Pemisahan Dan Penyatuan Yang Dipaksakan

Pemisahan Dan Penyatuan Yang Dipaksakan

Pemisahan dan penyatuan ada yang bersifat murni alami, dan ada pula yang berupa hasil rekayasa (artifisial) yang dipaksakan. Jerman pernah terpecah menjadi jerman Barat dan jerman Timur. Yaman pernah terpecah menjadi yaman Utara dan Yaman Selatan. Vietnam pernah terpecah menjadi Vietnan utara dan Vietnam Selatan. Korea sampai kini terpecah menjadi Korea Utara dan Korea Selatan. Perpecahan Jerman, Yaman, Vietnam, Korea adalah ulah negara kuat waitu itu yang bersaing memaksakan ideologinya masing-masing, yaitu ideologi komunis dan demokrasi. Setelah menyadari kekeliruannya, kini Jerman, Yaman, Vietnam sudah kembali menjadi satu negara. Cepat atau lambat Korea pun bisa saja kembali menjadi satu negara.

Dimasa penjajahan kolonial Barat (Spanyol, Portugal, Inggeris, Perancis, Belanda) daerah-daerah terpecah-pecah. Borneo (Kalimantan sampai kini terpecah menjadi Kalimantan Utara (malaysia) dan Kalimantan Selatan Indonesia). Papua (Irian) sampai kini terpecah menjadi Papua Barat (Indonesia) dan Papua Timur (Niew Guinie). Timor sampai kini terpecah menjadi Timor Barat (Indonesia) dan Timor Timur (Leste). Perpecahan kalimantan, Papua, Timur adalah ulah negara penjajah waktu itu yang bersaing menguasai daerah Nusantara itu.

Pemisahan dan penyatuan negara yang dipaksakan dalam perjanjian tertulis baru mulai dari Perjanjiaan Damai Westfalia antara Perancis dan Jerman tahun 1648. Pemaksaan seperti itulah yang ditradisikan sampai kini. Penyatuan ala Westfalia ini melahirkan gerakan-gerakan separatis dimana-mana. Separatis Skotlandia dan Wales berusaha membebaskan diri dari Inggeris Raya. Separatis Korsika dan Breton berusaha membebaskan diri dari Perancis. Separatis Basque dan Katalan berusaha membebaskan diri dari Spanyol. Separatis Padania berusaha membebaskan diri dari Italia (UMMAT, No.13, Th.II, 23 Desember 1996, hal 78, “Menunggu Eropa Berkeping”, oleh Surya Kesuma).

Persatuan Indonesia pun adalah persatuan ala Westfalia juga. Ketika rancangan Undang-Undang Dasar Indonesia dibicarakan timbul pertanyaan mengenai wilayah yang akan dimasukkan dalam batas-batas tanah tumpah darah Indonesia. Soekarno dan yamin memajukan tuntutan atas kemerdekaan Indonesia meliputi Hindia Belanda juga Semenanjung Melayu, Kalimantan utara Inggeris, Timor portugis dan bahkan Filipina. Lebih jauh ada pembicaraan yang menginginkan memasukkan seluruh Irian (Prof JHA ogemann : “Keerangan-Keterangan Baru Tentang Terjadinya UUD-1945”, Aries Lima, Jakarta, 1983, hal 25-26). Pendirian yang kuat menghendaki agar Hindia Belanda, Malaya kalimantan Timur dan Irian Timur dan Timur Portugis dimasukkan kedalam daerah Indonesia. Disamping itu ada pula yang menginginkan memasukkan Melanesia dan bukan Polinesia (Sidik Kertapati : “Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945”, Jajasan Pembaruan, Djakarta, 1961, hal 66).

Data historis menunjukkan bahwa sebelum kolonialisme mencengkeramkan kekuasaannya di Indonesia, tak ada yang namanya Indonesia. Yang ada hanyalah sejumlah kerajaan Islam, yang bebas merdeka berdaulat ke dalam dan ke luar. Setelah kolonialisme hancur lebur berantakan, maka kerajaan-kerajaan Islam yang dulu berjaya bebas merdeka berdaulat ke dalam dan keluar, meskipun atas nama undang-undang, tetap menyisakan bibit separatis, yang sewaktu-waktu bisa muncul ke permukaan. Bagaimana pun separatis itu hanya menuntuk haknya atas wilayahnya berdasarkan hubungan emosional warganya dan data historisnya.

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s