Diperlukan Panduan Islam yang praktis

Diperlukan Panduan Islam yang praktis

Seorang sahabat Abu Amru (Sufyan) bin Abdullah Atsaqafy berkata : “Ya Rasulullah. Ajarkanlah kepada saya kalimat yang menyimpulkan pengertian Islam, sehingga saya tidak membutuhkan bertanya kepada seorangpun selain engkau”. Jawab Rasulullah : “Katakanlah aku beriman kepada Allah, kemudian tetap konsekwen pada pengakuan itu” (HR Muslim, dalam “Riadhus Shalihin” Imam Nawawi, fasal Istiqamah).
Amat banyak orang Islam yang membutuhkan bimbingan, tuntunan, panduan ajaran Islam yang sederhana, ringkas, jelas, praktis. Apalagi orang Islam yang tak punya waktu untuk membaca buku-buku tentang Isl;am yang tebal, dan juga orang Islam yang tak punya dana untuk membeli buku-buku tentang Islam yang tebal.
Prof Dr Hamka menyebutkan bahwa dengan cara sangat sedrhana Nabi Muhammad saw mengajarkan dan memberi contoh dengan perbuatan beliau sendiri, yaitu memulai sembahyang hendaklah dengan membaca takbir “Allahu Akbar”. Semua orang dapatlah memahamkannya, walau anak kecil atau orang tua, orang awam atau ulama. Tetapi datanglah beberapa pembahasan dalam setengah kitab Fiqih, bahwa hendaklah membaca takbir itu serentak sekali dengan niat (“Tafsir AlAzhar”, juzuk I, hal 301).
Di tempat lain Prof Dr Hamka menyebutkan, bahwa samai membicarakan air berpanjang lebar, air yang suci lagi mensucikan, atau air yang musta’mal, tentang air yang kurang dari dua kulah atau lebih. Cuma, kadang-kadang, meskipun yang dimaksud oleh ulama-ulama itu adalah baik, mengasah otak untuk ijtihad, karena panjangnya pengajaran Thaharah itu, ada orang yang mengajinya sampai tiga empat tahun belum juga tamat. Padahal maksud agama bukan kesukaran, melainkan kemudahan. (“Tafsir AlAzhar”, 1984, VI:150)
Di tempat lain Prof Dr Hamka juga menyebutkan, bahwa banyak ulama membuat sendiri berbagai pertanyaan dengan khayalannya, sehingga mempersukar, wudhuk dan tayammum. Mengaji perkara air saja atau Kitab Thaharah, akdang-kadang memakan waktu berbulan, bahkan bertahun. Kadang-kadang tidak selesai dari Syawal ke Sya’ban, sebab Ramadhan adalah pakansi mengaji. Dan di zaman dahulu mempersukar itu pulalah yang bernama Alim (“Tafsir AlAzhar”, VII:82)

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s