Natsir mengingatkan peran ideologi

Natsir mengingatkan peran ideologi

Salah satu usaha kaum Muslimin dewasa ini adalah membangkitkan kepercayaan dan kekuatan diri sendiri, bahwa ummat Islam itu mempunyai program hidup, katakanlah pembangunan, pembangunan ekonomi untuk menjadikan negara ayang makmur dan adil (justice and prosperous society). Mengadakan negara yang makmur bisa, tapi mengadakan negara yang adil tanpa akidah (ideologi) tidak bisa. Menambah anyaknya produksi bisa saja, untuk meninggikan kesejahteraan bersama antar warganegara itu tergantung kepada pandangan hidup (ideologi) daripada orang yang membangun.
Secara mekanik semata-mata tidak bisa melaksanakan amanat penderitaaan rakyat, kalau tidak dibarengi dengan pandangan hidup (ideologi) yang nyata-nyata yang memberi petunjuk, hendak kemana hasil produksi ini dibawa, apakah diberikan kepada segelintir manusia saja, atau dibagi-bagikan kepada orang yang melarat, orang yang lemah saha.
Kalau sekedar hendak menambah hasil bumi, meninggikan hasil pabrik, pinjam saja uang dari luar negeri banyak-banayak atau masukkan kapital/modal asing banyak-banyak, sehingga pabrik tekstil misalnya menjadi baik. Tetapi sesudah itu pabrik tekstil silemah dan sikecil mati sama sekali.
Inilah cara membangun tanpa ideologi. Jadi ideologi itu yang menentukan penggunaan hasil dari program.
Kalau bicara mengenai pelaksanaan amanat penderitaan rakyat, ini sudah termasuk bidang ideologi. Bukan bidang teknologi (teknik mekanik), karena manusia itu bukanlah orang yang hanya bisa dianggapa sebagai mesin. Didalam program pembangunan harus disadari, bahwa manusia itu bukan hanya satu orang economicus saja, atau satu orang humo ekonomis saja, yang pikirannya hanya mendapat banyak laba sedikit beban (risiko), bukan itu saja. SEorang manusia adalah makhluk yang mempunyai perasaan, yang mempunyai pikiran, yang mempunyai pandangan hidup (ideologi).
Oleh karena itu Islam mengatakan “Satu amal program itu ditentukan oleh niat(motivasi, ideologi) sebagai titik tolak melakukannya”.
Ini yang diberkan oleh Rasulullah saw, yaitu supaya beramal dengan niat yang terang, berprogram dan berideologi yang terang. Kalau tidak terang ideologinya, akan bermacam-macam akibat buruk bisa saja terjadi, dari hasil program yang baik.
Didalam alQur:an (9:107-110) diberikan tamsil perumpamaan, bagaimana program yang sama bisa mengakibatkan dua barang yang sangat bertentangan.
Pertama, ada orang yang membangun masjid dengan niat untuk mengganggu, karena menolak ketentuan-ketentuan Ilahi, untuk memecah belah orang-orang yang beriman, dan tempat kegiatan intipan (mata-mata) bagi orang yang telah memerangi Allah dan RasulNya, dan kalau ditanya kepada mereka tentang perbuatannya, mereka bersumpah bahwa tidaklah mereka menginginkan, melainkan yang bagik-baik saja, tetapi Allah menyaksikan bahwa mereka itu adalah pendusta.
Kedua, ada orang yang membina masjid di atas dasar taqwa, yaitu masjid yang dicintai dan disayangi oleh Allah swt, walaupun orang lain tidak ada yang menyayanginya.
Tiap amal itu tentu ada niatnya. Niat atau nawaitu itulah yang menentukan nilai amal. Dengan lain perkataan : tiap program dikendalikan oleh ideologi.
Sebagai contoh, Islam memberikan kepada ummat Muhammad saw satu program, yang mengatakan : Kamu tidak boleh meridhakan diri kamu miskin. Tidak boleh menadahkan tangannya ke kiri dan ke kanan untuk hidup. Tidak boleh dia amenjadikan dirinya menjadi beban masyarakat ramai. Aib, menadahkan tangan yang kosong. Ini ditekankan ke dalam jiwanya tiap-tiao Muslim. Dengan sebuah hadist Rasulullah saw yang maksudnya Kemiskinan itu seringkali membawa kekufuran”.
Rasulullah saw pernah memberikan petunjuk program kepada salah seorang sahabatnya yang lagi menganggur, tanpa pekerjaan duduk-duduk di satu tempat. Beliau berkata : “Kalau kamu pergi ke hutan belukar mengambil kayu, lalu kamu jual ke pasar untuk mendapatkan belanja untuk anak-isterimu. Yang demikianlah lebih baik bagi kamu daripada menadahkan tangan kepada banyak untuk minta sedekah, apakah kamu diberi orang atau tidak”. Supaya dipergunakan terus menerus tanpa ada batasnya program hidup seorang Muslim itu. Bewgitu program yang diberikan Allah swt kepada ummat Muhammad saw yang harus diikuti, bukan sekedar didengar.
Dan tidak boleh mengabaikan dunia ini, mesti membangun kesehatan, membangun kesejahteraan, membangun produksi, seperti program Rasulullah saw dan sahabat-sahabat beliau dahulu yang masa membangunnya bukan untuk lima tahun atau seumur hidup, tapi untuk sepanjang masa dunia dan akhirat.
Akan tetapi, sesudah program itu dijalankan timbul pertanyaan : “Untuk apa hasil program itu?”. Jikalau sudah mempunyai uang, mempunyai kesejahteraan, apakah hanya untuk ditumpuk-tumpuk dihitung-hitung setiap pagi, berapa juta uang di Bank, bukan begitu. Atau untuk dihamburkan habis-habisan seenaknya guna berfoya-foya.
Disini bukanlah masalah program dengan segala teori, teknik, mekanisasinya saja.
Program hidup seorang Muslim dapat disimak antara lain dalam QS 28:76, bahwa “Dengan hasil yang telah engkau peroleh dari pembinaan dunia ini, kamu pergunakanlah untuk berbuat ihsan kepada ummat manusia tanpa diskriminasi, dengan tidak meminta balasan apapun daripada orang yang engkau telah berbuat baik kepadanya, sebagaimana Allah swt tidak pernah meminta daripada apa yang pernah diberikanNya kepada makhlukNya semua”. (“Membangkitkan Kepercayaan dan Kekuata Diri Sendiri”, terbitan “AlFalah”, Payakumbuh, dari bundelan SUARA MASJID, tahun 1978).

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s