Konsekwensi logis pengakuaan syahadat

Konsekwensi logis pengkuan syahadat

Salah satu ikrar, pengakuan yang senantiasa diulang-ulang seorang Muslim, paling sedikit sembilan kali setiap hari, adalah ikrar, pengakuan bahwa “tak ada Tuhan selain Allah” dan bahwa “Muhammad itu Rasul/Utusan Allah”.
Dan salah satu konsekweksi logis dari ikrar, pengakuan syahadat it adalah siap dan rela berhukum dengan hukum Allah. Siap dan rela memberlakukan hukum allah. Siap dan rela memberlakukan, menerapkan Hukum Islam, Syari’at Islam. Tak akan memberlakukan, menerapkan selain Hukum Islam, selain Syari’at Islam. Tak akan menolak, menantang penerapan syari’at Islam. “Sesungguhnya jawaban orang-orang Mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya agar Rasul menghukum, mengadili di antara mereka ialah ucapan “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS 24:51). “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang Mukmin, apabila Allah dan RasulNya tokoh menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata”(QS 33:36).
Orang yang telah berikrar mengaku bahwa “tak ada Tuhan selain allah”, bahwa “Muhammad Rasulullah” akan senantiasa berjuang menegakakan, menerapkan, memberlakukan Hukum Allah, Hukum Islam, Syari’ati Islam dengan penuh ketekunan dan ketabahan. Sebagian dari Hukum Islam terhadap yang bukan Mukmin, agar supaya mereka menjalankan Hukum Agama masing-masing-masing. Yang Yahudi menjalankan Hukum Taurat, yang nasrani menjalankan Hukum Injil (Disimak dari QS 5:44,47,66, dan tafsirannya antara lain dalam “Tafsir AlAhkam”, 1984, VI:263). Menolak Hukum Allah dan memberlakukan hukum yang lain berarti menolak Uluhiyah Allah, merampas kedaulatan Allah (Dr Ahzam Sami’un Jazuli : “Fiqh AlMas’uliyah”, SABILI, No.17, Th.VIII, 14 Februari 2001, hal 35). Berhakim kepada Undang-Undang produk manusia, adalah termasuk berhakim kepada thagut. Padahal Islam memerintahkan untuk mengingkari thagut (Disimak dari QS 4:60-61, tafsirannya antara lain oleh Dr Ahzami Sami’un Jazuli : “Potret Orang-Orang Munafik (III)”, SABILI, No.8, Th.VIII, 4 Oktober 2000, hal 35).
Termasuk kedalam konsekwensi logis dari ikrar, pengakuan syahadat itu adalah tidak mempercayakan urusan umat ini kepada yang bukan Muslim. Orang-orang yang bukan Muslim itu senantiasa bersekutu, saling bantu membantu menumpas orang Muslim dimanapun dan kapanpun. Pernyataan-pernyataan mereka selalu memojokkan Islam. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang diluar kalanganmu, karena mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemudharatan bagimu” (QS 3:118, tafsirannya antara lain dapat disimak dalam “Tafsir AlAzhar”, 1983, IV:79).
Orang yang telah berikrar, mengaku bahwa “tak ada Tuhan selain allah”, bahwa “Muhammad Rasulullah” tak akan mempercayakan urusannya kepada orang kafir (QS 9:23-24, 4:144,89, 3:28), orang fasiq (QS 9:23-24), orang yang memusuhi Islam dan ummatnya (QS 60:1, 3:118-120), pemecah belah, orang yang suka mempermaiaankan agama, mengolok-olokkan agama (QS 5:57), orang munafiq , orang Yahudi, orang Nasrani (QS 5:51), serta para simpatisan mereka (penjelasannya, simak antara lain H Mawardi Noor : “Me3milih Pemimpin”, 1971).
Orang yang telah berikrar, mengaku bahwa “tak ada Tuhan selain Allah”, bahwa “Muhammad Rasulullah”, tak akan mempercayakan urusannya kepada orang Yahudi dan orang nasrani. Kapanpun, dimanapun, orang Yahudi dan orang Nasrani itu tak pernah senang terhadap orang Muslim. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain” (QS5:51), tafsirannya antara lain dapat disimak dalam “Tafsir AlAzhar”, 1984, VI:274-284).
Orang Yahudi dan orang Nasrani itu sangat membenci Islam. Mereka bisa bekerjasama dalam menghadapi Islam. Semua yang membenci Islam itu bersatu, bekerjasama, saling sokong menyokong, saling pimpim memimpin, saling beri memberi, walaupun diantara satu sama lain berbeda ideologi dan berbeda kepentingannya (Disimnak dari “Tafsir AlAzhar”, 1984, VI:274-284).

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s