Malu sudah tak ada lagi

Catatan serbaneka asrir pasir

Malu sudah tak ada lagi

Di jalanan, di kendaraan, di kantoran,, di sekolahan, di pasar, di mall, di televise, di mana-mana sudah tak ada lagi yang namanya malu. Malu terhadap diri, terhadap keluarga, terhadap tetangga, terhadap masyarakat, terhadap bangsa, terhadap Negara, terhadap agama, terhadap Tuhan. Yang ada hanyalah kemaluan. Di mana-mana hanyalah kemaluan. Pamer kemaluan. Kemaluan diobral, dipamerkan. Bahkan dalam acara wawancara.

Kita ini sudah setengah binantang. Atau barangkali sudah jadi manusia binatang. Tak punya malu. Tak punya sopan santun. Berpenampilan tak sopan. Berperilaku tak sopan. Apa bedanya kita dengan binatang, kalau kita tak punya malu, berpenampilan tak sopan, berperilaku tak sopan ? “Bila sudah tak punya malu, berbuatlah sesukamu” HR Bukhari, dalam “Mukhtarul Ahadit anNabawiyah”, oleh Sayid AlHasyimi Beik, hal 56, hadits no.364).

(written by sicumpaz@gmail at BKS1106251630)

Catatan serbaneka asrir pasir
Seruan dari manusia kepada manusia

Jadilah kita manusia seutuhnya. Jangan setengah-setengah. Setengah manusia, setengah binatang. Jangan berprilaku setengah manusia, setengah binatang, termasuk berprilaku seksual binatang, apalagi lebih binatang dari pada binatang.

Jangan melakukan hubungan intim/senggama seperti binatang, tanpa diawali/disahkan agama dengan nikah. Jangan melakukan aktivitas seks sebelum/diluar nikah, dan tidak melakukan penyelewengan/penyimpangan (Abstinentia Sexual, Befeithful).

Jangan buka pintu/peluang aktivitas bagi mucikari, germo, moler, bromocorah, prostitusi, pelacuran, aborsi. Tutup mati ruang gerak penyaluran HAB, Hak Asasi Binatang, kegiatan nafsu birahi binatang. Cegah segala media (gambar, foto, informasi), sarana (hiburan, rekreasi), busana (setengah bugil, bugil total) yang merangsang nafsu birahi binatang.

Pangkal prilaku seksual yang lebih binatang dari binatang (freesex, ho, lesbi, bisex, gay). Gay gigih mengkampanyekan kebebasan seks dan kebeb asan dari rasa malu, dengan dalih kebebasa itu adalah hak mereka. Padahal itu semua adalah hak binatang. Di mana pun, kapan pun, binatang bebas melakukan hubungan seks tanpa malu.

Ajaklah kembali jadi manusia. Manusia yang sehat (bio-psiko-sosio-spiritual). Agama tidak mentoleransi, dan menolak merestui gay (Simak Tabloid BERITA BUANA, Minggu, 16 Agustus 1998, hal 3, FOKUS).

Meskipun Kristen memandang hidup yang paling ideal (Das Sollen) adalah membujang (Marsionis), namun Paulus mengajarkan kepada pengikutnya, bahwa lebih baik kawin (Das Sein) dari pada hangus karena hawa nafsu (Simak Surat Kiriman Paulus pada Korintus pasal 7 ayat 8 dan 9). Sekali lagi jadilah manusia yang manusiawi, bukan yang hewani. Di kalangan Ilmu Jiwa (Psikologi) ada yang memandang Saint Paul mengidap kepribadian epileptoid (Simak Dr Zakiah Dradjat : “Ilmu Jiwa Agama”, 1978:27).

(written by sicumpaz@gmail.com at BKS11021000)

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s