paham, ideologi, agama, kepercayaan, keyakinan yang menyimpang dari tauhid, syahadat “La ilaha illallah wa Muhammad Rasulullah”, seperti musyrik, kafir, munafik. Sanksi hukumnya nanti di akhirat oleh Allah swt sendiri, bukan di dunia ini oleh Penguasa Islam. Musailamah al-kadzab, Mirza Ghulam Ahmad, Lia Aminuddin, Paulus, Alhallaj, Syekh Siti Jenar, Karl Marx, dan lain-lain bebas merdeka menganut paham, ideologi, agama, kepercayaan, keyakinannya yang menyimpang dari taauhid, dari syahdat “La ilaha illallah wa Muhammad Rasulullah”, sepanajang tak berbuat makar, tak berupaya menggerakkan massa untuk memberontak, merongrong pemerintah Islam secara fisik, tak mengambil hak Allah, seperti membunuh seseorang tanpa hak, hatta membunuh diri sendiri sekali pun.

Islam tak akan menjihad, memerangi secara fisik para apenganut paham, ideologi, agama, kepercayaan, keyakinan yang menyimpang dari tauhid. Islam tak akan membrangus, membakar, melarang penyebaran paham, ideologi, agama, kepercayaan, keyakinan yang menyimpang dari tauhid itu. Termasuk buku-buku ajarannya takan akan diganggugat secara fisik oleh Islam. Islam hanya menjihad, memerangi paham, ideologi, agama, kepercayaan, keyakinan yang menyimpang dari tauhid, dengan menggunakan argumentasi, hujah balighah yang lebih ahsan, lebih bijak. Maryam Jameelah berpendapat bahwa kemerdekaan mengeluarkan pendapat harus dijamin, dan menentang semua bentuk sensor, khususnya pelarangan buku-buku (“Islam Versus Barat”, 1981:69).

Opini, paham, ideologi, kepercayaan, keyakainan tak dapat dipidana. Yang dapat dipidana hanyalah aktivitas. Aktivitas menghasut, mengadudomba agar terjadi kerusuhan, kekacauan, bentrok fisik. Aktivitas menghasut, menggerakkan suatu kelompok masyarakat untuk menantang, melawan, merongrong secara fisik pemerintah yang sah.

Dalam pasal 1 ayat 1 UU no.4/PNPS/1963 dinyatakan bahwa Jaksa Agung berwewenang untuk melarang beredarnya barang cetakan yang dianggap dapat “mengganggu ketertiban umum”. Tolak ukur “mengganggu ketertiban umum” di dalam penjelasan UU no.4/PNPS/1963 tersebut diserahkan kepada Jaksa Agung. Termasuk kategori “mengganggu ketertiban umum” – menurut Jaksa Agung – antara lain adalah barang-barang cetakan yang berisi tulisan-tulisan atau gambar-gambar : Yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD-45. Yang mengandung dan menyebarkan ajaran/paham Marxisme/Leninisme-Komunisme. Yang merusak kesatuan dan persatuan masyarakat, bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Yang merusak kepercayaan masyarakat terhadap kepentingan Nasional. Yang merusak akhlak dan memajukan percabulan/porno. Yang memberikan kesan anti Tuhan, anti agama dan penghinaan terhadap suatu agama. Yang merugikan dan merusak pelaksanaan pembangunan. Yang menimbulkan pertentangan SARA. Yang bertentangan dengan GBHN. Dan lain-lain.

Tamapaknya kategori “mengganggu ketertiban umum” ini terlalu berlebihan. Paham, ideologi, kepercayaan, keyakinan anti Tuhan, anti agama, anti Pancasila, anti UUD-45, anti Negara Kesatuan tak dapat dihukum. Menghukum paham ini berarti mengebiri hak kebebasan pribadi untuk mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan, seperti yang dijamin dalam pasal 28 UUD-45. Yang dapat dihukum hanyalah yang nyata-nyata menghina salah satu agama, menghina dasar negara, menghina konstitusi negara.

Kini sudah saatnya mengganti PMP menjadi Pendididkan Moral Politik, Pendidikan Mental Demokratik Rakyat. Partai Politik sudah saatnya menyelenggarakan Pendidikan Mental Demokratik Rakyat melalui kursus-kursus untuk anggotanya dan bukan anggotanya. Lembaga-lembaga dakwah sudah saatnya menyelenggarakan Pendidikan Mental Demokratik Rakyat melalui taklim, pengajian, mimbar televisi, acara radio. Menjelaskan tentang bagaimana caranya berunjuk rasa, menyampaikan pendapat secara demokratis, secara beradab.

Sudah saatnya kepada orang banyak dijelaskan : Pengertian Demokrasi. Pengertian Demokrat. Pengertian Demokratis. Demokrasi versi Barat (Amerika Serikat dan sekutunya). Demokrasi versi Timur. Sifat, Sikap Mental, Perilaku seorang demokrat. Muhammad saw sebagai seorang demokrat. Demokrat terhadap lawan. Demokrat terhadap kawan. Demokrat terhadap ummat. Tokoh-tokh demokrat di kalangan shahabat. Di kalangan tabi’in. Unjuk rasa, Demonstrasi yang demokratis. Jiwa, Semangat demokrasi. Ketidakdemokratisan UUD-45. Ketidakdemokratisan Pimpinan Nasional. Demokrat-Otokrat Tokoh Nasional Gus Dur. Langkah-langkah menuju demokrasi. Semoga suatu saat nanti tampil pencetus demokrasi semacam Voltaire, John Locke, Montesquieu, Jean Jacques Rousseau, dan lain-lain.

Gus Dur – menurut Emha Ainun Nadjib – terlalu mudah menuduh orang lain tidak demokratis. Tampaknya bagi Gus Dur, hanya susuatu yang berasal dari negara Barat itulah yang universal (“Surat Kepada Kanjeng Nabi”, 1995:241).

2 Masyarakat demokratis

Masyarakat demokratis adalah masyarakat yang punya sikap mental demokratis. Sikap mental demokratis mengacu pada slogan atau semboyan “liberte, egalite dan fraternite”, yang berti “kebebasan, persamaan dan persaudaraan”. Yaitu sikap mental mrdeka. Tanpa adanya indoktrinasi, intimidasi, diskriminasi, buldorisasi, rekayasa dan pengerahan massa serta kebulatan tekad.

Bukan sikap mental pabrik (okebos), sikap mental pelayan, sikap mental abdi (sumuhun ndro), sikap mental slave (hamba), sikap mengacu ke atas (minta petunjuk/restu bapak). Tapi sikap mental yang bertolak dari keyakinan akan “la ilaaha illallah”. “Tak ada Tuhan selain Allah. Tiada yang berhak berkuasa kecuali Allah. Tiada yang berhak dipatuhi perintahnya selain Allah. Beriman dan berserah diri hanya kepada Allah, serta menolak yang selain Allah”.

Sikap mental berkesamaan. Berkedudukan sama dalam hukum dan dalam pemerintahan. Berkedudukan sama dalam sosial dan ekonomi. Tanapa ketimpangan sosial ekonomi. Tanpa adanya exploitation de l’home par l’home. Sikap mental berkeadilan dalam politik, hukum, sosial, ekonomi.

Sikap mental bersaudara. Saling sayang menyayangi. Tolong menolong, bantu membantu. Sikap mental berkesetiakawanan sosial. Tanapa rakus, tamak, serakah.

Masyarakat yang sudah terbiasa hidup dalam hubungan antara abdi dan ndro, antara abangan dan priyai, yang sudah ratusan tahun di bawah penjajahan, baik sebagai kacung penjajah, maupun sebagai jongos, bedinde, babu, kuli penjajah memerlukan bimbingan yang serius agar terbebas dari skap mental non-demokratis, sikap mental anak jajahan.

Pendidikan sikap mental demokratis rakyat ini sangat mendesak. Bukan dengan penataran-penataran. Tapi dengan perbuatan nyata, dengan keteladanan yang berkesinambungan. Mulai dari lapis atas yang bebas dari sikap mental arogansi, sampai lapis bawah yang bebas dari sikap mental kewuh-pakewuh.

Demokrasi hanya bisa tegak pada masyarakat demokratis. Pemilu yang luber, baik tanpa maupun dengan jurdil, seagai indikasi pemerintahan yang demokratis, hanya pada masyarakat demokratis. Dalam masyarakat non-demokratis, pemilu tak berbicara apa-apa. Sikap mental demokratis sungguh sangat langka. Perlu diupayakan sekuat tenaga. Diperlukan upaya serius menciptakan peluang bagi tumbuhnya sikap mental demokrasi rakyat.

3 Biang Kehancuran

Di mana-mana bisa saja ditemukan keresahan, kerusuhan, kekacauan. Konflik, bentrok fisik berdarah. Konflik horizontal, antara sesama rakyat, antara sesama penguasa, penyelenggara negara, antara lembaga eksekutif dan lembaga legislatif. Konflik vertikal, antara atasan dan bawahan, antara majikan dan pelayan, antara penguasa dan rakyat. Konflik antara etnis, antara suku.

Ada tiga macam sumber utama pemicu terjadinya kekacauan, malapetaka. Pertama memperturutkan hawa nafsu. Kedua memenuhi seruan kikir. Ketiga ujub, sombong, pamer diri (HR Abu Syaikh dari Anas).

Pola hidup tamak, rakus, serakah.

Hawa itu pandang kerendahan. Nafsu itu pantang kekurangan. Tak pernah puas dengan posisi, jabatan. Senantiasa berupaya naik ke atas tanpa batas. Mengakumulasi kekuasaan. Serba kuasa. Tak pernah puas dengan harta kekayaan. Senantiasa berupaya menumpuk, melipatgandakan harta kekayaan, menginvestasikan kekayaan di mana-mana. Motivasinya untuk menjadi orang nomor satu. Bukan untuk memenuhi kepentingan umum, seperti menyediakan lapangan kerja bagi para tuna karya. Takatsur (akumulasi kekuasaan dan kekayaan) sepanjang hidup, menyebabkan manusia tak sadar diri (QS Takatsur 102:1-2, Lahab 111:2, An’’m 6:44, Hasyar 59:19). Harta itu adalah laksana air asin. Semakin banyak diminum, maka semakin haus (Dr Schoppenhauer). Manusia itu tak pernah puas. Senantiasa berupaya monopoli kekuasaan dan monopoli kekayaan. “Andaikan anak Adam memiliki sepenuh lembah harta kekayaan, pasti ia ingin sebanyak itu lagi, dan tiada yang dapat memuaskan pandangan mata anak Adam kecuali tanah, dan Allah akan memberi tobat kepada siapa yang tobat” (HR Bukhari, Muslim dari Ibnu Abbas dan Anas bin Malik).

Keserakahan tak terkendali merupakan faktor pembawa nestapa dalam kehidupan manusia, persis sebagai api membakar semua bahan bakar yang diberikan. Bilamana keserakahan (monopoli) menguasai suatu bangsa, ia mengubah kehidupan sosialnya menjadi medan pertengkaran dan perpecahan sebagai ganti keadilan, kamanaan dan kedamaian. Secara alami, dalam masyarakat semacam itu, keluhuran moral dan rohani tidak mendapat kesempatan. Orang serakah merebut ssumber-sumber kebahagiaan untuk mendapatkan yang lebih banyak dari haknya sendiri, dan mengakibatkan permasalahan ekonomi yang parah (Sayid Mujtaba Musawi Lari : “Menumpas Penyakit hati”, 1999:161). Rasulullah mengkhawatirkan, kalau nanti terhampar luas, terbuka lebar kemewahan dan keindahan dunia bagi ummatnya, seprti telah pernah terhampar pada oang-orang dulu sebelum mereka, kemudian mereka berlomba-lomba, sehingga membinasakan mereka, seperti telah membinasakan orang-orang dulu (HR Bukhari, Muslim dari Amr bin “Auf al Anshari).

Pola hidup pelit, kikir.

Untuk mengamankan harta kekayaannya agar tidak susut, agar tidak berkurang, maka diperlukan sikap mental, pola hidup pelit, kikir. Pelit, kikir merupakan kerabat dekat dari tamak, serakah, rakus. Pelit, kikir merefleksikan egois seutuhnya. Senantiasa cemas, kawatir, kalau-kalau harta kekayaannya susut, berkurang. Orang kikir merasa seluruh harta kekayaannya itu adalah hasil kerja kerasnya dan hasil kecakapannya semata (QS Qashash 28:78). Setan menakut-nakuti akan berkurangnya harta, dan membisikkan akan berbuat kikir (QS Baqarah 2:266). Pikiran orang kikir hanya terfokus, terpusat di sekitar materi dan kekayaan. Takut akan kekurangan harta kekayaan, sangat mempengaruhi pikiran si kikir. Seorang kikir senantiasa dalam kecemasan dan depresi. Ada suatu hubungan langssung antara kekayaan dan kekikiran. Kebanyakan orang kaya cenderung kikir. Yang menolong orang miskin biasanya dilakukan oleh kalangan menengah, bukan orang kaya. Kekikiran punya peran menyulut kejahatan dan perpecahan (“Menumpas Penyakit Hati”, 1999:152-153). Rasulullah mengingatkan ummatnya agar menjaga diri dari sifat kikir, karena sifat kikir itu membinasakan ummat-ummat dahulu, mendrong mereka mengadakan pertumpahan darah dan menghalalkan semua yang diharamkan allah (HR Muslim dari Jabir).

Pola hidup sombong

Karena memonopoli kekuasaan dan kekayaan, maka tumbuhlah sifat dan sikap ujub, ssombong, pamer diri. Tak pernah berpuas diri, bilamana belum sempat mempamerkan kekuasaan dan kekayaan. Si sombong merasa seakan-akan semua orang berniat merugikannya. Timbul keencian dan rasa dendam terhadap masyarakat. Jiwanya tidak bisa tenteram sebelum iada dapat membalas dendam. Orang-orang sombong (mutrafin) selalu menantang para Nabi dan Rasul, dana mencegah orang lain menrima seruan Nabi dan Rasul (“Menumpas Penyakit Hati”, 1999:99). Pamer kekuasaan dan pamer kekayan sangat mengganggu keseimbangan sosial, mengundang kecemburuan sosial.

Tindakan antisipasi.

Hendaklah kamu suruh-menyuruh berbuyat makruf, cegah-mencegah berbuat munkar. Sesungguhnya di belakangmu akan datang suatu masa yang sangat sukar mempertahankan kesabartan (keteguhan hati padanya laksana memegang bara panas). Orang yang beramal di msa itu akan mendapat pahala setara dengan pahala 50 orang yang beramal seperti amalmu (amal para shahabat Rasulullah). Ketika itu kamu melihat kebakhilan yang ditaati (gjala egoisme yang merja lela), hawa nafsu yang diperturutkan (kecenderungan untuk menuruti hawa nafsu), dunia lebih dipentingkan (gejala lebih mengutamakan kehidupan materiaalisme), yang mengemukakan suatu pendapat merasa begitu megah dengan pendapatnya sendiri. Ketika itu hendaklah kamu memperteguh/memperkuat pribadimu (menjaga dirimu) sendiri, biarkan/hindari orang awam (orang kebanyakan) (HR Tirmidzi dari Abu Tsa’labah al-Khusyani).

Pesan moral, pesana agama, bahwa pola hidup tamak, rakus, serakah, pola hidup pelit, kikir, kedekut, pola hidup sombong, congkak, angkuh, pamer, dan yang semacam itu, yang mengundang kekacauan, kerusuhan, memicu konflik, bentrokan, sudah masanaya disampaikan, dikemas, diterjemahkan dalam multi bahasaa, dalam bahasa sosio-budaya, dalam bahasa sosio-ekonomi, dalam bahasa sosio-politik, dalam bahasa sosiologi. Kami – kata Rasulullah – diperintah supaya berkomunikasi berbicara kepada manusia menurut kadar kecenderungan mereka masing-masing (M.Natsir : “Fiqhud Dakwah”, 1981:162).

Sudah saatnya dijelaskan secara lugas, gamblang tenang bahaya rakus, tamak, serakah, bahaya pelit, kikir, kedekut, bahaya angkuh, congkak, sosmsbong, pamer, dan baahaya perilaku tercela lain, baik terhadap diri dan masyarakat secara sosioligs dan ekonomis.

Sudah saatnya dakwah memusatkan diri menyampaikan tuntunan, panduan Islam dalam mencegah timblunya konflik sosial, baik konflik vertikal (antara atasan dan bawahan, antara majikan dan pelayan, antara penguasa dan rakyat) maupun konflik horizontal (sesama rakyat, sesama penguasa, antara eksekutif dan legislatif). Menyampaaikan ajaran “salam’ yang dapat membuahkan hasil sayang secara konkrit.

4 Dakwah ke istana

“Dakwah adalah pelanjut risalah”. Risalah tak pernah berambisi merebut kekuasaan. Musa as adalah salah seorang pembawa risalah. Musa tak pernah menggugat kedudukan Fir’aun. Tak pernah merongrong kewibawaan dan kekuasaan Fir’aun. Tak pernah berupaya amenyingkirkan, mengusirnya dari singganasana kekuasaannya.

Risalah yang disampaikan usa ke istana kepada Fir’aun dan pembesarnya hanyalah ajakan, himbauan, seruan agar bertauhid, agar tunduk keepada agama Allah (QS Naazi’aat 79:18-19, Thaha 20:44). Tauhid adalah dasar hidup perorangan, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sistim kekuasaan, sistim kedaulatan, sistim pemerintahan haruslah berdasarkan pada ajaran tauahid. Massing-masing unsurnya berjalan sesuai fungsinya menurut ajaran tauhid. Tidak melakukan kesewenang-wenangan. Meninggalkan tirani/thagut (QS Naazi’aat 79:24, Mukminun 23:46, Yunus 10:83, Qashash 28:4, Fajr 89:11, Thaha 20:34,43, Naazi’aat 79:17).

Menempatkan kekuasaan di baturan, hukum, agama Allah, Tuhan YME. Tugas risalah Musa as yang kedua adalah mengadakan gerakan perlawan pembebasan penindasan bani Israil (QS A’raf 7:105, Thaha 20:47, Syu’ara 26:17). Fir’aun telah menyengsarakan, memproakporandakan sebagian warganya, yaitu memporakporandakan hehidupan Bani Israil. Meskipun demikian, Fir’aun bersikeras menyatakan bahwa ia telah berbuat banyak untuk kesejahteraan dan kemakmuran bani Israil (QS Syu’araa 26:22, Mukmin 40:29).

Kisah pertarungan Musa dan Fir’aun bersama pembesarnya mengajarkan bahwa dakwah untuk memperbaiki sistim pemerintahan yang munkar ke yanbg makruf haruslah pertama-tama dihadapkan ke istana, kepada pembesar dan pejabat pemerintahan. Dakwah disampaikan dengan penuh laiyinah, hikmah, bijak serta memperhatikan sikon (makan dan zaman) dan argumentatif (QS Thaha 20:44, Ali Imran 3:159, Zumar 39:23).

Konfrontasi yang dilakukan dengan hujah yang balighah, bukan dengan konfrontasi fisik (bersenjata) (QS Nisaa 4:5,8,9,63, Israa 17:28, Ahzaqb 33:70). Juga bukan dengan memobilisir rakyat/masyarakat untuk menggulingkannya dari kekuasaannya. Bukan dengan cara mendidik, membina, menggembleng, mencerdaskan rakyat dan masyarakat untuk menjatuhkannnya dari kursi kekuasaannya. Rakyat dan masyarakat itu digembleng, dibina, dididik hanya untuk menyadarkan mereka akan hak-hak kemanusiaannya yang telah dirampas dan diperkosa oleh Fir’aun dan pembesarnya. Mereka digembleng untuk dapat membebaskan diri dari belenggu sdikap mental budak, hamba, sahaya, dan memiliki sikap mental demokratis. Kekuasaan Fir’aun dan pembesarnya itu hancur berantakan berkeping-keping semata-mata dilenyapkan olehAllah Yang Maha Kuasa (QS Syu’araa 26:66. Baqarah 2:50, Anfal 8:54).

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s