Kecurangan demi kecurangan

Kecurangan demi kecurangan

Dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945 Ir Soekarno mengajak pemuka Islam bekerja sehebat-hebatnya agar supaya sebagian terbesar kursi DPR diduduki oleh utusan-utusan Islam, sehingga hukum-hukum yang dihaslkan DPR itu adalah hukum Islam (Simak “Lahirnja Pantjasila”, 1947, hal 31-32). Namun sayang, dalam praktek perjuangannya Ir Soekarno sebenarnya sama sekali tak tertarik memperjuangkan bebas-merdekanya hukum ajaran Allah.

Ide Pancasila Soekarno adalah Nasakom (Nas-A-Marx) , Marhaenisme ( Marx-Hegel-Engels), Marxisme Indonesia, Nasionalisme Indonesia, perkawinan antara Nasionalisme, Agama, dan Marxisme (Proletar),yang diperjuangkannya sejak tahun 1926-an (Simak Soegiarso Soerojo : “Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai”, Jakarta, 1988, hal 107). (Muncullah DeIslamisasi, DeFormalisasi Syari’at Islam, Islamo phobia).

Berbagai tindak kekerasan dan pelanggaran HAM subur dilakukan oleh rejim Orde baru di bawah komando Jenderal Soeharto. Termasuk kasus Tanjung Priok dan pembantaan missal di mana-mana (Simak A Made Tony Supritno : “1996 : Tahun Kekerasan dan Potret Pelanggaran HAM di Indonesia”, LBHI, Jakarta, 1997). Untuk menarik simpati umat Islam maka didirikanlah ICMI. Namun ini hanyalah manipulasi politik, sekedar sarana terselubung untuk mengandangkan, menjinakkan umt Islam.

Pengandangan, penjinakkan umat slam ini sangat berhasil melumpuhka potensi politik umat Islam sampai era Habibie, GusDur, Megawati, bahkan kini di era Esbeye. Sebelum terpilih, kader PKS, PAN, PKB dan yang lainnya rame-rame mendekati, mencari simpati umat Islam. Namn setelah terpilih rame-rame menggusur Islam dari pentas politik, dan pada siding MPR-2000 lebih menyukai Pancasila daripada Islam.

Membaca situasi, kondisi potensi politik umat Islam masa kini, KH Firdaus AN sengaja menulis : “Dosa-Dosa Politik Orla dan Orba yang tidak boleh berulang lagi di era Reformas”, terbitan Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 1999. ada penutp bukunya, Firdaus mengemukakan “Yang ideal d Indonesia cukup memiliki dua buah partai politik, yaitu Partai Isam, dan yang satu lagi Partai Pancasila (yang mengadopsi paham Nasonalsme, Demokratisme, Sosialisme, Humanisme, Monotheisme) (hal 187).

(BKS1108060730)

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s