Mempersoalkan Penafsiran Ulil

Mempersoalkan Penafsiran Ulil

Islam bisa dipandang sebagai sesuatu yang “elastis”, yang dapat berkembang sesuai dengan seala tempat, dengan segala masa, tapi bukan sesuai dengan sekalian nafsu. Jangan sesuaikan (reinterpretasikan) Islam dengan nafsu, selera, pendapat. Tapi jadikan pendapat, selera, nafsu sesuai dengan Islam.

Apakah memang benar “Jalan satu-satunya menuju kemajuan Islam adalah dengan mempersoalkan cara kita menafsirkan agama ini”?

Inti, sekaligus sumber ajaran Islam adalah Qur:an. Apakah memang perlu “penafsiran Islam (Qur:an) yang non-literal, substansial, kontekstual, dan sesuai dengan nadi peradaban manusia yang sedang terus berubah”?

Apakah memang didalam Islam (Qur:an) itu terdapat unsur-unsur yang merupakabn kreasi budaya lokal (pengaruh kultur Arab), dan yang merupakan nilai fundamental?

Apakah memang jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, jubah merupakan ekspresi lokal (cerminan kebudayaan Arab, partikular Islam di Arab?

Sesuai perkembangan kebudayaan manuysia, apakah pakaian yang pantas secara umum untuk masa kini, adaalah pakaian bikini, ultra mini (semi bugil)?

Apakah memang Qur:an menganut pandangan universal tentang martabat manusia yang sederajat, tanpa melihat perbedaan agama (tanpa melihat perbedaan ketaqwaannya)? Allah itu Maha Adil. Menyamakan yang pantas disamakan. Membedakan yang pantas dibedakan. Allah tidak menyamakan penghuni neraka dengan penghuni surga. Tidak menyamakan orang yang beriman serta amengerjakan amal saleh dengan orang yang durhaka. Tidak menyamakan orang yang hanya mempertuhankan Dia, dengan orang yang juga mempertuhankan selain Dia. Sebaliknya Allah menyamakan orang yang duduk berserta orang-orang yang mengingkari dan memperolok-olokan ayat Allah adalah serupa dengan mereka. Tanpa membedakan asal usul, latar belakang seseorang kepada yang benar-benar beriman kepadaNya, bertuhan kepadaNya, beriman kepada hari akhirat, beramal saleh, memutuskan sesuatu menurut apa yang diturunkanNya, semuanya akan mendapatkan ampunanNya dan limpahan rahmatNya di dunia dan di akhirat, tanpa merasa kecemasan dan kesedihan.

Apakah memang benar “Segala produk hukum Islam klasik membedakan antara kedudukan orang Islam dan non-Islam” (tak ada keadilan hukum dalam Islam klasik)? Yang benar adalah segala produk hukum Islam (kapanpun) tak pernah membedakan kedudukan si pelaku kejahatan, tapi membedakan jenis kejahatan, pelanggaran yang dilakukannya.

Apakah memang Islam (Qur:an) itu hanyalah doktrin dan praktik peribadatan yang sifatnya partikular yang merupakan urusan Allah, dan sama sekali tidak mengatur kehidupan publik yang merupakan urusan manusia melalui prosedur demokrasi. Kalau memang begitu, kenapa berupaya memisahkan mana kekuasaan politik dan mana kekuasaan agama.

Apakah memang benar “tidak ada yang disebut “hukum Tuhan”. Dalam pengertian yang dipahami kebanyakan orang Islam, “hukum Tuhan” itu adalah “Hududullah” yang tak boleh dilanggar “take it or leave it”. “fa man syaa:a fal yukmin, wa man syaa:a fal yakfur”.

Apakah memang maqashidus Syari’ah (tujuan umum syari’at Islam) itu adalah untuk melindungi kebebasan beragama, akal, kepemilikan, keluarga/keturunan, dan kehormatan? Ataukah tujuan umum syari’at Islam itu untuk melindungi (memelihara) agama (tidak murtad), akal (dari tindakan minum-minuman keras), harta (dari tindakan pencurian), keturunan (dari tindakan zina), kehormatan (dari tuduhan palsu, pencemaran nama), nyawa (dari tindakan pembunuhan).

Apakah memang kerasluan Muhammad saw harus dikaji ulang secara kritis? Padahal Allah menyatakan benar bahwa Muhammad saw adalah RasulNya. Ataukah memang keTuhanan Allah itu juga harus dikaji ulang secara kritis? Bahkan kewahyuan Qur:an itu sendiri juga harus dikaji ulang secara kritis?

Apakah Islam di Madinah itu Islam historis, partikular dan kontekstual yang tak boleh dijadikan seagai referensi.

Sungguh benar, bahwa “Hikmah (ilmu) itu adalah barang hilang orang Mukmin, maka dimana saja dijumpai, ia lebih berhak terhadapnya”. “Islam itu bukanlah kepunyaan Barat maupun Timur”.

Keadilan dalam Islam merupakan salah satu aspek dari syari’at Islam. Bagaimana Islam itu dapat menegakkan keadilan, sementara bersikeras menantang tegaknya syari’at Islam? Ummat Islam yang memahami syari’at Islam secara benar (baik dalam pengertiannya yang sempt maupun dalam pengertiannya yang luas), sangat yakin bahwa “semua masalah akan selesai dengan menggunakan syari’at Islam”.

Musuh yang paling berbahaya adalah ketidak-adilan, memutlakkan kebenaran pendapat sendiri, mencap dogma pendapat orang yang berbeda dengan pendapat sendiri.

Apakah memang semua agama benar? Kalau memang begitu apa perlunya dakwah, seruan ke jalan Allah, seruan ke dalam Islam?

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s