Bisnis berorientasi sosial

Bisnis berorientasi sosial

“Allah kasih manusia rezeki menurut kemashlahatan mereka. Ia mengkayakan orang yang memang layak memiliki kekayaan. Dan memiskin orang yang memang berhak menjadi orang miskin. Allah lebih tahun apa yang bermashlahat bagi manusia, dan yang tidak bermashlahat bagi mereka” (PANJI MASYARAKAT, No.537, Tahun XXVIII, 21 April 1987, hal 7, Mutiara Hikmah, “Tafsir Ibnu katsir”, jilid IV, hal 115).

“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS 29:62).

Allah membebani manusia tugas untuk saling tolong ,emolong, untuk saling bantu membantu dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa (QS 5:2), yang berkelebihan menyantuni yang berkekurangan, memperhatikan orang-orang melarat (QS 30:37-38).

Keberhasilan si kaya adalah atas keterlibatan banyak pihak, termasuk para fakir miskin. Di tangan konglomerat itu ada terletak/tersimpan hak-hak yang melarat. Jangan hendaknya hak-hak yang melarat itu sampai dirampas, ditahan, tidak diserahkan oleh konglomerat. “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta” (QS 51:19). Itu adalah ketetapan Allah.

Islam menyeru agar melakukan reformasi orientasi. Dari berorientasio duniawi ke berorientasi ukhrawi. Dari berorientasi profit (untuk kepentingan sendiri) ke berorientasi sosial (untuk kepentingan bersama.

Ekonomi pasar membawa ketamakan (avarice). Ketmakan (kerakusan) melekat (inheren) pada pembawaan ekonomi pasar. Ketamakan dipandang (kapitalisme) sebagai kebajikan. Ekonomi pasar berorientasi pada laba (profit), materi, pola komersial. Prinsip ekonomi pasar, dengan modal, tenaga, kerja sedikit mungkin dapat menghasilkan keuntungan yang besar.

Berbeda dengan sistim bisnis kapitalis yang berorientasi pada keuntungan (profit) semata, maka sistim bisnis marhamah (Islami) yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah saw adalah juga berorientasi pada kemakmuran bersama (social welfare). Afzalurrahman dalam tulisannya “Muhammad As A Trader” (“muhammad Sebagai Seorang Pedagang”, 1997:19) memaparkan bahwa Nabi muhammad adalah seorang pedagang yang berbeda dengan kebanyakan pedagang lainnya. Beliau melakukan pekerjaan dagang ini sekedar untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan, bukan untuk menjadi seorang jutawan.

Dari sikap Rasulullah saw itu diperoleh pelajaran, bahwa sistim bisnis marhamah (Islami) hanya berusaha sekedar memenuhi kebutuhan hidup duniawi (hasanah fid dunya) agar tidak menjadi beban orang lain, dan tidak hidup meminta-minta, dan bukan untuk menjadi seorang triliunan. Islam tidak menyukai orang tergantung pada orang lain, jadi beban orang lain, hidup dengan meminta-minta, tidak bekerja untuk mereka sendiri. Setelah itu berusaha, berupaya dengan segenap tenaga, daya, dana untuk memenuhi kebutuhan hidup ukhrawi (hasanah fil akhirah), dengan melakukan amal shaleh, amal sosial untuk kepentingan dan kemashlahatan bersama (QS 28:76-77).

Harta kekayaan menurut Islam berfungsi ganda, yaitu brfungsi ekonomi dan sekaligus berfungsi sosial, seperti tercantum dalam himbauan kepada raja konglomerat Qarun, agar tidak bersikap angkuh, pongah, berangga diri dengan harta akekayaan yang dimiliki, karena Allah tidak suka pada orang-orang-orang yang membanggakan diri. Fungsi sosialnya juga tercantum dalam himbauan agar berusaha, berupaya dengan segenap tenaga, daya dan dana untuk memenuhi kebutuhan hidup ukhrawi, mencari kebahagiaan akhirat dengan memanfa’atkan apa yang telah dianugerahkan Allah dengan berbuat baik kepada orang lain, melakukan amal shaleh, amal sosial untuk kepentingan dan kemashlahatan bersama (berorientasi sosial). Sedangkan fungsi ekonominya juga tercantum dalam himbauan agar tidak melupakan bagian dari kenikmatan dunia dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi, karena Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (Disimak dari QS 28:76-77). Kerusakan, bisa kerusakan sosial, kerusakan budaya, kerusakan moral, kerusakan ekonomi, kerusakan politik, kerusakan logika, dan lain-lain.

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s