Tantangan Yahudi dan Kristen terhadap Islam

Tantangan Yahudi dan Kristen terhadap Islam

“Orang-orang Yahudi an Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agma mereka ” (QS 2:120).

Pertentangan, permusuhan berabad-abad antara Yahaudi-Israel dengan Arab-Islam yang tidak kunjung berkesudahan – menurut Eddy Crayn Hendrik (kini Muhammad zulkarnain) – berasal, bermula, berpangkal pada kebencian, perseteruan antara keturunan dua saudara Izhak dan Ismail. Dalam setiap konflik, maka Eropah senantiasa berpihak pada Yahudi-Isrel, karena Eropah adalaha anak keturunan Izhaak dari anak Yacob yang ketujuh, yaitu Dan yang berkembangbiak di Eropah, yang antara lain dikenali dari sebutan Dans Louge, Din Dal, Dun Drum, Don Egal, Den Glue, Dnipyer, Din In, Den Hag, Den Helder, Dniesten, Denmark, dan Saacson (putera Isaac) (INTIFADAH, 1998, No.1, hal 5,19, No.2, hal 13, “Mengapa Saya Beragama Islam”, hal 15).

Definisi terorisme dalam perspektif Barat kaidahnya dibentuk oleh kultur Yahudi-Kristen dan bertumpu pada warisan sejarah terhadap dunia Arab-Islam yang tidak mungkin bisa diabaikan. Inilah yang ditegaskan Samuel Huntington, pemilik teori “prang peradaban” (The Clash of Civilization) yang menytakan bahwa prang yang terjadi sejalan dengan garis perpecahan antara dua peradaban : Barat – termasuk Israel – dan Islam yang sudah berlangsusng sejak 1300 tahun yang lalu. Interaksi yang telah berabad-abad usianaya antara Barat dan Islam ini, tidak akan reda dengan mudah begitu saja. Bahkan barangkali justru semakin parah (Musthafa muhammad Thahhan : Rekonstruksi Pemikiran Menuju Gerakan Islam Modern”, 2000:204).

Samuel Huntington menempatkan peradaban agma menjadi faktor yang sangat menentukan. Barat melawan yang bukan Barat. Termmasuk ke dalam Barat aalah Kristen Orthodoks, Katholik dan Protestan, Amerika Latin. Sedangkan yang bukan Barat aalah Dunia Islam dan Dunia Cina, termasuk ke dalamnya Konfusianisme, Jepang, Hinduisme India, Afrika (GATRA, No.24, 2 Mei 1998, hal 30).

Samuel P Huntington menyangsikan keberhasilan keangkitan Islam berdasarkan adanya benturan (clash) antara berbagai peradaban (ALMUSLIMUN, No.334, Januari 1998, hal 71, Tsaqafah, “The Clash of Civiliztion and the Remaking of World Order”, 1996). Tantangan Yahudi-Israel

Simon Prez, mantan Perdana Menteri Israel memperjelas pernyataannya dalam suatu Muktamar yang dihadiri oleh seagian besar pemimpin-pemimpin dunia, menyusul jatuhnya sejumlah warga Israel di tangan organisasi HAMAS, bahwa “politik dunia internasional yang berpengaruh di Timur Tengah telah bersiap-siap untuk melakukan perubahan”. Dikatakannya “Bukan hanya HAMAS atau Jihad Islam saja yang menjadi musuh kita, akan tetapi juga seluruh infrastruktur yang berbicara tentang perlawanan terhadap bangsa Yahudi. Ini Masjid, penulis, partai-partai, dan jama’ah-jama’ah di negara-negara Arab atau negara-negara Islam lainnya, baik Iran atau Turki, mereka adalah musuh-musuh kita juga, dan musuh tatanan dunia seluruhnya” (“Rekonstruksi Pemikiran …”, 2000:198). Presiden Israel, ‘Izraa Weisman, pernah mengtakan “Sesungguhnya kami, ketika mencari orang-orang HAMAS adalah seperti orang yang mencari sebuah jarum dalam timbunan jerami. Tidak mengapa bila jerami itu kita bakar agar dapat menemukan jarum tersebut. Ia tidak merasa bersalah, berbuat teror, atau bertindak rasial, ketika menyerupkan bangsa Palestina sebagai timbunan jerami yang siap dibakar, hanya untuk menangkap satu orang, atau sekelompok orang” (“Rekonstruksi Pemikiran …”, 2000:208). Ide pembakaran timbunan jerami (pembumihangusan, pemusnahan massal, cleansisng) Weisman akan sanggup membabat habis segala macam gerakan separatis yang menggunakan strategi, taktik perang gerilya di mana pun. Sekaligus ancaman ini akan sanggup mengakhiri peang gerilya, sehingga hanya ada perang terbuka (frontal) tanpa berlindung dalam komunitas masyarakat sipil tak bersenjata. Tantangan Kristen-Amerika
dd>Harian INDONESIA RAYA tanggal 17 Juli 1969 menyiarkan wawancara wartawannya dengan Professor Stanley Spector dari ashington University. Professor tersebut pernah di Jakarta memimpin de4legasi 22 sejarawan Amerika dan mengadakan seminar tentang Studi Asia Tenggara di Bandudng. Menjawab pertanyaan wartawan itu, Professor Spector berpendapat bahwa bukan komunis yang benar-benar berahaya, tetapu “umat Islam konservatif dan fanatik”. Ia mengatakan : “mereka erbahaya karena menghendaki suatu tatanan masyarakat reaksioner dan statis. Reformasil Islam progressil dan modern penting untuk mengatasi ancaman itu (Maryam Jamilah : “Islam & Modernisme”, 1982:243-244). Seorang penulis dalam analisanya dalam koran WASHINTONG POST mengatakan “Tampaknya Islam itu cocok untuk mengisi peran jahat setelah berakhirnya perang dingin. Ia besar, menakutkan, musuh Barat, dihidupi dengan kemiskinan dan kemarahan, di samping juga menyebar di berbagai belahan bumi di dunia ini. Karena itu, peta dunia Islam mungkin dapat dditampilkan di layar TV dengan warna hijau, sebagaimana sebelumnya dunia komunis ditampilkan dengan warna merah” (“Rekonstruksi Pemikiran …”, 2000:206-207).

Richard Nixon, mantan Presiden Amerika, dalam bukunya “Kesempatan Emas” mengatakan “orang yang berineraksi dengan dunia Islam, kondisinya seperti seorang yang berada dalam lubang sempit, ditemani sejumlah ular berbisa, racunnya mengandung berbagai ideologi yang sling bertentangan dan paham nasionaalisme yang salaing memukul”. Dalam bukunya “Di Balik Islam”, Richard Nixon mengatakan “Kepentingan-kepentingan hidup kita – yang terejawantahkan dalam bentuk perlindungan bgi negara Israel dan perlawanan terhadap kelompok teroris dan radikal – telah menimbulkan pengaruh nyata terhadapa dunia Islam. Seakan ia (dunia Arab) adalah kantong yang berisi orang-orang Arab idiot yang tidak mencukur jenggotnya an orang-orang Parsia ekstrem keturunan abad-abad pertengahan” (“Rekonstruksi Pemikiran …”, 2000:204-205).

Ada kontradiksi dalam perjalanan demokrasi Barat ketika berhadapan dengan Islam. Mereka bersikukuh menganggap bahwa Islam adalah penyebab keterbelakangan. Mereka mengatakan bahwa Islam dan demokrasi adalaha dua hal yang saling bertentangan. Para aaktivis Islam – menurut mereka – hanya memanfa’atkan demokrasi tetapi tidak mempercayainya. Mereka hanaya mengambil seagiannya dan mengekspolitasinya, namun tidak memiliki kesiapan yang lebih dari itu (“Rekonstruksi Pemikiran …”, 2000:63-64).

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s