Menuju Masyarakat Islam

Menuju Masyarakat Islam

Tujuan/Sasaran Perjuangan Dakwah : Agar Islam bebas leluasa memaninkan peranannya sebagai pimpinan hidup umat manusia sedunia. “Siapa yang berperang semata-mata untuk menegakkan Kalimatullah (agama allah), maka itulah fisabilillah” (HR Bukhari, Muslim dari Abu Musa bin Qais alAsy’ary). “Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu” (QS 8:24).

Dasar/Landasan/Sendi/Asas Perjuangan Dakwah : Kepercayaan, keyakinan, kesaksian bahwa Tak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad saw adalah Rasul Allah. Bahwa hanyalah Allah saja yang berkuasa, berdaulat atas semuanya, bukan manusia. Hanyalah allah saja yang memiliki kedaulatan (Sayid Quthub : “Petunjuk jalan”, hal 34). Kedaulatan atas hati nurani, atas perasaan, atas kenyataan hidup, atas harta kekayaan, atas hukum, atas jiwa dan raga (idem, hal 22-23). “Semua hukum itu kepnyaan Allah. Kamu diperintah untuk menyembah Dia saja. Itulah agama yang lurus” (QS 12:40).

Pedoman/Acuan/Rujukan/Referensi Perjuangan Dakwah : AlQur:anul Karim dengan Sunnah Rasulullah sebagai penjelasan, petunjuk pelaksanaannya. “Budi Pekerti Rasulullah itu adalah (mengacu) alQur:an” (HR Nasai dari Aisyah). Bagi Komunisme “Marxisme is not a dogma but a guide to action” (Tan Malaka : “Dari Penjara Ke Penjara”, III, 1949:34). Bagi Islam “alQur:an itu untuk dilaksanakan dalam kehidupan” (“Petunjuk Jalan”, hal 14-16).

Kandungan intisari alQur:an. Dari alQur:an itu diambil konsepsi tentang hakekat Tuhan, tentang hakekat alam, tentang hakekat manusia, tentang interaksi antara hakekat yang satu dengan hakekat yang lain, tentang kehidupan, tentang nilai-nilai, dan budi pekerti, tentang sistim pemerintahan, tentang sistim perekonomian idem, hal 18, 20, 100). Dari alQur:an diambil tentang kepercayaan, keimanan, peribadahan, hukum, peraturan, bimbingan (idem, hal 97).

Cara mempelajari/memaahami alQur:an : Disesuaikan dengan maksud/tujuan alQur:an itu sendiri diturunkan, yaitu untuk menjadi petunjuk hidup yang harus diterapkan.

Program Kerja Perjuangan Dakwah. Langkah Awal : Mewujudkan inti (kern) masyarakat Islami. Dimulai dengan merintis, mempelopori menyiapkan pionir, kader pembentuk masyarakat Islami. Mendidik, mencetak, melahirkan tenaga, pionir, kader untuk memegang peranan dalam masyarakat Islami. Berupaya menyebarkan informasi agar tercipta iklim/sikon yang memungkinkan lahirnya sejarahwan, filsuf, fisikawan, ekonom, politikus, negarawan, ilmuwan dan ahli-ahli lain yang komit terhadap Islam *Abul A’la almaududi : “Metoda Revolusi Islam”, arRisalah, Yogyakarta, 1983:34). “Kamu adalah umat terbaik yang pernah ditampilkan untuk menghadapi manusia, kamu menyuruh berubat kebaikan, melarang hal yang tidak baik dan beriman kepada Allah” (QS 3:110). “Demikianlah kami jadikan kamu umat yang moderat agar kamu menjadi saksi atas manusia, dan Rasul menjadi saksi atas kamu” (QS 2:142).

Menghadapi Masyarakat Jahili. Tugas/Kewajiban dari inti masyarakat Islami adalah untuk menyebarkan, meratakan salam *keselamatan, keamanan, kedamaian, kesentosaan, kesejahteraan, kerhamatan, keberkahan. Jadi Duta Perdamaian. “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegaha dari yang munkar” (QS 3:104). “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar” (QS 3:110). “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemunkaran dan permusuhan” (QS 16:90).

Tugas/Kewajiban dari inti masyarakat Islami adalah untuk membebaskan manusia dari perhambaan diri sesama makhluk, membebaskan manusia dari exploitation de l’home par l’home, dari homo homini lupus.

Hakekat jihad adalah perjuangan membebaskan manusia seluruhnya dari perhambaan sesama makhluk, perhambaan dari para tiran, dari kezhaliman, sehingga hanya menjadi hamba dari Allah saja. Pembebasan ini dilakukan bukan dengan paksaan, tetapi dengan membuat, menciptakan iklim (sistim) yang melapangkan jalan kepada kebebasan itu.

Islam hanya mengenal dua macam masyarakat : masyarakat Islami dan masyarakat jahili (“Petunjuk jalan”, hal 122). Masyarakat Islami berideologi Islam, berakidah tauhid, bersyahadat “La ilaaha illallah” (Tak ada Tuhan selain Allah). Masyarakat berkebudayaan, masyarakat berkesusilaan, masyarakat bermoral, masyarakat berakhlaq, masyarakat madani.

Masyarakat Islami adalah masyarakat yang pandangan hidupnya, konsepsinya, situasinya, sistimnya, nilainya dan seluruh pertimbangannya bersumber dari metode Islam (idem, hal 122). Masyarakat Islami, masyarakat Qur:ani, masyarakat Tauhid, masyarakat Marhamah, masyarakat Madani, masyarakat IMTAQ adalah masyarakat yang intinya (kern-nya) terdiri dari orang-orang Islam yang tangguh, yang hidup matinya lillahi rabbil ‘alamin dan plasmanya segenap orang tanpa membedakan asal, suku, agamanya yang bwersedia melakukan yang baik dan tidak melakukan yang jahat serta siap sedia secara bersama-sama menindak yang melakukan tindak kejahatan, dan menyelesaikan sengketa menurut hukum Allah, masyarakat yang mau diatur dengan hukum Allah (idem, hal 55-56, 100-101).

Akidah masyarakat Islami. Masyarakat Islami diikat oleh akidah Tauhid, bukan oleh ikatan ideologi lokal atau ideologi nasional atau ideologi internasional, seperti nasionalisme, liberalisme, sosialisme, marxisme, Sukarnoisme, dan lain-lain.

Lawan masyarakat Islami adalah masyarakat jahili, masyarakat Sekuler, masyarakat Syirik, masyrakat Pagan. Masyarakat jahili berakidah munkar, berkeyakinan, berkepercayaan bahwa bukan hukum Allah yang pantas menata, mengatur masyarakat, tetapi hukum buatan manusia. Masyarakat jahili adalah masyarakat yang pandangan hidupnya, konsepsinya, situasinya, sistimnya, nilainya dan seluruh pertimbangannya bersumber bukan dari metoda Islam. Masyarakat jahili adalah masyarakat yang berideologi jahili, berakidah munkar, mempertuhankan yang selain Allah. Diantaranya mempertuhankan hawa, nafsu, syahwat, hasrat, minat, keinginan, kemauan, kehendak, kepentingan, kebutuhan, pendapat, pikiran, paham, ideologi, pengetahuan, keahlian, keterampilan, ketenaran, kedudukan (QS 25:43, 45:23), mempertuhankan pendeta, pemimpin, guru, tokoh, idola, selebritis (QS 9:31).

Langkah berikutnya adalahg mewujudkan masyarakat Islami, yaitu masyarakat yang tertib, masyarakat yang rela, tunduk diatur dengan Qur:an. Sedangkan mereka yang keberatan tunduk dibawah alQur:an, maka harus ditundukkan dengan kekuasaan pemerintah (Dr Abdul karim Zaidan : “Rakyat dan Negara Dalam Islam”, Media Dakwah, jakarta, 1975:9). Masyarakat yang rela berTuhankan Allah, bernabikan Muhammad saw, berhukumkan Qur:an (“Petunjuk jalan”, hal 34).

Langkah selanjutnya adalah menyusun, menata masyarakat islami. Untuk menyusun, menata masyarakat Islami, dan sekaligus untuk menghadapi tantangan zaman, bisa dilakukan dengan rekondifikasi Syari’at Islam dalam pengertiannya yang sempit, yang mengandung hukum-hukunm yang tegas (qath’I), yang tak dapat digugat lagi yang berasal dari alQur:an alkarim dan Sunnah yang sahih, yang merupakan prinsip-prinsip tetap, kaedah-kaedah umum. Atau bisa pula dilakukan dengan rekodifikasi Syari’at Islam dalam pengertiannya yang luas (yang biasa disebut dengan Fiqih Islam) yang tersebar dalam perbendaharaan khazanah Fiqih Islam, yang bersifat zhanni (ijtihadi) yang diambil dari Qur:an atau Sunnah, atau dari sumber lain, seperti ijma’ (konsensus), qiyas (analogi), istihsan, istishhab, mashalih-mursalah (kepentingan umum) (Sayyid Quthub : “Masyarakat Islam”, alma’arif, Bandung, 1983:35-46, Ahmad Zaki Yamani : “Syari’at Islam (kepentingan umum) (Sayyid Quthub : “Masyarakat Islam”, alma’arif, Bandung, 1983:35-46, Ahmad Zaki Yamani : “Syari’at Islam Yang Abadi Menjawab Tantangan Masa Kini|, alMa’arif, Bandung, 1986:32-43).

Di Nusantara pada akhir abad ke-15, awal abad ke-16, telah tumbuh inti masyarakat islami di Giri, di Tuban/Lamongan dan di Demak. Para pionir, kadernya yang terdiri dari Wali songo *Para Sunan( sepakat menjadikan Bintoro Demak sebagai pusat kegiatan islam dengan bentuk yang berbweda dari di Ampel dan Giri. Masyarakat Islami di Giri (Aliran Giri) sangat ekstrim, tidak mengenal kompromi dengan segala adat yang bertentangan dengan dalil agama. Sedangkan masyarakat Islami di Tuban (Aliran Tuban) berlaku moderat, lemah terhadap adat yang bertentangan dengan agama. Tetapi dalam menghadapi majapahit, Aliran Tuban bersikap agak keras. Sedangkan Aliran Giri bersikap lunak dan toleran.

Islam disebarkan sampai ke pusat istana kerajaan majapahit melalui jalan diplomasi. Pada saat Majapahit diperintah oleh Kertawijaya (1447-1451), Islam telah masuk ke dalam istana kerajaan. Secara sembunyi-sembunyi telah ada beberapa orang dalam Keraton yang menerima agama Islam (Sanusi Pane : “Sejarah Indonesia”, jilid I, hal 169). Kertawijaya ini menikah dengan seorang puteri Campa yang telah memeluk Islam.

Raja Majapahit terakhir, Bhre Kertabhumi (Brawijaya V, 1466-1478) secara sembunyi-sembunyi memeluk agama Islam. Puteranya, Raden Patah berkedudukan sebagai adipati Demak (Bintara) yang menguasai daerah pantai dari Japara sampai Gresik. Pada 1478 Majapahit dirampas oleh prabu Girindrawardhana dari Kadiri (Daha). Kemudian yang memerintah adalah Patih (Prabu) Udara yang bersusah payah menentang adipati-adipati yang telah masuk Islam. Raden patah menyerang Majapahit (yang dirampas Girindrawardhana), merebut kembali mahkota ayahnya. Pusat kekuasaan dialihkan ke Demak, sedangkan sebagian anak negeri majapahit bertebaran di panarukan, Pasuruan dan Balambangan. Demak hanya bertahan sekitar sembilah puluh tahun (1458-1546).

Di Minangkabau, pada awal abad ke-19 pernah pula lahir inti masyarakat Islami , yang pionir, kadernya dipelopiri oleh Tuanku nan Salapan, yang hanya bertahan sekitar 35 tahun (1802-1837).

Penantang masyarakat Islami dapat dideteksi, diamati, dilacak, dipantau dari statemen, pernyataan, ucapan, omongannya yang menyesatkan, yang memojokkan, mendiskreditkan masyarakat islami. Hal ini semata-mata mereka lakukan karena masyarakat Oslami. “Telah nyata kebencian dari mulut nmereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi” (QS 3:118). “Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang maha Perkasa lagi Maha Terpuji” (QS 85:9).

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s