Reformasi tanpa tokoh

Reformasi tanpa tokoh

Sebuah peristiwa besar, termasuk reformasi, tidak akan bermakna bila sekedar merupakan narasi (diperbincangkan, diberitakan, didokumentasikan). Sebuah peristiwa bisa akan mempunyai makna bila narasi mempunyai hero. Hero adalah tuntutan alam, yang harus dipenuhi dalam sebuah perubahan besar.

Dunia tidak diputar oleh orang-orang yang menciptakan peristiwa-peristiwa besar, seperti reformasi an revolusi, namun oleh mereka yang menciptakan nilai-nilai baru, sementara penciptaan nilai-nilai baru itu berjalan diam-diam (Kutipan Nietsche : “the world does not revolve around those who invent new upheavals but around those who inent new values, it revolves in silence”).

Yang menciptakan peristiwa besar tidak lain adalah massa, orang-orang yang langsung terjun di lapangan, seperti yang ikut demo. Sementara hero dalam arti sebenarnya lebih banyak sebagai pemikir di belakang. Para hero pula yang menciptakan nilai baru, yang prosesnya berjalan diam-diam. Hero dalam arti sebenarnya adalah seorang yang berhasil menciptakan zaman, bukan diciptakan atau terseret arusa zaman (Dari Thomas Carlyle, oleh Budi Darma : “Korupsi”, KOMPAS, Sabtu, 25 Oktober 2003, hal 4-5, Opini).

Revolusi Perancis lahir dari buah pemikiran Montesquieu, Voltaire, Rousseau yang menantang akumulasi kekuasaan, penindasan rakyat oleh kaum bangsawan, pendeta gereja, tuan tanah. Rakyat dijadikan sebagai kuda tungghangan, sapi perahan oleh kaum bangsawan, pendeta gereja dan tuan tanah (Anwar Sanusi : “Sejarah Umum untuk Sekolah Menengah II”, 1954:72-76).

Namun reformasi Indonesia tahun 1998 tidak mempunyai hero, tokoh, pemikir, semacam Montesquieu, Voltaire, Rousseau tersebut. Arah, sasaran, tujuan reformasi tak jelas. Reformasi Indonesia 1998 lahir hanya karena emosi, bukan karena hasil pemikiran yang mendalam. Indonesia tak punya tokoh yang mampu membaca sikon, tak mampu membaca ajaran Rasulullah saw dalam mereformasi umat, dari berorientasi syirik kepada berorientasi tauhid. Dari berorientasi duniawi ke berorientasi ukhrawi.

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s