PBB kacungnya Amerika Serikat

PBB kacungnya Amerika Serikat

PBB adalah organisasi, kumpulan para penguasa sedunia yang dikendalikan oleh Amerika Serikat (AS). Setiap apa yang didiktekan oleh AS pasti akan diterima, disetujui tanpa kritik oleh para anggota PBB. AS mendiktekan bahwa Irak (dengan Saddan Husseinnya) memproduksi dan menyimpan senjata kimia pemusnah massal. Para anggota PBB menerima, mengakuinya tanpa bantahan. AS mendiktekan bahwa Taliban dan AlQaeda (dengan Osama bin Ladinnya) adalah terroris, pelaku serangan terror 11 September 2001. Para anggota PBB menerimanya. AS mendiktekan ahwa Jama’ah Islamiyah dan Majelis Mujadhidin (dengan Abu Bakar Baasyirnya) adalah terroris, anggota jaringan AlQaeda, otak pelaku Tragedi Bali 12 Oktober 2002. Para anggota PBB menerimanya. Termasuk penguasa Indonesia menerimanya dengan sangat antusias.

Rasionalitas umat manusia sedunia telah dikendalikan oleh kekuasaan raksasa AS. Pikiran umat manusia sedunia telah dikontrol melalui penggunaan kata-kata dan pemberian makna tertentu. Sistem mengontrol pikiran umat manusia sedunia, yang disebut Noam Avram Chomsky “the American Ideological System”. Dibawah kendali sisten ini, maka “proses perdamaian” berarti “usulan perdamaian yang diajukan oleh AS”. Sedangkan usulan perdamaian yang dikemukakan oleh neara-negara Arab dianggap seagai penolakan (disebut rejeksionisme). Bila negara-anegara Arab menerima posisi AS, mereka disebut “moderat”. Bila mereka menolaknya, disebut “ekstremis”. Yang semula “ekstrem” aakan menjadi “moderat” bila menerima, mengikuti usulan/saran AS. “Terorisme” didiktekan berarti “tindakan protes yang dilakukan oleh negara-negara atau kelompok-kelompok kecil” (Jalaluddin Rakhmat : “Kamus Terrorisme Dari Chomsky”, dalam Noam Avram Chomsky : “Malintg Teriak Maling : Amerika Sang Terroris ?”, Mizan, Bandung, 2001).

Para penguasa dimana pun disenatero dunia ini taka suka dengan Islam. Tak suka dengan Hukum Tata Negara Islam, Hukum Tata Niaga Islam, Hukum Tata Sosial Islam, Hukum Tata Budaya Islam, Tak suka diatur oleh Islam. Seluruh penguasa sepakat menerima dikte AS bahwa Taliban dan AlQaeda (dengan Osama bin Ladinnya), Jami’ah Islamiyah dan Majelis Mujahidin (dengan Abu Bakar Baasyirnya) adalah terroris, pelaku kegiatan terror. Sesuai dengan kesepakatan yang didiktekan AS tersebut, maka penguasa Indonesia segera menangkap Abu Bakar Baasyir sebagai tersangka pelaku terror Tragedi Bali 12 Oktober 2002.

Kalau AS yang memberi sinyal, maka pastilah Abu Bakar Ba asyir akan mendekam dalam penjara. Sebelum ini, pemimpin-pemimpin umat islam seperti hassan AlBanna, Sayyid Quthub, Abul A’la AlMaududi, dan lain-lain diperlakukan semena-mena oleh penguasa setempat. Namun Abu Bakar Baasyir diperlakukan semena-mena oleh penguasa Indonesia atas konspirasi jaringan Internasional PBB yang dipimpin AS. Kekuatan provokasi AS tak ada tandingannya. Ia sanggup menjebloskan siapa saja yang tak disukainya ke dalam penjara, bahkan sekaligus melenyapkan, menghabisinya. Kepada Abu Bakar Baasyir disampaikan rasa keprihatinan yang mendalam atas perlakuan penguasa Indonesia yang semena-mena, semoga tetap sabar menerima musibah yang sekaligus juga merupakan musibah umat Islam semua, sebagaimana sikap Ibnu Taimiyah dalam penjara.

Jika jihad (QS 22:78), jika upaya penegakkan syari’at Islam adalah terrorisme, maka Jama’ah Islamiyah, Umat Islam adalah terroris. Demikian dijelaskan oleh Mudzakkir Muhammad Arif, MA dalam tulisannya “Terrorisme Menurt AlQur:an”, SABILI, No.01, Th.X, 25 Juli 2002, hal 13, tadabbur). Dan memanglah Amerika Serikat punya streotip, bahwa orang Islam itu terroris. Demikian diungkapkan oleh Dr Nurcholish Madjid dalam suatu wawancara (BANDUNG POST, Jum’at, 1 Mei 1998, hal 7).

Menurut Betrand Russel, di Amerika terdapat terroris yang dahsyat, namun koran tidak memberitakan hal itu dengan cukup memadai (Khurshid Ahmad : “Islam Lawan Fanatisme Dan Intoleransi”, Tintamas, djakarta, 1968, hal 35).

Definisi terorisme dalam perspektif Barat kaidahnya dibentuk oleh kultur Yahudi-Kristen dan bertumpu pada warisan sejarah terhadap dunia Arab-Islam yang tidak mungkin bisa diabaikan. Inilah yang ditegaskan Samuel Huntington, pemilik teori “prang peradaban” (The Clash of Civilization) yang menytakan bahwa prang yang terjadi sejalan dengan garis perpecahan antara dua peradaban : Barat – termasuk Israel – dan Islam yang sudah berlangsusng sejak 1300 tahun yang lalu. Interaksi yang telah berabad-abad usianaya antara Barat dan Islam ini, tidak akan reda dengan mudah begitu saja. Bahkan barangkali justru semakin parah (Musthafa muhammad Thahhan : Rekonstruksi Pemikiran Menuju Gerakan Islam Modern”, 2000:204).

Samuel Huntington menempatkan peradaban agma menjadi faktor yang sangat menentukan. Barat melawan yang bukan Barat. Termmasuk ke dalam Barat aalah Kristen Orthodoks, Katholik dan Protestan, Amerika Latin. Sedangkan yang bukan Barat aalah Dunia Islam dan Dunia Cina, termasuk ke dalamnya Konfusianisme, Jepang, Hinduisme India, Afrika (GATRA, No.24, 2 Mei 1998, hal 30).

Samuel P Huntington menyangsikan keberhasilan keangkitan Islam berdasarkan adanya benturan (clash) antara berbagai peradaban (ALMUSLIMUN, No.334, Januari 1998, hal 71, Tsaqafah, “The Clash of Civiliztion and the Remaking of World Order”, 1996).

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s