Dakwah Islam itu merubah sikap mental

Dakwah Islam itu merubah sikap mental

Dakwah Islam itu menyeru, memanggil, menghimbau, mengajak manusia merubah akhlak, perilaku, sikap mental, dari sikap mental syirik ke sikap mental tauhid, dari sikap mental berorientasi profit duniawi semata, ke sikap mental berorientasi juga profit ukhrawi.

Merujuk QS 3:104, Endang Basri Ananda mendefinisikan dakwah Islam itu sebagai suatu proses penyelenggaraan usaha untuk menyeru manusia kepada kebajikan, memerintahkan pada yang makruf dan mencegah dari yang munkar (“Manajemen Dakwah. Bagaimana?”).

Dari sudut pandang sosiologi. Abul A’la alMaududi memandang bahwa dakwah Islam (Risalah yang diemban oleh para Rasul) itu adalah merubah wawasan, ideologi, pandangan hidup manusia secara revolusioner dari berorientasi bukan Islami ke berorientasi Islami (“Sejarah Pembaruan Dan Pembangunan Kembali Alam Pikiran Agama”, 1984:39).

Dalam kewirausahaan (Ilmu Mencari Nafkah, Ilmu Menjual), sikap mental itu lebih dari sekedar ketrampilan, lebih merupakan serangkaian ketrampilan mental (teknologi mental) dimana tergabung motivasi dan kreativitas, bukan sekedar kemampuan, bukan sekedar ketrampilan. Sikap mental itu direkayasa untuk mendahulukan yang diperlukan masyarakat dari pada yang disuka sendiri (Bambang Utomo : “Memadu Otak, Otot, Alat dan Tangan”, KOMPAS, 25 Februari 1986).

Perubahan sikap mental itu mencakup perubahan pola pikir, sudut pandang dari yang negatip (munkarat) ke yang positip (makrufat).

Manusia itu merupakan perpaduan antara jusmani dan ruhani, antara raga dan jiwa, antara lahir dan batin, antara fisik dan mental. Baik fisik maupun mental, masing-masingnya merupakan perpaduan antara warisan-bawaan-turunan (genotipe) dan lingkungan (fenotipe), seperti yang disimpulkan dalam Hukum Mendel di bidang fisik dan Hukum Stern di bidang mental.

Struktur, bentuk batin (mental) dipandang berhubungan, berkorelasi dengan struktur, bentuk lahir (fisik). “Al-‘aqlus salim fil jismis salim”, “mens sana in corpore sano”, “bentuk tubuh (raga) mengindikasikan bentuk jiwa”.

Dakam psikologi (Ilmu Kejiwaan) terdapat terminologi tingkah laku (perilaku). Ada tingkah laku konatif (bertujuan), tingkah laku afektif (perasaan), tingkah laku motorik, dan tingkah laku kognitif (pengetahuan). Tingkah laku (peri laku) itu digerakkan, dibangkitkan oleh sikap mental, sikap batin.

Abul A’la alMaududi (“Sejarah Pembaruan Dan Pembangunan Kembali Alam Pikiran Agama”, 1984:22-36), juga Dr R Paryana Suryadipura (“Manusia Dengan Atomnya”, 1958:190-203), mengacu pada Imam Ghazali (“Rahasia Hati”, 1985:31-34), membagi sikap mental, sikap batin, siakp jiwa itu atas empat macam. Pertama, sikap mental syahwatiyah, herbivora (viscrot0nia), yang bisa berwujud, berupa rasa (emosi) tamak, loba, rakus, bakhil, kikir, pelit, mubadzir, israf, boros, riya, busuk hati, hasad, dengki, iri, tidak punya malu, suka main-main, suka bersenda gurau, khianat, suka membuka rahasia, buhtan, bohong, dusta, suka menjilat, sakhriyah, suka mencela, mengejek, mengecam, mengeritik (egocentris). Kedua, sikap mental amarah, carnivora (somatotonia) yang bisa berwujud, berupa rasa (emosi) angkuh, congkak, pongah, sombong, takabur, ujub, suka mengagumi diri, ghadhab, suka marah, keras, galak, buas, zhalim, aniaya, suka menyerang, memukul, mencaci, mengejek, menghina, merendahkan, membenci, bermusuhan, membangkitkan marah, suka disanjung, diapung, dipuji, diangkat, dihormati, dimuliakan, minta dita’ati, dipatuhi, berkemauan jahat, sembrono, bersikap acuh tak acuh (polemos), Ketiga, sikap mental syaitaniyah, omnivora (cerebrotonia), yang bisa berwujud, berupa rasa (emosi) ghurur, suka menipu, memalsu, memperdaya, menghelah, membujuk, talbis, mencampuradukkan urusan, ifsad, suka mencelakakan, nekat, berkata kotor (eros). Keempat, sikap mental rabbaniyah, hukama, intelek (spiritotonia), yang bisa berwujud, berupa rasa (emosi) yang berilmu (keilmuan), memahami hakikat, cendekia, bersikap baik, bijak, ‘iffah, menjaga diri, qana’ah, merasa cukup dengan yang ada, wara’, tidak mementingkan dunia, shabar, lapang dada, berjiwa besar, berhati mulia, haya’, malu, anisah, ramah, ‘afwu, suka mema’afkan, ta’awun, suka bergotong royng, syaja’ah, berani, sakhi, dermawan, istiqamah, teguh pendirian, konsekwen, konsisten, tawadhu’, rendah hati, tasamuh, bertenggang rasa, bertanggungjawab, tenang, yakin, optimis, suka kebebasan dalam segala urusan, ihtiram, suka menghormati, memuliakan (religios).

Program dakwah ada yang berjangka pendek dan ada pula yang berjangka panjang. Program dakwah jangka panjang Wanita Ikhwanul Muslimin berlasung selama 13 tahun. Setelah 13 tahun diadakan survey terhadap semua warganegara. Bilamana ternyata jumlah yang beriman kurang dari 25%, maka dakwah dilanjutkan untuk 13 tahun berikutnya, demikian seterusnya setiap 13 tahun sampai jumlah warganegara yang beriman telah sampai 75%. Apabila jumlah warganegara yang berkeyakinan bahwa Islam itu agama dan negara, bahwa Hukum Islam itu harus dilaksanakan oleh dan di dalam negara, sudah sampai 75%, maka barulah pada waktu itu diajukan tuntutan agar negara menerapkan Hukum Islam, agar didirikan Negara Islam” (Zainab alGhazali : “Perjuangan Wanita Ikhwanul Muslimin”, hal 42,86).

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s