Kenapa timbul terorisme

Kenapa timbul terorisme

Adalah wewenang dan kewajiban para intelektual untuk memecahkan kenapa timbul terorisme dan bagaimana mengantisipasinya, mengatasi terorisme tersebut. Disebutkan bahwa fundamentalisme bermula dari beberapa sekte Protestan Amerika Serikat pada awal abad ke dua puluh sebagai suatu protes konservatif terhadap re-interpretasi liberal mengenai agama Kristen yang menggabungkan penemuan-penemuan sejarah dan ilmiah. Protes tersebut dicetuskan dalam “The Fundamentalis” (1910-1912) yang salah satu dari lima doktrin dasarnya adalah keenran Kitab Suci. Dalam salah satu dari tiga pernyataan yang dimuat dalam Creation Researh Society Quaterly adalah bahwa Injil adalah firman Tuhan yang tertulis, berupa ilham dan kernanya benar secara keseluruhan (PANJI MASYARAKAT, No.537, 21 April 1987, hal 56, dari tulisan JOHN R Baker dalam THE HUMANIST, Maret/April 1986, yang dialihbahasakan oleh Rifa Fachir).
Sedangkan Fundamentalisme Yahudi disebut berasal dari paham Yahudi, Talamodi (Talmodiac Judaisme) yang biasa disebut dengan Yahudi Rabbani (Rabbanic Judaisme) semenjak tahun 70M. Tetapi, pada abad XIX, Yahudi Talmodi lebih populer disebut Yahudi Ortodoks (Orthodox Judaisme) atau mereka lebih senang disebut “Yahudi yang meyakini Taurat” (True Torat Judaisme). Kebangkitan fundamentalisme Yahudi sebagai reaksi puncak terhadap alian pencerahan yang menjadi mainstream di Eropa saat itu (Enlightment, Vwerklahrung). Yahudi Orthodoks (fundamentalis) berusaha memegang kuat-kuat klaim-klaim teologis agama Yahudi (KOMPAS, Sabtu, 14 Juni 2003, hal 4, Opini : “Fundamentalisme Agama Dalam Konflik Israel-Palestina”, oleh MG Romli, dari tulisan Abd Fattah Madli, 1999:196).
Fundamentalisme Islam disebutkan bisa diartikan menolak ajakan-ajakan pembaruan keagamaan dan gigih membela kemapanan (pro status quo). Mereka juga memuja dan ingin mengembalikan kejayaan masa lalu serta memahami ajaran-ajaran agama secara rigid (kaku) dan literal (te4kstual). Akar Islamisme (fundamentalisme) bisa dirujuk pada konsep pendiri Ikhwan alMuslimin di Mesir, Hasan alBanna (1906-1949) dan pendiri Partai Jama’at-I Islami, Abu alA’la almaududi (1903-1978) (idem, dari tulisan Oliver Royy, 2002:2).
Ide-ide fundamentalis itu liberal, tekstual, sedangkan ide-ide akomodatif (kompromistis) adalah liberal, kontekstual. Ide-ide itu akan tetap eksis sepanjang masa, tak akan pernah mati, meskipun dengan usaha, tindakan bagaimana pun. Selama ide-ide yang saling bertentangan itu masih berada dalam tataran wacana, tak akan menimbulkan persoalan, tak akan menimbulkan masalah sosial. Tapi bilamana ide-ide itu sudah muncul ke dalam tataran penerapan aplikatif, maka bisa saja timbul kerawanan sosial, kalau dilakukan dengan paksaan oleh siapapun. Islam sangat tak menyukai cara-cara pemaksaan dalam hal apapun dan oleh siapa pun. “Tak ada paksaan untuk memasuki agama Islam. Sesungguhnya telah jelas jalan benar daripada jalan yang tersesat” (QS 2:256).
Fauzan AlAnshari menyebutkan, bahwa pemaksaan kehendak oleh negara kepadarakyat akan melahirkan terorisme negara. Aspirasi raykyat yang tidak ditampung negara akan melahirkan kekecewaan yang memicu tindakan teroris yang membahayakan seluruh pranata sosial yang telah terbangun selama ini (“Saya Teroris ?”, 2002:14). Bagi Amerika Serikat dan Israel, yang dimaksud dengan teroris adalah Islam militan, Islam radikal, yaitu Muslim yang ingin menegakkan Syari’at Islam dalam segala aspek kehidupan (idem, hal 23). Terorisme memrupakan reaksi terhadap pemaksaan kehendak oleh pihak yang kuat kepada pihak yang lemah, baik oleh peroirangan, kelompok, negara, mamupun oleh persekutuan negara. Selama tak ada pemaksaan kehendak oleh yang kuat kepada yang lemah, maka sungguh tak masuk akal, yang lemah akan memaksakan kehendak kepada yang kuat.
Noam Avram Chomsky mengutip bahwa istilah “terorisme” mulai digunakan pada akhir abad ke-18, terutama untuk menjawab aksi-aksi kekerasan pemerintah yang dimaksudkan untuk menjamin ketaatan rakyat. Konsep ini, pendeknya cukup menguntungkan bagi para pelaku terorisme negara yang karena memegang kekuasan berada dalam posisi mengontrol sistim pikiran dan perasaan. Dengan demikian, arti aslinya terlupakan, dan istilah “teroris” lalu diterapkan terutama untuk “terorisme pembalasan” oleh individu atau kelompok-kelompok (“Maling Teriak Maling : Amerika Sang Teroris ?”, 2001:1-2, dari “International Terorism and Political Crimes”, 1975).
Dalam rangka mengantisipasi, mengatsi aksi terorisme perlu kajian mendalam oleh para intelektual IPOLEKSOSBUDMIL tentang motivasi dan tujuan dari aksi terorisme itu, dan kemudian menyusun tindakan pencegahannnya (antisipasinya)m. Menjelaskan, kenapa demi suatu cita-cita perjuangan, para fundamentalis tidak takut sama sekali terhadap maut (KOMPAS, Sabtu, 14 Juni 2003, hal 4, Opini). Menjelaskan, betapa hebatnya kemampuan orang atau tokoh yang dapat meyakinkan orang lain untuk mengorbankan nyawanya, demi untuk suatu cita-cita perjuangan (KOMPAS, Sabtu, 23 Agustus 2003, hal 4, Tajuk Rencana : “Orang Terkesima Bom Bunuh Diri Menjadi Fenommena Global). enjelaskan, betapapun gemasnya, geramnya Washington Irving terhadap ajaran jihad, yang ia sebutkan sebagai suatu ajaran untuk mendorong sekelompok tentara yang bodoh tidak berpengalaman menyerbu secara buas ke medan perang, Mereka sudah diyakinkan, kalau hidup mendapat ramapasan perang, kalau mati mendapat surga (Muhammad Husain Haikal : “Sejarah Hidup Muhammad”, 1984:693).
Kebebasan menyampaikan pendapat, tidaklah sama dengan memaksakan kehendak. Pemaksaan kehendak oleh yang kuat kepada yang lemah menyebabkan terganggunya kebebasan menyampaikan pendapat. Akibat tersumbatnya kebebasan menyampaikan pendapat, maka terjadilah letupan-letupan, sehingga yang lemah bereaksi dengan memaksakan kehendak kepada pihak yang kuat dengan cara-cara yang inkonstitusionil yang dikategorikan sebagai perbuatan terorisme. Sumbat itu berupa “rekayasa persetujuan”(engineering of consent) dalam mempertahankan kepentingan kelompok yang kuat, yang dominan (“Maling Teriak Maling”, 2001:13).

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s