Fasiq

Fasiq

Kita mengaku ber-Tuhan-kan Allah, tahu Hukum Allah, tetapi kita tidak mau mengakkan Hukum Allah, tidak mau menrima Hukum Allah, sengaja melanggarnya, beramal, bertindak bertentangan dengan printah dan ajaran Allah. Kita membenarkan dalam ucapan, tapi kita menyangkal dalam tindakan.

Kita menyatakan beriman kepada Allah swt sebagai Rabb, Islam sebagai din, Al-Qur’an-Qur:an sebagai pimpinan (Imam), Nabi Muhammad sebagai suri teladan (uswah, qudwah), tetapi kita tidak mau mengikuti ajarannya.

Kita mengaku bahwa hak sesama Muslim, baik sebagai tetangga, kerabat, teman sepekerjan, teman seperkumpulan meliputi menyebarkan salam, menjawab salam, menengok yang sakit, mengantarkan jenazah, memohonkan do’a, mendo’akan yang bersin (bebangkis), menolong yang teraniaya (tertindas), menolong yang kesusahan, menasehati yang membutuhkannya, menutupi aibnya, tidak mengganggu atau merugikannya, etapi kita tidak menunaikannya. (Abu Fahmi : “Bercinta dan Bersaudara Karena Allah” (Husni Adham Jaurar), Gema Insani Press, Jakarta, 1990, hal 33,38, H Mawardi Noor

SH : “Memilih Pemimpin”, Publicity, Djakarta, Pebruari 1971, hal 15-16, Drs Asyhuri : “Orang Kafir dapat Menerima Pahala dari Surga?”, KARNISA, Assalam, Surakarta, No.03, Rbi’ul Awal 1410H, hal 23).

Di depan umum kita sangat mengecam penghidupan seks bebas yang terbuka atau setengah terbuka. Tapi kita buka tempat-tempat mandi uap, kita atur tempat-tempat prostitusi, kita lindungi dengan berbagai aturan resmi, setengah resmi ataupun cara swasta.

Dalam lingkungan sendiri, kita pura-pura alim. Begitu lepas, keluar dari lingkungan sendiri, kita lantas masuk tempat maksiat. Kita ikut maki-maki korupsi, tetapi kita sendiri tak bersih dari korupsi, bahkan sebagai koruptor.

Kita mengatakan, bahwa hukum itu berlaku sama terhadap semua orang. Tetapi dalam kenyataan kita lihat pencuri masuk penjara, sedangkan pencuri besar segera akan bebas, atau masuk penjara sebentar saja.

Kita latah mengajak, menganjurkan mempereat, memperkokoh hubungan silaturrahim. Tapi dalam diri kita sendiri tak secuil pun benih rahim itu bersemi. Kita datang berkunjung bertamu ke tempat sanak famili, kita menunggu, menanti kedatangan kunjungan sanak famili pada sa’at hari raya idul fitri untuk mempererat hubungan silaturrahmi. Tapi diri kita sendiri kosong dari rahim itu. Kita bersalam-salaman, bertma’af-ma’afan dengan tetangga sekitar pada hari raya idul fitri tak lebih dari depan pintu rumah. Kita hibur gembirakan yatim-miskin pada hari raya idul fitri dengan menyantuninya dengan sandang dan pangan bilamana nama kita diumumkan, disiarkan, disebut sebagai penyantun. Tapi kita masa bodoh, tak peduli sama sekali bilamana nama kita tak akan diumumkan, disiarkan, disebut sebagai penyantun. Tak pernah tergerak hati kita untuk menghibur menggembirakan keponakan, anak famili, anak tetangga berkunjung ke taman ria anak-anak. Kita mengaku percaya bahwa belum beriman seseorang sebelum ia mencintai sesama mukmin sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, tetapi kita tak pernah berupaya mewujudkan kesamaan antara pernyataan (das Sollen) dengan kenyataan (das Sein). Kita getol berkoar meneriakkan seruan menggalang persatuan dan kesatuan. Tapi kita sendiri ogah datang berkunjung bertamu ke rumah yang berlainan paham dengan kita, mengucapkan salam selamat. Lain di bibir, lain di hati.

Kita begitu bersemangat menghimpun dana untuk meringankan beban penderitaan korban bencana alam dan bencana perang, baik di dalam maupun di luar negeri, tetapi kita menutup mata menyaksikan beban penderita hidup yang berkepanjangan yang dialami oleh para terlantar, terlunta-lunta, gelandangan, pengemis, pemulung, anak kolong, anak jalanan, tuna-arta, tuna-wisma, tuna-karya.

Kita nyatakan Nabi Muhammad teladan sempurna. Tapi nyatanya, ajaran Nabi muhammad kita lemparkan. Kita pungut yang bukan ajaran Nabi Muhammad. Kita nyatakan Qur:an itu tuntunan semurna. Tapi nyatanya ajaran Qur:an kita lemparkan. Kita pungut yang bukan ajaran Qur:an. Kita nyatakan Islam itu sistem sempurna. Tapi nyatanya ajaran Islam kita lemparkan. Kita pungut yang bukan ajaran Islam. Kita nyatakan Allah itu Maha Sempurna. Tapi nyatanya ajaran Allah kita lemparkan. Kita pungut yang bukan ajaran Allah.

Kita mengaku ber-Tuhan-kan Allah, tetapi kita tidak mau menunaikan hak Allah, bahkan kita mencintai makhluk. Kita tahu bahwa yang bernyawa akan mati, tetapi kita mencintai rumah tempat tinggal. Kita percaya akan akhirat, tetapi kita mencintai hidup dunia. Kita percaya bahwa di akhirat kelak segala sesuatu akan diperhitungkan, tetapi kita mengejar, menumpuk harta kekayaan. Kita percaya akan kewajiban bertobat, tetapi kita suka berbuat maksiat. Kita tahu bahwa dunia ini akan lenyap, punah, tetapi kita hidup dalam kemewahan. Kita tahu bahwa setiap hal mengikuti takdir, tetapi kita resah gelisah mengalami kegagalan. Kita percaya bahwa neraka disediakan bagi yang jahat, tetapi kita melakukan perbuatan dosa. Kita percaya bahwa sorga disediakan bagi yang mengerjakan kebajikan, tetapi kita tidak berupaya memperolehnya, bahkan kita tidak merasa puas menikmati kekayaan dunia. Kita tahu bahwa setan itu musuh kita, tetapi kita patuh mengikuti kemauan, perintahnya. Kita membaca Qur:an, tetapi kita tidak mengamalkan ajarannya. Kita mengaku cinta akan Rasulullah, tetapi kita tidak mengikuti Sunnahnya. Kita tutupi aib kita, tetapi kita beberkan aib orang lain. (Amien Noersyams : “Rahasia/Keajaiban Hati” (Imam Ghazali), hal 130, tentang Tempat Masuk Setan, Mahfud Sahli : “Dibalik Ketajaman Hati” (Imam Ghazali), hal 34, tentang Kelengahan, hal 57, tentang Kecintaan, SUARA MASJID, No.61, Th.V, Oktober 1979, hal 80, Mutiara Hikmat dari Usman bin “Affan, PANJI MASYARAKAT, No.245, 15 April 1978, hal 3, Hikayat Ibrahim bin Adham).

Kita mengaku percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa (sla pertama Pancasila), tetapi kita juga percaya kepada Nyi Roro Kidul, dewi siluman yang dipandang sakti (KOMPAS, Minggu, 28 Maret 1993, hal 9, Asal Usul : “Interupsi”, oleh Mahbub Junaidi).

Kita bisa saja mengibuli manusia. Tapi kita tak bisa lepas dari tilikan Yang Maha Kuasa. Kita bisa saja mengibuli semua orang pada suatu waktu, atau sejumlah orang pada sepanjang masa, tapi kita tak akan bisa mengibuli semua oang sepanjang masa. (S Syah SH : “Islam Lawan Fanatisme dan Intoleransi” (Khurshid Ahmad, MA, LLB), Tintamas, Djakarta, 1968, hal xiii).

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s