Kenapa mereka suka merdeka

Kenapa mereka suka merdeka

Berdasarkan hasil jajak pendapat, Timor Timur lebih menyukai pro kemerdekaan daripada pro integrasi. Timbul pertanyaan, kenapa mereka lebih menyukai merdeka daripada berada dibawah naungan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Apakah karena selama berada dibawah naungan NKRI mereka merasa tak memperoleh keadilan dan kenyamanam ? Sepanjang masa tuntutan “liberte, egalite, fraternite” masih saja tetap relevan.
Terhadap Aceh dan papua, kenapa takut mengadakan jajak pendapat (referendum). Apakah karena kawatir Aceh dan Papua juga akan lebih menyukai merdeka daripada berada dibawah naungan NKRI. kalau begitu, pertanyaan yang sama muncul, kenapa mereka lebih menyukai merdeka daripada berada dibawah naungan NKRI. Apakah karena selama berada dibawah naungan NKRI mereka merasa tak memperoleh keadilan dan kenyamanan ?
Sejarah mencatat, bahwa “Ketika tentara Islam mendekati lemah Yordan dan pimpinan pasukan, Abu Ubaidah mendirikan kemahnya di Fihl, penduduk nasrani menulis kepada orang-orang Arab mengatakan : “Oh, kaum muslimin, kami memilih kalian daripada orang-orang Bizantium, walaupun mereka kawan seiman daripada kami, karena kalian menimbulkan kepercayaan kepada kami dan perintah kalian lebih baik daripada perintah mereka. Mereka telah merampas harta-harta kami dan rumah-rumah kami”. Rakyat Amessa menutup gerbang kotanya terhadap tentara Heraklius dan berkata kepada kaum Muslimin bahwa mereka lebih menyukai pemerintahannya, keadilannya lawan ketidakadilan dan penindasan orang-orang Yunani (TW Arnold : “The Preaching of Islam”, page 55). Justice and Prosperous Society dambaan semua orang.
Sejarah juga mencatat, bahwa ketika Palestina dibawah pemerintahan khalifah-khalifah Islam (Khulafa Rasydin, BAni Umaiyah, Bani Abbasiyah), jemaah kristen yang berziarah ke tempat-tempat suci mereka di Yerusalem tidak mendapat gangguan, mereka beb as melakukan ajaran agamanya. Namun ketika suku Turki Seljuk Islam berkuasa, mereka merasa diperlakukan tidak baik. Inilah antara lain yang mendorong kaum nasrani terjun ke dalam peperangan salib (Hassan Shadily : “Ensiklopedia Indonesia”, Ikhtiar van Hoeve, Jakarta, Edisi Khusus, jikid 5 (P-SHT), hal 2661-2662). Kezhaliman, ketidakadilan tetap saja mengundang perlawanan.
Sejarah juga mencatat, bahwa setelah berkuasa selama tujuh abad, akhirnya kekuasaan Arab-Muslim di Andalusia tumbang pada tahun 1492, sebelum Columbus melakukan penjelajahan samuderanya. Apakah perlawanan ini juga dipicu oleh kezhaliman, ketidakadilan para penguasa Arab-Muslim di Andalusia ketika itu.
Kini berdasarkan kondisi riil, jika diadakan jajak pendapat, dapat dipastikan ahwa orang lebih menyukai dibawah Hukum Barat daripada dibawah Hukum Islam Syari’at Islam). Salah satu diantara penyebabnya adalah karena wajah Islam yang tampil saat ini dalam pandangan mereka adalah wajah-wajah angker, seram, kejam. Dengan rekayasa (skenario) canggih diintrodusirlah bahwa pelaku teror bom di mana-mana adalah AlQaida, Jama’ah Islamiyah. Timbul pertanyaan, apakah memang AlQaida, Jama’ah Islamiyah itu menghalalkan aksi teror bom ? Jika memang benar anggota AlQaida, Jama’ah Islamiyah yang melakukannya, apakah ini oknumnya dan bukan lembaganya, institusinya ? Jika oknumnya yang melakukan teor, apakah lembaganya juga harus diklassifikasi sebagai teroris. Jika oknumnya berkewargaan negara Indonesia, apakah Negara Kesatuan Republik Indonesia harus diklassifikasikan sebagai negara teroris ? Jika hal ini dilakukan oleh mereka oleh karena kesalahan ijtihad, kesalahan menggunakan dalil hukum, apa yang harus dilakukan terhadap mereka yang diklassifikasikan sebagai teroris itu ?
Memberantas teroris, seharusnya dengan membasmi penyebabnya. Fauzan AlAnshari menyebutkan, bahwa “pemaksaan kehendak oleh neara kepada rakyatnya akan melahirkan terorisme negara. Aspirasi rakyat yang tidak ditampung negara akan melahirkan kekecewaan yang memicu tindakan teroris yang membahayakan seluruh pranata sosial yang telah terbangun selama ini” (“Saya Teroris ?”, 2002:14). Dalam kamus AS dan Israel, yang dimaksuds de3ngan teroris adalah Islam militan, Islam radikal, yaitu Muslim yang ingin menegakkan Syari’at Islam dalam segalaa aspek kehidupan (idem, hal 23).

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s