Pelaku dan sasaran dakwah

Pelaku dan sasaran dakwah

Ketika lagi makan sahur menjelang datangnya waktu imsak biasa kita menyaksikan tayangan acara sahur dengan berbagai macam lawakan, banyolan, hadiah, hiburan, dan lain-lain. Selama bulan Ramadhan semua televisi berkompetisi, bersaing menayangkan acara sahur interaktif, merebut hati pemirsa.. Presenter, pemandu, pembawa acara dari kalangan selebritis, orang tenar. Narasumbernya dari kalangan Ustadz, Ustadzah, Muballigh, Muballighah, Da’i kondang. Presenter dan Narasumber selaku subjek, pelaku dakwah proaktif menyampaikan, mendakwahkan pesan-pesan agama Islam. Para pemirsa selaku objek, sasaran dakwah sangat antusias berinteraktif menyaksikan lawakan, banyolan, cekikan para subjek, pelaku dakwah.

Begitulah saban bulan Ramadhan dari tahun ke tahun semakin marak dan beragam. Pada bermunculanlah para Ustadz, Ustadzah, Muballigh, Muballighah, Da’i yang serba-bisa menjawab pertanyaan tentang agama Islam untuk memuaskan pemirsa. Dengan sudut pandang “husnuz zhan” selera, semuanya itu serba positif, tanpa ada yang negatifnya. Tapi dari sudut pandang husnuz-zhan Islam, semuanya itu ada yang positif dan ada pula ayang negatif. Nikah, misalnya tetap positf, sedangkan zina selamanya negatif.

Semua subjek, pelaku dakwah sebagai pengemban, pelanjut risalah biasanya menyampaikan seruan, ajakan, himbauan agar melakukan “qiyamur Ramadhan”, “qiyamul-lail”. Baik siang, maupun malam Ramadhan agar sering-sering memprbanyak dzikir, membaca tasbih, tahmid, takbir, tahlil, tilawatil-Qur:an, shalat sunat, zakat sunat, sedekah, infaq, derma, beri’tikaf di Masjid.

Antara seruan, ajakan, himbauan para subjek, pelaku dakwah kepapada para objek, sasaran dakwah terdapat kesenjangan dalam praktek kenyataan. Objek, sasaran dakwah diseru, diajak, dihimbau agar beri’tikaf di mesjid, sedangkan subjek, pelaku dakwah asyik di panggung, di pentas televisi. Objek dakwah diseru agar thawaduk menundukkan diri, sedangkan subjek dakwah sibuk cengengesan bersama kalangan selebiritis.

Pantas direnungkan, beginikah yang dinginkan oleh Muhammad Rasulullah? Beginikah caranya menyemarakkan Ramadhan? Beginikah caranya meningkatkan ketaqwaan dan keimanan? Berhasilkah puasa kita mendidik kita menjadi manusia taqwa, menjadi manusia yang peka, sensitif terhadap ajaran Allah, manusia yang komit dan konsern dengan ajaran Allah baik dalam perorangan maupun dalam bersama, bermasyarakat, berbangsa, bernegara, manusia yang rela diatur oleh aturan Allah dalam segala hal. Berhasilkah semua ibadah kita yang kita lakukan dalam meningkatkan kepekaan spiritual dan kepekaan sosial kita. Apakah kita cuma Islam di Masjid, dan bebas-merdeka di kantor, di pasar, di ladang, di jalan, ketika berusaha, ketika berbisnis, ketika bertransaksi, ketika berekonomi, ketika berpolitik, ketika berbudaya.

Sungguh amat ironis kondisi kita umat Islam. Berapa persenkah warga Indonesia yang beragama Islam saat ini? Berapa persenkah dari itu yang melaksanakan kewajiban Islam? Berapa persenkah dari itu yang sudah meninggalkan yang terlarang dalam Islam? Berapa persenkah dari itu yang melakukan perbuatan-perbuatan yang disukai Islam? Berapa persenkah dari itu yang bersedia diatur oleh aturan Islam? Berapa persenkah dari itu yang menerima poligami secara utuh? Berapa persenkah dari itu yang bersedia menutup aurat? Semoga Allah mema’afkan kekeliruan kita dan mengampuni dosa-dosa kita. Amin.

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s