Umat Islam tak siap

Catatan serbaneka asrir pasir

Umat Islam tak siap

Umat Islam tak siap menerima aturan Islam dengan/secara utuh. Umat Islam tak siap diatur dengan/secara Islam. Umat Islam tak siap hidup dengan/secara sederhana, wara, qana’ah, zuhud. Dakwah Abudzar alGhifari agar hidup dengan/secara sederhana, wara’, qana’ah, zuhud tak digubris/disentuh umat dan pemimpin Islam (Simak antara lain ZA Ahmad : “Dasar-dasar Ekonomi dalam Islam”, Pustaka Antara, Djakarta, 1952, hal 49-64, “Religeus Sosialisme yang pertama”.

Gerakan, perjuangan Islam di mana-mana gagal total, tak berhasil. Tak satupun negara yang siap menerima aturan Islam dengan/secara tulus. Tak satupun negara yang betah diatur dengan/secara Islam. Aturan Islam sangat tak disukai oleh hawa/nafsu/selera manusia.

Umat Islam dilanda wabah sikap mental hedonism yang gandrung/cenderung pada kesenangan hidup mewah. Dilanda penyakit mental “wahn”, cinta kesenangan, kemewahan, takut memikul risiko (Simak antara lain Ceramah Mohammad Natsir : World of Islam Festival dalam perspektif Sejarah”, Serial MEDIA DAKWAH, No.34). Terhadap penyakit mental ini, Islam memberikan penangkal berupa sikap mental wara’ qana’ah, zuhud. Pada kondisi perang, maka sangat ditekankan jihad bil-maal berupa infaq fi sabilillah.

Ada yang berupaya melakukan talbis, sinkretisasi, pencampuradukan berbagai ide/ideology. Gerakan Freemasonry dan Zionis internasional dalam Khams Qanun-nya mencampuradukkan ide/ideology Monotheisme, Nasionalisme, humansme, Demokratisme, Sosialsme yang berasl dar Syer Talmud Qaballa XI:45-46 (Simak RISALAH, Bandung, No.10, Th.XXII, Januari 1985, hal 53-54 : “Plotisma, apa itu ?”, oleh Em’s). Tampaknya seperti campuran air, minyak, spiritus, madu, susu.

Sukarno dalam Pancasila-nya mencampuradukkan ide/ideology Ketuhanan, Humanisme/Kemanusiaan, Nasionalisme/Kebangsaan, Demokratisme/Kerakyatan, Sosialisme/Kesejahteraan. Sedangkan Pancasila itu bisa diperas/dikompres menjadi Trisila yang terdiri dari Ketuhanan (plus Kemanusiaan ?), Nasdem (Nasional Demokrat) dan Sosdem (Sosial Demokrat). Dan selanjautnya bisa diperas/dikompres lagi menjadi Ekasila, berupa Gotongroyong. (Simak Lahirnya Pancasila”).

Sebaliknya Kartosoewirjo (sesama anak didik HOS Tjokroaminoto dengan Sukarno) malah memisahkan/membedakan dengan/secara tajam antara Islam dengan Nasionalisme/Kebangsaan. Kaum Nasionalisme bertujuan terwujudnya Indonesia Raya Merdeka agar dapat berbakti/mengabdi kepadanya. Sedangkan Kaum Islam bertujuan terwujudnya Darul Islam (Darus Salam) agar dapat berbakti/mengabdi kepada Allah swt. Dengan demikian maka politik yang mengacu pada Islam berbeda dengan politik yang mengacu pada nasionalis.

Perbedaan antara masyarakat Indonesia dan masyarakat Islam menurut Kartosoewirjo adalah sebagai berikut :
“… masjarakat kebangsaan Indonesia mengarahkan langkah dan sepak terdjangnja ke djurusan Indonesia Raja, agar soepaja dapat berbakti kepada Negeri toempah darahnja, berbakti kepada Iboe-Indonesia. Sebaliknja, kaoem Moeslimin jang hidoep dalam masjarakat Islam atau Daroel-Islam, ‘tidaklah mereka ingin berbakti kepada Indonesia atau siap poen djoega, melainkan mereka hanja ingin berbakti kepada Allah yang Esa belaka’. Maksoed toedjoeannja poen boekan Indonesia Raja, melainkan Daroel-Islam jang sempoerna-sempoernanja dimana tiap-tiap Moeslim dan Moeslimah dapat melakukan hoekoem agama Allah (Islam), dengan seloeas-loeasnja, baik jang berhoeboengan dengan sjahsijah maoepun idjtima’iyah” (SM Kartosoewrjo : “Daftar Oesaha Hidjrah PSII, Malangbng, Poestaka Dar-oel-Islam, 1940, hal 5).

Menurut Kartosoewirjo, politik PSSII adalah politik Islam, yang ia terangkan sebagai berikut :

“Jang dimaksoedkan dengan politik dalam faham Party Sjarikat Islam Indonesia ialah politik Islam, politik sepandjang adjaran-adjaran Islam. Dan dari sendirinya, maka politik jang didjalankan oleh PSII ialah politik Islam. Boekan politik barat atau politik membarat! Boekan politik jang tidak ada sangkoet-paoetnja dengan Islam dan boekan poela politik jang ‘Boekan politik Islam’ atau ‘politik di loear Islam’!” (“Sikap Hidjrah PSII”, Djilid 2, Malangbong, 1936, hal 64).
(Al-Chaidar : “Pengantar Pemikiran Politik Proklamator NII SM Kartosoewirjo”, Darul Falah, Jakarta, 1999, hal49,46). (Simak dan renungkanlah juga lagu “Indonesia Raya” ciptaan WR Supratman. Serta bandingkan dengan QS 2:218, 8:72, 8:74, 9:20).

(BKS1107150630)

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s