Dakwah dan qital

Dakwah dan qital

Sebagai pengemban dan pelanjut risalah para Nbi, maka para da’i, para muballigh hanya bertugas menyampaikan firman Allah kepada seluruh manusia. Diterima atau ditolaknya firman Allah tersebut, bukanlah urusan para da’i, para muballigh, tetapi adalah wewenang, urusan Allah semata. Apakah akan diberiNya petunjuk atau tidak, adalah semta-mata urusan Allah. Sama sekali tak ada paksaan, tekanan. Bebas, merdeka, apakah akan menerima, ataukah akan menolak.

“Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan” (QS 42:48).

“Maka apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya” (QS 10:99).

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya” (QS 28:56).

“Dan katakanlah : “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman, an barangsiapa yang ingin kafir biarlah ia kafir” (QS 18:29).

“Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat” (QS 2:256).

“Allah akan mengadili di antara kamu pada hari kiamat tentang apa yang kamu dahulu berselisih padanya” (QS 22:69).

Motivasi para da’i, para muballigh hanya semata-mata melaksanakan perintah Allah untuk menyampaikan firman Allah kepada seluruh manusia. Tidak dengan motivasi yang lain. Tidak mengharapkan pujian, sanjungan, tepukan, keprokan, ketenaran, kedudukan, ganjaran, imbalan, sumbangan, pemberian, dan lain-lain.

“Katakanlah : “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan al-Qur:an”, al-Qur:an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala ummat” (QS 6:90).

Katakanlah : “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan” (QS 42:25).

Dalam menghadapi seruan, ajakan, himbauan dakwah itu, maka objek dakwah ada yang menerima, ada yang menolak, ada yang menantang, ada yang memusuhi. Terhadap yang menerima, disampaikan kabar suka berupa surga jannatun na’im. Terhadap yang menolak, disampaikan kabar duka berupa neraka jahanna. Terhadap yang menantang, dihadapi dengan sikap saar, tabah, teguh, tangguh. Terhadap yang memusuhi, ditundukkan dengan kekuatan.

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin, bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia ang besar dari Allah” (QS 33:47).

“Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih” (QS 9:3).

“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku (kata Allah) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu” (QS 73:10-11).

“Maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukuman di antara kita, dan Dia adalah Hakim Yang Sebaik-baiknya” (QS 7:87).

“Dan perangilah di jalan Allah (menurut ajaran-Nya) orang-orang yang memerangi kamu, tetapi janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak orang-orang yang melampaui batas” (QS 2:190).

Motivasi perang dalam Islam sebenarnya untuk menolak fitnah, makar, onar, anarkis, khaos, kekacauan. “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan sehingga ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah” (QS 2:193, 8:39). Motivasinya “sehingga ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah”, hanya semata-mata ta’at kepada Allah.

Menolak fitnah, kekacauan adalah untuk menundukkan fitnah, kekacauan, jangan sampai berkobar, meluas, melebar. Tindakan nabi Ibrahim menghancurkan, memporakporandakan patung, berhala, sembahan, benda ritual, simbol agama kaumnya (QS 21:58), bukanlah tindakan mengobarkan, menyalakan fitnah, bahaya, bencana bagi orang-orang beriman. Nabi Ibrahim kala itu adalah seorang pemuda, satu-satunya orang yang beriman kepada Allah. Tapi kalau tindakan menolak fitnah akan membahayakan keselamatan orang-orang beriman, seperti halnya pada masa fitnah (Khaos, kacau), maka diperkenankan untuk melakukan aksi tututp mulut. “Jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu, apabila kamu telah mendapat petunjuk” (QS 5:105, Tafsirannya antara lain dapat disimak dalam “Tafsir Al-Azhar”, juzuk VII, 1982:87-94, “Tafsir Ibnu Katsir”, II:92).

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s