Bekerja di Tempat Maksiat

Bekerja di Tempat Maksiat

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalnlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezekiNya. Dan hanya kepadaNya-lah kamu kembali setelah dibngkitkan” (QS Al-Mulk : 15).

Demikianlah prinsip Islam. Bumi ini diciptakan oleh Allah untuk manusia. Oleh karena itu, mereka harus memanfa’atkan nikmat ini dan berusaha mencari karunia Allah berupa rezeki dengan segenap kemampuannya. Seorang Muslim tidak boleh bermalas-malasan bekerja mencari rezeki dengan alsan sibuk beribadah atau tawakkal kepada Allah. karena langit tidak akan mencurahkan hujan emas atau perak. (Tapi Allah akan melimpahkan berkah dari langit dan bumi, jika beriman dan bertaqwa, seperti tertera dalam QS A’raf :96).

Seorang Muslim juga tidak boleh hanya menggantungkan dirinya kepada sedekah orang lain, padahal ia memiliki kemampuan berusaha untuk memenuhi kebutuhan diri, keluarga, dan tanggungannya. Rasulullah saw bersabda, “Sedekah tidak halal bagi orang kaya dan orang yang mempunyai kekuatan yang memadai”(HR Tirmidzi). (Hanya yang menjadi masalah, lahan yang tersedia bagi yang melarat amat sangat sempit sekali, karena telah dirampas secara paksa oleh konglomerat qarunisme di daatan dan di lautan bahkan sampai di angkasa).

Satu hal yang amat ditentang oleh Rasulullah saw adalah meminta-minta kepada orang lain dengan mencucukan keringatnya dan menodai harga diri serta kehormatannya, bukan karena daruruat. Beliau menegaskan, “Orang yang meminta-minta padahal dia tidak begitu membutuhkan (dan tidak mendesak) sama halnya dengan orang yang memungut bara api” (HR Baihaqi dan Ibn Khuzaimah). Dengan ancaman kras inilah Rasulullah saw hendak menjaga kehormatan dan harga diri seorang Muslim dan membiasakannya untuk menjaga martabatnya, percaya kepada diri sendiri, dan menjauhkan diri dari meminta-minta kepada orang lain. (Tapi sayang, tak ada perorangan atau lembaga yang berupaya menertibkan peminta-peminta, pengamen, pemulung yang tak berdasi dan yang berdasi, baik di kendaraan umum, di pemukiman, maupun di kantoran).

Namun demikian, Rasulullah saw mengukur keadaan darurat dan kebutuhan yang amat mendesak sehingga terpaksa meminta-minta dan memohon bantuan kepada sebuah lembaga atau perorangan, maka tidak berdosa bila ia melakukannya. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya meminta-minta yang dilakukan oleh seseorang itu berarti mencakar (melukai) wajahnya sendiri. Barangsiapa yang mau, silakan menetapkan luka itu pada wajahnya. Dan siapa yang hendak meninggalkannya silakan meninggalkannya, kecuali seseorang yang meminta sesuatu kepada pihak penguasa atau meminta untuk suatu urusan yang tidak didapat dengan jalan lain” (HR Abu Daud dan Nasai).

Rasulullah saw menghapuskan semua pikiran yang menganggap hina orang yang berusaha dan bekerja, bahkan beliau menajarkan kepada apara sahabatnya bahwa menjaga harga diri harus dilakukan dengan bekerja apa saja ang memungkinkan, tentu saja yang halal. Sebaliknya kehinaan adalah apabila seseorang menggantungkan dirinya kepada bantuan orang lain. Nabi saw bersabda, “Sungguh seseorang yang membawa tali, kemudian membawa seikat kayu di punggungnya dan menjualnya, sehingga dengan itu Alllah menjaga dirinya, maka yang demikian itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, yang terkadang memberinya dan terkadang menolaknya”
——————————————————————————–

Setiap pekerjaan yang akan dilakukan tentu saja punya ketentuan yang digariskan oleh agama. Para ptani tidak boleh menanam tanaman yang diharamkan mengonsumsinya oleh Islam, mislkan menanam ganja. Begitu pula tembakau. Kalau kita berpendapat merokok itu haram, maka menanam tembakau adalah haram. Dan jika berpendapat bahwa merokok itu makruh, maka menanm embakau juga makruh. (Pada abad ke-19 di Iran pernah seorang Ulama mengharamkan menanam tembakau dalam rangka melawan Inggeris yang memaksa penduduk menanm tembakau di Iran).

Tidak ada alsan bagi seroang Muslim untuk menanm sesuatu yang haram untuk dijual kepada non-Muslim, karena seorang Muslim selamanya tidak dibolehkan memperjualbelikan sesuatu yang haram, sebagaimana dia tidak dibolehkan berternak babi untuk dijual kepada orang-orang Nasrani. Begitu pula kita dilarang menjual buang anggur yang halal kepada orang yang diketahui akan menjadikannya bahan khamar.

Islam juga sangat menganjurkan umatnya untuk berdagang dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip perdagangan yang halal. Rasulullah saw amat memuji pedagang yang jujur dan amanah, sebagaimana sabdanya. “Pedagang yang amanah (dapat dipercaya) dan jujur kelak akan bersama para syuhada pada hari kiamat”(HR Ibnu Majah dan AlHakim). “Pedaang yang jujur dan amanah kelak akan bersama para Nabi, Shiddiqin, dan Syuhada”(HR AlHakim dan Tirmidzi).

Mengapa Rasulllah saw menjanjikan kedudukan yang mulia untuk para pedagang yang jujur dan amanah? Karena pada umumnya perdagangan memicu perasaan tamak untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya dengan berbagai cara. Perdagangan juga dapat menyebabkan pelakunya tenggelam dalam angka-angka dan sibuk menghitung-hitung modal dan keuntungannya. sampaisampai menjelang tidur pun masih menghitung-hitung perdagangan, bukan menghitung dosa-dosanya sebagai bagian dari muhasabah dirinya. Islam tidak melarang perdagangan, kecuali yanbg mengandung kezhaliman, penipuan, penindasan, atau penyearluasan sesuatu yang dilarang oleh islam.

Islam juga memboilehkan umatnya mencari rezeki dengan jalan menjadi pegawai, baik pegawai negeri maupun swasta, asalkan dia mampu menjalankan tugas dengan baik dan pekerjaan itu tidak menimbulkan madharat bagi dirinya dan kaum Muslimin. Oleh karena itu, tidak halal bagi seorang Muslim menjadi peawai atau prajurit yang memerangi kaum Muslimin. Tidak halal pula bagi Muslim menjadi pegawai sebuah perusahaan yang memproduksi senjata untuk memerangi kaum Muslimin. Atau ia tidak boleh bekerja sebagai pegawai sebuah lembaga yang memusuhi dan memerangi kaum Muslimin.

Seorang Muslim juga dilarang bekerja sebagai pegawai yang tugasnya membantu tindakan kezhaliman atau sesuatu yang haram, seperti bekerja pada lembaga yang menjalankan praktek riba atau di tempat pembuatan khamar, di klub-klub malam, atau di tempat-tempat perjudian. Semua ini dengan catatan tidak ada unsur keterpaksaan yang mendesak seseorang untuk menccari kebutuhan pokok hidupnya dengan bekerja di tempat tersebut. Kalau dia terpaksa bekerja di tempat tersenbut, maka bekerjanya diukru dengan akdar keterpaksaannya dengan disertai rasa benci terhadap pekerjaan itu, sambil terus menerus berusaha mencari pekerjaan lain, sehingga Allah memberi kemudahan baginya untuk bekerja secara halal dan jauh dari dosa-dosa.

Usaha dan Pekerjaan yang Diharamkan

Ada beberapa jenis usaha dan pekerjaan yang diharamkan doleh islam agi umatnya karena dapat merusak masyarakat, baik dalam bidang akidah, akhlak, kehormatan, harga diri, nilai-nilai kebudayaan.

Pertama, pelacuran. Islam menolak keras dan tidak memperkenankan seorang pun untuk bekerja dengan cara menyewakan kemaluannya. Pelacran jelas-jelas sangat merusak moral dan akhlak, merusak keutuhan rumahtangga, dan menghancurkan sendi-sendi kemasyarakatan. Pelacur dan pemilik tempat-tempat pelacuran sama-sama mendapat dosa. Allah swt berfirman, “Dan janganlah kamu paksa budak-budak perempuanmu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian, karena kamu hendak mencari ketuntungan duniawi”.
Kedua, tarian dan seni seks. Islam menolak pekerjaan berupa tarian erotis dan pekerjaan apa pun yang dapat membangkitkan nafsu, seperti nyanyian porno, sinetron yang hanya berisi peran percintaan, dan musik yang menampilkan penyanyi-penyanyi dengan goyang yang memangkitkan birahi.Meskipun ada yang mengatakan hal itu adalah seni, kreatifitas, atau istlah-istilah yang menyesatkan. (Setan, iblis senantiasa menyesatkan manusia

Islam mengharamkan setiap perkataan atau perbuatan yang dapat membuka pintu bagi terjadinya perbuatan haram. Allah swt berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk”(QS AlIsra :32). Islam tidak hanya melarang zina, tapi juga semua perbuatan yang mendekati zina.

Ketiga, membuat lukisan, patung, dan salib. Bila Islam melarang orang memiliki atau memasang patung, maka membuatnya pun dilarang. rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa melukis sebuah lukisan, maka Allah akan mengadzabnya hingga ia dapat meniupkan ruh kepadanya, padahal selamanya dia tidak akan dapat meniupkan ruh kepadanya”(HR Bukhari). Lukisan yang dilarang dalam hadits ini adalah lukisan yang bernyawa. Sedangkan melukis pepohonan dan apa saja ang tidak bernyawa dibolehkan. Demikian pula dengan membuat salib, karena salib merupakan instrumen penyembahan orang-orang Nasrani.Membuat salib dan menjualnya kepada orang-orang nasrani berarti membenarkan dukungan kepada kekafiran.

Adapun fotografi atau lukisan foto, DR Yusuf Qardhawi memandangnya mubah, dengan caatan obyek gambarnya tidak diharamkan agama, seperti menonjolkan bagian-bagian tubuh wanita yang dapat menimbulkan fitnah, menggambar lelaki dan perempuan yang sedang berciuman, dan yang sejenisnya.

Keempat, perusahaan minuman keras dan narkoba. Islam mengharamkan segala kongsi yang berhubungan dengan khamar, baik dalam memproduksi, mendistribusikan, maupun meminumnya. Semua orang yang terlibat dalam pembuatan ini akan mendpat laknat sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Nabi saw melaknat sepuluh orang berkenaan dengan khamar, yaitu orang yang memerasnya, orang yang minta diperaskan, orang yang meminumnya, orang yang membawakannya (menghidangkannya), orang yang dibawakannya, orang yang menuangkannya, orang yang menjualnya, orang yang menikmati keuntungannya, orang yang membelinya, dan orang yang minta dibelikannya”(HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Begitu pula dengan narkoba, karena narkoba ermasuk khamar. Umar bin Khaththab berkata, “Alkhamru maa khaamara al’aqlu” (khamar adalah segala sesuatu yang menutupi akal). Yang dimaksud dengan menutupi akal adalah membuat akal tidak atau kurang berfungsi secara normal. sehingga yang jauh terlihat dekat, menjauhkan diri dari kenyataan hidup, mengkhayalkan dan membayangkan apa-apa yang tidak terjadi dan berenang dalam lautan mimpi. (Buletin Jum’at BAPEKIS Bank Mandiri, No.XCVIII, 19/9/2003, M/22, Rajab 1424H, oleh Luqmanul Hakim)
(Abul A’la alMaududi mengemukakan bahwa “Islam mengharamkan minumn keras, judi dan zina. Ilam melarang yang melampaui batas, yang menghabiskan aktu dan memboroskan harta benda. Islam merintangi kcenderungan manusia kepada seni musik dan lupa kepada segala kewajibannya, akrena yang demikian itu mengakibatkan kerusakan yang besar dan kekacauan yang sangat luas dalam peri kehidupan ekonomi dan keruskan moral juga. Begitu juga Islam membatasi kecenderungan manusia kepada keindahan dan kegairahan alamiahnya kepadanya dengan sejumlah pembatasannya”, seperti tertera dalam bukunya “Pokok-Pokok Pandangan Hidup Muslim”, 1983:82, “Dasar-dasar Ekonomi Islam”, 1980:137, “Problema Ekonomi dan Pemecahannya”, hal 35-36, dan juga Dr Musthafa asSiba’i ; “Sistem Masyarakat Islam”, 1987:60-61, “Cara Mencari Rezki”).

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s