Eklusivisme dan Inklusivisme

Eklusivisme dan Inklusivisme

Sang Tokoh “Islam Yes, Parpol Islam No” kembali mengusung, menjajakan inklusifisme, pluralisme, nasionalisme (KOMPAS, Minggu, 24 Februari 2002, hal 29, Fokus). Yang membuat parpol tidak mampu memahami reformasi adalah ekslusivisme. Parpol gagal memahami reformasi karena ekslusivisme. Paprpol yang paling terbuka – menurut Nurcholish – adalah Golkar dan PDI-P. Di luar itu, hampir semua partai menderita ekslusivisme. Bagi Nurcholish, hanya inklusivisme. Nurcholish tampaknya tak melihat, atau pura-pura tak melihat bahwa dalam Golkar dan PDI-P itu ada pihak eksluvisme yang indekos.

Amien Rais dan orang-orang yang mengelola PAN – dalam pandangan Nurcholish – tidak punya track record yang baiak dalam soal pluralisme dan nasionalisme. Gaya kepemimpinannya tidak memenuhi syarat untuk menjadi consensus builder (tokoh nasionalisme, pluralaisme, inklusivisme). Pilihan katanya cenderung bombastis. Bagi Nurcholish, yang penting hanyalah substansi. Sedangkan prosedur bukanlah hal yang penting. Tampaknya bagi Nurcholish substansi (tujuan) melegalkan segala prosedur (cara) (Simak juga Tabloid TEKAD, No.18/Tahun I, 1-7 Maret 1999).

Seagai seorang Muslim yang sudah berusia lebih dari enam puluh tahun kiranya bersiap-siap menyambut panggilan rahamat Allah, dengan merenungkan kembali, apakah memang lebih mulia, lebih terhormat jadi masinis, tokoh nasionalis, pluralis, inklusivisme dari pada jadi tokoh ummat, tokoh Islam ? Islam diposisikan dengan label, stigma ekslusif, ekstremis, fundamentalis, teroris, dan lain-lain semacam itu. Padahal terminologi semacam itu asing bagi Islam. Islam hanya mengenal makrufat atau munkarat, shalihat atau saiyiat, halal atau haram, haq atau bathil, tauhid atau syirik, dan yang semacam itu.

Ketua Umum MUI Umar Syihab mengemukakan bahwa UUD-1945 harus bisa mengayomi secara luas dan utuh dari kenyataan bangsa yang majemuk. Keputusan untuk menolak perubahan UUD-1945 pasal 1 merupakan kesepakatan dari rapat MUI (POSKOTA, Jum’at, 8 Februari 2002, hal.12, “MUI tolak Perubahan Pasal 29 UUD-45”).

Ketua PP Muhammadiyah Ahmad Syafe’I Ma’arif mengharapkan berbagai pihak yang memperjuangkan diberlakukannya Syari’at Islam tidak perlu ngotot, jika memang sebagian besar anggota MPR bakal menolaknya. “Saya kira hanya 10 persen yang mendukung syariat Islam dan sisanya akan menolak”, tambahnya (idem).

Saiful Bahri, pengagum Nurcholish Madjid menyebutkan “Sikap menghakimi di kalangan Umat Islam bukanlah daerah subur bagi tumbuhnya ide baru yang lain dari biasanya” dan berseru agar “Biarkan setiap hari lahir mujtahaid (semacam Nurcholish madjid)” (Harian PELITA).

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s