Ide Pemisahan Negara Dari Agama

Ide Pemisahan Negara Dari Agama

Ide pemisahan negara dari agama bukanlah lahir dari Islam. Watak Islam tidak mengenal model semacam itu (Sayid Quthub : “Keadilan Sosial Dalam Islam”, Pustaka, Bandung, 1994, hal 3, Pandangan Islam Tentang Agama Dan Masyarakat”). Ide pemisahan negara dari agama biasanya dikaitkan pada ajaran Kristen yang tercantum dalam Perjanjian Baru, Matius 22:21 yang berbunyi : “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah (“Alkitab”, terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta, 1984, Perjanjian Baru, hal 32, “Tentang Membayar Pajak Kepada Kaisar”).

Ajaran Kristen memang tak memuat tata-aturan hidup bersama, hidup bermasyarakat, berbangsa, bernegara. Agama hanya urusan pribadi dengan Tuhan. Negara tak perlu campur. Negara Agama hanya membuat manusia menjadi munafik. RENDER UNTO CAESAR WHAT IS CAESAR’S, RENDER UNTO GOD WHAT IS GOD’S. Yesus sebenarnya datang melengkapi hukum Taurat.

Syeikh Ali Abdul Raziq menggunakan Matius 22:21 “Berikan kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”, sebagai salah satu rujukan teori politiknya “Islam and the Principles of Government” (“AlIslam wa Ushul AlHukm”, Qahirah, 1925) (Dr Dhiya AdDin ArRais : “Islam Dan Khilafah”, Pustaka, Bandung, 1985, hal 147).

Ali Abdul Raziq (1888-1966) menggunakan jalur agama untuk mengerahkan nasionalisasi. Dalam bukunya “Khilafah Dan Pemerintahana Dalam Islam” itu, Ali Abdul Raziq melancarkan propaganda menentang adanya khilafah dan mengajak agar umat Islam mengambil sekularisme dan nasionalisme (Maryam Jameelah : “Islam Dan Modernisme”, AlIkhlas, Surabaya, 1982, hal 202).

Untuk sampai kesini disusunlah teori politik, bahwa Islam itu sendiri mutlak tidak ada hubungannya dengan negara, bahwa tidak ada sedikitpun kaitan antara Islam dengan masalah kekhilafahan. Kekhilafahan Islam yang muncul dalam sejarah, menurut Ali Abdul Raziq bukanlah bercorak Islam (keagamaan), melainkan merupakan kerajaan Arab (kerajaan duniawi). Dalam kaitan ini Ali Abdul Raziq mengutipkan Matius 22:21 (Dr Dhiya AdDin ArRais : “Islam Dan Khilafah”, Pustaka, Bandung, 1985, hal 35).

Muara dari Ide Pemisahan Negara dari Agama adalah Deislamisasi, peminggiran, penyingkiran syari’at Islam dari mu’amalah (sosial, kultural, ekonomi, hukum, politik, militer, dan lain-lain). Di Indonesia marak aksi-aksi menetang penerapan syari’at Islam. Di Iran juga marak aksi-aksi menentang penerapan syari’at Islam.

Aktivitas Deislamisasi mencakup sinkritisasi (talbis), mempersatukan agama-agama yang ada di dunia (religious syncretism is the fusion of diverse religious beliefs and practices). Salah satu bentuk sinkretisme adalah Pancasila, yang mempersatukan Islam, Nasionalis/Sekularis, sosialis/Komunis. Sinkretisme menyatu dengan sekularisme.

Menurut versi Muhammad Imarah, pada akhir abad ke-18 Jamaluddin alAfghani ikut memarakkan gerakan pernyatuaan agama-agama samawiyah. Ia antara lain berucap : “Sesungguhnya tiga agama yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam mempunyai dasar dan tujuan yang sama. Apabila salah satu di antara ketiganya punya kekurangan di dalam penerapan ajaran kebaikan, maka dapat disempurnakan oleh yang lain. Karena itu saya berharap agar penganaut tiga agama tersebut bersatu padu” (“Musykilat Dalam NU”, hal 60).

Akhir-akhir ini di Indonesia, kegiatan yang cenderung sinkretis sering dilakukan. Antara lain oleh Dr Said Aqiel Siraj, Gus Dur dan pengikutnya. Pendapatnya tidak jauh berbeda dengan tokoh sinkretisme Dr Mohammad Imarah (pengarang buku “Ghazwun min ad Dakhil”) dan Dr Rifa’ah atThahthawi (Luthfi Basori : “Perkuat Keimanan Islam”, dalam “Musykilat Dalam NU”, oleh FNKS (Forum Nahdhiyin untuk Kajian Strategis).

Kalangan muda Nu lebih tergerak mempelajari karya-karya Mahmud Thaha dan Abdullah an Naim, tokoh pluralis Sudan yang menentang keras islamisasi pemerintahan (“The Second Message Of Islam”, 1988), dan bukan memilih hassan Turabi, tokoh penggerak islamisasi di Sudan. Juga mereka lebih tertarik gagasan Hassaan Hanafi (tokoh kiri Islam) katimbang pada pemikiran Islam fundamentalis, seperti Hassan alBanna, atau Sayid Quthub (A Dulmanan Amsar : “Demokrasi Berimplikasi Sekularisasi”, dalam REPUBLIKA, 30-7-1998).

Di Sudan, Ir Mahmud muhammad Thaha (1911) menentang keras penerapan hukum Islam. Ia dijatuhi hukum mati dengan tuduhan zindiq dengan menentang syari’at Islam. Ia mendirikan AlHizb AlJuhari Fi AsSudan (Partai Republik Sudan). Partai Republik Sudan ini menyerukan kebebasan mutlak, bebas berpikir, bebas berkata, bebas berbuat sebebasnya tanpa batas. Untuk mendukung seruannya ia memanipulasi ayat-ayat alQur:an dan alHadits. Ir mahmud Muhammad Thaha adalah lulusan Universty Khartum (Akademi Khartum monumental) pada tahun 1936 (WAMY : “Gerakan Keagamaan Dan Pemikiran”, 1995, hal 129-137).

Ada lagi Dr Hasan Hanafi, tokoh kiri Islam yang terang-terangan mengatakan bahwa hakikatnya agama itu tidak ada (Hasan Hnafi : “AtTurats wa AtTajdid”, hal 22). Dr Muhammad Imarah yang mengarang buku “Islam Dan Pluralitas”. Rafi’ah Thahthawi dan Khairuddin AtTunisi yang setelah belajar di Perancis menyebarkan ide-ide untuk memasyarakatkan dasar-dasar sekularisme rasional.

Semula pihak gereja melihat kekejaman yang dilakukan oleh kaum bangsawan dan feodal yang mempermainkan hak milik serta memeras keringat dan tenaga budak-budak belian dan rakyat jelata. Dengan alasan hati kasih dan cinta dari Tuhan Bapa, pihak gereja mencoba masuk mencemplungkan kaki kekuasaan mereka ke dalam lapangan perekonomian di samping kekuasaan mereka di lapangan rohani dan kebatinan. Dengan alsan “Mission Sacree” (seruan suci dari Tuhan) mereka dapat menjinaki hati manusia untuk menyerahkan seluruh produksi kepada mereka untuk Tuhan Bapa (ZA Ahmad : “Dasar-Dasar Ekonomi Islam”, Antara, Djakarta, 1952, hal 31-32).

Kemudian tiba masanya, di mana gereja memiliki para penguasa negara, tentara, dan kekuasaan yang tdiak kalah besarnya dengan yang dipunyai oleh kerajaan-kerajaan. Terjadilah perbenturan antara gereja dengan kerajaan, antara para pastor dan penguasa. Biasanya gereja selalu berada di pihak yang kalah. Kemudian muncul konsensus antara dua kekuatan untuk menciptakan kebaikan bangsa dalam menguasai massa dan menghindarkan kehancuran (Sayid Quthub : “Keadilan Sosial Dalam Islam”, Pustaka, Bandung, hal 7).

Padahal semula gereja tak tertarik dengan masalah keduniaan, termasuk masalah hukum. Namun kemudian setelah masa Kaisar Constantin Agung (setelah abad ketiga) kaum gereja memegang tampuk kekuasaan negara yang dipengaruhi oleh nafsu keduniaan yang berlebihan. Paus, Kepala Gereja Katholik yang berkedudukan di Roma, kemudian sekaligus juga sebagai Kepala Negara yang memimpin politik kenegaraan. Seluruh penduduk Italia memberikan kepada paus kekuasaan yang sebesar-besarnya semenjak tahun 726. Dengan demikian Paus menempati suatu kedudukan yang tertinggi sekali, ia mengendalikan urusan keagamaan dan keduniaan sekaligus.

Paus itu mempunyai daerah kekuasaan yang luas sekali diatas dunia dan mereka mempunyai hak yang bisa buat mengangkat dan memberhentikan Raja-Raja di Eropah menurut kemauan mereka. Paus itu mempunyai tiga mahkota, satu diatas yang lainnya, untuk menunjukkan kesempurnaan dan kebesaran kekuasaannya. Di tangannya terletak perang atau damai, dan ia berhak membakar hidup-hidup orang yang menyalahinya, dengan api yang menyala-nyala.

Kekuasaan sewenang-wenang Paus ini sampai kepuncaknya dan kemudian mulai jatuh terguling sehingga hqancur sama sekali pada tahun 1871. Rakyat Italia menyerbu ke Ibukota kerajaan Paus dan merebut kekuasaan dari tangan Paus, sehingga Paus hanya tinggal menjadi Kepala Agama katholik semata-mata dan terkurung di dalam Gereja Roma di Vatikan (ZA Ahmad : “Dasar-Dasar Ekonomi Dalam Islam”, Antara, Djakarta, 1952, hal 35, dari “Tafsir Jawahir”, re S 9:34).

Pada masa Renaissance yang dipandang sebagai masa individualistis, masa kemajuan muncullah ide pembebasan dari berbagai ikatan-ikatan dan kewajiban lama. Agama kristen tak lagi menjadi dasar hidup, gereja bukan lagi satu-satunya tempat keselamatan manusia. Lambat laun orang kurang percaya akan agama, atau agama ditentangnya. Renaissance ialah masa kekuasaan, kesadaran, keberanian, kepandaian yang luar biasa, kebebasan. Acapkali semuanya itu tak ada batas-batasnya lagi dan kesusialaan diabaikan (Prof F Beerling : “Pertumbuhan Dunia Modern”, jilid I, hal 45).

Namun bagaimanapun, negara-negarqa Eropah masih saja mencantumkan agama dalam konstitusi negaranyaa, seperti negara Spanyol, Portugal (Katholik), Inggeris (Protestant Episcoal),s Norwegia, Swedia, Denmark, Eslandia, Finlandia (Luthern Evangelica) ( H Zainal Abidin Ahmad : “Miagam Nabi muhammad saw”, Bulan Bintang, jkarta, 1973, hal 173-178).

Peradaban Barat modern adalah suatu pemberontakan terhadap gereja Eropa yang korup, sehingga sekularisme, materialisme dan scientisme (keserba-ilmuan) mencengkam agama di negara-negara Barat. Terjadilah konflik antara Ilmu dan Kristianisme. Dalam konflik ini Kristianisme merupakan pihak yang kalah dan kekuatan yang menang adalah sekularisme yang kemudian menyebut Kristianisme dengan lonceng, buku dan lilin (Khurshid Ahmad : “Islam Lawan Fanatisme Dan Intoleransi”, Tintamas, Djakarta, 1968, hal 1-2, Bab I).

Ide pemisahan negara dari agama, sebenarnya berpangkal pada hawa nafsu yang menghendaki kebebasan mutlak, kebebasan sebebasnya tanpa batas. Bebas berfikir, berbuat, mendengar, melihat sessukanya (Simak QS 45:23-24). Tak mau diatur, dikendalikan oleh siapapun, baik oleh negara, apalagi oleh negara. Setidaknya negara tak boleh mencampuri apa yang disebutnya hak kebebasan pribadi. Islam dipandang (oleh hawa nafsu) sangat banyak membatasi kebebasan pribadi (wilayah priat). Oleh karena aitu agama diupayakan dengan sekuat tenaga agar tak ikut mengatur negara. Negara itu haruslah bebas dari agama.

Ide pemisahan negara dari agama mencakup pemisahan agama dan politik, pemisahan hak privat darn hak politik. Menghendaki kebebasan mutlak yang sebebas-bebasnya tanpa batas. Mengebiri, mengebiri, memasung, memandulkan, melumpuhkan Islam. Meredusir, mereduksi, membatasi hakikat dakwah, hakikat jihad. Menolak Islaam didakwahkan sebagai acuan alternatif. Menantang hak individu diintervensi, diatur oleh Islam. Mengusung ide pemisahan wilayah publik dan wilayah privat, bahwa agama adalah soal individu (bersifat pribadi), sedangkan soal publik adalah hak negara (SABILI, No.25, Th.IX, 13 Juni 2002, hal 81, “Melacak Jejak Liberal di Iaian”). Menolak Islam diterapkan secara formal. Menolak formalisasi/legalisasi ketentuan syari’at Islam kedalam peraturana perundangan sebagai hukum positip. Melakukan lebelisasi/stigmatisasi umat Islam dengan julukan seperti sekretarian, primordial, ekstrim, fundamentalisme, terorisme, dan lain-lain yang sejenis dan yang menyakitkan.

Penantangan terhadap agama (Islam) terdapat dalam setiap bidang kehidpan : politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, pendidikan. Dalam bidang pendidikan, agama ditolak sebagai tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan hanya sebatas dalam kecerdasan (akal. Yang sudah berikrar mengucapkan syahadatain dan menyatakan bahwa “aku rela berTuhankan Allah, beragamakan Islam, bernabikan Muhammad saw”, maka seharusnya rela diatur oleh Islam. Tujuan pendidikan menurut Islam agar bebas dari adzab siksaan Allah (Simak QS 66:6). Sebaliknya tujuan pendidikan sekuler hanyalah agar mendapatkan kesenangan duniawi sebebasnya, seperti dilukiskan dalam QS 45:23-24). Yang ilmiah adalah yang aqliyah, banyak qala wa qila (kutipan pendapat manusia). Yang tak ilmiah adlah Naqliyah, yang mengutip wahyu.

Dikemukan bahwa Islam itu sangat menjungjung kebebasan tanpa menjelaskan kebebasan yang bagaimana yang dikehendaki Islam. Dikehendakimya kebebasan seebasnya tanpa batas. Untuk membebaskan diri dari ikatan Islam diupayakan dengan menggunakan pamndangan Islam sendiri. Kelihatannya sangat Islami, tetapi menolak formalisme syari’at islam, bahkan bisa benci Islam secara ideologis. Lahirnya dipermukaan tampak Islam, tetapi Islamnya hanya sampai di tenggorokannya. Terdapat hadits-hadits dari Abu AlKhudri tentang orang-orang Khawarij (yang keluar dari agama) yang menyiratkan, mengesankan suruhan/perintah untuk membunuh orang-orang yang mengaku Islam, tetapi punya pandangan anti Islam, menolak formalisasi syari’at Islam (Mohammad Fauzil Adhim : “Kupinang Engkau Dengan Hamdalah”, 2001, hal 113). Alergi, jijik, sinis terhadap syari’at islam.

Fundamentaalisme Islam diartikan menolak ajakan-ajakan pembaruan keagamaan dan gigih membela kemapanan (pro status quo). Memuja dan ingin mengembalikan kejayaan masa lalu, memahami ajaran agama secara rigid (kaku) dan literal (tekstual). Membawa kalim-klaim teologis yang subjektif, seperti “Islam adalah solusi (alternatif)”, “ajaran Islam sesuai dengan situasi dan kondisi”, ‘Islam adalah agama dan negara” (KOMPAS, Sabtu, 14 Juni 2003, hal 4, Rubrik Opini : “Islamisme Dan Fundamentalisme Islam”, oleh MG Romli).

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s