Kondisi riil Umat Islam

Kondisi riil Umat Islam

Kondisi riil umat (masyarakat) Islam belum siap menerima kehadiran tegaknya syari’at Islam, bahkan menolak (tak menghendaki) syari’at Islam sama sekali, belum/tak memahami hakikat syari’at Islam (smak juga antara lain Abul A’la alMaududi : “Metoda Revolusi Islam” (1983), “Kemerosotan Ummat Islam Da Upaya Pembangkitannya” (1984), “Hak Asasi Manusia Dalam Islam” (1985), “Pokok-Pokok Pandangan Hidup Muslim” (1983), dan lain-lain).

Masa kini baru awal periode wacana syari’at Islam, wacana sistem pemerintahan Islam (Dustur Islam), wacana penegakkan syari’at Islam (simak juga antara lain Muhammad ibahim Syaqrah “Cara Praktis Memajukan Islam” (1991), Yusuf qardhawi : “AlHullul Islamy” (Metoda Menegakkan Ideologi Islam) (1988), dan lain-lain).

Secara kontinu perlu dijelaskan tentang kekuatan dan kelemahan Sistem Pemerintahan Liberal/Sosialis/Pancasila, tentang kekuatan dan kelemahan UUD-45 (dan amandemennya), negara kesatuan, negara federal, sistem satu kamar, sistem dua kamar, sistem presidensial, sistem parlementer, sistem pemilihan langsung, ssistem pemilihan bertingkat, sistem pemilihan campuran. Tentang sistem Politik, Ekonomi, Sosial, Hukum, Budaya Islam. Dan lain-lain.

Secara berkesinambungan Pikiran Politik yang mengacu pada Penerapan Syari’at Islam harus diketengahkan, misalnya tantang Pikiran Politik Hasbi ashShiddieqy (“Ilmu Kenegaraan Dalam Fiqih Islam”), Hasymy (“Di Mana Letak Negara Islam”), Zainal Abidin Ahmad ( “Ilmu Politik Islam”), Dhyia adDien arRais (“Islamic Political Theories”), Nabhani, Maududi (“Khilafah Dan Kerajaan”), asSiba’I, Jaraisy (“Dustur Islam”), Mawardi (“Tatanegara Islam”), Ibnu sina (“negara Adil Makmur), Ghazali (“Konsepsi negara Bermoral”), Farabi, Ibnu Taimiyah (“Pedoman Islam Bernegara”), Ibnu Khaldun, Abdul adir Djaelani (“negara Ideal Menurut Konsepsi islam”), dan lain-lain.

Di samping itu perlu pula menyelengarakan pendidikan politik, semacam Pendidikan Politik Institut Shuffah (di mlangbong), atau Kursus politik Kaum nasionalis (di Menteng ).

Tokoh Pengelola Kursus Politik Kaum Nasionalis menguasai Bahasa Belanda, Bahasa Inggeris, Bahasa Perancis, Bahasa Jerman, memahami Sejarah, politik, Hukum, Ekonomi, Budaaya.

Semoga di semua lapisan (ormas, parpol, eksekutif, legislatif, yudikatif, dan lain-lain), ada sosok-sosok, pihak-pihak, kalangan-kalangan yang sempat menjelaskan, memasyarakatkan syari’at Islam, sehingga tak ada yang Islamophobi (anti syari’at Islam).

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s