Mencari Tafsiran Butir-Butir Pesan Qur:an

Mencari Tafsiran Butir-Butir Pesan Qur:an

Qur:an adalah Kalam Allah, bukan bahasa manusia. Agar manusia secara relatif dapat mengerti, dapat memahami pesan Qur:an, maka dengan rahman dan rahim Allah sendiri, Qur:an itu diturunkanNya dengan kosa kata dan tatabahasa manusia, yaitu dengan kosakata dan tatabahasa orang Arab.

Allah mengatakan, bahwa “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa alQur:an dengan bahasa Arab, agar kamu memahaminya” (QS 12:2). Allah juga mengatakan bahwa “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan alQur:an untuk pelajaran, maka adalah orang yang mengambil pelajaran” (QS 54:17,22,32,40).

Orang yang waras yang mengerti bahasa Arab, atau yang dapat membaca terjemahan Qur:an dalam bahasa yang dipahaminya, akan dapat memahami isi, makna, maksud, tujuan dari pesan Qur:an. Agar manusia secara relatif mudah memahami pesan Qur:an, maka dengan rahman dan rahim Allah pula, Qur:an itu diturunkanNya dengan memuat antara lain kisah, riwayat, tarikh, sejarah bangsa-bangsa masa lalu, seperti kaum Nuh, kaum ‘Ad, kaum Tsamud, kaum Luth, kaum Fir’aun, yang disiksa, di’azab Allah karena mereka menolak seruan Rasul allah den mereka mengikuti hawa nafsu mereka. Semoga yang membaca, mendengar Qur:an dapat pelajaran dari kisah-kisah tersebut, semoga kembali ke jalan Allah.

Antara Qur:an dan manusia itu ada jarak, hijab, penghalang, dinding pemisah (QS 17:45). Di antara dinding, tabir penghalang itu adalah bahasa. Bahkan di antara sesama manusia itu sendiri terdapat penghalang. di antaranya adalah bahasa itu sendiri. Ada bahasa ibu, ada bahasa asing. Ada bahasa pasar, ada bahasa baku. Ada bahasa bisnis, ada bahasa politk. Ada bahasa sastra, ada bahasa tehnis. Ada bahasa hukum, ada bahasa medis. Dan lain-lain, yang biasa dikenal dengan ragam bahasa.

Antara manusia dan komputer pun bahasa merupakan dinding pemisah. Komputer hanya mampu memahami bahasa mesin (binari), sedangkan manusia tak mengerti bahasa mesin. Agar antara manusia dan komputer bisa saling mengerti, bisa berkomunikasi, maka diperlukan adanya media perantara berupa compiler (penrjemah) yang biasa membikin match antara bahasa manusia dan bahasa mesin, yang bisa jadi juru penerjemah antara keduanya.

Qur:an itu adalah dalam bahasa Allah. Manusia tak mampu memahami bahasa Allah. karena itu mesti ada media prantara untuk dapat memahami bahasa Allah. Allah sendiri yang menyiapkan, menyediakan metode kemudahan untuk dapat memahami pesan Qur:an dalam bahasa Allah itu. Firman Allah “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan alQur:an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran”. Firman Allah tersebut tercantum dalam Qur:an surah Qamar setelah akhir kisah kaum Nabi Nuh (QS 54:17), setelah akhir kisah kaum ‘Ad (QS 54:21), setelah akhir kisah kaum Tsamud (QS 54:32), setelah akhir kisah kaum Nabi Luth (QS 54:40).

Di antara metode paling mudah memahami pesan Qur:an adalah dengan merenungkan, memahami pesan-pesan Qur:an yang terdapat dalam kisah-kisah masyarakat yang menolak peringatan Allah yang disampaikan oleh Rasul Allah, seperti kaumnya Nabi Nuh, kaum ‘Ad, kaum Tsamud, kaumnya Nabi Luth, dan lain-lain. Kisah-kisah itu dikisahkan untuk diambil, dijadikan pelajaran. “maka adakah yang mau mengambil pelajaran” (QS 54:15,51). Dari kisah-kisah itu dapat ditemukan signal-signal, pesan-pesan yang disampaikan, diserukan Qur:an untuk dilaksanakan, dan alasan untuk melaksanakan pesan Qur:an tersebut, serta untungnya melaksanakan pesan Qur:an tersebut dan ruginya tidak melaksanakan pesan Qur:an tersebut.

Bahkan dari bagian (unit) mana pun dari Qur:an dapat dilakukan studi untuk memahami pesan-pesan Qur:an. Imam Syafi’i berkata : “Kalau manusia seandainya sudi merenungkan surat ini (wal’ashri), sudah cukuplah itu baginya” (Prof Dr Hamka : “Tafsir Al-Azhar”, XXX, 1982:237). Lakukanlah studi sungguh-sungguh terhadap surah wal’ashri (QS 103:1-3), maka akan terkuaklah berbagai pesan-pesan Qur:an. Sayid Qutub menampak bahwa ada “harmoni antara beberapa ibrah dalam satu surat yang mencakup beberapa penggalan dalam bagian tematis yang selaras” (DR Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi : “Pengantar Memahami Tafsir Fi Zhilalil Qur:an Sayid Qutub”, 2001:152).

Dalam Qur:an surah Qamar (ayat 9-42), Qur:an mengisahkan kisah kaum Nabi Nuh (QS 54:9-16), kisah kaum ‘Ad (QS 54:18-21), kisah kaum Tsamud (QS 54:23-31), kisah kaum Nabi Luth (QS 54:33-39), kisah Fir’aun dan kaumnya (QS 54:41-42), yaitu kisah-kisah masyarakat musyrik, komunitas pagan yang menolak peringatan-peringatan yang disampaikan oleh Rasul allah (QS 54:2-5). Kaum Nabi Nuh disiksa Allah dengan menggelamkan mereka ke dalam air bah (QS 54:11). Kaum ‘Ad disiksa Allah dengan hembusan angin puting beliung yang dahsyat (QS 54:19). Kaum Tsamud disiksa Allah dengan suara geledek yang menggelegar (QS 54:31). Kaum Nabi Luth disiksa Allah dengan siksaan yang mengerikan (Qs 54:38-39). Juga Fir’aun dan kaumnya disiksa Allah dengan siksaan yang mengerikan (QS54:42). semua itu disiksa Allah karena mereka itu menolak peringatan Allah yang disampaikan Allah kepada mereka (QS 54:9,18,23,33,42).

“Maka masing-masing mereka itu Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu krikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri” (QS 29:40).

Dalam surah Hud (ayat 25-100), Qur:an mengisahkan kisah kaum Nabi Nuh (QS 11:25-49), kisah kaum ‘Ad (Qs 11:50-60), kisah kaum Tsamud (QS 11:61-68), kisah kaum Nabi Luth (QS 11:77-83), kisah kaum Nabi Syu’aib (QS 11:84-95), kisah Fir’aun dan kaumnya (QS 11:96-99), yaitu kisah-kisah pendudk neeri-negeri yang disiksa, diazab Allah, karena mereka itu berbuat zhalim, yaitu menyeru, memanggil, meminta, memohon, berdo’a kepada yang selain Allah, menyembah, mengabdi, menghambakan diri kepada yang selain Allah, kepada yang tidak berkuasa sedikitpun (QS 1:100-102). Kisah itu dikisahkan Qur:an untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang yang takut akan azab akhirat (QS 11:103). Kaum nabi nuh itu aalah orang-orang yang zhalim (yang musyrik) (QS 11:44). Kaum ‘Ad itu aalah kaum yang kafir kepada Allah (QS 11:60). Juga kaum Tsamud adalah kaum yang mengingkari Allah (QS 11:68). Kaum Nabi Luth adalah orang-orang zhalim (jorok, mesum, cabul) (QS 11:83).

Dalam surah ‘Araf (ayat 59-136), Qur:an mengisahkan kisah kaum Nabi Nuh (QS 7:59-64), kisah kaum ‘Ad (QS 7:65-72), kisah kaum Tsamud (QS 7:73-79), kisah kaum Nabi Luth (QS 7:80-84), kisah kaum Nabi Syu’aib (QS 7:85-93), kisah Fir’aun dan kaumnya (QS 7:103-136), yaitu kisah-kisah penduduk negeri-negeri yang kafir, yang tidak mau beriman kepada Allah dan kepada Rasul Allah, yang fasik (QS 7:101-102). Kaum Nabi Nuh itu adalah orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, sehingga ditenggelamkan Allah (QS 7:64). Kaum ‘Ad itu juga adalah orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, orang-oang yang tidak beriman, sehingga ditumpas Allah (QS 7:72). Kaum Tsamud itu adalah orang-orang yang tidak percaya kepada Allah, sehingga mereka disiksa, diazab Allah dengan gempa bumi (QS 7:76-78). Kaum Nabi Luth adalah kaum yang melampaui batas, kaum yang abnormal (jorok, mesum,cabul, hypersex), sehingga mereka disiksa, diazab Allah dengan menurunkan hujan batu (QS 7:84). Ada yang memandang bahwa hukuman yang pantas diberikan oleh pengausa negeri (Kepala Negara) untuk pelaku homo, lesbi, gay adalah hukum bakar, yaitu di negara yang memberlakukan hukum/syari’at Islam. kaum Nabi Syu’aib adalah kaum yang mendustakan Allah, yang menantang Allah, sehingga mereka disiksa, diazab Allah dengan gempa dahsyat yang meluluhlantakkan mereka dan negeri mereka (QS 7:91-92).

Penduduk negeri-neeri yang menolak, menyangkal, membantah, menantang, mendustakan Allah, mendustakan Rasul allah akan disiksa, diazab Allah dengan kesempitan hidup dan penderitaan hidup. Maksud tujuan dari siksaan itu adalah agar supaya mereka kembali, bertobat, tunduk merendahkan diri kepada Allah, kepada Rasul Allah (QS 7:94). Penduduk negeri-negeri yang beriman, yang bertaqwa, yang membenarkan ayat-ayat Allah akan dilimpahkan Allah dengan keberkahan dari segala penjuru (QS 7:96).

Kaum Fir’aun dan kaumnya itu adalah kaum, orang-orang yang membuat kersakan (kerusakan dalam akidah, dalam ibadah, dalam mu’amalah, dalam munakahah, dalam ideologi, dalam politik, dalam hukum, dalam ekonomi, dalam budaya, dalam teknologi, dalam pendidikan, dan lain-lain) (QS 7:103), sehingga mereka disiksa, diazab Allah dengan menenggelamkan mereka di lautan, disebabkan karena mereka itu mendustakan ayat Allah, cuek terhadap ayat Allah (QS 7:136).

Dalam surah A’raf (ayat 59-102), Hud (ayat 25-95), Qur:an berpesan melalui kisah-kisah Rasul-rasul agar manusia hanya menyembah Allah saja, “Tak ada Tuhan selain Allah”, memohon ampun dan bertobat kepada Allah, tidak merusak norma-norma, tata sosial ekonomi, menyempurnakan takaran dan timbangan, tidak merusak meteran dan literan (tidak merusak perangkat bisnis-ekonomi), tidak curang, tidak menjarah hak orang-orang, tidak merugikan orang-orang, tidak berbuat fahsya dan munkar, tidak membuat kejahatan dan kerusakan, menantang tirani (jabbarin ‘anid), tidak membiarkan keseweang-wenangan, takut akan siksa Allah, dan bahwa mereka tidaklah minta imbalan tegen-prestasi balas jasa apa-apa.

Dalam surah An’am (ayat 151-153), Israa (ayat 21-39), Luqman (ayat 12-19), Furqan (ayat 63-77), Qur:an berpesan meliputi agar manusia tidak mempersekutukan Allah, melaksanakan perintah Allah, berbuat baik kepada ibu bapa, memberikan hak kerabat dan yang melarat, menggunakan harta secara pantas, tidak boros dan tidak kikir, tidak mendekati perbuatan fahsya, tidak membunuh orang-orang, tidak menjarah hak orang-orang, menyempurnakan meteran dan literan, berbisnis secara bersih, tidak curang, tidak sombong, tidak angkuh, tidak congkak, menyuruh berbuat makruf, mencegah berbuat munkar, berlaku adil, tidak sewenang-wenang, tidak bersaksi palsu. (Simak juga antara lain QS 98:5, 9:31, 13:36, 6:163, 12:40, 27:91, 6:36, 40:66, 6:71, 39:11-12, 6:14, 10:72, 10:104, 16:90, 42:15, 7:29, 4:58).

Dalam surah An’am, Qur:an berpesan bahwa tujuan dakwah para Rasul itu adalah menuntun, membimbing manusia kepada Tauhid, bahwa Allah itu sumber hukum dan penguasa tunggal. Tanda bukti yang menjelaskan tentang Tauhid, tentang Kemahaesaan dan kemahakuasaan Allah bisa berupa ayat-ayat, dalil-dalil : Kosmos, antropologia, botani, zoologi. Bahkan ayat-ayat yang berhubungan dengan kosmologia, antripologia, botani, zoologi dalam Qur:an merupakan bukti, petunjuk keharusan hanya menyembah kepada Allah saja.

Dalam surah Nahl (ayat 90-91) ringkasan pesan Qur:an, seruan bertaqwa itu mencakup pesan, seruan agar manusia berlaku adil, beramal shaleh, berbuat ihsan, memberi hak krabat, tidak berbat fahsya, munkar dan bughat, serta melaksanakan perintah Allah (beraspek hukum, politik, sosial, ekonomi, militer yang mengarah pada terciptanya masyarakat adil makmur, baldah thaiyibah, negara yang gemah ripah loh jinawi, tata tenterem kerta reharja, padi masak jagung mengupih).

Qur:an berpesan, berseru agar manusia dalam segala kehidpannya hanya mengambil sumber dari Allah saja dan tidak mengambil dari sumber lain dari seorangpun di antara manusia, menaati Allah saja dan tidak menaati seorangpun di antara manusia, mengikuti jalan Allah saja dan tidak mengikuti jalan seorangpun di antara manusia, tidak mengikuti jalan setan, tidak mengikuti jalan thagut.

Qur:an berpesan, berseru agar manusia kembali kepada Allah, berhukum kepada sistem Allah, mengembalikan hakimiyah (otoritas) hanya kepada Allah (Sayid Qutub : “Fi Zhilalil Qur:an”, dalam Dr Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi : “Pengantar Memahami Tafsir Fi Zhilalil Qur:an Sayid Qutub”, 2001:139-141).

Inti seruan Rasul-rasul itu agar manusia hanya menyembah kepada Allah saja, “Tak ada Tuhan selain Allah”, tidak melakukan perbuatan fahsya dan munkar, takut akan siksa Allah (QS 2:21, 4:1, 4:131, 22:1, 31:33).

Ibnu Hajar Asqalani merinci pesan Qur:an itu ke dalam enam puluh delapan cabang iman, mengacu pada hadis riwayat Imam Bukhari bahwa iman itu enam puluh sembilan cabang (rangka). rincian Asqalani ini menurut Hasbi As-Shiddieqy mencakup tentang amal-amal : mental spiritual, moral, lingual, individual, familial, socio-political (Prof Hasbi As-Shiddieqy : “Al-Islam”, I, 1977, hal 31). Secara ringkas, pesan Qur:an, seruan bertaqwa itu mencakup pesan, seruan kepada iman, islam, ihsan. Iman dengan enam ruknya. Pesan, seruan Qur:an yang berhubungan dengan iman itu mencakup sepertiga dari pesan-pesan Qur:an yang terhimpun, tersimpul dalam surah al-Ikhlash. Islam dengan lima rukunnya. Ihsan adalah beribadat, seolah melihat Allah. Segala amal perbuatan akan bernilai ibadah, bilamana dilakukan dalam kondisi batin yang merasa diawasi Allah.

Qur:an berpesan, bahwa manusia bebas memilih untuk mau menerma, menuruti, mengikuti, melaksanakan, melakukan apa yang dipesankan Qur:an, atau untuk menolak, menyangkal, menantangnya (QS 2:256, 18:29). Yang mau menerima pesan Qur;an akan beroleh bahagia. Mereka itulah yang beruntung, mereka itulah yang ibadurrahman. Sedangkan yang menolak pesan Qur:an akan beroleh celaka. Mereka itulah yang merugi, mereka itulah yang ibadusysyaithan (QS 11:102-108, 7:40-43, 10:26-27, 11:18-23, 11:106-108, 39:71-74, 79:37-41, 82:13-14). Kecelakaan, kerugian itu diperleh karena menuhankan selain Allah, akibat mengabdikan diri kepada selain Allah, akibat memprsekutukan Allah dengan yang lain (QS 11:100-102).

Butir pesan-pesan Qur;an yang disampaikan Rasulullah bukan hanya sekedar untuk kajian-kajian (dalam bahasa kini bukan untuk diseminarkan, disimposimkan, didiskusikan, didialogkan, diperdebatkan), bukan sekedar untuk rekreasi mental (sekedar sarana untuk mendapatkan pahala saja), bukan sekedar untuk koleksi ilmu (sekedar kitab ilmiah yang terperinci saja, sekedar ensiklopedia pengetahuan teoritik rasional saja, untuk dijadikan komoditi, konsumsi studi intelektual), tetapi untuk siap menerima perintah untuk dlaksanakan, diamalkan (Sayid Qutub : “Petunjuk Jalan”, hal 14, dalam Dr Shalh abdul Fattah Al-Khalidi : “Pengantar Memahami Tafsir Fi Zhilalil Qur:an Sayid Qutub”, 2001:124).

Segala sesuatu di dunia ini adalah kepunyaan Allah. Dia adalah Pemilik sebenarnya darisemua ini. Dengan demikian, maka hidup dan kekayaan manusia, yang adalah bagian dari dunia ini, adalah juga kepunyaanNya, karena Dialah yang menciptakan semua itu bagimasing-masing manusia untuk dipergunakannya (Abul A’la Maududi : “Pokok-PokokPandangan Hidup Muslim”, 1983:20).

Dalam hubungan ini, Qur:an berbicara sangat santun terhadap manusia yang dimuliakan Allah ini (QS 17:70). Simaklah antara lain QS 9:11 dan QS 2:245. Dalam QS 9:11 disebutkan bahwa “Sesungguhnya Allah telah membeli dai para Mukminin jiwa-jiwa mereka dan harta-harta mereka (sebagai) balasan bagi mereka itu adalah sorga aljanna”. Dlam QS 9:11 ini manusia diperlakukan Allah sebagai pemilik diri dan hartanya. Padahal Allahlah pemilik sebenarnya. Manusia bukanlah pemilik sebenarnya. Maka dari sudut ini sama sekali tak ada persoalan jual atau beli (idem).

Dalam QS 2:245 disebutkan bahwa “Siapakah yang sudi meminjami Allah dengan pinjaman yang baik? Supaya Dia gandakan untuknya dengan penggandaan yang banyak?” Dalam QS 2:245 ini pun manusia diperlakukan Allah sebagai pemilik hartanya. Renungkanlah betapa santunya bahasa Qur:an itu. Karena cinta kasihNya kepada hambaNya yang beriman, Dia mengatakan meminjam. Alangkah terharunya orang Mukmin mendengar firman Allah. Harta siapa yang dipinjam Allah itu, padahal harta kekayaan yang ada pada manusia. Allahlah yang meminjamkan kepada manusia untuk sementara (Prof Dr Hamka : “Tafsir AlAzhar”, 1983, II:276).

Namun orang-orang durhaka yang hati dan otaknya penuh kebencian dan dendam kepada Allah an RasulNya mengambil ayat QS 2:245 untuk membuat provokasi bahwa “Allah itu memerlukan kami, bukan kami yang memerlukan Allah. Allah itu yang meminta bantuan kami, bukan kami yang meminta bantuan Allah. Kami lebih kaya dari Allah. Klau bukan begitu,niscaya Dia tidak akan meminjam kepada kami”, seperti yang dilakukan oleh tokoh Yahudi Fanhash bin Aruza, yang diungkapkan dalam QS 3:181 (Prof Dr Hamka : “Tafsir AlAzhar”, 1983, IV:4-5)

Diharapkan adanya yang berkesempatan menyusun koleksi tafsir pesan Qur:an secara sistimatis terklasifikasi dengan menggunakan antara lain “Fihrs alMaudhu’at” dalam “Tafsir wa Bayan mufradat alQur:an”, hal 241-295, “Khazanah Istilah alQur;an”, oleh Rachmat Taufiq Hidayat, terbitan Mizan, Bandung, 1990. Mudah-mudahan semoga umat ini, generasi kini siap menerima pesna-pesan Qur:an, siap mau diatur dengan Qur:an.

Alqur:an berbicara tentang berbagai hal mengenai pedoman, petunjuk, tuntunan hidup agar

beroleh kebaikan di dunia dan di akhirat. Di antaranya adalah sebagai berikut :

Tentang Sumber ajaran Islam : Tentang alWahyu,alQur:an,Tentang alKhabar, asSunnah.
Tentang alAqidah, atTauhid : Tentang alIman, Tentang alMakhluq, Tenang alQadar, Tentang alQiyamah, Tentang surga dan neraka.
Tentang alAkhlaq (Aspek Tauhid) : Tenang Mahabbah, Khauf, Khasyyah, Raja’, Tawakkal, Ikhlash, Ridha, Tawadhu’, Hayaa, Syukur, Tentang Birul-walidain, Silaturrahmi, Zuhud, Wara’, Qana’ah, Riqaiq, Tentang Dzikir, Do’a, Istighfar, Isti’anah, Taubat.
Tentang al’Ibadah : Tentang atThaharah, Tentang asShalah, Tentang asShiyam,Tentang azZakah, Tentang alHaj dan al’Umrah, Tentang alJanazah.
Tentang alMunakahah, Keluarga : Tentang anNikah, Tentang alMu’asyarah, Tentang anNafaqah, Tentang atThalaq, Tentang alLi’an.
Tentang alMu’amalah, Ekonomi, Perdata, Perjanjian, Kekayaan : Tentang alBuyu’ (Jual Beli), Tentang alQiradh (Utang Piutang), Tentang alWashiyah, Tentang alMawarits.
Tentang alJinayah, Pidana : Tentang Pembunuhan, Tentang Perzinaan, Tentang Penukasa, Tentang Pencurian, Tentang Pengacauan, Tentang Pemabukan, Tentang Peringatan.
Tentang alAqdhiyah, Pengadilan, Kehakiman : Tentang alQadhi (Hakim), Tentang adDa’wa (Penuntut, Jaksa), Tentang asSyhadah (Saksi), Tentang al Mudda’I (Terdakwa), Tentang alAiman, alQusamah (Sumpah), Tentang alKiffarah (Sanksi).
Tentang Tatanegara (Politik) : Tentang alImarrah (Pemerintahan), Tentang alJizyah (Kas Negara), Tentang alJihad (Militer, Pertahanan, Keamanan, Tentang alGhanimah, lKhums, alFa:I (Rampasan), Tentang al’Atiq (Pembebasan).
Tentang Aspek Fiqih : Tentang Qurban, alUdhuhiyah, adDzabaih, (Sembelihan), Tentang asShaid (Buruan), Tentang alAsyrabah (Minuman), alAth’amah (makanan), Tentang azZinah (Dandanan), alLibas (Pakaian), Tentang asSalam, alIstaidzan, Tentang asSyi’r (Sya’ir), Tentang arRukya (Mimpi).
Tentang alQashas, Kisah, Riwayat.
Tentang alFalaq, Kosmos.
Di antara para pakar yang telah berupaya menyusun klassifikasi ayat alQur;an adalah : Jules

la Beaume dan Edward Montet dalam “Le Koran Analyses” (Tafsil alAyat alQur:an alHakim, Klassifikasi Ayat-ayat alQur:an, Pedoman mencari ayat), Dr Muhammad Hassan alHamshy dalam “Tafsir wa Bayan Mufradat alQur:an”, Orof Dr Mahmud Yunus dalam “Kesimpulan Isi Qur:an”, Oemar Bakry dalam “Tafsir Mutir”, Bakhtiar Surin dalam “Tafsir Qur:an”.

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka, Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s