Menegakkan Syari’at Islam adalah ibadah

Menegakkan Syari’at Islam adalah ibadah

Salah satu ucapan, pengakuan yang senantiasa diulang-ulang orang Muslim adalah “Iyyaka na’budu”. Hanya kepada Engkau saja, Ya Allah, aku mengabdi. Baik, dalam keadaan senang, maupun dalam keadaan susah. Baik dalam keadaan lapang, maupun dalam keadaan sempit. Baik dalam keadaan sehat, maupun dalam keadaan sakit. Baik di rumah, maupun di pasar. Baik di luar penjara, maupun di dalam penjara. Baik ketika sendirian, maupun ketika bersama-sama. Baik dalam hidup berumah tangga, maupun dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, bernegara.
Orang Muslim hanya mengabdi kepada Allah saja, dimanapun, kapanpun, dalam kondisi apapun. Siap melaksanakan apa yang diperintahkan Allah, dan siap meninggalkan apa yang dilarang Allah, tanpa bantah dan sanggah. Rela diatur oleh Allah. Rela diatur oleh ajran, hukum Allah. Rela berhukum dengan hukum Allah. Hukum Allah itulah sumber segala hukum. Hukum Allah itulah yang berdaulat, yang berkuasa. Inilah realisasi, konsekwensi, implikasi pengakuan bahwa “Tak ada Tuhan selain Allah”, bahwa “Aku rela berTuhankan Allah, beragamakan, bertata aturan Islam, beRasulkan, berNabikan Muhammad saw, berImamkan, berSumber Hukumkan Qur:an” (“Matan Shahih Bukhari”, juzuk IV, hal 259). Allah memerintahkan agar berhukum dengan yang diturunkan Allah (Simak QS 5:48-49), dan tidak berhukum dengan yang selain hukum Allah (QS 5:44-47).
Seluruh jiwa, raga (kalbu, lisan, indera, anggota, faraj), tenaga, usaha, harta, nalar orang Muslim dalam segenap aktivitas individual, familial, sosial (POLEKSOSBUDMIL) haruslah diibadahkan, dibuktikan, dipersembahkan kepada Allah, untuk mendapatkan ridha Allah, yaitu dengan melaksanakan semuanya itu sesuai yang diperintahkan Allah (Ibnul Qaiyin aljauziah : “Madarijus Salikin”, Pasal “Qawa’idah ‘Ubudiyah”). Melaksanakan kewajiban agama, mengikuti yang diperintahkan agama, meninggalkan yang dilarang agama (Syaikh Mushthafa alGhalayaini : “Al Islam Ruhul Madaniyah”, 1935:97 “Kaliman ‘an atta’ashub”).
Di kalangan Fiqih, ibadah itu dibagi atas dua golongan besar. Pertama, ibadah yang fardhu ‘ain, merupakan kewajiban individual. Kedua, ibadah yang fardhu kifayah, merupakan kewajiban komunal, kolektif, bersama, ijtima’iyah.
Di kalangan Dakwah, ibadah itu mencakup beberapa kewajiban, antara lain : Kewajiban kepada Khalik, Kewajiban kepada Diri, Kewajiban kepada Orangtua, Kewajiban kepada Anak-anak, Kewajiban kepada Keluarga, Kewajiban, kepada Tetangga, Kewajiban kepada Masyarakat, Kewajiban kepada Makhluk.
Dalam kitab-kitab Fiqih dan kitab-kitab Hadits, ibadah itu diuraikan dalam sejumlah bab antara lain : bab niat/iman, nizhafah/thaharah/hadits/wudhu’/tayamum/gusul, adzan/shalat/masjid, jenazah, zakat/shadaqah, shaum/I’tikaf, haji/umrah, nikah/ridha’ah/talaq/ruju’, riqab, buyu’, mulasamah/munabadzah/muzabanah/mukhabarah/mubaqalah/muzara’ah/musaqah/mu’amalah, faraidh/hibah/wasiat, nadzar/aiman/qusamah, jinayat/hudud/aqdhiyah, jihad, imarah/khilafah, ath’amah/asyarabah/’udhuiyah,libas/zinah/thib, adab/istiadzan, syi’ir/rukya, shilah, da’awat/taubat, zuhud/riqaiq, ‘aqiqah, dan lain-lain.
Orang Muslim itu bersih dalam segala hal. Bersih akidahnya. Tanpa takhyul dan khurafat. Bersih ibadahnya. Tanpa bid’ah. Tanpa karangan sendiri. Bersih pola pikirnya. Teratur, Logis, Rasional. Tanpa hawa nafsu. Bersih jiwanya, mentalnya. Bersih raganya. Bersih busananya. Bersih rumahnya. Bersih kekayaannya. Tanpa tipu. Tanpa judi. Tanpa korupsi. Bersih semuanya. Bersih aktivitasnya. Tidak melakukan yang jorok, mesum, cabul, munkar, maksiat, haram. Bersih penampilannya. Tidak angker. Tidak angkuh. Bersih fisiknya, mentalnya, spiritualnya, sosialnya. Bersih secara holistic. Semuanya dalam rangka ibadah. Termasuk dalam aktivitas formalisasi/legalisasi ajaran, hukum Allah ke dalam peraturan perundangan negara. Tak ada yang terlepas dari rangkaian ibadah.
Orang Muslim itu pemalu. Baik ketika sendiri, maupun ketika bersama-sama. Malu berbuat jorok. Malu berbuat salah. Malu melanggar aturan Allah. Malu melanggar aturan pemimpin yang tak bertentangan dengan aturan Allah. Malu melanggar aturan atasan yang tak bertentangan dengan aturan Allah. Malu dalam perjalanan. Malu dalam pekerjaan. Malu menyaksikan yang sia.sia. Sebelum berbuat ingat akan ajaran Allah.
Dr Yusuf alQardhawi dalam bukunya “Al’Ibadah fil Islam” (Ibadah dalam Islam) memungut, mengutip, memetik pengertian “Ibadah’ (Pengabdian) yang dikemukakan antara lainm oleh Ibnu Qaiyim alJauziah dalam “Madarijus Salikin”, Abul A’la almaududi dalam “AlMushthalah al’Arba’ah fil Qur:an”, dan Syekh Muhammad Abduh dalam “Tafsir AlFatihah”. Menurut Maududi tidaklah dibenarkan membatasi arti “Ibadah” (Pengabdian) terbatas hanya pada “Taalluh”. ‘Tanassuk” (seperti shalat, shaum, haji, dan lain-lain), atau pada “Ketaatan” belaka, atau pada “Ubudiyah” (Penghambaan) semata, karena oleh alQur:an, ketiga pengertian “ibadah” itu (Taalluh, Ketaatan, Penghambaan) diterapkan sekaligus ((Abul A’la alMaududi : “Bagaimana Memahami Qur:an”, 1981:116-117, ‘Prinsip-Prinsip Islam”, 1983:106-107, “Dasar-Dasar Islam”, 1984:108-109, Sayid Mohd Rasyid Ridha: “Tafsir Surat AlFatihah”, hal 34-35, Dr Yusuf alQardhawi : “Ibadah Dalam Islam”, 1981, I:36-37, Ibnu Qaiyim alJayziyah : “Madarijus Salikin”, juzuk I, hal 110-111).
Acuan orang muslim dalam beribadah, dalam mengabdi kepada Allah, dalam hidup perorangan, dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, bernegara hanyalah AlQur:an dengan petunjuk pelaksananya adalah Sunnah Rasulullah. Menjelang wafatnya, dalam pidatonya (Khutbah wada’), Muhammad Rasulullah saw wanti-wanti berpesan “Wahai manusia. Dengarkanlah perkataanku. Sungguh aku telah meninggalkan padamu kitabullah dan Sunnah RasulNya. Jika kamu berpegang padanya, maka kamu tidak akan pernah seseat selamanya” (Mushthtafa Bek najib : “Himmatul Islam”, 1932, Juzuk I, hal 46). Orang Muslim itu siap mendengarkan dan melaksanakan tanpa bantah dan sanggah (Simak QS 24:51).
Orang Muslim tak akan mempertuhankan hawanya (nafsu, keinginan, kemauan, hasrat, minat, paham, pendapat, pikiran) seperti disitir dalam QS 45:23-24. Tak akan diperhamba, diperbudak oleh otak, pikiran, pendapat. Rasulullah memperingatkan bahwa “Tidak sempurna iman seseorang kamu, sehingga hawa nabsunya tunduk dengan apa yang telah aku sampaikan” (HR Nawawi dan Abdullah bin “Amr, dalam “Arba’in AnNawawiyah”, hadis ke 41, H Ahmad Azhar Basyir MA : “Syarah Hadits”, 1985, hal 200).
Rasulullah amat murka sekali terhadap siapa saja yang tidak berpegang pada Kitab Allah dan Sunnah RasulNya, yang mengambil acuan lain selain kitab Allah dan Sunnah RasulNya. Rasulullah bersumpah “Demi Allah. Jikalau sekiranya Musa hidup sekarang diantara kamu, tidaklah dia akan bertindak melainkan mengikut aku” (HR Abu Ya’la dari Jarir dalam “Tafsir AlAzhar”, Prof Dr Hamka, 1984, juzuk II, hal 222). Sesungguhnya alQur:an itu adalah Kitab Kauniah, Kitab Tarikh, Kitab Siasah, Kitab Aklaq, Kitab Hukum (Mushthafa alGhalayaini : “AlIslam Ruhul Madaniyah”, 1935:21).
Hanya Kitabullah dengan Sunnah RasulNya sebagai petunjuk pelaksanaannya itulah acuan dan pegangan orang Muslim. Berupaya amelakukan formalisasi/legalisasi ajaran Islam ke dalam peraturan perundangan negara adalah merupakan ibadah, Pengabdian kepada Allah, mengabdikan diri kepada Allah. Ini adalah sah dan dibenarkan dalam negara Indonesia yang menerima asas Permusyawaratan, Perwakilan. Ketika mengemukakan dasar mufakat, dasar Perwakilan, dasar Permusyawaratan, sebagai dasar yang ketiga dari negara Indonesia Ir Soekarno menyerukan agar pemimpin-pemimpin menggerakkan sebanyak mungkin utusan-utusan Islam ke dalam Badan Perwakilan Rakyatr, sehingga hukum-hukum yang keluar dari Badan Perwakilan Rakyat itu, hukum Islam pul (Majallah SYIAR ISLAM, No.5, Juli 1976, Th.IV, hal 10-11). Selama Negara Indonesia menerima dasar musyawarah, mufakat, Perwakilan, maka adalah sah, dibenarkan melakukan upaya formalisasi/legalisasi ajaran Islam ke dalam peraturana perundangan negara. Sungguh suatu kekeliruan yang disengaja (fallacy) memandang bahwa melegalisasikan ajaran Islam adalah suatu hal yang bertentangan dengan bunyi pasal-pasal UUD-1945, apalagi memandang bahwa ajaran marxisme adalah sesuai dengan UUD-1945, sehingga komunisme perlu dihidupkan kembali di Indonesia. Entah kalau semangat UUD-1945 sudah tak lagi berdasarkan musyawarah mufakat, tapi atheisme.
Abul A’la alMaududi sangat heran, merasa aneh terhadap orang Muslim yang mengatakan bahwa Islam itu hanya “hubungan perorangan atau pribadi dengan Tuhannya, tidak ada kaitannya sama sekali dengan susunan kemasyarakatan dan pemerintahan”. Semakin aneh lagi, karena mereka itu mendakwakan bahwa “penafsiran ini didasari alQur;an sendiri”. Setelah saya bertekun mempelajari alQur:an secara bersunguh-sungguh, Sesudah sya jajaki secara mendalam makna dan strukturnya di masa lampau, Sesudah saya tekuni isinya satu persatu secara teliti dengan pemahaman yang tepat, ternyata Islam menurut alQur:an adalah “Pola kehidupan tertentu yang datang dari Allah, meliputi seluruh bidang kehidupan” (HA Nalik Ahmad : “Strategi Dakwah Islamiyahn”, jilid 9, hal 23-24). Islam itu meliputi syari’at, siasah, mu’amalat (“Al Islam Ruhul Madaniyah”, 1935:8). Orang Muslim itu menegakkan agama, tata aturan (Simak QS 42:13).
Hukuman, azab, siksaan di akhirat yang merupakan ancaman Allah dalam alQur:an terhadap pelaku tindak pidana (fahsya, munkar, bughat, maksiat) antara lain berfungsi sebagai tindakan pencegahan, tindakan preventif terhadap segala tindak pidana (fahsya, munkar, bughat, maksiat), bukan untuk memberantas, membasmi tindak pidana terse but. Terhadap yang tak bisa dicegah dengan ancaman Allah, dicegah dengan ancaman hukum negara. “Siapa yang merasa keberatan tunduk dibawah alQur:an, maka harus ditundukkan dengan kekuasaan”Muhammad Nashiruddin alAlbani : “Shufat Shalat annabi”, terjemahan Rifyal Ka’bah : “Pelaksanaan Shalat Nabi saw”, 1986, hal 18, Kata Pengantar cetakan Kesepuluh, Dr Abdul Karim Zaidan : “Alfard wad Daulah fisy Syariatil Islamiyah”, Rakyat Dan Negara Dalam Islam, 1975:9, Muhammad Quthub : “Syubhat Haul alIslam”, Prof Dr Hamka : “Tafsir AlAzhar”, juzuk XV:113). Salah satu dari fungsi dari formalisasi/legalisasi ajaran Islam ke dalam peraturan perundangan adalah untuk mencegah (melakukan tindakan preventif) terhadap tindak pidana (fahsya, munkar, bughat, maksiat). Hukuman duniawi dalam bentuk formalisasi/legalisasi ajaran Islam ke dalam peraturan perundangan diperlukan untuk mencegah kehancuran masyarakat dari tindak pidana oleh manusia yang lebih keras nafsu keduniaannya dan yang lemah kesadarannya akan pengawasan Allah (Mahmud Syalthut : “AlIslam : “Aqidah wa Syhar’iyah”, 1966:307, terjemahannya “Islam sebagai A qidah dan Syari’iyah”, 1969, Buku Ketiga, hal 144-145, hukuman duniawi itu perlu).
Parpol MASJUMI 7 Nopember 1945 menetapkan tujuannya adalah ‘terlaksananya ajarana dan hukum Islam di dalam kehidupan orang seorang, masyarakat dan Negaraa Republik Indonesia, menuju keridhaan Ilahi”. NU 1926 menetapkan tujuannya “mempertahankan syari’at Islam menurut salah satu tarekat” (“Musykilat Dalam NU”, hal 7, Pengantar, oleh M Said Budairy). “Cukuplah Qur:an dan Sunnah sebagai Konstitusi” (Marayam Jamilah : “Para mujahid Agung”, 1984:103, 143). Kongres HMI ke-V tgl 24-31 Desember 1957 di Medan mengamanatkan untuk “Menuntut agama Islam sebagai Dasar Negara Republik Indonesia” (“Sejaraah Perjuangan HMI”, 1966, hal 23).
Kesinisan, kegemasan, kegeraman terhadap formalisasi/legalisasi ajaran dan hukum Islam ke dalam peraturan perundangan negara mencuat dalam beram bentuk. Antara lain dengan suara sumbang berbisa meniupkan bahwa kelompok fundamentalisme islam itu membawa klaim-klaim teologis yang subjektif, seperti ‘islam adalah solusi”, “ajaran Islam sesuai dengan situasi dan kondisi”, dan “Islam itu adalah agama dan negara”. Kelompok fundamentalisme Islam itu melegalkan aksi-aksi kekerasan, pembunuhan, dan terorisme. Fanatik dan tak toleran. Anti perdamaian dana anti kemajuan. Menolak ajakan-ajakan pembaruan kegamaan, gigih membela kemapaman (pro status quo). Memuja dan ingin mengembalikan kejayaan masa lalu serta memahami ajaran agama secara kaku (rigid) dan tekstual (literal) (KOMPAS, Sabtu, 14 Juni 2003, hal 4, Islamisme dan Fundamentalisme Islam, oleh MG Romli, simak juga suara berbisa yang ditiupkan oleh Sir Evelyn Baring Lord Cromer dalam bukunya “Modern Egypt”, seperti dikemukakan oleh Maryam Jamilah dalam bukunya “Islam Dalam Kanca Modernisme”, 1983:76-78).
Diperlukan dakwah sistematis, teratur, terarah, berkesinambungan menjelaskan bagaimana caranya mengikuti jalan Qur:an dan Sunnah sebagai petunjuk praktis untuk berprilaku alam kehidupan sehari-hari secara perorangan maupun bersama-sama. Bagaimanaq caranya meningkatkan pemahaman, penghayatan, Pengamalan IMTAQ, sehingga benar-benar jelas tampak perbedaan antara manifestasi IMTAQ dan bukan IMTAQ, dan terwujud suatu masyarakat adil makmur, justice and prosperous society (simak QS 7:86).
Setiap da’I seyogianya memiliki program dakwah sendiri. Da’I yang mengisu suatu taklim memiliki program dakwah semacam satpel (satuan pelajaran) di kalangan pendidikan. Ada program jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang. Punya target, tujuan yang jelas, serta tahapan-tahapan yang tertentu. Kapan peserta taklim dianggap sudah cukup memadai (dipandang sudah lulus Berijazah), sehingga tak perlu lagi terus-terusan mengikuti program dakwah di taklim itu. Dulu setiap taklim (halaqah) itu dengan disiplin ilmu terntu (ada yang khusus tafsir, ushul, mushthalah, mantiq, dan lain-lain). Bagi da’I yang tak mengisi taklim secara rutin, juga harus punya program dakwah sendiri. Juga ada program jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang. Juga punya target, tujuan yang jelas serta tahapan-tahapan yant tertentu. Materi dakwah dapat diambilkan dari masalah-masalah actual yang digunakan untuk mencapai tujuan dari program dakwah yang telah diprogramkan.

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s