Pancasila itu apa

Pancasila itu apa

Pancasila itu pada mulanya adalah hasil studi berpuluh tahun dari Ir Soekarno tentang Dasar-Dasar Falsafah Negara. Ir Soekarno melihat bahwa : Aa. Adolf Hitler mendirikan negara Jermania di atas dsar National-Socialistische (Nasionalisme-Sosialisme). b. Lenin mendirikan negara Sovyet di atas dasar Historische-materialische (Materialisme-Historisme). c. Ibnu Saud mendirikan negara Arabia di atas dasar agama Islam. d. Sun Yat Sen mendirikan negara Tiongkok di atas daar San Min Chu I (The Three people’s principle) : Mintsu (Nasionalisme), Minchuan (Demokratisme), Minsueng (Sosialisme). e. Mataran, Pajajaran, Banten, Bugis, Pruisen, Beieren, Saksen, Venetia, Lombardia, Benggala, Punyab, Bihar, Orissa bukan negara kebangsaan. f. Jermania, Saudi Arabia, Iran, Tiongkok, Nippon, Amerika, Inggeris, Rusia, Mesir, India, Yunani, Italia, Sriwijaya, Majapahit adalah negara kebangsaan.

Tahun 1917 Ir Soekarno menerima ajaran tentang kosmopolitisme (faham kemanusiaan sedunia) yang diajarkan oleh A.Bars, seorang sosialis. Tahun 1918 Ir Soekarno menerima ajaran tentang San Min Chu I di dalam tulisan Dr Sun Yat Sen. Tahun 1932 Ir Soekarno menulis satu risalah yang bernama “Mencapai Indonesia Merdeka”. Di dalam risalah itu Ir Soekarno menerangkan bahwa kemerdekaan (political Independence) ialah suatu jembatan emas. Mulai sejak itu disiarkan semboyan Indonesia Merdeka.

Dari hasil studinya, Ir Soekarno mengajarkan bahwa Indonesia Merdeka haruslah didirikan di atas dasar : a. Kebangsaan Indonesia (Nationale staat), b. Internasionalisme (Peri kemanusiaan), c. Mufakat (Demokrasi), d. Kesejahteraan Sosial, e. Ke-Tuhanan, yang dinamakannya (dengan petunjuk seorang ahli bahasa) dengan nama Pancasila. Ir Soekarno senang kepada simbolik angka (lima). Ajarannya ini disampaikannya tanggal 1 Juni 1945 dalam pidatonya di hadapan sidang Badan Penyelidik Usha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Ide (gagasan) Pancasila ini bukanlah dipungut Ir Soekarno dari Negarakertagama, Sutasoma, Sriwijaya ataupun Majapahit.

Ide (gagasan) Kebangsaan dipungut Ir Soekarno dari ajaran Ernest Renan dan Otto Bauer. Ernest Renan mengajarkan bahwa bangsa aalah satu gerombolan manusia yang mau bersatu, yang merasa dirinya bersatu. Otto Bauer menajarkan bahwa bangsa adalah satu persatuan perangai yang timbul karena persatuan nasib. Menurut analisa Ir Soekarno, bangsa Indonesia hanya ddua kali mengalami nationale staat, yaitu di jaman Sriwijaya dan di jaman Majapahit. Ide (gagasan) Internasionalisme (Peri kemanusiaan) dipungut Ir Soekarno dari ajaran A.Baars dan Gandhi. A Baars mengajarkan kosmopolitisme (faham kemanusiaan sedunia). Gandhi mengajarkan “my ntionalism is humanity” (Kebansaan saya adalah Peri Kemanusiaan). Ide (gagasan) Mufakat (Demokrasi) dan Kesejahteraan Sosial dipungut Ir Soekarno dari ajaran Sun Yat Sen dan Jean Jaures. Sun Yat sen mengajarkan tentang Sn Min Chu I : Mintsu (Nasionalisme), Minchuan (Demokrasi), Minsheng (Sosialisme). Jean jaures mengajarkan tentang demokrasi politik dan demokrasi ekonomi (keadilan sosial). Ide (gagasan) Ke-Tuhanan dipungut Ir Soekarno dari kenyataan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang ber-Tuhan. Masing-masing orang Indonesia menyembah Tuhannya masing-masing.

Ir Soekarno mengajarkan bahwa Pancasila boleh diperas menjadi Trisila : a. Socio-nationalisme (Kebangsaan dan Internasionalisme), b. Socio-demokratie (Demokrasi dan Kerakyatan, demokrasi politikekonomi-sosial), c. Ke-Tuhanan. Trisila boleh pula menjadi Ekasila : Gotong-Royong, Holopis Kuntul Baris, Solidaritas (tanpa Ke-Tuhanan).

Pengertian Ke-Tuhanan menurut Ir Soekarno adalah pengakuan kan eksistensi Hindu, Budha, Kristen, Islam. Pengertian Mufakat atau Demokrasi menurut Ir Soekarno adalah Kedaulatan yang dipimpin oleh mayoritas (suara terbanyak). Kerakyatan menurut Ir Soekarno (sekedar pemikat tokoh-tokoh Islam dalam BPUUPKI) membuka peluang (ruang gerak) perjuangan menegakkan Hukum Ilahi (Syari’at Islam). Kebangsaan dalam pandangan Ir Soekarno adalah ukhuwah wathaniyah dalam batas teritorial yang mengacu pada Majapahit dan Sriwijaya. Kebangsaan dalam pandangan A.Mukhlis (M>natsir) adalah ukhuwah insaniyah melampaui batas teritorial yang mengacu pada Ke-Tuhanan sma-sama ber-Tuhan-kan Yang Maha Esa), Kemanusiaan (sama-sama makhluk Tuhan Yang Maha Esa), Kebangsaan (sama-sama bangsa Indonesia), Kerakyatan (sama-sama rakyat, baik namanya rakyat jelata, jembel, murba, marhaen), Kemasyarakatan (sama-sama masyarakat religius, masyarakat marhamah).

Hasil studi yang sama, tapi dengan urutan, susunan, rumusan kata yang kelihatannya berbeda telah pula disampaikan Mr Muhammad Yamin dalam pidatonya 29 Mei 1945 di hadapan sidang lengkap Badan Penyelidik Usha-Usha Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang berisikan lima asas dasar Negara Indonsia Merdeka, yaitu : a. Peri Kebangsaan, b. Peri Kemanusiaan, c. Peri Ke-Tuhanan, d. Peri Kerakyatan, e. Kesejahteraan Rakyat.

Khams Qanun (The Five Principles) yang dimiliki Gerakan Freemasonry dan Zionis Internasional juga terdiri (juga merupakan sinkretisme) dari Monotheisme, Nasionalisme, Humanisme, Demokratisme, Sosialisme, yang berasal dari Syer Talmud Qaballa XI:45-46 (Simak RISALAH, No.10, Th.XXII, Januari 1985, hal 53-54 : Plotisme, apa itu? Oleh Em’s, AlChaidar : “KW9”, hal 3-5)).

Seyogianya disadari bahwa Pancasila itu berasal dari ide, gagasan Ir Soekarno, seorang tokoh yang sepanjang hayatnya sejak tahun 1926 konsekwen memprjuangkan Marhaenisme, yaitu Marxisme yang diterapkan di Indonesia (yang berke-Tuhnan?), yang paralel dengan komunisme, yang merupakan hasil pemikiran berdasarkan metode historis materialisme. Dengan retorikanya yang memukau mampu membujuk tokoh-tokoh Islam untuk menerima ide gotongroyong itu, dengan menmahkan “Ketuhanan yang brkebudayaan” pada buntut/ujung ide, gagasannya itu. Sedangkan ide, gagasan Mr Muhammad Yamin, seorang Murba, yang disampaikannya pada 29 Mei 1945, meskipun inti materinya sama dengan ide Ir Soekarno, namun Mr Muhammad Yamin tak mampu meraih dukungan BPUUPKI untuk menyetujui idenya.

Ide (gagasan) Pancasila itu bukan untuk membela kepentingan Islam, seperti yang diungkapkan Ir Soekarno ketika merayu tokoh-tokoh Islam untuk menerima menyetujui idenya tentang prinsip-prinsip “permusyawaratan perwakilan”

Kalau memang benar jujur bertekad melaksanakan Pancasila secara murni dan konsekwen sesuai dengan jiwa, semqangat, amanat dan latar historisnya yang berasal dari gagasan Ir Soekarno itu, seyogianya membuka pintu selebar-lebarnya mengajk semua secara konstitusional untuk bekerja sehebat-hebatnya agar hukum-hukum yang keluar dari DPR itu hukum-hukum Islam (Syari’at Islam). Dan bukan malah Islamophobi, seperti sikap Ir Soekarno yang tidak berpihak pada kepentingan Islam, dengan membubarkan Konstituante hasil pilihan rakyat 1955.

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s