Orang Pintar

catatan serbaneka asrir pasir

Orang pintar

Orang pintar itu orang berilmu. Orang pintar, sarjana, intelektual, akademisi itu banyak memiliki klebihan katimbang yang hanya sempat mengenyam pendidikan Sekolah Lajutan Atas kebawah. Lebih banyak tahu. Lebih banyak memiliki informasi. Lebih cakap mengqambil keputusan. Lebih terampil mempertahakan pendapat. Lebih cakap berbahasa asing. Lebih tepat pilihan katanya. Lebih cerdas memilih kata-kata dan ungkapan. Tidak asbun. Tidak asal bicara. Bicaranya bijak. Berdasarkan data dan fakta. Pilihan katanya mengena, mantap.

Orang pintar, dengan data, informasi yang sangat minim mampu membuat keputusan, decision yang tepat, cepat. Orang pintar, orang bijak – kata M Natsir – dengan sekedar sindiran atau karinah saja sudah dapat menangkap apa yang dimaksud (“Fiqhud Dakwah”, 1984:163).

Dengan alat bukti yang sangat minim, mampu menjatuhkan hukum secara adil. Arkeolog pintar, dengan secuil fosil mampu merekonstruksi wujud sosok sesungguhnya. Sejarawan pintar, dengan data terbatas, mampu merekonstruksi peristiwa masa lalu dan mampu memprediksi peristwa masa nanti.

Orang pintar, orang bijak itu – kata Tan Malaka – dengan satu gigi hewan saja, sudah bisa memberikan rancangan seluruh badan hewan itu. Cuvier (seorang naturalis di abad ke-18) bisa berkata “Berikan saya satu gigi saja dari satu hewan. Saya akan berikan rancangan untuk keseluruhan badan hewan itu”.

Seorang materialis, sambil menghampiri sesuatu persalan masyarakat dengan cara dialektis dapat berkata. Beritahulah kepada kami bagaimana perlakuan ekonomi antara dua bangsa atau dua kelas. Kami akan dapat membentuk bingkai politik antara kedua bangsa atau kedua kelas tersebut (Tan Malaka : “Dari Penjara Ke Penjara”, III, 1948:79).

Orang pintar, yang bijak itu, telah arif hanya dengan setengah patah kata saja . Dalam bahasa Belanda, ungkapan tersebut berbunyi “Eem goed verstander heft maar, een half word nodig” (PANJI MASYARAKAT, No.169, 1`5 April 1979, hal 41 ?).

Dalam ungkapan Minang arih bijaksano : alun balapaik lah bamakna, alun tasirek lah tasurek, alun bakato lah bakalam (kalimat), alun bamulo lah salasai, alun bagarik lah bagarak, ikan dalam aie laha tantu jantan batino,alun bakilek lah bakalam, alun taliek lah tapaham, kilek camin lah kamuko, kilek baliung lah kakaki, lah tanpak kaki ula mamanjek.

Orang pintar, orang bijak itu adalah orang cerdik, orang cerdas. Ada hakim yang cerdik. Ada guru yang cerdik. Ada raja yang cerdik. Dan lain-lain. Hakim yang cerdik tak memerlukan bukti yang lengkap. namun dengan kecerdikan dan kebijakannya, bukti bisa terungkap. Ia memiliki seni cara mengungkapkan kebenaran tanpa bersusah payah melakukan penyelidikan secara rinci, mendalam.

Hakim yang cerdik menggunakan trik sederhana, tapi berhasil membuktikan kebenaran. Sibuk menegakkan keadilan (Simak “Cerita dari Burma : “Hakim yang cerdik”, diceritaka oleh Abdllah, dalam PELITA, Jum’at, 6 Juli 1984, hal V. Simak juga kisah hakim Iyyas bin Muawiyah alMuzani dalam SABILI, 11 Januari, No.13, 11 Janauari 2007, ELKA, hal 17-18, oleh Ahmad Faisal Hamdan).

Guru yang cerdik tak sibuk dengan istilah-istilah, kata-kata, ungkapan-ungkapan, kalimat-kalimat yang sulit. Tapi ia bijak menjelaskan hal yang sulit dengan bahasa yang mudah, sederhana. Ia menuntun, membimbing muridnya lebih pintar dari dia. Sibuk mencerdaskan muridnya (Simak kesibukan Condorcet[1743-1794] dari Perancis, dalam Mr J Bierens de Haan : “Sosiologi”, Pembangunan Djakarta, 1953:38).

Raja yang cerdik focus pikirannya bagi ksejahteraan rakyatnya. Sibuk mensejahterakan rakyatnya. Raja-raja yang cerdik ini dalam catatan sejarah disebut sebagai despot yang bijak, yang arif, yang cerdas (vewrlichte despotisme) seperti Czar Peter yang Agung (1689-1725) yang mengadakan mengadakan perubahan/pembaharuan besar-besaran di Rusia; Frederich II yang Agung (1740-1786)’ katherina II yang Agung dari Rusia (1762-1796), Jozef II dari Jerman (Austria). Mereka memajukan pertanian, peternakan, perniagaan, kerajinan, perbaikan pengajaran, perbaikan pengadilan (Anwar Sanusi : “Sejarah Umum untuk Sekolah Menengah”, II, 1954:63).

Dalam terminologi Islam, orang pintar, sarjana itu adalah syaikh, memiliki sifat/watak fathanah, cerdas, berilmu. Dari sudut pandang Quran, sarjana (ulama) itu takut kepada Allah. “Di antara amba-hamba Allah yang takut kepadaNya, hanyalah para ulama” (QS 35:28). di ayat lain disebutkan bahwa sarjana (yang berakal, yang berilmu) itu adalah “orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi” (QS 3:191). Sibuk berdzikir dan berfikir.

(written by sicumpaz@gmail.com at BKS1108131730)

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s