Mental Budak

Mental Budak

Mental budak tidak dapat hilang dengan suatu pengumuman pemerintah. Untuk merubah mental budak itu perlu diciptakan kondisi-kondisi baru bagi jiwa dan perasaan, menumbuhkan dan menyempurnakan bagian-bagian yang kurang sempurna dalam jiwa yang semula telah rusak dan tidak dapat bekerja secara wajar (Muhammad Quthub : “Syubuhan haolal Islam”, “Jawaban Terhadap alam Fikiran Barat Yang Keliru Tentang Al-Islam”, 1981:58).

Jiwa budak sukar diperbaiki. Beratus-ratus negro yang sudah dimerdekakan dengan “Dekrit Presiden” setelah Dekrit keluar, pulang kembali ke rumah tuan besarnya orang kulit putih, memohon sudi apalah kiranya supaya diambil kembali menjadi budak, sebab tidak lantas angan (tak mamsuk akal, mustahil) mereka hidup merdeka (Prof Dr Hamka : “Tafsir AlAzhar”, 1984, juzuk VI, hal 208, re tafsir QS Maidah 5:26).

Yang berjiwa budah (slavengeest) tak mampu berjuang, tak tahan menderita. Takut tak akan dapat pangan-sandang (prof Dr hamka : “Tafsir AlAzhar”, 1981, juzuk I, hal 271, re tafsir QS Baqarah 2:61).

Ketika nabi Musa memimpin bangsa Israel membebaskan diri dari cengkeraman penjajahan, perbudakan bangsa mesir, dia mendapatkan tidak sedikit budak yang tetap tinggal di Mesir. Budak tersebut sudah terbiasa menjadi budak, dan tidak ada hasrat lagi mereguk kebebasan. Pengertian hidup bebas merdeka tidak mereka kenal (HAI, Edisi Khusus, 02.VIII.1984, hal 34, “Dr Martin Luther King”).

Suatu kemustahilan, kondisi golongan miskin itu akan berubah tanpa suatu kekuasaan. Dan suatu kekuasaan tidak akan lahir taanpa direbut. Kursi kekuasaan hanya akan tercipta, kalau dari golongan yang tertindas itu ada upaya untuk merebutnya. Jalan untuk memperjuangkan hal itu memang membutuhkan waktu lama (mjalah Mingguan Berita TOPIK, No.6, Th.XIII, 14 Pebruari 1984, hal 6, Editorial : “Mencari Golongan Miskin”).

Mantan Menteri Pertahanan RI Yuwono Sudarsono dan ahli hukum internasional Dr hasyim Djalal sependapat agar Indonesia jangan terjebak bersiskap keras melawan Amerika Serikat. Kita butuh investasi. Karena itu Indonesia harus melakukan tindakan-tindakan yang terukur. kAlau ada yang coba-coba melakukan penyegelan pabrik, yang rugi para pekerja karena sebagian besar pekerjanya warga Indonesia (KOMPAS, Minggu, 30 Maret 2003, hal 25, Fokus : “Ketika Ironi Sejarah Merasuki Peradaban”).

Selama masih bermental budak, selama masih menggantungkan diri pada IMF dan investasi luar negeri, selama itu pula harkat-martabat bangsa Indonesia tak pernah terangkat di mata internasional. Indonesia tetap jadi sapi perahan bagi rentenir dan investor internasional dengan memperalat para intelektual dan para tenaga kerja.

Masyarkat budak senantiasa siap keringat dan darahnya dieksploitasi tiap hari tanpa henti demi kapitalisme perusahaan multinasional (idem, hal 18). Mereka merasa lebih baik baginya tetap tinggal di kota (Mesir), hidup kenyang makan roti dan daging meskipun dengan kerja paksa sebagai budak orang kota (Mesir), dari padas hidup susah sengsara mati ke hausan dan kelaparan di desa (padang gurun), meskipun dalam keadaan bebas merdeka (Exodus 14:12, 16:2-3, 17:3).

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s