Pengarahan Islam tentang ketatanegaraan

Butir-butir

Pengarahan Islam tentang ketatanegaraan

1. Tatanegara.

Tatanegara membicarakan susunan pemerintahan negara dan baigan-bagiannya. Tatanegara Islam membicarakan susunan pemerintahan negara Islam dan bagian-bagiannya.

2. Negara.

Negara ialah sekelompok (rakyat) yang bercita-cita akan bersatu, yang hidup dalam suatu daerah tertentu, yang dipimpin oleh suatu pemerintah yang berdaulat ke dalam dan keluar, yang mempunyai ikatan bersama.

Unsur-unsur negara terdiri dari : 1. Rakyat yang bercita-cita untuk bersatu. Ketaatan rakyat kepada aturan tertentu. 3. Daerah tertentu. 4. Pemerintahan yang berdaulat ke dalam dan ke luar. 5. Kesamaan tujuan.

Negara modern hanya bisa hidup bertahan dengan aman, bila juga mempunyai sekurang-kurangnya tiga syarat lain : 1. Perindustrian. 2. Bahan logam mentah. 3. Geographis strategis, tempat duduk/letak yang penting untuk siasat perang dalam hal membela diri.

Negara Islam dibangun atas dasar akidah Islamiyah yang undang-undangnya berssumber pada akidah tersebut. Dalam Islam, negara merupakan sarana untuk terlaksananya hukum-hukum Islam dalam semua urusan kegaraaan dan tersiarnya dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.

Sasaran dan tujuan negara dalam Islam adalah : 1. Untuk menegakkan keadilan dalam kehidupan manusia. 2. Untuk menghentikan kezaliman. 3. Untuk menghancurkan kesewenang-wenangan. 4. Untuk menegakkan sistim berkenaaan dengan : a. mendirikan shalat, b. mengeluarkan zakat. 5. Untuk menyebarkan kebaikan dan kebajikan. 6. Untuk memerintahkan yang ma’ruf. 7. Untuk memotong akar-akar kejahatan. 8. Untuk mencegah kemunkaran.

Unsur-unsur negara Islam pertama di Madinah (sebagai negara kota) berupa : 1. Ummat Islam (Muhajirin dan Anshar) sebagai rakyat. 2. Hukum Islam (Konstitusi) sebagai undang-undang yang dita’ati. 3. Madinah sebagai daerah yang didiami. 4. Rasulullah sebagai Kepala Negara yang dita’ati.

Sebutan negara dalam Islam, adakalanya khilafah, daulah, kesulthanan. Khilafah adalah lembaga kekuasaan (negara dan pemerintahan) yang mengemban tugas risalah di dalam memelihara, mengurus, mengembangkan, menjaga agama (da’wah) serta mengatur urusan kepentingan ummat. Khilafah mencakup Imamah dan Imarah. Pemegang kekuasaan khilafah disebut Khalifah. Pemegang kekuasaan imamah disebut Imam. Pemegang kekusaan imarah disebut Amir. Daulah berarti negara. Kedaulatan serumpun dengan daulah.

Sistim pemerintahan yang terlepas dari hukum Allah, bukanlah khilafah.

Pembentukan khilafah didasarkan atas beberapa prinsip : 1. Tauhid, Ke-Maha-Esaan Allah, Kekuasaan perundang-undangan Ilahi. 2. ‘Adalah ijtimaiyah. Keadilan Sosial. Keadilan antara manusia. 3. Ikhwah Diniyah. Persaudaraan dan Persatuan (persamaan antara kaum Muslimin). 4. Syura. Musyawarah. Permusyawaratan. 5. Takaful ijtima’i. Tanggungjawab sosial bersama. Tanggungjawab pemerintah. 6. Keta’atan dalam hal kebajikan. 7. Terlarang berusaha mencari kekuasaan/jabatan untuk diri sendiri. 8. Tujuan adanya negara. 9. Amar bil ma’ruf, nahi ‘anil munkar.

Mendirikan khilafah merupakan kewajiban fardhu kifayah bagi ummat Islam.

3. Kedaualatan/kekuasaan.

Pembatasan Kekuasaan. Kedaulatan berarti kekuasaan yang tertinggi. Hanya Allah sajalah yang mempunyai kekuasaan tertinggi. Yang berdaulat dalam negara Islam adalah Hukum Allah (Kedaulatan Hukum Ilahi) yang dilaksanakan oleh ummat Islam (Kedaulatan Ummah).

Kekuasaan ummat dalam negara Islam dibatasi oleh hukum yang ditetapkan Allah (Kedaulatan Hukum Ilahi).

Kedaulatan rakyat (bangsa, warga), kedaulatan kepada negara (king, emperor) yang berada dalam batas-batas hukum yang dibenarkan Allah, dapat diterima dalam Islam.

Ummat secara keseluruhan bertanggungjawab memikul bean untuk melaksanakan hukum Allah dalam semua urusan kenegaraan.

4. Bentuk pemerintahan.

Dalam perjalanan sejarahnya, dalam Islam ditemukan bentuk pemerintahan : a.nubuah, b. khilafah, c. daulah, d. kesultanan.

Bentuk pemerintahan nubuah ditemukan pada amasan negara Islam pertama di Madinah (622-632M). Pada masa negara Islam pertama di Madinah, Rasulullah berkedudukan : a. sebagai Nabi dan Rasul, b. sebagai kepala Negara, c. sebagai Hakim, d. sebagai panglima.

Bentuk pemerintahan khilafah ditemukan pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin (632-661M).

632-634 Masa pemerintahan Abu Bakar Shiddiq. 634-644 Masa pemerintahan Umar bin Khaththab. 644-656 Masa pemerintahan Utsman bin ‘Affan. 656-661 Masa pemerintahan ‘Ali bin Abi Thalib.

Sebutan bagi Kepala Negara adalah Amirul mukminin. Pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin, khalifah berkedudukan sebagai : a. Waritsatul Anbiyak (Ulama), b. Kepala Negara (Umara), c. Hakim (Hakim yang adil).

Bentuk pemerintahan Daulah ditemukan pada masa Daulah Umawiyah, Abbasiyah, Usmaniyah.

Bentuk pemerintahan Kesultanan ditemukan pada Dinasti-Dinasti otonom di Persi, Mesir, Afrika Utara, Turki dan India.

661-750 Masa Daulah Umawiyah yang berkedudukan di Damaskus. 750-1041 Masa Daulah Umawiyah yang berkedudukan di Cordova. 750-1256 Masa Daulah Abbasiyah yang berkedudukan di Baghdad. 1300-1928 Masa Daulah Usmaniyah yang berkedudukan di Turki.

Pada masa pemerintahan Daulah Umawiyah dan Abbasiyah, sebutan bagi Kepala Negara adalah Khalifah.

Pada masa pemerintahan kesulthanan, sebutan bagi Kepala Negara adalah Sulthan.

5. Bentuk negara.

Negara Islam merupakan negara kesatuan ummat (ummatan wahidah) di bawah pemerintah pusat. Pemerintah pusat berdaulat penuh, baik ke dalam maupun ke luar. Seluruh wilayah tunduk terhadap pemerintah pusat. Hubungan dengan luar dilakukan oleh pemerintah pusat.

Pada masa pemerintahan Negara islam pertama di Madinah belum ada pembedaan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Kepala pemerintah pusat (Kepala Negara) disebut Khalifah, Sulthan. Kepala pemerintah daerah (wilayah) disebut Amir, Wali (Gubernur).

6. Undang-Undang Dasar.

Undang-Undang Dasar merupakana undang-undang pokok yang menjadi dasar bagi segala hukum yang berlaku. Setiap peraturan tidak boleh bertentangan dengan Undang-Undang Dasar. Pada intinya dasar dari undang-undang itu dalam Islam acuannya adalah Kitabullah dan Sunnah RasulNya.

Dalam negara Islam pertama di Madinah yang berperan seagai Undang-Undang Dasar adalah Konstitusi Madinah yang ditetapkan oleh Rasulullah untuk dita’ati olwh warga Madinah.

Konstitusi Madinah merupakan : a. permakluman kemerdekaan (Proklamasi). b. pengumumaan kelahiran negara (Deklarasi). c. pengakuan hak warga dan penduduk negara. d. pernyataan hak asasi manusia.

Konstitusi Madinah menetapkan tentang : a. pembentukan ummat (bangsa negara). b. hak asasi manusia (Human Rights). c. prsatuan seagama (Utuility of Believer). d. persatuan segenap warga negara (Utility of All Citizen). e. golongan minoritas (The rights of minorities). f. Tugas warga negara (Duty of citizen). g. Perlindungan negara (Defending of city of state). h. Pimpinan negara. i. Politik perdamaian.

Dalam perkembangan sejarahnya, Konstitusi dalam negara Islam melalui beberapa tahap :

a. Konstitusi Madinah yang ditetapkan oleh Rasulullah yang berlaku dari tahun 622M sampai 750m pada sa’at akhir masa pemerintahan Daulah Umawiyah yang berkedudukan di Damaskus.

b. Konstitusi Abbasiyah yang ditetapkan pada masa Khalifah al-Manshur (754-775M) yang berlaku sampai tahun 1258M pada sa’at berakhirnya masa pemerintahan Daulah Abbasiyah yang berkedudukan di Baghdad.

c. Konstitusi Mameluk yang ditetapkan ketika awal beridirinya Kesultanan Mameluk di Mesir (1252-1517) dan sa’at menjelang berakhirnya masa pemerintahan Daulah Abbasiyah yang berkedudukan di Baghdad (1258M).

d. Kanuni Esasi di Turki (23 Desember 1876M). Qanun Nishami di Mesir (7 Februari 1882M). Konstitusi di Iran (1 Agustus 1906M).

e. Konstitusi nasional masing-masing negara islam yang dimulai dari Konstitusi Republik Turki pada tahun 1924.

Pada masa Sultan Muhammad Syah (1442-1444) asspek hukum Fiqih mulai masuk dalam Undang-Undang Malaka. Kanun ini dikutip secara luas, sebagian maupun secara utuh pada berbagai perundang-undangan di Kedah, Pahang, Riau, Pontianak, dan malahan masih dianggap berlaku di Brunei Sekarang. Di samping itu ada pula versi Aceh dan versi Patani.

Sulthan Hasan Bulqiyah Brunei (1605-1619) menyalin hampir keseluruhan “Qanun Mahkota Alam Aceh” untuk dijadikan Undang-Undang Negeri Brunei.

Mulai tahun 1772, yaitu ketika Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjar kembali di Martapura, diberlakukan hukum Islam berdasarkan Mazhab Syafi’I di wilayah Kerajaan Banjar.

Pemikiran ilmu fiqih berpengaruh pada tata pemerintahan pribumi di Jawa dan Madura semasa penjajahan Hindia Belanda.

Di Indonesia dan Semenanjung, Hukum islam tidaklah dipandang asing. Hukum islam pernah diberlakukan sebagai hukum positip di sebagian terbesar wilayah Indonesia dan Semenanjung (Melayu), yaitu di kerajaan-kerajaan Islam. Hanya penguasa penjajahan kolonial Barat nasrani pernah mengasingkan Hukum Islam dari bumi Indonesia dan Semendanjung. Kini Hukum Islam di Indonesia dan Semenanjung merupakan mutiara yang hilang dari perbendaharaan Islam.

Negara Islam dalam konstitusinya ada yang mencantumkan bahwa : 1. Agama resmi negara ialah Islam. 2. Kepala Negara beragama Islam. 3. Hukum Islam sebagai sumber perundang-undangan. 4. Kemerdekaan pelaksanaan agama-agama islam diakui.

Pada sa’at BPUUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) membicarakan rancangan UUD Negara Indonesia Merdeka, oleh salah seorang anggota sidang pernah diajukan usul agar yang dapat menjadi Presiden dan wakil Presiden hanya orang Indonesia asli yang beragama islam, dan agama negara adalah Islam dengan menjamin kemerdekaan orang-orang beragama lain untuk beribadat menurut agamanya.

7. Undang-undang.

Undang-undang, peraturan, hukum disusun berdasarkan tuntutan Undang-Undang Dasar.

8. Konvensi/Konsensus.

Dalam perkembangannya, dalam pemerintahan negara timbul konvensi (kebiasaan) yang dihormati dan dipandang mengikat dalam praktek pemerintahan negara, meskipun kebiasaan itu tidak dituangkan dalam Undang-Undang Dasar atau undang-undang.

Umar bin Khaththab pada masa pemerintahannya telah menyusun dewan-dewan (jawatan-jawatan), mendirikan Baitulmal, menempa mata uang, mengatur gaji, mengangkat hakim-hakim, mengatur perjalanan pos, menciptakan tahun Hijrah, mengadakan hisbah (pengawasan terhadap pasar, pengontrolan terhadap timbangan dan takaran, penjagaan terhadap tata-tertib dan susila, pengawasan terhadap kebersihan jalan dan sebagainya). Beliau juga mengadakan perubahan terhadap peraturan-peraturan yang telah ada, bila perlu diperbaiki dan diubah.

Langkah Umar bin Khathtab dalam kasus penetapan hukum, telah diikuti dibelakang oleh para pemimpin dan fukaha seperti khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘aziz.

9. Aparat Negara. Hak dan Kewajibannya.

Unsur-unsur kekuasaan negara :

a. Kepala Negara.

Kepala Negara adalah pelaksana kekuasaan tertinggi negara yang memperoleh kepercayaan dari rakyat. Pembantu Kepala Negara : 1. Wazir (menteri) memimpin kekuasaan umum (‘ammah) : a. Wazir tafwidh memperoleh wewenang untuk mengangkat, memberhentikan pegawai, mengadakan perjanjian-perjanjian, menyelenggarakan tugas pemerintahan. B. Wazir tanfidz memperoleh wewenang untuk melaksanakan tugas yang ditetapkan oleh Kepala Negara. 2. Amir memimpin kekuasaan daerah tertentu. 3. Pimpinan tentara tertinggi (Panglima perang). 4. Pengawal tapal batas. 5. Qadha (mahkamah dan kejaksaan). 6. Penarik pajak. 7. Penarik zakat. 8. Pegawai Hisbah.

Calon Kepala Negara hendaklah mempunyai sifat seperti berikut : 1. Mempunyai pengalaman dan kemampuan berijtihad. 2. Mempunyai kecerdasan dalam bidang politik, peperangan dan pemerintahan umum. 3. Mempunyai keadilan, ketakwaan dan kewara’an. Mempunyai keberanian, rasa tanggungjawab, sabar dan tabah mempertahankan negara dan memerangi musuh. 5. Sehat jasmani, rohani dan sosial.

Pengangkatan Kepala Negara dapat dilakukan dengan cara :

1. Pemilihan dan pengangkatan oleh tokoh-tokoh rakyat dan dengan persetujuan rakyat, seperti pada pemilihan dan pengangkatan khalifah Abu Bakar Siddik.

2. Penunjukan oleh Kepala Negara sebelumnya dan dengan persetujuan rakyat, seperti pada pemilihan dan pengangkatan Umar bin Khaththab.

3. Pemilihan dan pengangkatan oleh tokoh-tokoh rakyat yang ditunjuk oleh Kepala Negara sebelumnya dan dengan persetujuan rakyat, seperti pada pemilihan dan pengangkatan khlaifah Utsman bin Affan.

Sebelum menjalankan tugasnya, calon Kepala negara harus dibai’at (disumpah, dilantik).

Kepala Negara memiliki beberapa hak atas rakyat : 1 . Agar rakyat ta’at kepada Kepala Negara. 2. Agar rakyat mena’ati undang-undang negara. 3. Agar rakyat membantu kepala Negara. 4. Agar rakyat membela dan mempertahankan Negara.

Kekuasaan Kepala Negara hilang : 1. Apabila tidak mampu lagi menjalankan tugasnya sebagai Kepala negara. 2. Apabila menyeleweng dari ajran Islam.

Kepala Negara berkewajiban untuk : a. Memelihara agama. b. Memutus perkara (menyelesaikan perkara rakyat). c. Melindungi negara dan memelihara keamanan. d. Menegakkan hukum Allah dan memelihara rakyat. e. Menjaga tapal batas negara. f. Memadamkan pemberontakan. g. Memungut zakat. h. Mengatur penggunaan kas negara (Baitulmal). i. Mengatur aparat negara.

b. Ahlul Halli wal ‘aqdi (Lembaga Ulil Amri).

Ahlul Halli wal ‘aqdi merupakan Lembaga Ulil Amri (lembaga kekuasaan rakyat) yang berwewenang mengangkat dan mekzulkan Kepala Negara.

Sebutan bagi lembaga ulil amri adakalanya : ahlusy syura, ahlul ijtima’, ahlul ikhtiyar, ahlul halli wal ‘aqdi.

Lembaga Ulil Amri ini terdiri dari tokoh-tokoh rakyat dalam bidang agama, ekonomi, pendidikan, pertahanan, dan lain-lain.

Anggota lembaga Ulil Amri haruslah memiliki sifat-sifat seperti ; a. memiliki keadilan, b. memiliki ilmu pengetahuan yang cukup memadai, c. meiliki kebijaksanaan, pandangan luas, akal yang kuat, kecerdikan, penyelidikan yang tajam, pendirian yang teguh.

Islam tidak menetapkan tatacara tertentu dalam pemilihan dan pengangkatan Kepala Negara. masalah ini diserahkan kepada ummat untuk menentukannya, asalkan dalam batas-batas yang dibenarkan oleh Islam.

Demikian pula dalam pemilihan dan pengangkatan anggota Lembaga Ulil Amri diserahkan kepada ummat untuk menentukan, mengatur dan menetapkannya.

Pemilihan anggota Lembaga Ulil Amri dapat bersifat formal maupun informal, langsung maupun tak langsung, sesuai dengan kebutuhan, keadaan, masa dan tempat.

Lembaga Ulil Amri berkewajiban untuk : a. Menjelmakan kehendak rakyat, b. memusyawarahkan kemashlahatan rakyat, c. Menetapkan sesuatu masalah, d. mengurus kepentingan rakyat

Lembaga Ulil Amri berkedudukan sebagai pendamping Kepala Negara untuk bersama-sama memikul amanat yang dipikulkan kepada Kepala Negara dalam urusan rakyat.

Lembaga Ulil Amri memusyawarahkan hal-hal yang penting bagi ummat dalam urusan keamanan negara, angkatan perang, perdamaian, hukum yang tidak ada nashnya, atau nashnya yang tiudak jelas.

Islam tidak menentukan tatacara tertentu mengenai pelaksanaan musyawarah. Ia lebih banyak bergantung kepada kepentingan, waktu, situasi, tempat, dan diserahkan kepada kepentingan kebijaksanaan rakyat.

Perbedaan pendapat yang tidak dapat dipulangkan kepada Qur:an dan Hadits dapat diselesaikan dengan salah satu cara berikut : a. Dengan Tahkim, b. Dengan Referendum, c. Dengan Ketetapan Kepala Negara.

c. Qadhi.

Qadhi atau hakim adalah aparat pemerintah pelaksanaan hukum.

Pengangkatan aparat pemerintah pelaksana hukum (hakim, qadhi) pertama kali dilakukan oleh Umar bin Khaththab pada masa pemerintahannya.

Hakim bertugas menyelesaikan persengketaan dan memutuskan hukum dengan seadil-adilnya berdasarkan hukum Allah.

Hakim diangkat oleh Kepala Negara.

Hakim haruslah memiliki syarat-syarat berikut : a. Laki-laki dewasa, b. Berakal, c. Islam, d. Adil, e. Memiliki pengetahuan tentang Hukum Syara’, f. Baik pendengaran, penglihatan dan ucapan.

10. Warganegara dan Penduduk Negaa.

Hak dan Kewajibannya.

Warganegara dan Penduduk Negara terdiri dari ummat Islam dan bukan Islam (masyarakat majemuk).

Yang bukan Islam terdiri dari beberapa jenis : a. Ahludz Dzimmah, b. Mu’ahidin, c. Muhadinun, d. Mu’ammamnun, e. Muharibun.

Rakyat memiliki hak dari negara atas : a. Keselamatan jiwa, b. Keamanan hak milik, c. Keamanan kehormatan, d. Keamanan kehidupan pribadi, e. Penolakan kezaliman, f. Kebebasan amar makruf nahi munkar, g. kebebasan berkumpul, h. Kebebasan beragama (beribadah), i. Perlindungan terhadap penindasan keagamaan, j. Hanya memberikan keterangan terbatas tentang perbuatan sendiri, k. Kebebasan dari tuduhan dan tahanan, l. Bantuan pemenuhan kebutuhan hidup, m. Perlakuan yang sama.

Rakyat memikul kewajiban terhadap negara untuk : a. Menta’ati semua peraturan yang berlaku, b. Menta’ati penguasa yang berkuasa, c. mempertahankan negara dan agama, d. Memikul biaya negara, e. Menjaga persatuan, f. Memelihara ketertiban.

Rakyat berkewajiban menta’ati peraturan, penguasa, terbatas hanya dalam hal-hal yang ma’ruf saja.

11. Daerah (wilayah) negara.

Negara Islam berdasarkan pada akidah Islamiyah (konsep dan ideologi Islam).

Negara Islam bukan negara teritorial (daerah) yang berdasarkan pada suku bangsa, batas geografis.

Negara Islam bukan negara kebangsaan yang berdasarkan keturunan atau warna kulit.

12. Pendapatan dan Belanja negara. (Baitulmal). Keuangan negara.

Sumber keuangan/Kas negara (Baitulmal) terdiri dari : a. Zakat, b. Sumbangan-sumbangan (infaq, shadaqah), c. Pungutan wajib (taudhif).

Keuangan Negara digunakan untuk :: memenuhi keperluan jaminan sosial dan pertahanan negara .

Baitulmal (Kantor Bendahara Negara) adalah Lembaga yang mengurus pemasukan dan pengeluaran negara.

Sejarah Islam menunjukkan bahwa pada umumnya pemasukan kekayaan negara berasal dari : 1. khumsul ganaim, seperlima dari harta rampasan peang, 2. zakat, dua setengah persen dari harta kekayaan dan perniagaan ummat Islam, 3. kharaj, pajak hasil bumi, 4. ‘usyur, cukai barang-barang impor, 5. jizyah, iuran dari non-muslim sebagai imbalan atas keamanan dan perlindungan yang diterimanya dari negara islam

Kekayaan negara itu selanjutnya dipergunakan untuk membiayai para qadhi, amir, angkatan perang, pegawai lainnya dan untuk membiayai aneka ragam pembangunan dalam negara seperti pembangunan mesjid, sekolah, rumah sakit, perpustakaan, benteng-benteng, pengairan, dan lain-lain.

13. Pertahanan dan Keamanan Negara.

Seluruh rakyat berkewajiban membela dan mempertahankan negara dari musuh negara.

Seluruh rakyat berkewajiban memikul biaya pertahanan dan keamanan negara.

Tatacara pertahanan dan pembelaan negara dapat diatur didusun sesuai dengan kebutuhan, tuntutan zaman.

Pertahanan dan pembelaan meliputi : a. mempertahankan diri, agama, negara, b. memerangi yang merusak perjanjian, c. menghapuskan dan meniadakan fitnah (pemberontakan), d. menegakkan aturan-aturan agama, e. menghapuskan kemunkaran (dari berbagai kepustakaan literatur Islam).(Bks 1-12-97).

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s