Tasauf

catatan serbaneka asrir pasir

Tasaufi

Menurut Abul A’la al-Maududi, Fiqih berkaitan dengan amal ibadah lahir (ritual ?). Sedangkan Tasauf berkaitan dengan amal ibadah batin (hati). Tasauf memperhatikan, membahas keadaan hati ketika menunaikan ibadah, tentang keikhlasannya, tentang ketulusannya, tentang kejernihan niat-motivasinya. Dalam pandangan Islam tidaklah akan menjadi baik, kecuali dengan mengikuti (ittiba’ ?) secara sempurna dan benar semua hukum syara’ dari sisi lahir dan batin.

Namun sayang, kemudian terjadi penyelewengan, penyimpangan, penyesatan dalam tasauf akibat masuknya pengaruh, penyusupan, infiltrasi dari ajaran-ajaran filsafat non-Islam dengan memakai label/topeng/simbol tasauf Islam, yang mengakibatkan tasauf terlepas (atau melepaskan diri) dari Islam. Abul A’la sendiri mengakui bahwa ia adalah penantang tasauf ini. Yaitu tasauf gadungan, yang menyimpang, yang menyeleweng dari Islam. Abul A’la al-Maududi memperingatkan bahwa “Orang yang tidak mengikuti Rasulullah saw secara benar dan tidak mengikat dirinya dengan jalan yang benar yang telah ditunjukannya, tidaklah berhak untuk menyebut dirinya sebagai sufi Islami. Sebab tasauf seperti ini sama sekali bukan bagian dari Islam”.

HAS al-Hamdani juga menggugat tasauf gadungan tersebut dengan bukunya “Sanggahan Terhadap Tashawuf & Ahli Sufi”, terbitan al-Ma’arif, Bandung, 1982. Al-Hamdani berupaya bersikap adil, berdiri di tengah-tengah. Membenarkan hal yang benar dan menolak hal yang batil. Sambil memberikan yang layak menerima pujian atau celaan. Prof Dr Hamka sengaja menulis buku panduan tentang tasauf berjudul “Tasauf Modern”. Dalam kaitannya fiqih dan tasauf ini, Cak Nun (Emha Anun Nadjib) secara halus menggiring kita (pembaca tulisannya) untuk bersimpati pada sufiah dan antipati terhdap fiqhiyah. (Simak “Surat Kepada Kanjeng Nabi”, terbitan Mizan, Bandung, 1997, hal 397-398). Dalam tayangan pagi suatu stasiun telvisi dihadirkan pembahasan tentang buku “Mereguk Sari Tasauf” (Garden of Truth).Al-Kautsar menerbitkan “Madarijus Salikin” Ibnu Qayyim sebagai “Pejabaran Kongkrit ‘Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in’). Darul Falah menerbitkan “Darah Hitam Tasawuf” Ihsan Ilahi Dhahir, sebagai “Studi Kritis Kesesatan Kaum Sufi”.

(Simak :
– ‘Abdul Qadir Isa : “Hakekat Tasawuf” (Haqa’iq at Tasawwuf), terbitan Qisthi Press, Jakarta, 2006, hal 444-446.
– Abul A’la al-Maududi : “Prinsip-prinsip Islam” (Mabadi al Islam), terbitan al-Ma’arif, Bandung, 1983, hal 126-129.
– Abul A’la al-Maududi : “Sejarah Pembaruan dan Pembangunan Kembali Alam Pikiran Agama” (Tajdiid ad-Diin wa Ihyaa-ihi), terbitan Bina Ilmu, Surabaya, 1984, hal 111-113).

(written by sicumpaz@gmail.com at BKS1108280815)

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s